Sinergitas untuk Orientasi Guna Meretas Stigma 3T

3T

Pernah tinggal selama satu tahun di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal membuat saya selalu tertarik untuk melahirkan karya tulis bertema membangun daerah 3T. Karena melalui tulisan, bisa menyalurkan keinginan jiwa saya untuk membantu daerah 3T. Syukur kalau melalui tulisan saya, bisa bermunculan ide dan semangat baru untuk membangun daerah 3T.

Daerah 3T merupakan daerah yang terdepan, terluar, dan tertinggal di Indonesia. Daerah 3T, biasanya selalu mendapat stigma negatif sebagai daerah yang yang tidak terjamah oleh kemajuan teknologi di zaman yang modern ini. 3T, sebuah zona yang bisa dikatakan terpencil dan tidak mungkin maju peradabannya. 3T bagaikan sebuah dapur, diletakkan di belakang bangunan, dan jarang ditengok oleh tamu.

Namun demikian tak semestinya stigma itu terus melekat pada daerah 3T. Kini sudah saatnya bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia. Daerah 3T semestinya dipoles menjadi wajah-wajah baru sebagai beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena sudah dikatakan sebagai daerah yang terdepan dan terluar, itu berarti daerah ini adalah sebuah daerah yang tampak terlebih dahulu jika dipandang dari negara lain. Terutama oleh negara yang berbatasan secara langsung dengan wilayah Indonesia.

Layaknya sebuah teras rumah, yang nampak dari depan secara langsung dan menjadi panorama yang terlihat terlebih dahulu sebelum memasuki ke bagian dalam rumah. Sungguh tidak elok bukan, apabila teras rumah terlihat kumuh dan tidak terawat. Walaupun di dalam rumah sudah dibangun sangat megah, lengkap dengan segala perabot canggih.

Sinergitas Pihak Pemerintah untuk Membangun Daerah 3T


Pada tahun 2012, saya pernah berpartisipasi membangun daerah 3T bersama para sarjana fresh graduate melalui program Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T). Kami membantu memajukan daerah tertinggal dengan bergerak di bidang pendidikan. Mendidik anak-anak daerah 3T dengan segala keterbatasan sarana dan prasarananya, menjadi tantangan tersendiri bagi kami.

Aliran air dari sumber mata air Desa Nggalak

Dari sinilah saya benar-benar memahami bagaimana rasanya berjuang hidup di daerah 3T. Yah, berjuang untuk hidup saja menurut saya sudah membuat saya merasa sangat payah. Apalagi harus menunaikan kewajiban sebagai pendidik demi tercapainya cita-cita membangun generasi emas Indonesia. Dengan segala upaya, sedikit demi sedikit mulai saya tularkan beberapa ilmu dan teknologi yang saya miliki. Tidak banyak, tapi saya rasa itu sudah cukup sebagai dasar dari perkenalan.

Jangan melihat pakaiannya, tapi lihatlah kegembiraan mereka dikala belajar bersama

Kebetulan saya ditugaskan di Kabupaten Manggarai, dekat Pulau Komodo. Sewaktu saya di sana, sedang gencar-gencarnya diluncurkan event sail Komodo. Event ini tampaknya sukses besar, dilihat dari hasilnya kini yang sangat luar biasa. Nampak jelas perbedaannya, dengan melihat transformasi wajah bandar udaranya saja. Maka dari itu, saya benar-benar bangga kepada pihak-pihak yang mau dan mampu bersama-sama membangun daerah 3T demi perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

Pulau Komodo memang sangat tepat dijadikan bagian teras Indonesia. Karena panorama sabana dan stepa yang memukau, keberadaan kadal purba yang legendaris, lokasi snorkeling dan diving yang asyik, juga pantai berpasir pink yang membuat romantis. Sekumpulan destinasi wisata ini terletak dalam satu wilayah yang bisa diarungi sampai puas dalam waktu kurang lebih 3 hari 2 malam. Bahkan kita bisa mengambil paket wisata selama seminggu kalau dirasa belum puas. Karena masih ada beberapa tujuan wisata di dekat Labuhan Bajo yang bisa dikunjungi.

Bukit Gililawa, Trip Komodo

Untuk membangun daerah 3T lainnya, jelas diperlukan adanya sinergitas dalam rangka peninjauan arah kebijakan dan sikap agar bisa diambil secara tepat. Kegiatan ini bisa dilaksanakan oleh pihak pemerintah, khususnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Tentunya, tidak hanya dari pemerintahan saja. Pasti diperlukan unsur campur tangan dari pihak luar (swasta) untuk membantu membangun daerah 3T.

Dilansir dari Korindo news, ternyata baru-baru ini Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi telah menyusun beberapa program dan kebijakan untuk pembangunan daerah perbatasan. Salah satu program pemerintah tersebut adalah dengan mengajak pelaku usaha untuk berinvestasi di daerah perbatasan. Dengan meningkatnya investasi ini maka diharapkan bisa sejalan dengan pembangunan berbagai bidang di daerah tersebut. Meliputi bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur.

Karena lingkungan daerah perbatasan biasanya masih asri, maka diharapkan pembangunan usaha di sekitarnya merupakan usaha yang berbasis lingkungan. Kelihatannya memang bukan hal yang mudah. Ditambah lagi infrastruktur daerah 3T yang belum memadai hingga saat ini. Namun, usaha ini bukan pula hal yang mustahil. Selama ada kemauan, di situ ada jalan terbuka lebar.

Bersama KORINDO, Indonesia Mampu Membangun Daerah 3T


Buktinya, ada salah satu contoh sukses yang dilakukan KORINDO dalam membangun daerah perbatasan. Meskipun daerah 3T masih minim infrastruktur, perusahaan ini telah sukses membangun industri ramah lingkungan dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

KORINDO group merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1969. KORINDO merupakan perusahaan yang terdepan pada berbagai industri di pasar Asia tenggara, dan sudah 48 tahun beroperasi. Perusahaan ini telah membangun bisnis dengan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi negara, serta menjunjung tinggi praktik-praktik ramah lingkungan, dan berorientasi pada masa depan.

Filosofi KORINDO (sumber: korindonews)

Pada awalnya KORINDO berfokus di pengembangan hardwood yang kemudian beralih ke plywood/veneer pada tahun 1979. Dilanjutkan dengan bisnis kertas koran di tahun 1984, perkebunan kayu di tahun 1993, dan terakhir perkebunan kelapa sawit di tahun 1995.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan untuk membangun daerah 3T sesuai dengan program nawa cita dari pemerintah? Kita bisa mempelajari dari apa yang sudah dilakukan oleh KORINDO, yaitu dengan cara:

cara membangun daerah 3t


1. Meningkatkan kualitas SDM daerah 3T

Daerah 3T dikenal dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang cenderung rendah. Bahkan sepengamatan saya, masih ada anak-anak yang lebih memilih membantu orang tuanya bekerja di kebun atau sawah daripada pergi ke sekolah. Perlu motivasi dari pihak luar agar anak-anak bersemangat menuntut ilmu di sekolah sampai ke perguruan tinggi. Perwujudan motivasi itu bisa berupa bantuan operasional, beasiswa, bangunan sekolah, atau bahkan layanan antar jemput menuju sekolah dengan menggunakan bis sekolah.

Pict by KORINDO
Selain itu, untuk mepersiapkan persaingan di era revolusi industri 4.0, perlu juga untuk membekali para siswa dengan berbagai keahlian dan keterampilan. Fasilitas seperti Balai Latihan Kerja bisa sangat menunjang misi seperti ini. Penggunaan fasilitas ini pun harus ada sinergitas antara pihak Dinas Ketenagakerjaan yang mewakili pemerintah sebagai fasilitator dan pihak swasta sebagai penyelenggaranya.

Tidak hanya siswanya, guru-guru juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas SDM daerah 3T. Maka dari itu, keberadaan guru-gurunya, terutama guru honorer patut diapresiasi. Misalnya dengan pemberian bantuan kepada mereka. Hal ini bertujuan agar menumbuhkan semangat mereka dalam perannya untuk memajukan daerah 3T.

2. Memberikan bantuan pelayanan kesehatan kepada masyarakat daerah 3T

Selama saya tinggal di daerah 3T, saya merasakan sulitnya akses kesehatan bagi warganya. Hanya ada satu puskesmas pembantu yang beroperasi. Itupun dengan peralatan medis yang seadanya. Rumah sakit besar hanya ada di kota besar yang hanya bisa ditempuh dengan selang waktu sekitar 5 jam perjalanan. Daerah 3T yang saya tempati kebetulan juga susah untuk mendapatkan air bersih. Warga harus berjalan ke sumber air yang berada di pinggir desa untuk mendapatkan air bersih. Itu pun, menurut saya kurang layak untuk dikonsumsi. Karena tidak bisa dimasak dan langsung diminum. Air yang sudah dimasak harus diendapkan dulu kandungan zat kapurnya agar bisa diminum.

Entah bagaimana dengan daerah 3T yang lainnya. Saya rasa kondisinya kurang lebih sama dengan yang pernah saya tinggali. Layanan kesehatan yang sulit didapat, kebersihan yang tidak bisa terjamin, dan sulit mendapatkan air bersih yang layak konsumsi. Oleh karena itu, bantuan pelayanan kesehatan kepada masyarakat daerah 3T mutlak diperlukan.

Pict by korindonews
Contohnya seperti pembukaan klinik baru yang dilengkapi fasilitas medis yang memadai untuk mendukung adanya pelayanan kesehatan daerah 3T. Fasilitas tersebut diantaranya laboratorium, ruang rawat jalan, ruang rawat inap, ruang bersalin, perawatan bayi, IGD, USG, ruang bedah minor, penyediaan ambulans, hingga klinik kesehatan gigi. Klinik baru yang terbuka lebar untuk masyarakat 3T ini, selain memberikan pelayanan kesehatan juga diharuskan memberikan sosialisasi hidup sehat.

Pengadaan klinik semacam ini, pemerintah tetap harus melibatkan pihak swasta. Agar tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat daerah 3T bisa tercapai.

3. Membuka lapangan kerja bagi warga daerah 3T

Tak semua orang mampu membuka lapangan pekerjaan atau menjadi wirausahawan secara mandiri. Jutaan orang terlahir dengan takdirnya untuk menjadi pegawai atau karyawan perusahaan. Pun demikian dengan masyarakat 3T yang terbiasa hidup di lingkaran daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Bahkan masih jauh dari peradaban modern yang mungkin sudah menjadi teman hidup kita sehari-hari.
Pict by korindonews

Keberadaan perusahaan, bisa menjadi jalan terang bagi masyarakat daerah 3T untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Perusahaan harus berkontribusi menyerap tenaga kerja dari daerah 3T. Karena dengan demikian, penghasilan untuk menyambung hidup bisa terpenuhi dengan cukup dan layak. Mereka tidak perlu jauh-jauh mencari pekerjaan ke luar daerah. Bagaimanapun juga, putra daerah yang sudah menetap dan tinggal di wilayah tersebut pasti akan lebih mudah mobilitasnya menuju ke area perusahaan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

Seperti di kawasan Papua, yang merupakan salah satu daerah primadona dalam pengembangan industri kehutanan. Sebab bentang alamnya sangat luas, subur, dan kebanyakan masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Diketahui bahwa, selain industri pertambangan, industri kehutanan juga menjadi penyumbang terbesar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Papua.

4. Tetap menjaga kelestarian lingkungan daerah 3T

Lingkungan daerah 3T masih tergolong asri karena belum terkontaminasi berbagai polusi dan kemodernan zaman seperti yang telah terjadi di lingkungan perkotaan. Kesegaran udara, kejernihan mata air, rindangnya pepohonan, dan perabotan rumah tangga penduduk yang kebanyakan masih serba tradisional turut serta menyumbang keterjagaan kelestarian lingkungan darah 3T.

Pembangkit listrik biomassa ramah lingkungan (korindonews)

Kedatangan perusahaan yang membawa berbagai mesin modern, serta karyawannya yang terbiasa hidup di perkotaan, bisa menjadi salah satu faktor rusaknya kelestarian lingkungan daerah 3T. Tentu saja akan sangat disayangkan kalau kelestarian daerah 3T memudar hanya karena keinginan untuk sejajar dengan daerah perkotaan. Sudah semestinya meskipun membangun peradaban baru, kelestarian lingkungan harus tetap dijaga. Agar bumi ini juga semakin panjang umur.

Kesadaran pihak perusahaan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan membangun industri ramah lingkungan harus ditanamkan. Program-program yang mendukung terbentuknya kelestarian lingkungan juga harus digalakkan. Tidak dibenarkan perusahaan yang membangun daerah 3T dengan cara-cara merusak lingkungan 3T itu sendiri.

5. Mengembangkan pembangunan infrastruktur daerah 3T

Daerah 3T dikenal sebagai daerah yang tidak memiliki infrastuktur memadai sehingga tidak memiliki aksesibilitas. Keberadaan perusahaan di daerah 3T, secara otomatis akan turut membangun infrastruktur di sekitar wilayah tersebut. Sebab tanpa infrastruktur yang memadai, perusahaan akan kesulitan untuk beroperasi.

Pict by korindonews

Seperti yang kita ketahui, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu faktor penyumbang untuk menggerakkan roda perekonomian suatu daerah. Bisa jadi dengan terbukanya perusahaan di daerah 3T, akan turut membangun infrastrukturnya. Seperti membuka akses jalan dan jembatan, sarana pemukiman, penyediaan air bersih, listrik, fasilitas gedung sekolah, bus, rumah ibadah, balai pengobatan, bahkan membangun pusat ekonomi seperti pasar-pasar tradisional. Dengan demikian secara otomatis akan turut menggerakkan roda perekonomiannya.

Selain itu, keberadaan perusahaan bisa juga mengembangkan bisnis pariwisata di daerah 3T. Karena daerah 3T sangat berpotensi untuk dikembangkan wisata alamnya. Dengan sarana infrastruktur yang sudah memadai dari perusahaan, bisa jadi para wisatawan akan mulai tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat wisata alam di sekitar daerah 3T tersebut.

Itulah beberapa cara yang bisa dijadikan inspirasi untuk turut serta membangun daerah 3T tanpa harus merusak daerah 3T itu sendiri.

Mari kita berjuang bersama-sama melalui hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk membangun daerah 3T. Berjuang membangun infrastruktur daerah 3T tanpa merusak kelestarian lingkungannya. Berjuang untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia daerah 3T tanpa harus merendahkan mereka. Berjuang untuk meningkatkan perekonomian daerah 3T tanpa harus mengeksploitasi besar-besaran segala kekayaan alamnya. Semua itu dilakukan demi perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

0 Response to "Sinergitas untuk Orientasi Guna Meretas Stigma 3T"

Post a Comment

Terima kasih sudah singgah di blog amiwidya.com.
Saya persilakan menambahkan komentar untuk melengkapi postingan blog di atas.
Semoga bermanfaat & menginspirasi buat semua...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel