Pahlawan Kala Belajar, Mengejar Merdeka Belajar

pahlawan kala belajar, mengejar merdeka belajar

Kisah ini kubagikan, bukan karena ingin berkeluh kesah. Akan tetapi, aku ingin membuka mata para pembaca. Khususnya para pemerhati pendidikan di Indonesia. Agar mereka tahu, bagaimana perjuangan menuju Merdeka Belajar kaum akar rumput.

Senin pagi... 

Matahari mulai merangkak naik, keluar dari persembunyiannya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Aku bergegas menuju sebuah ruang kelas yang ada di pojok sekolah. Kuhampiri sekelompok siswa-siswi yang bergerombol untuk bersiap menghadapi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Mereka harus mengerjakan soal-soal Asesmen Kompetensi Minimum Literasi, Numerasi, Survey Karakter, dan Survey Lingkungan Belajar.

Begitu sampai, kulirik meja guru di pojok depan ruang kelasku. Ternyata di sana sudah ada partner kerjaku yang duduk sambil menyiapkan berkas-berkas keperluan siswa. Kuhampiri beliau, dan menanyakan persiapan apa saja yang perlu dibantu. Lantas, kusapa siswa-siswiku dengan ramah.

"Bagaimana anak-anak, sudah siap?" 

Tidak ada jawaban yang memuaskan. Hanya celoteh mereka yang terus bersahutan. Menanyakan ini dan itu semau hati mereka. Untuk menjawab rasa penasaran mereka, akupun membuka percakapan.

"OK. Kalian sudah sarapan tadi?"

"Sudah Bu..." Jawab mereka kompak.

"Siapa yang belum datang?"

Mereka pun menyebutkan beberapa nama teman-temannya.

"Anak-anak, jangan lupa nanti saat mengerjakan, kalian harus fokus. Diam. Jangan banyak bicara!"

"Tulis identitasnya sesuai dengan yang ada di tanda peserta!"

"Kalau ada yang kurang jelas, silakan menanyakan kepada pengawas. Bu Dina dan Bu Yun gak ada di dalam ruangan. Jadi gak bisa bantu kalian nanti."

Selanjutnya, kupersilakan mereka menanyakan perihal apapun yang perlu ditanyakan. Sambil mengulur waktu dan menunggu semua siswa datang.

Ruang kelas 5 di pojok sekolah


Tantangan Mengejar Merdeka Belajar

Waktu terus bergulir, 30 menit sudah berlalu. Masih ada 5 anak yang belum kelihatan batang hidungnya. Padahal, 10 anak harus hadir di sesi pertama pukul 08.00 WIB ini. Kami mulai panik. Aku sebagai walikelas sekaligus ketua penyelenggara ANBK, berusaha menghubungi walimurid melalui WhatsApp dan telepon. 

"Assalamualaikum Ma, apa Luay sudah berangkat ke sekolah?"

"Lho, katanya ujian jam setengah sembilan Bu?" Sahut mamanya Luay cepat.

Deg... Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Sontak nada suaraku meninggi.

"Lhooo.... Kata siapa Ma? Kan sudah saya kasih jam di pengumumannya? Sekarang Ma! Anaknya suruh berangkat sekarang juga!" 

Kesabaranku mulai terkikis. Kudengar telpon pun dimatikan dari seberang. Beruntung rumahnya anak ini dekat. Tak berapa lama, dia pun datang.

Satu per satu wali murid kuhubungi. Hingga 15 menit berikutnya, 3 anak telah datang. Hanya kurang 2 anak saja yang masih belum nampak.

"Assalamualaikum Ma, Fais jadwalnya hari ini ya. Gimana? Sudah berangkat anaknya tadi?" Kucoba menghubungi salah satunya.

"Waalaikum salam. Gak tau Bu, saya sekarang di rumah sakit, jaga ayahnya lagi sakit. Fais di rumah, sudah saya titipkan tetangga."

"Baik Ma, bisa minta nomer HP tetangganya Ma? Biar saya hubungi."

Telepon pun aku putuskan, dan aku mendapat kiriman sebuah kontak di WhatsApp. Sesegera mungkin kuhubungi kontak tersebut. Akan tetapi suaranya putus-putus. Telpon kumatikan kembali. 

Lalu kupanggil 2 penjaga sekolah. Kepala sekolah pun sudah mulai ancang-ancang memberikan instruksi kepada 2 penjaga ini. Bu Yun masih mempersiapkan keperluan peserta ujian.

Kupanggil kembali kontak yang diberikan oleh mamanya Fais. Kali ini tersambung dengan jelas. Suara seorang laki-laki di seberang sana melaporkan bahwa Fais tidak mau berangkat sekolah. Padahal sudah dibujuk sama beliaunya.

"Ya Pak, begini saja. Biar dijemput sama penjaga sekolah dan 1 temannya sekarang. Yang penting bapak suruh Fais mandi dulu. Cepat-cepat saja. Sudah mau jam 8 ini. Begitu ya Pak... Mohon bantuannya nggih. Pangapunten ngrepoti panjenengan. (Maaf merepotkan)" Langsung kututup lagi teleponnya.

Pada akhirnya, dua orang penjaga ditemani masing-masing seorang siswa, berangkat menuju rumah anak-anak yang belum datang. Kuminta dua siswa ini agar menunjukkan jalan menuju rumah temannya.

Aku mencoba menjelaskan situasi keluarga dari dua siswa yang belum datang ini kepada kepala sekolah. Satu siswa karena kedua orangtuanya berada di rumah sakit. Satunya lagi karena ibunya, sebagai single parent sudah berangkat kerja sejak pagi. Untungnya beliau bisa memakluminya.

Jadi ceritanya, sekolah tempatku mengabdi adalah sebuah sekolah tua di kota Gresik, yang berlokasi di sebelah pelabuhan Gresik. Sekolah ini memiliki banyak murid dengan latar belakang kaum urban dari pulau seberang. Meskipun tua usia sekolahnya dan menjadi sekolah nomor 1 sebagai UPT SDN 1 Gresik, namun bukan berarti kondisi muridnya berada di posisi "teratas".

Ada beberapa siswa memiliki background yang kurang beruntung, seperti berasal dari keluarga broken home, keluarga kurang mampu, keluarga bermasalah, dan siswa yatim ataupun piatu. Kondisi yang demikian membuat kami sebagai guru harus lebih banyak memberikan perhatian.

Beberapa saat kemudian, Bu Yun mendapat telpon dari Pak Juri, penjaga sekolah yang menjemput Fais. Pak Juri melaporkan bahwa seragam Fais masih di pengering mesin cuci. Segera kulaporkan kepada kepala sekolah.

"Sudah gak apa-apa, pakai baju seadanya saja, yang penting berangkat sekolah!" Ujar beliau dengan nada tegas. Selanjutnya kusampaikan kepada Bu Yun supaya diteruskan ke Pak Juri.

Aku terdiam sejenak. Seketika menghela napas panjang. Merenungi keadaan yang membuat senam jantung terus beradu. Ingin ku berteriak rasanya... Kekacauan macam apa ini?! Hari pertama ANBK, semuanya terasa ruwet bak benang kusut.

Tepat pukul 07.55 WIB, kedua siswa yang dihebohkan sejak tadi pun datang. Satu siswa dengan kondisi wajah seperti baru bangun tidur. Sedangkan satunya lagi, Fais, datang dengan baju basah dan rambut acak-acakan. Tak ada atribut apapun yang menempel di seragam basahnya. Tak ada dasi, sabuk, kaos kaki, apalagi masker.

Bu Yun pun dengan sigap mengambilkan atribut dari koperasi sekolah.

"Kamu sudah sarapan belum?" Kutanya Fais

"Belum Bu." Dia menjawab dengan lemas.

Aku berlari menuju kantor. Kumintakan kue dan minuman jatah panitia sebagai pengganjal perutnya. Dia makan secuil dan minum seteguk air. Lalu beranjak menuju ruang perpustakaan sekolah yang dimanfaatkan sebagai ruang komputer untuk sementara.

Syukurlah... Kini semua siswa sudah lengkap dan siap menghadapi kenyataan untuk berinteraksi dengan perangkat komputer.

Benang kusut itu, satu per satu mulai terurai. Masih ada harapan dan celah untuk bernapas. Tak layak kami mengeluh. Masih banyak di luar sana yang jauh lebih kusut, lebih menantang. Namun tetap berjuang, demi sesuatu hal yang tak terelakkan.

Memang tak bisa dipungkiri, pembenahan kurikulum pendidikan harus terus dilakukan demi kebutuhan di masa depan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dicanangkanlah sebuah program dengan slogan Merdeka Belajar. Slogan ini telah digaungkan Mas Menteri, Nadiem Anwar Makarim sejak menjabat sebagai menteri Kemendikbud RI. 

Sebagai seorang guru kelas lima di sekolah dasar, tentu saja saya harus ambil bagian untuk mewujudkan Merdeka Belajar. Dimana sekolah kami harus menyelenggarakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dalam kondisi mau tak mau, siap ataupun tidak.

Memiliki ruang komputer tersendiri, masih dalam angan-angan. Jumlah perangkat komputer yang siap digunakan untuk ANBK pun hanya berjumlah tiga perangkat. Ibarat bayang-bayang, sekolah kami mendapatkan pinjaman komputer dari sekolah lain. Tanpa adanya itu, entah bagaimana jadinya ANBK bisa terselenggara.

Di tengah segala kekacauan yang terjadi di sekolah, ternyata kami masih bisa bernapas lega. Ada pahlawan yang bisa menyelamatkan kelancaran di setiap sesi ANBK. Secercah harapan agar ANBK terselenggara dengan lancar, masih bisa kami rasakan.


IndiHome Solusi Internet Berkelas dan Cerdas untuk Aktivitas Tanpa Batas 

Ya, sekolah kami yang berada di wilayah perkotaan ini masih bisa dijangkau oleh internet cepat dari IndiHome. Lead by IndiHome, ANBK bisa terselenggara dengan lancar tanpa gangguan internet yang berarti. Kebaikan ini mampu menghapus keresahan hati kami akibat beragam tragedi di pagi hari sebelum pelaksanaan ANBK. Bahkan pada waktu hujan di siang hari, di sesi dua ANBK pukul 13.00 WIB, kecepatan internetnya tetap stabil. Siswa-siswi pun bisa mengerjakan dengan lancar.


lead by IndiHome
Siswa mengerjakan ANBK

Sekolah kami menjadwalkan ANBK selama empat hari berturut-turut. Pada hari pertama dan kedua berlangsung selama dua sesi, pada pagi dan siang hari. Selanjutya pada hari ketiga dan keempat, berlangsung selama satu sesi saja di pagi hari. Pada hari-hari ini, ANBK juga terselenggara dengan mulus berkat Internetnya Indonesia.


lead by IndiHome
Para guru mengisi survey lingkungan belajar

Tak hanya siswanya yang harus berhadapan dengan soal-soal ANBK dan mengisi survey. Guru-gurunya juga harus mengisi survey lingkungan belajar. Kami sepakat mengisi survey yang menghabiskan waktu sekitar satu sampai dua jam ini di hari keempat usai anak-anak mengerjakan ANBK. 

Syukurlah, pengisian survey berjalan santai dan bisa membuat kami tertawa lepas. Menertawakan segala hal yang terjadi selama ANBK berlangsung. Semua kegiatan ANBK di sekolah kami benar-benar berasa seperti aktivitas tanpa batas berkat kehadiran IndiHome.

Kabar baiknya lagi, saat ini, jaringan IndiHome sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Semoga saja IndiHome terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan internet yang lebih baik bagi masyarakat. Setidaknya, IndiHome bisa memberikan ruang bagi kami untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.

Aminnatul Widyana Mom of 2 kiddos/ Ahmad Rahman Budiman's wife/ teacher/ blogger

64 Responses to "Pahlawan Kala Belajar, Mengejar Merdeka Belajar"

  1. Bagus sekali

    Sangat menginspirasi dan memotivasi

    Terus berkarya Bu Aminnatul widyana dan semangat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Pak Guru dari SDN tetangga wkwwkkkk....

      Delete
  2. Bedilan, upt sdn 1.. siswa yg beragam karakter yg luar biasa, tanpa kita sadari dari sinilah mereka bisa bermunculan generasi generasi hebat...tantangan pasti didepan mata, sudah puluhan tahun kisah cerita siswa berlabuh...
    Tetap semangat mengabdi untuk mencetak generasi yg bermartabat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul... UPT SDN 1 Gresik dulunya adalah SDN Bedilan. SD tertua di Gresik

      Delete
  3. Hampir sama seperti kondisi disekolah ku. Tapi jika dilihat sekilas, lunaya bagus ruangannya Bu, perangkat juga memadai... Alhamdulillah ya... Sekolahku juga Alhamdulillah, dari 16 perangkat komputer yg digunakan semuanya adalah laptop pinjaman. Intinya harus bersyukur, insyaallah akan ditulis sebagai ladang pahala nggih... Kualitas pendidikan jugaada di tangan kita.... Berbhakti untuk negri๐Ÿ’ช

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama meminjam wkwkkk.... Gak apa2 ya Bu Ratna, yang penting ANBK terselenggara dengan lancar. Semoga ke depannya bisa memiliki perangkat komputer sendiri. Aamiin...

      Delete
  4. Wah...keren banget kepingin deh seperti ibu๐Ÿ™๐Ÿ™sangat memotivasi๐Ÿ™๐Ÿ’“Tetap semangat dan sabar ya bu๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

    ReplyDelete
  5. Saya baca kisahnya kok ikut ndredek, untung saja akhirnya dapat terlewati dengan baik. Mungkin bisa mengajukan permohonan komputer agar bisa mendukung PBM

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, semoga aja suatu saat bisa dapat bantuan perangkat komputer untuk sekolah. Aamiin...

      Delete
  6. Sangat menginspirasi, ya semoga ke depan lembaga saya bisa mencontoh SD njenengan bu ๐Ÿ™๐Ÿ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... semoga semakin maju untuk pendidikan Indonesia. Semangat Merdeka belajar

      Delete
  7. Semangatt Bu Ami...semangatt mencerdaskan bangsa...

    Semoga ke depannya pendidikan dan pendidik lebih diutamakan oleh pemerintah.
    Sarana dan prasarana sekolah pun dari setiap daerah memadai untuk pembelajaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bu, semoga aja demikian. Karena masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana yang layak buat belajar sesuai tuntutan zaman

      Delete
  8. Di era pendidikan digital sekarang ini, internet memang sudah menjadi kebutuhan. Semoga ke depan sarpras di lembaga2 pendidikan segera dpt dipenuhi secara merata agar dpt mengejar tuntutan zaman milenial. Aamiiin..

    Semangat, Bu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.... Iya, semoga saja demikian. Karrna zaman terus berkembang, sedangkan anak2 juga dituntut belajar sesuai perkembangan zamannya

      Delete
  9. Yaaaaa itulah yg biasanya dialami guru di SD, apalagi tempat2 luar biasa. Kejadian bermacam2 yg membuat sport jantung. Hehehe
    Yg penting tetap semangat dan berjuang dg ikhlas. Krena menjadi guru, selain mencari nafkah, jg menjadi ladang pahala yg luar biasa guna menambah ilmu siswa kita.
    Salam semangat!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bu, bondho sabar sing akeh... Kulakan sabar sak durunge budhal ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Delete
  10. Sangat menginspirasi. Terus berkarya bu. ๐Ÿฅฐ

    ReplyDelete
  11. Terus semangat Bu Dina...ditempat saya ceritanya hampir sama. Bahkan ketika saya mencari anak didik saya dirumahnya, dia sempat lari dan bersembunyi didalam tong air. Hari kedua pun juga begitu, saya harus mencarinya lagi untuk masuk ANBK, kita harus tetap semangat dan sabar dalam mendidik generasi milenial saat ini..๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah perjuangan menjadi guru di SD ya Bund.... Tetap semangat, biar muridnya juga ketularan semangat

      Delete
  12. Sangat menginspirasi terutama bagi pendidik untuk lebih membenahi segala hal dalam kegiatan belajar mengajar

    ReplyDelete
  13. ah iya, sekarang pendidikan di Indonesia mengusung konsep merdeka belajar ya mbak
    konsepnya bagus, hanya memang butuh penyesuaian saat praktiknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah Mom.... Konsep ini harus dibarengi dengan kesiapan di lapangan sebetulnya

      Delete
  14. Bacanya ikut deg-degan nih Kak. Alhamdulillah bidang khususnya satu persatu mulai terurai. Saya ikut ngerasain karena anak sulung saya kelas 5 SD. Alhamdulillah sekolahnya juga pakai indihome. Ujiannya lancar tanpa kendala.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IndiHome berjasa banget buat penyelenggaraan ANBK di sekolah2

      Delete
  15. Pasti deg deg ya kak kalau alami hal serupa tiap akan ujian seperti yang diceritakan.
    Emang tiap kondisi anak murid punya latar belakang yang berbeda untuk itu harus ada solusi nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, maka dari itu perlakuan terhadap mereka jg bisa berbeda

      Delete
  16. anakku juga ikut anbk, awalnya agak cemas aku mikirin, tp kata teman yg guru, "beban" itu bukan di siswa, tapi di sekolah. jd lega deh, walau sebenarnya itu beban kita semua. paling gak, anakku gak usah stres gara2 jd bahan penataan kurikulum, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak saya juga ujian. Yang jadi terbebani bukan anak saya . Malahan saya suka ngerasa deg-degan. Padahal yang ujian itu anaknya. Tapi anaknya malah enjoy saya

      Delete
    2. Anaknya nyantai, tp guru2 dan orang tua yg deg2an. Banyak kejadian kayak gitu Mom...

      Delete
  17. Mantap Bu, sangat menginspirasi sekali.

    ReplyDelete
  18. Ya Allah, saya tegang, Mbak baca cerita sejak awal sampai para siswa terkumpul. Butuh segala acara untuk mendatangkan anak untuk ikut ANBK. Alhamdulillah mbaknya cekatan dan ada penjaga sekolah yang bisa bantu jemput anak yang terlambat .... alhamdulillah sudah ada perangkat wifi juga ya di sekolah. Pastinya lancar ya selama ANBK berlangsung. Fiuh. Masih ada sisa-sisa tegang nih saya menuliskan akhir komentar saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok segala acara saya nulisnya ... segala cara maksudnya hehe.

      Delete
    2. Alhamdulillah Mbak, akhirnya lega krn bs terselenggara dengan lancar pas ujiannya. Awalnya sj yg bikin pikiran kisruh wkwkwkkk

      Delete
  19. Dan ternyata, salah satu siswa tersebut adalah anak dari Sahabat saya yang sudah lanjut usia dan sedang diuji sakit. Terimakasih Bu Guru yang sdh memfasilitasi anak tersebut, semoga perjuangan Bu Guru menjadi teladan kami semua.

    ReplyDelete
  20. Sepanjang membaca sampai dibuat deg-degan sama Fais dan satu murid lain yang belum datang. Rasanya auto pengen sakit perut ya Mba. Terharu sekali karena bahkan Mba mencarikan pengganjal perut dulu buat si murid. Terasa sekali kasih sayang seorang gurunya. Btw, selamat hari guru buat Mba.

    Mantap ya IndiHome. Jangkauannya makin luas dan layanan internet yang ditawarkan pun stabil sepanjang ANBK.

    ReplyDelete
  21. Pendidikan saat ini sudah semakin serba digital ya mbak. Mulai dari orangtua, guru bahkan anak-anak di minta untuk mengikuti perkembangannya. Sekolah pun harus beradaptasi. Semoga dengan adanya Indihome pembelajaran dan apapun itu bisa berjalan lancar.

    ReplyDelete
  22. beruntung ada internet cepat Indihome ya?

    saya pernah melihat video perjuangan membangun kawasan terluar, tertinggal, terdepan

    karena target Telkom gak hanya profit tapi juga manfaat bagi seluruh penduduk Indonesia

    ReplyDelete
  23. Pembenahan kurikulum itu bagus. Menyesuaikan dengan perkembangan jaman pastinya. Namun harus diiringi kesiapan pihak sekolah dan murid juga. Jangan sampai dipaksakan. Pemerintah harusnya memberlakukan kebijakan seimbang antara arahan dan fasilitasnya ya ...
    Tidak semua anak bisa dan mampu

    ReplyDelete
  24. Kebayang sama perjuangannya Mbak,untungnya semua anak bisa dikondisikan untuk masuk.
    Semoga ya peran indihome ini bisa membantu mewujudkan slogan Merdeka Belajar. Dan semoga semua anak di Indonesia bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak secara merata

    ReplyDelete
  25. Bener banget ada internet cepat dari IndiHome sehingga kegiatan belajar mengajar anak murid berjalan lancar ya terutama skrg ujian tuh pake model unbk jadi mau gak mau ya hrs ada jaringan internet ya

    ReplyDelete
  26. Alhamdulilah ya bu ada Indihome sehingga proses belajar anak2 bisa berjalan lancar bisa ditiru nih untuk skolah lainnya bu gurunya keren sangat menginspirasi

    ReplyDelete
  27. ANBK ini memang kondisi yang perlu diadaptasi lagi bagi semua pihak. Dari mulai Departemen Pendidika, pihak sekolah, orangtua bahkan guru.

    Semoga saat pelaksaannya sungguhan bisa lancar.
    Memanfaatkan jaringan indihome yang luas dan menjagkau hingga pelosok tanpa hambatan.

    ReplyDelete
  28. Salut nih buat perjuangannya mbak. Sampek-sampek kasih kue sama murid yg belum sarapan. Untung ujian nya lancar berkat Indihome. Tetap semangat buk guru demi memajukan pendidikan Indonesia.

    ReplyDelete
  29. Jadi guru tantangan berat banget ya. Sabar dan belajar terus. Apalagi harus melek digital. Indihome lancar kerjaan juga kelar

    ReplyDelete
  30. Salut ama Bu Guru yang sigap ngehubungin kedua anak tadi. Memang tantangan banget ya, pas ujian mereka malah belum datang. Semoga Bu Ami dan guru lainnya sehat selalu. Tanpa Bu Guru, engga mungkin ada anak hebat generasi penerus bangsa. Bicara soal internet, Indihome udah cukup lama berkiprah ya. Moga pelayanannya makin baik

    ReplyDelete
  31. Alhamdulillah, formasi lengkap ya Bu akhirnya. Di jaman seperti sekarang Indihome solusi banget untuk membantu kegiatan belajar mengajar, mantap

    ReplyDelete
  32. Ya Allah bun...bacanya ikutan sport jantung juga deh. Emang ya mau gak mau kita harus siap dengan perubahan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menuju digitalisasi. Alhamdulillah akhirnya bisa juga lolos mengikuti ANBK.

    ReplyDelete
  33. Sistem ANBK gini ga cuma anak muridnya aja yg harus siap2 n deg2an, guru2nya juga pasti ga kalah riweh n deg2an apalagi harus siap kuat di jaringan, alhamdulillah bgt ya jaringan inet nya kebantu dr indihome..

    ReplyDelete
  34. bagaimanapun juga sekarang nih ketersediaan internet yang lancar itu penting banget ya untuk proses belajar mengajar, apalagi dalam era "merdeka belajar". semoga terus lancar tanpa hambatan ya mba..

    ReplyDelete
  35. Senang sekali saat bisa berikan dukungan penuh pada anak untuk bisa merdeka belajar

    ReplyDelete
  36. Alhamdulillah bisa lolos ANBK juga ya mbak. saat ini kebutuhan internet tuh sudah termasuk hal pokok, apalagi memasuki era Merdeka Belajar. Dengan pakai Indihome, kerjaan jadi lebih lancar ya..

    ReplyDelete
  37. anakku juga mulai nih persiapan ANBK, ya ampun internet penting bgt sekarang, apalagi memang proses evaluasi pembelajaran skrg berbasis komputer, mau ga mau jaringan internetnya harus oke bgt

    ReplyDelete
Terima kasih sudah singgah di blog amiwidya.com.
Saya persilakan menambahkan komentar untuk melengkapi postingan blog di atas.
Semoga bermanfaat & menginspirasi buat semua...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel