Tentang Rindu yang Menggebu dan Sekolah yang Tak Menentu


sekolah masa pandemi

Rumah sakit over load, sekolah-sekolah diliburkan, siswa-siswi belajar dari rumah, pegawai kantor menjalani work from home, pengusaha gulung tikar, pedagang kecil menutup kedai, buruh dan karyawan dirumahkan, banyak pula yang terkena pemutusan hubungan kerja. Seperti itulah kiranya sepintas carut-marut keadaan di masa pandemi COVID-19. 

Namun, ada segelintir orang yang sedang beruntung dengan bergerak cepat menyambut peluang-peluang untuk membuka perekonomian babak baru. Orang-orang kreatif yang berusaha mendobrak era 5.0. Mereka memulai bisnis dan pekerjaan dengan menautkan artificial intelligence dan mengalihkan pekerjaan menjadi berbasis internet. Semua menjadi serba online.

Yah, kini kita hidup di zaman yang menuntut untuk serba progresif dan menjadi sosok yang visioner. Apalagi dengan dukungan pandemi COVID-19, seakan-akan kemajuan tersebut kian dipercepat prosesnya.


Pengalaman Saat Pandemi COVID-19

Selain sebagai narablog, saya juga menyandang pekerjaan lain sebagai guru yang mengajar di sekolah dasar. Di awal pandemi, tentu saja mengalami kebingungan yang parah tentang cara mengajar. Karena sekolah dilarang untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Keluhan pun datang dari para walimurid. Keadaan menjadi semakin sulit. Dimana mereka ada yang diharuskan tetap bekerja di luar rumah, sedangkan anak-anak mereka harus tetap berada di rumah. Ketiadaan smartphone untuk belajar daring pun menjadi kendala. Sampai merembet ke semangat belajar anak-anak yang kian surut. Anak-anak lebih suka bermain di luar rumah daripada harus dikurung untuk belajar di dalam rumah.

Sampai-sampai pernah diadakan survey kepada walimurid. Bagaimana kalau disuguhkan dua pilihan, antara sekolah dengan sistem daring dan sekolah dengan sistem tatap muka. Hasilnya, mayoritas dari mereka meminta masuk sekolah seperti biasa saja. Pun demikian dengan anak-anak, lebih senang saat mereka bisa bersekolah dan bermain bersama teman-temannya. Ironis memang, namun keadaan masih tak memungkinkan. Apalagi daerah kami masih zona oranye waktu itu. Jadi keputusannya, sekolah tetap dilaksanakan secara daring.


mengajar secara daring
Mengajar secara daring (dokumentasi pribadi)


Bagi anak-anak yang benar-benar mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya, biarpun sekolah dilaksanakan secara daring, mereka tetap dapat mengikuti pembelajaran. Namun kebalikan dari mereka. Di sekolah tempat saya mengajar, ada anak-anak yang tidak seberuntung mereka. Anak-anak yang lahir di tengah keterbatasan ekonomi, dengan tingkat pendidikan keluarga yang rendah. Mereka yang tak sempat memperhatikan sampai mana tahapan ilmu yang diperoleh, tetapi harus memikirkan bagaimana caranya supaya perut tetap kenyang dari hari ke hari.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah diterapkan di beberapa daerah. Berlanjut lagi menuju PPKM Mikro setelahnya. Masih juga tak berdampak sigifikan terhadap pengurangan pertumbuhan jumlah pasien COVID-19. Padahal para pelaku usaha pariwisata, hotel, mall, pemilik kedai, cafe, dan warung-warung kecil sudah merasakan dampak luar biasa akibat kebijakan ini. Berkurangnya pendapatan akibat pengurangan jam beroperasi adalah salah satu dari sekian kerugian yang dirasakan.

Lalu apa hubungannya dengan pendidikan? Karena faktor ekonomi, lingkungan, dan kondisi keluarga merupakan penentu kelancaran proses belajar mengajar, secara tak langsung pasti membawa dampak terhadap proses belajar anak-anak. 

Ada yang terpaksa harus membantu orang tuanya bekerja di luar rumah, karena sebagian dari para ayah tak lagi mendapatkan penghasilan tetap dari pabrik. Ada pula yang pulang ke kampung halaman, karena di kota tak lagi mendapat penghasilan yang layak. Ada lagi yang harus hidup terpisah dari orang tuanya, lalu anak-anak ikut neneknya. Karena ayah ibu mereka harus mencari uang. Kemudian yang paling parah, ada yang sampai menjadi anak-anak korban broken home. Itulah akibat terombang-ambingnya perekonomian di tengah-tengah pandemi.

Segala permasalahan yang timbul, menjadikan mereka abai terhadap belajar. Apalagi bagi mereka yang tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Mereka bahkan sama sekali tak mendapatkan hak untuk mengenyam pendidikan yang layak. Ada sih, yang terfasilitasi penuh dengan kehadiran teknologi. Namun, perlu diingat bahwa teknologi hanya sebagai alat, bukan pengganti dari guru. Teknologi secanggih apapun, tetap tak akan bisa memberikan perasaan yang intens layaknya hubungan manusia.


Solusi Problematika Mengajar di Masa Pandemi COVID-19

Setiap masalah yang muncul, pasti ada solusinya. Demikian pula dengan problematika bidang pendidikan yang muncul saat pandemi. Sesulit apapun, asalkan kita berusaha, pasti ada jalan terang untuk keluar dari berbagai masalah. Lantas, bagaimana caranya? Barangkali ada para pendidik yang sedang mampir di blog saya, silakan membaca beberapa kalimat dari saya berikut. Siapa tahu akan membuka inspirasi.


Menganalisis hasil survey sebelum memulai pembelajaran di awal semester

Sebelum memulai pembelajaran awal semester, ada baiknya guru menyebarkan angket untuk keperluan survey. Angket bisa dibuat online maupun offline. Teknisnya bergantung kondisi masing-masing sekolah. Namun di saat pandemi seperti sekarang, disarankan agar memakai angket online saja. 

Apa saja yang perlu dicantumkan dalam angket ini? Bisa tentang kondisi kesiapan siswa, seperti apakah mereka memiliki smartphone pribadi, ataukah masih gabung dengan milik orang tuanya. Ataukah memakai smartphone milik saudara. Kemudian bisa juga tentang tempat tinggal sekarang. Apakah mereka tinggal bersama orang tua, ataukah dengan keluarga yang lain.

survey belajar daring
Hasil survey belajar dari rumah


Bisa juga ditanyakan mengenai pekerjaan orang tua saat ini. Apakah kedua orang tua bekerja, ataukah hanya salah satunya. Jumlah keluarga juga bisa ditanyakan. Karena faktor ini juga bisa memengaruhi konsentrasi belajar siswa dari rumah. Semakin banyak jumlah keluarga, apalagi yang memiliki adik balita, otomatis bisa menurunkan konsentrasi belajarnya. Karena bisa jadi siswa diganggu adiknya ketika belajar. Sehingga harus menunggu waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas dari guru.

Nah, hasil survey inilah yang akan menjadi patokan langkah guru selanjutnya. Guru bisa mulai memikirkan teknik mengajar seperti apa yang akan dipraktikkan. Guru juga bisa mulai mengira-ngira, seberapa banyak materi yang harus tersampaikan setiap harinya. Sehingga kegiatan belajar-mengajar tidak menjadi beban bagi siswa maupun bagi walimurid di rumah.


Penyesuaian teknik mengajar dengan kondisi siswa

Ada teknik mengajar tersendiri yang bisa dilakukan untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh. Saya sendiri mempraktikkan mengajar dengan cara daring (dalam jaringan), luring (luar jaringan), dan blended learning. Siswa yang memiliki fasilitas memadai seperti memiliki smartphone dan WiFi di rumah, saya berikan pembelajaran daring. Mereka bisa juga mengikuti video conference yang dijadwalkan seminggu sekali.


aplikasi mengajar daring
Media mengajar daring


Berbeda keadaan dengan anak-anak yang tidak memiliki fasilitas seperti itu. Anak-anak ini boleh mengikuti pembelajaran secara luring. Caranya dengan menggunakan buku seperti biasa, yang bisa dipelajari mandiri di rumah.

Lain lagi keadaannya bagi mereka yang berada di ambang tengah. Mereka yang kadang bisa daring, tetapi juga kadang tidak aktif nomor telepon selulernya. Mereka yang berada di posisi ini, bisa diberikan opsi pembelajaran blended learning. yaitu secara campuran antara pembelajaran daring dan luring.

Semua opsi di atas, bisa dipakai dengan disesuaikan terlebih dahulu dengan kondisi sekolah masing-masing. Penyesuaiannya berdasarkan hasil analisis survey yang telah dilakukan sebelumnya.


Memberikan jeda pembelajaran untuk memotivasi siswa

Layaknya tubuh, otak juga membutuhkan istirahat setelah dipakai untuk belajar. Demikian pula dengan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Setelah sekian pekan rutin dilakukan pembelajaran, ada baiknya diberikan satu hari jeda untuk melakukan kegiatan yang bisa merefresh otak anak-anak. Tujuannya supaya anak-anak tidak mengalami kejenuhan dan untuk memotivasi kembali agar mereka lebih bersemangat belajar.

Guru bisa memberikan kesempatan mereka untuk melakukan project based learning, dengan memanfaatkan lingkungan sekitar rumah. Sebuah kegiatan yang tidak membutuhkan biaya. mudah dilaksanakan, berhubungan dengan materi pembelajaran, serta bisa membangkitkan semangat belajar kembali.


kegiatan belajar dari rumah
Project based learning


Kehadiran Vaksin COVID-19,

Tak Otomatis Menghentikan Pandemi

Telah hadir beberapa jenis vaksin di Indonesia, baik yang gratis maupun yang berbayar. Baru-baru ini vaksinasi COVID-19 juga sudah digalakkan bagi tenaga kesehatan dan beberapa publik figur Indonesia. Namun dengan kehadiran vaksin ini bukan berarti kita telah bebas dari pintu bahaya COVID-19. Virus tak kasat mata ini tetaplah mengincar kita.

Hanya saja, dengan hadirnya vaksin COVID-19, cahaya menuju kebebasan akan COVID-19 sudah mulai nampak. Asalkan, masyarakat juga patuh terhadap ketentuan prosedur vaksinasi. Karena seperti biasa, masih terdengar suara-suara sumbang yang menolak vaksinasi. Padahal tujuan vaksinasi ini baik, yaitu demi menyelamatkan kita dari bahaya virus yang mengancam.

Maka dari itu, sebagai narablog juga sebagai seorang guru, saya merasa harus mendukung adanya pemberian vaksin COVID-19. Salah satu bentuk dukungan saya adalah melalui hadirnya tulisan ini. Saya juga berusaha membuka pikiran siswa-siswi agar mereka tak takut divaksin. Kalau sudah selesai vaksinasi, bisa jadi sekolah akan dibuka kembali dan pembelajaran akan berlangsung seperti sedia kala. Mereka juga bisa bebas bermain bersama teman-temannya tanpa takut tertular virus COVID-19.

Begitulah, kehadiran vaksin COVID-19 benar-benar diharapkan bisa melenyapkan wabah yang sedang menerpa seisi dunia. Perlahan tapi pasti, semoga hasilnya segera terbukti. Karena sudah banyak korban yang bersaksi, akan keganasan pandemi.


Disclaimer:

“Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021

Aminnatul Widyana Mom of 2 kiddos/ Ahmad Rahman Budiman's wife/ teacher/ blogger

5 Responses to "Tentang Rindu yang Menggebu dan Sekolah yang Tak Menentu"

  1. Anakku juga udah mulai bosan belajar via Zoom setiap hari. Termasuk emaknya juga harus terus memutar otak untuk membuatnya happy belajar dari rumah, terkadang kalau nggak banyak-banyak istighfar udah mau kebawa emosi aja. Semoga pandemi ini segera berlalu. Oya, sukses buat tantangannya ya... :)

    ReplyDelete
  2. Benar mbak
    Sudah hampir satu tahun ya, anak anak belajar di rumah
    mereka rindu sekolah, rindu main dgn teman teman

    ReplyDelete
  3. semangat selalu ya mba Amiwidya semoga jasamu dibalas kebaikan yang berlimpah. dan murid2 bisa segera kembali bersekolah dan pandemi ini cepat berakhir.

    ReplyDelete
  4. Setuju banget anak harus diberi jeda. Ga tiap hari ngerjain tugas. Emaknya juga harus istirahat dampingin 😭

    ReplyDelete
  5. Ya Allah pandemi bener bener merembet ya efeknya bak efek domino :') Sebagai guru jadi pe we banget ya Mbak.

    Pembahasan setiap soal PBL, blended learning mengingatkan aku materi kuliah, Mbak hehe.

    ReplyDelete
Terima kasih sudah singgah di blog amiwidya.com.
Saya persilakan menambahkan komentar untuk melengkapi postingan blog di atas.
Semoga bermanfaat & menginspirasi buat semua...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel