Featured Post

#BukaInspirasi di Era Revolusi Industri 4.0

ASUS ZenBook 13 UX331UAL, Andal untuk Desa Tertinggal


ASUS ZenBook 13 UX331UAL


Memasuki era digitalisasi, laptop menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi mayoritas kalangan. Tidak dapat dipungkiri, hampir segala bidang pekerjaan membutuhkan benda digital yang satu ini. Demikian pula dengan saya yang sudah sekian lamanya mendamba memiliki laptop.

Saya baru memiliki laptop pribadi setelah lulus kuliah. Itupun hasil diberi uang tambahan oleh orang tua. Selain itu karena memang harus membelikan saya, yang hendak berangkat mengemban tugas negara selama setahun.

Karena sudah lama mengidam-idamkan punya laptop dan baru saja bisa memiliki, membuat benda ini terasa sangat berharga bagi saya. Betapa bahagianya saya bisa memiliki benda yang sudah dari dulu saya inginkan. Hal ini menjadikan saya ekstra hati-hati menjaganya, seperti menimang bayi.

Yah, memiliki laptop mengingatkan saya tentang bagaimana susah payahnya ketika belum memilikinya di saat kuliah. Beruntung saya dikelilingi oleh teman-teman yang baik hati. Mereka meminjami saya laptop untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Bukan Perjalanan Biasa


Hari yang mendebarkan dalam rangka pengabdian kepada negeri pun tiba. Sebelum diberangkatkan, kami para peserta mendapat jadwal untuk menempuh pendidikan kilat. Gunanya sebagai pembekalan survival dan sedikit pengulangan belajar tentang ilmu untuk profesi yang akan kami emban.

Setelah dua belas hari lamanya kami digembleng di tempat pendidikan para TNI AD Rindam V Brawijaya Malang atau lebih dikenal dengan sebutan Dodikjur, akhirnya tempat penugasan pun diumumkan. Saya dan teman-teman, yang merupakan para sarjana fresh graduate kala itu, harap-harap cemas membaca secarik kertas yang tertempel di papan pengumuman.

Nama sekolah demi sekolah, satu persatu saya amati. Saya membaca tulisan SDI Nggalak Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai Provinsi NTT, lamat-lamat. Terlintas sudah berjuta angan bagaimana kondisi di sana. Kami para calon guru SM3T Universitas Negeri Malang yang akan dikirim ke daerah terdepan, terluar, dan tertinggal ini serba menerka-nerka keadaan di tempat tugas.

Selang satu jam dari pengumuman, kami dipersilakan melengkapi barang-barang bawaan yang sekiranya akan diangkut ke tempat tugas. Saya pun bersiap berbelanja melengkapi kekurangan benda-benda yang sekiranya susah saya dapatkan di tempat tujuan. Tidak semuanya juga, karena beberapa masih bisa saya dapat dengan mampir ke kota pusat pemerintahan, di Ruteng Kabupaten Manggarai.

Barang yang akan saya bawa, saya cek satu persatu dan saya tata sedemikian rupa di dalam 1 koper dan 2 buah ransel. Seragam, baju harian, jaket, sandal, sepatu, selimut, mukena, peralatan mandi, beberapa snack, dan peralatan tulis sudah saya masukkan di koper.

Selain itu, ada peralatan khusus yang harus saya bawa sebagai perlengkapan untuk antisipasi di daerah tertinggal. Seperti jarum jahit, benang, peniti, senter atau lampu charge, korek api, jas hujan, payung, dan sepatu boot. Khusus untuk korek api ini bisa didapat di persinggahan kota tujuan sebelum masuk desa. Karena kita tidak diperkenankan membawa korek api ke dalam pesawat.

Benda printilan khusus ini saya masukkan juga ke dalam koper, sebagian lagi ke dalam ransel. Demikian pula peralatan tempur kesayangan yang sudah melekat erat di keseharian. Semuanya saya persiapkan dan saya kemas rapi di dalam ransel. Seperti kamera digital, handphone (enam tahun yang lalu saya masih belum menggunakan smartphone), dan laptop. Begitu saya mengemas laptop ke dalam ransel, hati saya sudah was-was. Karena menyimpannya berdesakan dengan tekanan dan himpitan barang-barang lain yang sudah penuh sesak.

Bandara Juanda
Sampai di Bandara Juanda
Pukul 3 pagi rombongan kami berangkat dari Malang menuju bandara Juanda menggunakan bis. Rasanya, berat beban barang bawaan berbanding lurus dengan berat rindu yang akan menggelayut. Totalnya ada satu koper dan dua ransel harus kubawa.

Khawatir terjadi apa-apa dengan laptop kesayangan yang beratnya mencapai 3 kilogram, sepanjang perjalanan terpaksa tas ransel berisi laptop ini harus kutenteng dengan penuh kehati-hatian. Cukup membuat peluh bercucuran juga, apalagi waktu turun dari bis dan mengangkat barang-barang menuju bandara. Ya, itulah dilema membawa laptop. Di satu sisi sebagai benda yang penting, di sisi lain saya capek karena berat dan ringkih.

Sesampai di Bandara Komodo Labuan Bajo, kami naik mobil travel sebagai angkutan menuju Kota Ruteng, pusat Kabupaten Manggarai. Lagi-lagi saya harus menjaga laptop dengan sangat hati-hati. Sebab bagasi mobil travel tidak seluas bagasi pesawat. Sehingga sepanjang perjalanan selama 6 jam saya harus berdesakan dengan teman lain sambil memangku tas berisi laptop 3 kilogram ini.
 
Sampai di Bandara Labuan Bajo
Hari sudah malam ketika sampai di Ruteng, kami segera menuju penginapan yang tersedia. Lalu keesokan harinya diadakan acara penyambutan. Setelah itu, baru kami dipersilakan meluncur menuju tempat tugas masing-masing, bergabung dengan para SM3T dari Universitas Negeri Semarang.

Kemudian, apa yang terjadi? Setelah ngobrol kesana kemari, saya mulai mengenali daerah tujuan penempatan. Saya juga harus bersiap menghadapi suatu kondisi dimana saya harus berjuang dan beradaptasi seorang diri. Karena tidak ada teman-teman yang satu penempatan dengan saya di desa Nggalak.

Perjalanan pun dimulai, rombongan terpisah menjadi beberapa bagian. Kami yang ditugaskan ke Kecamatan Reok Barat pun bergerombol dan mencari travel. Setelah dapat, segera kami naik mobil dan mengatur tempat duduk serta barang bawaan seabrek. Lagi-lagi saya harus memangku laptop sepanjang perjalanan. Lebih ekstrim lagi saya memegangi tas, karena jalur pegununganlah yang kami lalui. Berkelok-kelok, naik turun, menikuk tajam, hingga membuat beberapa orang mabuk perjalanan.

Penderitaan berakhir setelah 3 jam perjalanan roaler coaster berlangsung. Sebelum pergi menuju desa tujuan masing-masing, rombongan kami memutuskan mencari rumah kontrakan untuk posko terlebih dahulu. Setelah beres, baru kami meluncur menuju desa masing-masing.

jalan desa nggalak
Jalan Desa Nggalak tahun 2013, sekarang sudah berupa aspal kasar

Pergi ke desa Nggalak bukan lagi menggunakan mobil travel yang nyaman berAC. Tetapi menggunakan mobil truk dengan AC alami, sambil menikmati pewangi alami khas keringat para pekerja keras, diiringi alunan musik menggetarkan gendang telinga dari sound atau speaker yang sengaja diputar keras-keras. Pemandangan hutan kemiri di sepanjang perjalanan beraspal rusak dan berdebu pun bisa dinikmati sejauh mata memandang.

Sebuah truk yang biasa disebut oto Manggarai ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Di bagian baknya terdapat tempat duduk dari kursi kayu memanjang dan dipasang atap seng di bagian atasnya. Bak truk ini difungsikan juga sebagai bagasi. Mau naik oto Manggarai? Saya sarankan memakai celana saja. Karena penumpang harus bisa naik ke bak truk tanpa bantuan anak tangga.

Oto Manggarai
Oto Manggarai, angkutan umum yang keluar masuk Desa Nggalak
Fix, saya harus dua kali ekstra hati-hati menjaga laptop. Karena bak truk yang terbuka ini bercampur dengan manusia beserta barang belanjaan berkardus-kardus dan berkarung-karung. Maklum, orang-orang dari desa Nggalak tidak bisa setiap hari pergi dari desa menuju pasar di pusat kecamatan. Disebabkan hanya ada satu oto yang keluar masuk desa. Itupun tidak setiap hari mengangkut penumpang. Jadi kalau mau berbelanja harus dalam jumlah yang banyak sekalian.

Keadaan menjadikan saya mustahil mencampur tas ransel laptop saya dengan barang-barang ini. Beruntung saat itu tidak ada hewan ternak seperti ayam dan babi yang ikut diangkut (di sini tidak mengenal makanan & hewan halal haram karena 100% penduduk asli beragama Katholik). Misalnya ada, berarti para penumpang juga harus berbagi tempat dengan hewan-hewan ini. Berbagi gaeess... Berbagi tempat duduk dengan hewan, Ingat, berbagi itu indah.

Begitu sampai di desa Nggalak, perjuangan pun dimulai. Tidak ada sinyal, pergi ke sumber air, irit listrik, berjalan di lumpur dan jalan berbatu dalam kondisi hujan, harus saya pelajari. Satu hal yang biasanya membuat saya galau, saat saya ingin berinteraksi dengan benda digital, laptop salah satunya. Karena listrik yang dialirkan ke rumah dinas ini hasil menyalur dari diesel para stakeholder, otomatis harus berbagi dengan tetangga sekitar.
 
Dua rumah dinas SD Inpres Nggalak tampak dari sekolah di seberangnya
Saya tidak bisa leluasa menggunakan listrik seenak udel. Saya mengisi daya laptop, handphone, dan lampu saja biasanya sudah membuat sang listrik ngos-ngosan. Mati hidup, mati hidup, bak lampu kerlap kerlip di tengah sunyinya pedesaan. Tapi bagaimanapun, memang beginilah keadaannya. Sehingga saya harus bersabar dengan listrik yang menyala selama empat jam non stop. EMPAT JAM ya, bukan 24 jam, yaitu pada pukul 18.00 sampai pukul 22.00 WITA.

Kalau listrik sudah padam, otomatis saya harus berhenti berinteraksi dengan laptop. Karena laptop saya tidak ada backlitnya di bagian keyboard. Baru pada siang hari saya melanjutkan pekerjaan yang masih tertunda. Itupun terbatas sampai baterai laptop habis, sekitar 2 sampai 2,5 jam saja lamanya.
 
nonton film di desa nggalak
Warga berkumpul meminjam laptop saya buat acara nonton film di malam hari
Belum lagi kalau malam hari, sunyi, hanya bertemankan nyanyian hewan malam dan gesekan musik tumbuhan di sekitar. Kerap kali para warga datang berduyun-duyun ke rumah dinas hanya untuk meminta saya memutarkan film sebagai hiburan anak-anak mereka. Ya harap maklum, di sana tidak semua orang memiliki TV. Tetapi karena keterbatasan laptop saya yang hanya bisa dipakai menonton video dari sudut lurus ke depan saja, mereka yang duduk di pinggir jadi tidak leluasa menikmati tontonannya.

Laptop Impian untuk Dibawa ke Daerah Tertinggal


Di tengah keadaan yang demikian, pernah terlintas sebuah impian untuk memiliki laptop dengan teknologi canggih yang andal untuk dibawa ke desa tertinggal. Sebuah laptop yang aman ditumpuk dengan beban berat, tahan banting meskipun pernah jatuh di perjalanan bersama pemiliknya, juga laptop yang ringan dibawa bepergian.

Ditambah lagi laptop dengan baterai yang mampu bertahan lama, dan laptop yang memiliki backlit keyboard agar bisa digunakan saat listrik padam. Untuk displaynya, saya menginginkan laptop yang bisa ditonton dari sudut yang lebih lebar. Supaya penonton leluasa menikmati video bersama-sama.

Enam tahun setelah perjalanan di desa tertinggal ini, barulah saya menemukan laptop impian yang sudah saya idam-idamkan sejak dahulu. Dibanderol seharga 14.799.999 rupiah, dia memiliki semua fitur yang ada di daftar laptop impian saya. Laptop apa itu? Dialah ASUS ZenBook 13 UX331UAL. Sebuah laptop kekinian yang sangat recomended dibawa perjalanan ke area terjal di desa tertinggal. Ditambah lagi, ada satu varian warna anggun “rose gold” yang menambah keinginan saya untuk membelainya.
 
ASUS ZenBook 13 UX331UAL
ASUS ZenBook 13 UX331UAL
Meskipun harganya setara dengan enam bulan uang saku bulanan utuh saya kala bertugas di desa tertinggal, tetapi fitur yang dimilikinya sepadan dengan harganya. Fitur unggulan apa saja itu? Simak ulasan saya berikut.

Keunggulan ASUS ZenBook 13 UX331UAL


Desain

Desain ASUS ZenBook 13 UX331UAL tipis, kuat, dan ringan. Dia memiliki ketebalan 13,9 milimeter dengan berat tidak sampai satu kilogram, yaitu 985 gram saja. Berat ini sudah termasuk baterai. Bahkan ketika ditambah chargernya, totalnya tetap tidak sampai 1 kilogram. Membuatnya praktis dibawa kemanapun, tidak memakan banyak space, serta ikut meringankan beban barang bawaan di tas. Menjadikan kita semakin ringan melangkah menapaki jalanan yang terjal mendaki.

ASUS ZenBook 13 UX331UAL ini sangat kuat, terbukti dengan uji laptop dari Raditya Dika dengan cara melindas ASUS ZenBook 13 UX331UAL menggunakan motor. Ada juga uji coba menginjak-injak laptop dengan berat tubuh sampai 80 kg dan ternyata kondisi laptop masih baik-baik saja. Hal ini dikarenakan konstruksi ASUS ZenBook 13 UX331UAL berbasis magnesium alloy. Material yang terdiri dari magnesium dan alumunium dan sepintas mirip plastik ini ternyata super kuat. Beratnya lebih ringan 33% daripada panduan standar yang digunakan untuk material laptop pada umumnya.

ASUS ZenBook 13 UX331UAL juga telah memenuhi standar millitary grade MIL-STD 810G. Suatu kondisi yang menjadikan ASUS ZenBook 13 UX331UAL lolos melewati uji daya tahan untuk memastikan kemampuannya beroperasi dalam berbagai kondisi. Berupa kondisi pengoperasian di lingkungan yang ekstrim seperti ketinggian suhu dan kelembaban, getaran yang kuat, penggunaan yang kasar, terjatuh dari ketinggian tertentu (sekitar 1,5 meter), dan penekanan benda yang berat.
 ASUS ZenBook 13 UX331UAL
Makanya ASUS ZenBook 13 UX331UAL sangat cocok digunakan di daerah tertinggal dimana kebanyakan rumah masih beratapkan seng dan berdinding kayu. Seperti rumah dinas tempat tinggal saya kala itu. Terasa sangat panas saat siang hari, dan lembab saat hujan karena bocor kecil di beberapa bagian atap sengnya.

Ketahanan ASUS ZenBook 13 UX331UAL terhadap getaran juga membuat pemiliknya tenang saat harus naik oto melewati jalan beraspal rusak. Selain itu, juga bisa membuat pemiliknya duduk tenang saat naik kendaraan dan meletakkan laptop bercampur barang-barang di bagasi. Karena ASUS ZenBook 13 UX331UAL aman ditekan oleh benda yang berat.

Selain itu, kekuatan ASUS ZenBook 13 UX331UAL juga menjadikan percaya diri menyusuri area jalan berbatu, berlumpur, dan licin. Karena tidak perlu takut laptop rusak misalnya terjadi suatu hal buruk seperti terjatuh lalu badan ambruk menimpa laptop. Karena rancangannya yang sudah didesain sedemikian rupa.

Display

Dengan desain NanoEdge display yang ringkas untuk laptop ukuran 13,3 inchi, dan teknologi wide view 178 derajat membuat ASUS ZenBook 13 UX331UAL memiliki gambar yang tetap berkualitas saat dilihat dari berbagai sudut. ASUS ZenBook 13 UX331UAL juga telah didukung oleh Tru2Live Video, yang mirip dengan teknologi pada TV kelas atas. Video yang diputar menggunakan ASUS ZenBook 13 UX331UAL akan terlihat jelas, lebih detail, dan lebih hidup. Teknologi ini mampu meningkatkan ketajaman warna yang kontras hingga 150%.

ASUS ZenBook 13 UX331UAL


Suara

Suara yang dihasilkan ASUS ZenBook 13 UX331UAL pun bisa ditingkatkan hingga 3,5 kali lebih keras dibandingkan audio pada laptop standar. Karena tim ASUS telah mengembangkan teknologi ASUS SonicMaster generasi berikutnya untuk mendapatkan system audio yang tersertifikasi Harman/Kardon.

Dukungan teknologi untuk desain display dan audio ASUS ZenBook 13 UX331UAL sangat mendukung pengadaan hiburan bagi warga daerah tertinggal. Dimana tidak setiap rumah memiliki TV, dan biasanya mereka bergerumul di salah satu rumah para stakeholder hanya untuk menumpang menonton hiburan dari TV bersama-sama.

Kinerja

ASUS ZenBook 13 UX331UAL memiliki prosesor terbaru: Intel® Core™ i5 generasi ke-8. Sehingga membuat kinerjanya menjadi super cepat. Apalagi dilengkapi dengan RAM 8 GB dan SSD 256 GB PCIe® yang memungkinkan penggunanya menyelesaikan seluruh tugas dengan mudah. Karena kecepatan inilah ASUS ZenBook 13 UX331UAL menjadi lebih hemat energi. Maka dari itu, baterai ASUS ZenBook 13 UX331UAL ini lebih awet.
 ASUS ZenBook 13 UX331UAL

Baterai

Apalagi didukung dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang dirancang khusus untuk memberikan daya tahan 9 hingga 15 jam dalam pemakaian normal. Selain itu, baterai jenis ini sangat awet meskipun diisi ratusan kali. Masa pakainya bisa bertahan 3x lebih lama dari baterai standar.

Oleh karenanya, menurutku ASUS ZenBook 13 UX331UAL sangat cocok digunakan di daerah yang belum tersaluri listrik sepenuhnya seperti di tempat tugasku dulu. Cukup diisi pada waktu listrik menyala, keesokan harinya bisa dipakai bekerja seharian. Benar-benar istimewa deh.

Keyboard

Terus, masih ada lagi fitur yang membuat saya lebih terkagum-kagum, yaitu keyboard backlit berwarna putih berukuran penuh dengan desain yang kokoh. Fitur backlit menjadikan ASUS ZenBook 13 UX331UAL bisa dipakai dalam beragam kondisi pencahayaan. Walaupun listrik padam dan tidak ada lampu menyala, pengguna tetap bisa menggunakannya dengan baik. 

ASUS ZenBook 13 UX331UAL

Jarak penekanan tombol di keyboard ASUS ZenBook 13 UX331UAL telah diatur sejauh 1,4 mm sehingga membuat pengguna sangat nyaman saat mengetik. Pengguna juga tidak perlu khawatir salah pencet tombol alias meminimalisir typo karena jarak tombol yang terlalu rapat atau terlalu renggang.

Touchpad

ASUS ZenBook 13 UX331UAL
Guru-guru dan anak-anak belajar mengoperasikan laptop
Touchpadnya didukung teknologi palm-rejection yang bisa mengcover gerakan multijari dan tulisan tangan. Teknologi palm-rejection dan jarak tombol keyboard ASUS ZenBook 13 UX331UAL ini saya rasa sangat cocok untuk guru-guru daerah terpencil yang baru mulai belajar menggunakan laptop.

Keamanan

Dilengkapi fitur windows hello, ASUS ZenBook 13 UX331UAL menjadi lebih aman karena bisa disetting akses masuknya menggunakan sidik jari di touchpad. Jadi tidak perlu mengetik kata sandi, tapi cukup dengan satu sentuhan jari, sudah bisa membuka akses ASUS ZenBook 13 UX331UAL. Fitur yang sangat cocok digunakan sebagai kontrol ketika banyak orang ingin meminjam laptop kita untuk berbagai keperluan.

Itulah beberapa keunggulan ASUS ZenBook 13 UX331UAL yang membuat saya sangat mengimpikan untuk memilikinya. Di luar keinginan saya pribadi, saya juga sangat merekomendasikan bagi kaum traveler yang suka bepergian. Terutama bepergian ke daerah-daerah berkontur ekstrim. Atau yang sedang bertugas ke daerah tertinggal. Daerah dengan akses transportasi, listrik, dan jalan yang lumayan sulit dijangkau. Rekomendasi ini baru muncul setelah saya mempertimbangkan berbagai fitur unggulan yang dimiliki ASUS ZenBook 13 UX331UAL.

 
ASUS ZenBook 13 UX331UAL
Me & ASUS

36 Responses to "ASUS ZenBook 13 UX331UAL, Andal untuk Desa Tertinggal"

  1. Aduh aku juga pengen nih punya laptop ASUSnya speek nya mefasiliti banget buat dibawa Travellin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ringan, tipis, kuat. Benar2 cocok buat dibawa bepergian. Bikin kita ringan melangkah

      Delete
  2. Laptopnya warna nya keren dan spec nya mumpuni. Salut buat ASUS Zenbook 13 ini. Jadi pengen pakai juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, rose gold jadi warna idaman para wanita. Aku juga suka banget sm warna ini

      Delete
  3. Asus kayaknya bagus ya Mbak, desainnya slim dan kuat. Pengen banget punya laptop asus model gini deh Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, menurutku bukan "kayaknya" lg lih Mbak, tp emang ASUS udah terbukti standar militer tuh. Dijamin produknya berkualitas yahud

      Delete
  4. kalau untuk dibawa2, laptop tipis dengan baterai awet itu memang pilihan terbaik ya kak
    ":D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bngban, apalagi dibawa ke daerah yg susah listrik. Butuh laptop dg daya tahan baterai yg awet.

      Delete
  5. Ya Allah Mbak... tantangannya gede banget ya tempat mgajarnya. Beneran seharusnya pas nih pake laptop ASUS yang ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat dah, banyak teman2 seperjuangan yg medannya jauh lebih susah dibandingkan saya.

      Delete
  6. Wesss Bun. Foto pertamanya keren. Saya suka hihihi. Ngomongin soal Asus, jujur saya suka ama merk itu. Dari laptop sampai hp yang saya pakai sekarang ini menggunakan produk Asus hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu foto lama Bund wkwkk... Jaman masih belia. ASUS emang terbukti awet ya produk2nya.

      Delete
  7. Beratnya nggak nyampe 1 kilogram ya jadinya juga enteng dibawa kemana saja. Pengen juga punya produk ini mba karena pas untuj aktifitasku juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, beratnya gak sampai 1 kg loh, itu sudah termasuk charger & baterai juga. Sangat ringan kan?

      Delete
  8. ini produk impian bangettt mbak. akupun juga pengen punyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak... Makanya ikutan lomba blog ya wkwkwk.... Siapa tau ada rejeki nyangkut.

      Delete
  9. Tahun 2013 kondisi daerahnya masih seperti itu yaaa Mbak? Masya Allah salut dengan perjuangannya..Berarti memnag dibutuhkan laptop tahan banting seperti ASUS ini yaaa..

    Btw, semoga makin banyak daerah tertinggal yang segera menyusul kemajuan daerah lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, aku rasa ASUS Zenbook UX331UAL ini yang paling pas untuk kondisi daerah tertinggal

      Delete
  10. leptopku yang sering dibawa kemana2 berat banget pengen banget punya leptop yang ringan macam ini mba cuman 985 gram wow cucok nih buat aku smeoga bisa punya ASUS aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk... Iya, siapa sih yang gak pengen punya laptop ringan seperti ASUS Zenbook ini? Semua pasti mupeng

      Delete
  11. luar biasa ya perjuangannya
    bicara ttg laptop jadi ingat si raksasa saya yang perlu diganti
    dulu belinya karena speknya sih dan memang tuk dipake di rumah
    tapi sekarang banyak mobile sepertinya Asus ini perlu dilirik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, perjuangan buat bertahan hidup jg lumayan berat. Wkwkwk... ASUS Zenbook ini cocok banget buat nemani di daerah 3T

      Delete
  12. lingkungannya masih asri banget ya mbak.... semoga asus bisa bermanfaat untuk daerah tertinggal yang pasti membutuhkannya. demi kemajuan bersama terutama dalam bidang pendidikan ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asri banget emang Mbak... Sampai2 susah dijangkau. Apalagi buat kita2 yang terbiasa hidup di kota

      Delete
  13. Masih banyak ya desa tertinggal di Indonesia. Semoga pembangunan semakin merata. Kalo perlu ada CSR Asus yang bagi2 laptop ke sana xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren dah kalo ada acara bagi2 laptop ASUS ke daerah2 tertinggal... Aku dukung 100% dah

      Delete
  14. Jd kangen Ruteng mbak. Kalau aku laptopku rusak di sana haha. Kyknya krn ketimpa benda berat.
    Kok jd ngakak mbayangin berbagi tempat ma binatang ternak ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuah, pernah pergi ke Ruteng juga Mbak? dalam rangka apa nih? Wisata ke Pulau Komodo kah? Jdi mampir di Ruteng

      Delete
  15. Aku juga lagi pengen laptop baru, kyanya brand ASUS pilihan yang tepat ya. Apalagi spesifikasinya yang aduhai.
    Maklul, laptop ku yang sekarang fungsinya standar banget. Cuma buat ngetik. Huhhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Mbak... Beli ASUS aja, banyak pertimbangan yang bikin kita beralih ke ASUS. Kualitasnya juga uda teruji

      Delete
  16. Asus semakin keren ya mbak, duh ini warnanya gemes banget sik apalagi speksifikasinya yahud banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren emang Mbak, udah terstandar uji militer grade. Dijamin berkualitas bagus

      Delete
  17. Keren nih laptop. Aku suka sama specs RAM 8 giga dan baterainya yang tahan 9 hingga 15 jam. Oh iya, aku juga suka sama standar millitary grade MIL-STD 810G nya yang tahan banting. Jadi nggak khawatir jika sewaktu-waktu terjatuh. Cuma satu hal yang kurang cocok buatku, yaitu harganya. Semoga ke depan ada dana khusus buat ganti laptop ini hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doa aja Pak, biar dikasih rejeki buat beli laptop yang harganya mencapai 15 juta ini. wkwkwk.... AAmiin

      Delete
  18. Wah seru banget bisa jalan-jalan hingga ke daerah tertinggal. Ulasan mengenai ASUSnya juga keren. Semoga mendapat hasil yang terbaik, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. AAmiin... Makasih semangatnya. Tapi ini bukan sekedar jalan2 ke daerah tertinggal, hiks... jalan2 kok setahun.

      Delete

Terima kasih sudah singgah di blog amiwidya.com.
Saya persilakan menambahkan komentar untuk melengkapi postingan blog di atas.
Semoga bermanfaat & menginspirasi buat semua...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel