Featured Post

Inspirasi Tabungan Pilihan Insan Kekinian

Peran Orangtua dalam Menggali Bakat Anak Sejak Masa Kencana




Peran Orangtua Menggali Bakat Anak


Masa kencana atau sering disebut juga dengan istilah usia emas (golden age) merupakan masa yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak di tahap selanjutnya. Karena hampir sekitar 80% otak mereka berkembang pesat sebelum melewati 5 tahun pertamanya ini. Tidak dipungkiri, kepribadian dan pertumbuhan fisik anak sangat ditentukan pula dari pendidikan yang diperoleh pada masa keemasan yang dilaluinya. Keluarga, adalah salah satu dari tonggak pendidikan itu bermula. Maka dari itu, kita sebagai orangtua modern di era kekinian, perlu mempelajari lebih lanjut bagaimana cara mendidik anak dari rumah agar kelak bisa membantu memaksimalkan perkembangan bakatnya yang menonjol serta membentengi mereka dari berbagai bahaya dan penyimpangan di era modernisasi seperti sekarang ini.

Berperan sebagai orangtua, khususnya sebagai seorang ibu, saya sendiri juga memiliki anak-anak yang sedang berada di masa kencana ini, dan seperti biasanya saya mencoba untuk menyimpan pengetahuan, berbagi pengalaman serta opini melalui tulisan di blog pribadi yang sudah berusia lebih tua daripada anak-anak saya sendiri. Selanjutnya, saya ucapkan selamat datang, selamat membaca, dan semoga terinspirasi...

Karakteristik umum perkembangan anak pada masa kencana


Sebelum kita membicarakan tentang bakat anak, alangkah baiknya kita mempelajari terlebih dahulu tentang karakteristik secara umum perkembangan anak pada masa kencana ini. Hal-hal apa sajakah itu? Jawabannya bisa kita dapatkan pada ulasan berikut.

Karakteristik perkembangan anak

Perkembangan otak yang sangat pesat menjadikan mereka cepat menangkap dan tanggap terhadap segala sesuatu yang dilihatnya. Tak jarang mereka dijuluki sebagai peniru yang ulung. Apapun yang dilihat, dengan segera mereka tirukan tanpa memilih dan memilah terlebih dahulu mana yang baik ataupun buruk. Mereka juga sudah mampu mengenali berbagai simbol yang dilihatnya. Misalnya logo produk makanan tertentu yang disukainya, atau simbol toko langganan bunda dimana biasanya anak pergi ke sana bersama bunda. Di sisi lain, mereka juga sudah bisa membayangkan benda-benda yang dia miliki di rumah. Seperti mainan dan peralatan rumah tangga yang biasa digunakan sehari-hari.

Selain perkembangan otak, pertumbuhan fisik anak di usia emas juga berkembang dengan cepat. Anak semakin kuat, bertambah tinggi, dan bertambah berat. Berbagai jenis gerakan fisik juga dipelajarinya dengan lincah. Jenis gerakan yang mereka pelajari di usia ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Mereka mulai belajar keterampilan dasar gerak tubuh seperti memiringkan tubuh, tengkurap, berguling, merangkak, duduk, berjalan, hingga berlarian kesana-kemari. Setelah itu berkembang lagi belajar gerakan yang lebih rumit dan membutuhkan ketelatenan seperti menggerakkan jari-jari untuk memegang benda-benda kecil, melakukan kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan diri sendiri (makan dan minum sendiri), dan membawa benda-benda tanpa bantuan orang lain. Di bawah ini foto saat anak saya menggendong ayam di rumah kakek neneknya.


Perkembangan berikutnya yang dilalui anak di usia emas adalah perkembangan bahasa. Sampai di puncak usia emas nanti, anak akan mampu menguasai sampai 1.000 kata. Tentunya belajar bahasa ini juga bertahap dari mendengarkan, menirukan bunyi huruf, suku kata, frase kata, sampai tahap mengucapkan berbagai bentuk kalimat. Hingga nanti kemampuan ini akan terus berkembang mencapai tahap belajar membaca dan menulis sederhana.

Selanjutnya terdapat perkembangan sosial dan emosi anak. Perlu dipahami, menginjak usia 2 tahun, anak sudah mulai belajar keterampilan sosial sedikit demi sedikit. Mereka akan belajar bermain bersama teman dan mempelajari berbagai aturan di dalam permainan tersebut. Dari usia ini pula, karakter dan tipe kepribadiannya mulai nampak dan bisa diamati. Untuk perkembangan emosinya, anak sudah bisa memahami perasaan diri sendiri maupun orang lain meskipun masih sangat sederhana. Bersamaan dengan memahami perasaan ini, mereka juga mulai belajar untuk mengendalikan diri. Maka jangan kaget jika sewaktu-waktu anak masih sering tantrum apalagi di tempat-tempat umum atau keramaian.

Terakhir terdapat perkembangan identitas diri yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar tempat anak tumbuh dan berkembang. Misalnya berkaitan dengan jenis kelamin, anak laki-laki cenderung menyukai permainan bola sedangkan anak perempuan lebih memilih bermain boneka. Demikian pula dengan sikap dan tingkah laku mereka, anak laki-laki terkesan lebih berani dan terbuka sedangkan anak perempuan agak pemalu dan tertutup. Konsep-konsep diri semacam inilah yang banyak terbentuk sebab perlakuan orang-orang di lingkungan sekitar terhadap mereka.

Nah, setelah memahami karakteristik anak di masa kencana secara umum, mari kita lanjutkan pembahasan tentang bagaimana seharusnya sikap orangtua saat mengasuh anak yang sedang berada di masa kencana. Saya berharap ulasan berikut akan menambah wawasan dan membuat kita sebagai orangtua maupun calon orangtua menjadi lebih bijaksana dalam menjalankan amanah untuk membimbing anak-anak.

Bagaimana seharusnya orangtua bersikap saat mengasuh anak di masa kencana?

sikap orangtua saat mengasuh anak


Suatu hal yang paling utama, orangtua perlu berhati-hati terhadap segala bentuk ucapan maupun perbuatan di hadapan anak-anak yang sedang berada di masa kencana ini. Saya jadi teringat masa-masa bergabung di Pramuka, di sana diajarkan Dasa Darma Pramuka. Pada urutan yang ke sepuluh tertera:

"Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan."

Kini sebagai seorang ibu, saya merasa baru bisa benar-benar maksimal dalam mengamalkan Dasa Darma yang sudah dipelajari bertahun-tahun sebelumnya. Selain karena ucapan itu sendiri adalah doa, juga karena anak-anak ini sudah mampu mengingat dengan detail segala pengalaman yang pernah dilaluinya. Anda sebagai orangtua tidak mau bukan mematri ingatan buruk atau memberikan contoh tindakan buruk terhadap anak-anak? Sebab bisa saja ingatan ini akan dibawanya sampai dewasa kelak sehingga akan berpengaruh terhadap kepribadian dan karakternya di masa mendatang.

Pada masa ini, sangat bagus bagi orangtua untuk mulai menanamkan pendidikan moral, membelajarkan berbagai aturan sederhana, dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di rumah. Misalnya, dengan memanfaatkan perkembangan sosial emosinya, orangtua bisa menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup pada anak, ajari mereka memberi makan binatang peliharaan (ikan, ayam, kucing, sapi, atau burung). Tanamkan juga cara berterima kasih, mengucapkan kata "tolong" ketika membutuhkan bantuan orang lain, juga meminta maaf kepada orang lain. Agar mereka belajar mengerti rasa syukur, bisa saling menolong dalam kebaikan, dan memiliki rasa rendah hati terhadap orang lain (bukan rendah diri). Orangtua juga sudah seharusnya mengajarkan aturan-aturan sederhana seperti mengucapkan salam saat masuk rumah dan berpamitan saat akan keluar rumah. Biasakan pula anak untuk bangun pagi, mandi, beribadah, dan sebagainya.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Dina Aminnatul Widyana (@dinawidyana) pada

Belajar Dasa Darma pertama dan kedua: 

"Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa."

"Cinta alam, dan kasih sayang sesama manusia."


Melibatkan anak-anak dalam kegiatan sehari-hari dipercaya dapat mempercepat proses belajar mereka untuk bersikap lebih mandiri dan bertanggung jawab. Jadi jangan melarang mereka bermain-main dengan sapu, alat pel, cucian, juga sayuran di dapur. Cukup awasi dan arahkan mereka dengan telaten serta pastikan dalam keadaan yang aman juga jauh dari alat-alat yang membahayakan seperti pisau dan gunting (karena belum sesuai usia). Dengan cara ini diharapkan kelak menjadi anak yang bisa mengamalkan Dasa Darma kesembilan:

"Bertanggung jawab dan dapat dipercaya"

Selanjutnya, bagaimana cara orangtua membentuk kemandirian pada anak? Baca selengkapnya di artikel berjudul: Membentuk Kemandirian Anak Sejak Dini.
.
Anak sulung saya sedang memberi makan ikan lele di kolam

Ketika sedang bepergian, jangan malas mengajak anak karena alasan repot, ribet, atau takut tantrum. Usahakan untuk mengajaknya dan biasakan untuk berdiskusi di jalan, tunjukkan hal-hal baru kepadanya. Selain untuk mengasah perkembangan bahasanya, menambah pengetahuannya tentang dunia luar, hal ini juga bertujuan untuk mengasah kepekaannya terhadap lingkungan sekitar. Sebagai contoh, saat Anda mengajak anak-anak berkendara, kebetulan ada mobil patroli polisi lewat, jelaskan kepadanya tentang hal tersebut, apa tujuannya, dan berikan pengertian tentang apa tugas polisi. Foto di bawah ini diambil saat kami (bersama suami saya) mengajak putra sulung berjalan-jalan di pelabuhan dekat rumah, waktu itu masih belum ada putri bungsu.

pelabuhan gresik
Jalan-jalan ke pelabuhan dekat rumah di Gresik

Hal berikutnya yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua adalah bermain bersama anak-anak. Anda bisa membantunya menyiapkan berbagai bentuk permainan yang bisa merangsang perkembangannya. Seperti lompat tali, berlari kecil, senam bersama, masak-masakan, dan menggambar dengan menggunakan berbagai alat. Perlu dicatat, untuk permainan, orangtua tidak perlu membelikan suatu peralatan bermain yang mahal dan tidak terjangkau. Sesuaikan dengan isi dompet Anda, karena permainan terbaik sebenarnya bukanlah dengan alat yang serba mahal, akan tetapi permainan terbaik adalah dari hasil kreasi dan ciptaan si anak sendiri. Permainan semacam ini diasumsikan lebih bisa merangsang perkembangan keterampilan dan kreativitas anak. Anda pasti berharap anak tumbuh menjadi pribadi yang bisa mengamalkan Dasa Darma keenam:

"Rajin, terampil, dan gembira"

Benar bukan?!
mainan kreatif
Biasakan anak menciptakan mainannya sendiri dari peralatan yang dimiliki

Setelah Anda bisa memahami karakteristik umum dan bisa menyikapi anak-anak, kini saatnya mengerucutkan pembahasan menuju karakteristik khusus, jenis kecerdasan, atau bakat terpendam yang dimiliki setiap anak. Perlu disadari oleh orangtua, memang banyak kejadian semacam buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, seorang anak memiliki bakat yang sama dengan orangtuanya. Namun, perlu diwaspadai juga bahwa:
Setiap anak itu terlahir unik, berbeda satu sama lain. 
Bahkan anak kembar pun memiliki perbedaan. Pola pikir ini sudah seharusnya membuka pikiran para orangtua untuk menyadari bahwa tidak menutup kemungkinan bakat yang anak miliki, berbeda dengan bakat kedua orangtuanya.
habibie

Lalu, apa sajakah jenis-jenis kecerdasan atau bakat yang bisa dimiliki anak? Saya sendiri baru mengenali jenis-jenis kecerdasan anak ini saat duduk di bangku kuliah PGSD dulu. Ada 8 jenis kecerdasan menurut Howard Gardner yang sering didengungkan. Anak Anda bisa saja memiliki salah satu di antaranya atau bahkan lebih banyak kecerdasan menonjol yang dia miliki (multitalenta). Namun perlu digarisbawahi saat Anda mulai menggalinya, tumbuhkan pula "emosi jiwanya" berupa perasaan cinta, kasih sayang, empati, tenggang rasa, dan sejenisnya.

Agar kelak kecerdasan atau bakatnya tumbuh seimbang. Maksudnya, anak Anda tidak hanya cerdas secara fisik, tetapi juga cerdas hati sanubarinya.

Aamiin...

Mengenal jenis kecerdasan dan bakat anak sejak usia emas

jenis kecerdasan

  1. Kecerdasan berpikir matematis-logis: Anak yang memiliki kecerdasan jenis ini cenderung sering bertanya, menggali informasi lebih detail, berpikir logis, dan menyukai pengolahan angka. Saat beranjak dewasa, mereka akan mampu menghitung, mengukur, mempertimbangkan rumus-rumus, serta menyelesaikan operasi matematika yang menurut sebagian orang merupakan masalah yang sangat rumit dan kompleks. Jika anak Anda memiliki ciri kecerdasan ini, sering-sering ajaklah dia untuk bermain bentuk permainan yang berhubungan dengan angka dan hitungan. Kelak, Anda bisa mengarahkannya untuk menjadi seorang ahli matematika, programmer, insinyur, ahli teknik, pedagang, atau jenis pekerjaan lain yang berhubungan dengan angka-angka.
  2. Kecerdasan bahasa: Ciri-cirinya ditandai dengan kecepatannya dalam belajar berbicara dibandingkan dengan anak lain seusianya. Di usia 2 tahun, dia sudah lancar menirukan berbagai kata yang didengarnya, juga mampu menceritakan secara sederhana segala bentuk kejadian yang dialaminya. Bisa jadi, orang lain akan mengatakan bahwa anak Anda adalah anak yang cerewet/ceriwis. Jadi sering-seringlah untuk mengajaknya berdiskusi, serta perkenalkan berbagai cerita kepadanya. Anak semacam ini saat sudah besar bisa diarahkan menjadi seorang pembawa berita, jurnalis, pengisi acara, penulis, wartawan, dan sejenisnya.
  3. Kecerdasan kinestetik/gerak: Kecerdasan jenis ini dimiliki anak-anak yang sangat cepat belajar menirukan gerakan dari orang lain. Dia terlihat sangat lincah, aktif bergerak, juga mampu menggerakkan otot-otot tubuhnya dengan lentur. Bahkan dia bisa menirukan gerakan-gerakan sulit yang tidak semua orang bisa melakukannya. Sebagai orangtua, Anda bisa memfasilitasi jenis kecerdasan ini dengan mengajaknya bermain berbagai jenis permainan yang melibatkan fisiknya seperti olahraga sepak bola, kasti, dan sebagainya. Kelak Anda bisa menyarankannya untuk berprofesi sebagai olahragawan, penari, pengrajin, guru olahraga, tentara, polisi, dan sejenisnya.
  4. Sebuah kiriman dibagikan oleh Dina Aminnatul Widyana (@dinawidyana) pada
  5. Kecerdasan musikAnak yang memiliki kecerdasan musik biasanya sangat peka terhadap berbagai macam bunyi dan irama. Mereka pandai menirukan orang bernyanyi, dan sangat jeli terhadap nada. Mereka memiliki keasyikan tersendiri ketika bercengkrama dengan berbagai jenis alat musik. Bimbing terus mereka saat bermain musik dan bernyanyi. Siapa tahu kelak bisa menjadi seorang musisi, penyanyi, pengarang lagu, atau composer.
  6. Kecerdasan interpersonal/berteman: Ciri-ciri anak yang memiliki bakat ini yaitu mudah berteman, banyak bicara, ramah, mudah bekerja sama dalam kelompok, dan memiliki rasa empati yang cukup tinggi. Dia cenderung banyak memiliki teman dari segala kalangan karena bisa bermain dengan siapa saja. Jika orangtua sanggup mengarahkan bakatnya, tentu akan berdampak positif untuk kehidupannya di masa mendatang. Caranya yaitu dengan mengenalkannya kepada beberapa teman sebaya, dan mengajaknya ke tempat yang dikunjungi banyak orang, agar bakatnya ini semakin berkembang. Kelak dia bisa saja menjadi ahli marketing, pengusaha, guru, dan pemimpin yang bisa mengayomi bawahannya.
  7. kata mutiara

  8. Kecerdasan intrapersonal/diri sendiri: Kebalikan dari kecerdasan interpersonal, anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal ini cenderung menjadi pribadi yang pendiam, tidak banyak tingkah, banyak merenung, dan lebih banyak melakukan penilaian terhadap diri sendiri atas segala yang telah dilakukannya. Dia cenderung tertutup pada orang di sekelilingnya dan lebih suka melakukan segala kegiatannya sendirian, bukan dalam bentuk kelompok. Meskipun demikian, dia bisa memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang penulis buku, pengamat, psikiater, atau penasihat. Maka dari itu, asahlah kecerdasannya ini dengan menumbuhkan empatinya kepada orang lain dan lingkungan secara maksimal. Jangan lupa untuk memberikan banyak apresiasi kepadanya, karena perasaannya yang sangat halus.
  9. Kecerdasan gambar dan ruang/visual dan spasial: Kecerdasan jenis ini sangat berhubungan erat dengan pola belajar yang cenderung menggunakan visual atau penglihatan. Anak yang sangat teliti terhadap berbagai bentuk benda, pola-pola garis, gambar, warna, atau bentuk permukaan, bisa dikategorikan memiliki kecerdasan gambar dan ruang. Di kesehariannya, ingatannya juga sangat tajam terhadap berbagai bangunan dan gambar-gambar 2 dimensi ataupun 3 dimensi yang pernah dilihatnya. Arahkan dia untuk memaksimalkan bakatnya dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya saat dia mengekspresikan kecerdasannya. Perkenalkan pada berbagai jenis gambar dan lukisan juga. Agar kelak bisa menjadi seorang arsitek, pelukis, perancang permainan anak-anak, pilot, nahkoda, atau astronot.
  10. Kecerdasan alam/naturalis: Anak dengan kecerdasan alam sangat nyaman berada di tengah alam sekitar. Dia sangat senang memelihara tanaman, berkebun, memelihara berbagai hewan, dan bermain-main dengan hewan. Dia bisa saja dengan mudah mengenali dan membedakan beragam jenis tumbuhan dan hewan. Maka dari itu, sering-seringlah mengajak dia pergi ke luar untuk menikmati alam, juga berikan hewan peliharaan kepadanya. Kelak, dia bisa diarahkan untuk bekerja di bidang peternakan, perkebunan, pertanian, atau konservasi alam.
  11. Sebuah kiriman dibagikan oleh Dina Aminnatul Widyana (@dinawidyana) pada



Dari berbagai jenis kecerdasan yang ada, anak sulung saya sendiri cenderung memiliki kecerdasan kinestetik dan naturalis yang lebih unggul. Sedangkan si bungsu masih belum bisa diketahui jenis kecerdasan mana yang bisa dimaksimalkan untuk menunjang bakatnya karena memang dia baru lahir. Bagaimana dengan Anda setelah membaca uraian di atas? Sudahkah Anda melihat jenis kecerdasan dan bakat mana yang lebih menonjol pada diri anak-anak Anda? Jika Anda sudah menemukan, teruslah dukung mereka dengan cara-cara kreatif Anda, berikan segudang apresiasi, dan bimbinglah agar semakin menjulang. Jika belum, teruslah gali potensi mereka dan segera tentukan cara pengasuhan yang tepat agar Anda bisa membantu memaksimalkan sedini mungkin bakat yang dimiliki mereka.

Mengapa Anda harus melakukan penggalian bakat anak? Sebab orangtua sangat berperan dalam membuka bakat terpendam anak. Selain keluarga, sekolah juga memegang peranan yang tak kalah penting. TK/KB di Pangkalpinang ini, Sekolah Babel Kids, bisa dijadikan salah satu teladan. Pada akhir tahun lalu, sekolah ini menggelar Family’s Got Talent 2017 yakni sebuah ajang kompetisi bakat anak bersama orangtua, yang dikemas dalam sebuah panggung pertunjukan bertema “Raise Your Talent, Build Your Future”. Berita selengkapnya bisa dibaca di artikel berjudul: Orang Tua Berperan Membuka Bakat Terpendam Anak. Akhir kata saya berharap agar semua pihak yang memegang peran penting dalam pendidikan bisa menjadi #sahabatkeluarga dengan memberikan cinta, pola pengasuhan, dan pendidikan yang tepat kepada anak-anak sejak masa kencana.

Mari menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan menyiapkan bakat emas para generasi emas sejak masa keemasan mereka.

#sahabatkeluarga


47 Responses to "Peran Orangtua dalam Menggali Bakat Anak Sejak Masa Kencana"

  1. Lengkap dan bermanfaat banget mbak. Izin bookmark ya mbk. Aku yg belum nikah ini jadi belajar bnyk. Cuma sedikit saran mbk, karna tulisannya kepanjangan, kayanya lebih bagus dikasih part-part gt. Makasih sharingnya mbk. Salam, muthihauradotcom

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok mbak, semoga bermanfaat ya... & thanks sarannya. Maklum masih belajar, nanti coba sy perbaiki lg tampilannya biar lbh enak dibaca

      Delete
  2. Mbak..komplit sekali ini...Jadi ingat saat aktif Pramuka jaman SMP dulu, ingat Dasa Darma nya..Keren, inspiratif artikelnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dasa darmanya dipraktikkan akan lebih keren wkwkwkkk... Ya, ini sama2 belajar

      Delete
    2. Dasa darmanya dipraktikkan akan lebih keren wkwkwkkk... Ya, ini sama2 belajar

      Delete
  3. orangtua memang memiliki peran penting demi mencetak akhlak sang anak, artikel yang bermanfaat untuk dibaca orang tua
    Silahkan kunjungi juga artikel saya : How to Choose your baby name

    ReplyDelete
  4. Bermanfaat sekali sharingnya mba. Kalau anak aku lebih menonjol kecerdasan logis, berteman, n visualnya. Emg tiap anak2 itu unik ya mba. Kita sebagai orang tua harus peka dengan bakat anak-anak kita dan dgn tepat mengarahkannya.:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sip dah kalo uda tau bakatnya. Tinggal memaksimalkan potensinya ntar. Sapa tau kelak dia jadi juara di bidangnya 😉

      Delete
  5. Hai mba, wah artikel ini komplit sekali. Nggak nyangka itu penerapan dasa darmanya bener juga haha. baru nyadar ih. aku noted banget soal kecerdasan anak nih. lagi belajar lebih banyak soal ini juga biar bisa kasih metode belajar di rumah yang sesuai buat anak-anakku. mamaci ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sama2 Mbak... Aq juga lagi belajar & terus belajar. Belajar sepanjang hayat lah intinya 😅 itu dasa darma kenangan waktu ikut gerakan Pramuka. Kangen juga di kegiatan itu kalo uda jadi mamak2 gini 😅

      Delete
  6. kalau anak saya cenderung kecerdasan kinestetik karena aktif banget
    meski cewek ga bisa diam
    dalam mobil aja ga pernah diam
    selalu gerak
    terus kecerdasan bahasa dan gambar.
    ga pernah diajar, pandai sendiri gambar bahkan sok bikin komik meski belum bisa baca, tapi sudah kenal huruf. jadi saya disuruh eja apa yang mau dia tulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus, lanjutkan mom kalo uda tau apa kecerdasan si kecil. Moga bakat ini makin terpupuk dg baik ya mom. Selamat mendidik putri kesayangan ya...

      Delete
  7. Baru tau nama lain golden ages adalah kencana hehe. Emang masa kencana adalah waktu terbaik buat stimulasi anak, juga menanamkan nilai2 moral, perilaku dll, ya meski gak bisa secara teori, kudu praktek ya kalau sama anak kecil. Soalnya mereka niruin kita. Nice sharing mom, tengkyu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga teori bisanya segini2 doank mom. Praktiknya aja kadang suka lupa kalo uda kebawa namanya emosi 😆 masih perlu belajar terus

      Delete
  8. Apalagi anak kalau lagi masa pertumbuan gini lagi masa meniru orang disekitar dan pemberian stimulus juga penting banget. Yang pasti peran orang tua disini diuji untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk mencari bakat dan minat si anak ya moms.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum, pokoknya kudu ekstra hati2 kalo di depan anak... Saya juga lagi belajar ini mom, kadang masih suka kelepasan 😅

      Delete
  9. Orang tua berperan penting banget ya di masa golden age mereka. Mudah2an saya bisa terus mendampingi anak2 di masa golden age mereka ini. Walau usia anak pertama udah 4 tahun,masa banyak nanya, bisa protes, ngamuknya juara menguji kesabaran bgt semoga aku bisa melewatinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang harus bener2 sabar, biar apa yg buruk dr kita gak keluar & ditirukan anak hmmm...

      Delete
  10. postingannya mengedukasi banget mbak... pengen banget jadi orang tua yang baik dan berakhlak mulia .. tapi kenapa kok kadang aku ga bisa lurus rus gitu.. jadi sering merasa berdosa sama naufal hikz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja mom, saya juga kalo kebawa emosi bisa bentak2 sama anak. Suka kelepasan... Yah, gak ada yg bisa sempurna kan di dunia ini. Pokoknya kitanya berusaha belajar & terus perbaiki diri itu uda bagus.

      Delete
  11. Saya sudah punya anak 4, tapi tiap baca tulisan macam punya Mbak ini, jadi mikir lagi, kok masiiiih aja ada yg kurang, pe er mengasuh anak memang gak pernah selesai ya Mbak...btw salam kenal 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mbak... Yah, namanya manusia kan gak ada yg sempurna Mbak. Saya juga lagi belajar ini, buat self reminder juga sih

      Delete
  12. Sudah menjadi tugas orangtua untuk menggali dan mengembangkan bakat anak meskipun hanya melalui sebuat permainan. Saya jadi ingat masa kecil dulu, bikin pistolan dari pelepah pisang, kalau pancing-pancingan dari batang singkong bahkan buat boneka-bonekaan dari jagung ��.
    Seru banget dan jadi momen indah sendiri di masa kanak2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah kreatifnya anak zaman dulu. Mainan gak perlu beli yang mahal2, dari yg ada di alam aja uda jadi mainan seru sama teman2 sebaya

      Delete
  13. masa masa kencana ini memang masa masa penting banget dalam tahap kehidupan manusia yaaa. jika kita bisa memberikan yang terbaik dalam masa emas ini, inshaaAlloh anak anak kita juga bisa menjadi anak yang baik plus pribadi yang hebat yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mom, ibaratnya sebagai pondasi langkah kehidupan selanjutnya ya. Harus dibangun biar kokoh.

      Delete
  14. Orangtua cerminan dari prilaku anak, semoga kita bisa selalu berikan contoh yang terbaik ya bunsay. Agar anak tumbuh menjadi anak yang baik, soleh dan berprestasi di masa depannya nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Betul banget itu mom. Makanya kita sebagai orang tua harus ekstra hati2 berperilaku sama anak.

      Delete
  15. Super lengkap infonya kak. Anak aku paling berpengaruh kecerdasan visualnya dan lebih suka permainan outdoor atau diluar ruangan. Masih banyak PR yaitu belom begitu lancar ngomong tap sering diajak bercerita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mom, sering2 diajak omong & dibacakan cerita ntar juga lama2 bisa lancar bicara... Atau mungkin emang tipe kepribadian dia yang cenderung tertutup mom?

      Delete

  16. Fitrah keimanan (dibahas saat workshop) yg harusnya ditanam di 7 tahun pertama hidupnya ternyata lupa saya kawal lebih ketat dan belum tuntas. Dan sekarang kami harus "restart" dari awal untuk mengulang proses yg terlewat".
    Hmm,,,Jazakumullah khairan katsira nasehat berharganya
    Didiklah anak sesuai fitrah.
    Fitrah apa?

    Diantaranya fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.
    Fitrah seksualitas?
    Wow, , ,
    gimana itu?


    Mendidik anak sesuai fitrah seksualitas artinya mengenalkan anak bagaimana bersikap, berpikir, dan merasa seperti gendernya.
    Jika ia anak perempuan, maka kita bangkitkan fitrah seksulitasnya sbg perempuan.
    Jika ia laki2, maka kita bangunkan fitrah seksualitasnya sebagai laki2.
    Pertanyaan berikutnya yg muncul, bagaimana tekhnis membangkitkan fitrah seksualitas ini ?
    Ada beberapa tahap yg perlu kita kawal di tiap fasenya.



    Usia 0 - 2 tahun

    Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya.
    Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.
    Menyusui, bukan memberi asi.
    Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.

    ***

    Usia 3 - 6 tahun

    Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.
    Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.
    Perbanyak aktivitas bersama.

    ***

    Usia 7 - 10 tahun

    Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.
    Jika anak laki2, maka dekatkan dengan ayahnya.
    Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke-maskulin-annya.
    Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb.
    Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.
    Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke-feminin-annya.
    Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb.

    ***
    Usia 11 - 14 tahun

    Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.
    Lintas gender.
    Jika anak laki2, maka dekatkan pada bundanya.
    Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.

    *

    Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan anak tsb 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki2 lain.
    Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.
    Jika tdk dekat dg ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat dengan laki2 yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan dan mengambil keuntungan semata.
    Logis juga sih.
    Saat ada laki2 yg memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang silau krn ada ayahnya yg lebih sering memujinya.
    Kalau ada laki2 yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang klepek2 krn ada ayahnya yg lbh dulu mencurahkan perhatian dan memberi hadiah.
    Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya, maka sebaliknya, anak laki2 harus dekat dengan bundanya.
    Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki2 punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak memahami perempuan.
    Ada yang tanya, lho kalau ortunya bercerai atau LDR bagaimana?
    Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.
    Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs menjadi sosok ayah pengganti.
    Bisa kakek, atau paman.
    Sama dengan rasulullah.
    Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah kehilangan sosok ayah dan ibu.

    ***
    Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? Sudah tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh.
    Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.
    Ia telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita.
    Maka fokus dan bersabarlah
    Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman2.
    Moga allah mampukan dan bisa mempertanggungjawabkan amanah ini kelak di hari penghitungan..
    Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.
    Apapun keadaannya, jangan lupa Bersyukur atas Nikmat Berkeluarga. Prinsip nya Ilmu Parenthing sangat luas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks sharingnya bunda... Saling melengkapi ya, ini segi parenting dipandang dari sudut usia2nya ya. Sangat bermanfaat nih...

      Delete
  17. Mbak, sepertinya praja pramuka bangeet yaaa.. hihihi, hapal banget dasa darma, tapi justru sekarang kepake ya Mbak ilmunya.. Makasih nih sharingnya.. bermanfaat banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😅 di antara teman2 apalah saya ini, cuma butiran debu di kepramukaan. Yap, semua ilmu yg baik itu kan bagusnya di praktekkan ya...

      Delete
  18. Selalu salut sama orang tua yang kau belajar mengenali kecerdasan anak anaknya sebelum menjudge anak itu bodoh. Dulu saya sering dikatakan bodoh karena nilai matematika yang selalu jeblok. Padahal tolak ukur pintar bukan cuma nilai matematika kan ? Makanya sekarang setelah jadi orang tua saya belajar memahami apa yang anak anak saya lakukan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama... Sy juga selalu jeblok di nilai math 😅 eh ternyata emang saya sukanya sm nulis2, bukan ngitung2. Kecuali kalo ngitung2 duit belanja ya mom,harus bisa.

      Delete
  19. Mba Amii, nemu aja hubungan antara mengasuh anak sama dasa dharma pramuka, etapi aku setuju bahwa anak anak itu harus dikasih kesempatan untuk mencoba dan mengalami berbagai hal, agar emosi dan sensorisnya rerasah, sehingga kognitifnya optimal. Keren banget euy si kakak ga takut sama ayam. Oiya, gegara blognya Mba, jadi inget konsep optimalisasi lingkung -budaya, alam, keagamaan, resource di masing masing daerah itu unik dan sangat tepat untuk membantu tumbuh kembang anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lain ladang lain belalang, lain lubuk, lain pula ikannya. Gitu kan? Bisalah, belajarnya si kecil disesuaikan sm adat orang2 setempat...

      Delete
  20. Artikelnya sangat informatif mbak. Farras hebat ya sudah berani peluk ayam. Hehee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang takut malah orang tuanya... Takut kalo dipatok atau dicakar si ayam ��

      Delete
  21. Lengkap banget mbaaak artikelnya :)) aku juga lagi melihat-lihat nih anakku lebih cenderung menuju kecerdasan yang mana. Sedikit-sedikit sih mulai terlihat minatnya. Tapi masih perlu dipantau lagi hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, semangat menggali bakat & minat si kecil Mbak. Biar terdeteksi sedini mungkin. Ntar biar gampang deh ngembangin ke depannya.

      Delete
  22. Ya ampun, masa kencana. Sudah lama melupakan istilah ini. Kenapa ga dipakai aja istilah ini ya. Masa2 kencana ini memang perlu dimaksimalkan stimulasinya, supaya perkembangannya ga mandeg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa kencana memang lebih populer dengan sebutan golden age bunda... Jadinya terasa asing di telinga ya?

      Delete
  23. Sekarang hp sudah mengubah kebersamaan ortu dan anak mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah tugas orangtua selanjutnya, bagaimana caranya memanfaatkan hp atau teknologi lain secara bijak agar tidak merusak masa depan anak.

      Delete

Terima kasih sudah singgah di blog amiwidya.com.
Saya persilakan menambahkan komentar untuk melengkapi postingan blog di atas.
Semoga bermanfaat & menginspirasi buat semua...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel