Tuesday, August 8, 2017

Good Bye ASI Tanpa Menyakiti Bayi


Yakin deh, sebagian besar mama-mama muda alias mamud pasti banyak galaunya kalau ditanya tentang cara bikin lepas ASI si anak yang udah mulai memasuki usia 2 tahun atau lebih. Kadang dari mamanya sendiri yang masih sayang banget, nggak rela mau pisahin anak sama ASInya. Tapi ada juga yang anaknya cinta banget sama itu ASI hingga nggak mau lepas, bahkan makin nempel dan menjadi-jadi biarpun usianya sudah memasuki 2 tahun. Termasuk yang manakah mamud sekalian??? Kalau saya sih, anaknya yang susah lepas ya. Emaknya ini udah siap lahir batin mau pisahin dia dari ASInya. Terus, gimana caranya hingga berhasil melewati tahapan lepas ASI ini? Sini aku bagiin ceritanya...

Hal yang paling utama dari proses melepas ASI adalah kesiapan mental mamud sendiri. Karena bagaimanapun supernya cara yang akan dipakai, nggak akan berhasil tanpa adanya kesiapan mental dari si ibu. Jadi harus keukeuh ya pendiriannya... Jangan luntur cuma dengan rengekan atau tangisan si kecil.

Sebenarnya ada banyak sekali cara dari mbah-mbah kita saat mau menyapih anak-anaknya. Terus, yang mau aku bahas di sini cuma sebagian kecil aja dari cara-cara itu dan tentunya cara yang sudah aku praktiin sendiri sama bayi pertamaku.

Cara yang paling awal kugunakan yaitu sounding sama si kecil jauh-jauh hari, ngomong ngecipriiisss sehari puluhan kali, bilang sama dia kalau udah 2 tahun gak boleh mimik sama mama lagi. Gantinya bisa pakai susu di botol atau gelas. Mau sih, pakai susu botol/dot, tapi cuma bertahan seminggu dan dia tetep minum ASI. Jadi cara ini aku nyatakan gagal.

Cara kedua, aku gunakan kecuekan, gak aku perhatiin meski minta minum ASI, baik itu pas siang hari maupun malam hari mau bobok. Ini mulut juga tetap berkicau jelasin kalau dia udah nggak boleh mimik sama mama lagi, dengan penekanan suku kata yang lebih dramatis. Sampai doweeerrr.... Tetap gak berhasil. Hasilnya, dia tantrum, emaknya juga tantrum, dan semakin menjadi minta mimik ASInya. Akhirnya, aku nyatakan juga: gagal.

Berikutnya, yang ketiga. Aku dapat info dari tetangga kalau dikasih tempelan asem di puting susu ibunya. Katanya sih, itu anak bakal gak mau, jijik lihat cokelat-cokelat nempel di mimiknya. Tapi, belum aku coba, aku udah pesimis, soalnya anakku gak ngaruh sama makanan & minuman rasa asem-asem begitu. Lagipula, warnanya kan mirip cokelat, jangan-jangan dia malah doyan ntar. Aku skip deh cara ini.

Lalu, ada juga teman yang bilang suruh kasih lipstik merah di puting ASI. Ntar itu anak bakal nggak mau mimik karena lihat penampakan lipstik di mimiknya. Ok, aku cobain, tapi hasilnya nihil. Cuma ditowel-towel aja sama anakku, habis itu diemut lagi. Wkwkwkw..... Dia nggak peduli bibirnya belepotan lipstik, padahal dia cowok.
Serutan Kayu Dwara Putih

Selanjutnya, ini saran dari bu mertua. Disuruh kasih olesan rebusan air "dwara putih". Aku sendiri nggak tau awalnya, gimana penampakannya barang yang dimaksud ini. Bilangyna sih, kalau orang dulu bikin jamu ini khasiatnya untuk meredakan meriang, capek-capek, demam gitu. Aku beli di toko yang jualan bahan-bahan jamu tradisional, akhirnya aku temukan juga. Sampai di rumah, direbus sama air secukupnya, sudah dingin, baru diolesin ke ASInya. Rasanya sih pahit, katanya bayinya bakal nggak mau mimik lagi karena tahu rasa ASInya berubah. Tapi, walhasil.... Tetep aja disedot. Sempat hampir putus asa juga sama kelakuannya yang nggak lepas-lepas dari ASI ini. Tapi, apa boleh buat, harus tetep semangat mencari jalan lain untuk proses yang nggak mudah ini.

Sampai-sampai ada mamud yang menyarankan supaya "disuwukne" bae (Bhs Jawa). Maksudnya didoain sama ahlinya (read: orang pintar misal kyai, dukun bayi, ustadz, dan semacam itulah). Okelah, ini bakalan jadi pengisi list terakhirku jikalau caraku sudah gagal total. Baik mau dipakai atau nggak, yang penting ditampung dulu idenya.

Terakhir kalinya nih, ada satu cara yang kucoba, termotivasi dari yang namanya "doa-doa" seperti cara yang aku sebutkan di atas. Mulai deh positif thinking, dengar-dengar, yang namanya doa ibu itu mustajab, sampai ke hadapan Tuhan tanpa ada yang menghalangi. Mulai kucoba, sesuai dengan agama dan keyakinanku, dengan bahasa campuran sebisaku, aku mulai deh memohon sama Yang Maha Membuka Pintu Hati, biar anakku bisa lepas ASI, cepet lupa sama ASI, dan nggak balik-balik lagi sama ASI. Selesai sholat 5 waktu, di sepertiga malam, waktu kasih mimik ASI si kecil juga, aku doain, baca-baca surat Al-Fatihah, sholawat nabi, diusap ubun-ubunnya gitu. Terus, esoknya aku kasih plester luka di puting susunya. Bilang ke anak kalo sakit, kasih pengertian bahwa terus-terusan kasih mimik dia yang udah muncul giginya itu bisa menyakitkan.Jadinya begini deh.... Dan alhamdulillah, dia nggak mau lagi mimik, pas bangun dari tidur pun juga nggak mau. Esoknya, disodorin juga ditolak.

Sudah berhasil begini waduh, senengnya dan leganya itu bisa mengalahkan selesai ujian skripsi wkwkwk....Bener-benar bersyukur, plong banget rasanya. Tapi mom, perlu diingat, bahwa setiap anak pasti punya respon yang berbeda. Cara yang kulakukan berhasil ini belum tentu bisa berhasil ke anak yang lainnya. Yah, dicoba aja semua, siapa tahu salah satunya bisa berhasil. Atau, mungkin mommy punya cara lain yang lebih ampuh? Bisa dishare di kolom komentar ya... Hitung-hitung, bagi-bagi pengalaman sama yang lain. Lagipula, tulisan ini bukan dari ahlinya, karena aku mama muda yang masih belajar, bukan mama profesional yang bisa telaten, sabar, dan sangat kreatif menghadapi tingkah polah si kecil. Bukan pula emak-emak beranak selusin yang pastinya udah punya trik di luar kepala menghadapi rengekan anak-anaknya. Ataupun ahli parenting yang tahu seluk-beluk menjadi orang tua. Jadi pasti artikel ini masih banyak kurangnya di sana-sini.

Akhir kata, kuucapkan selamat mencoba dan semoga berhasil!!! Semangat!!!

Next, Baca Juga: Toilet Training: Good Bye Popok Tanpa Bentrok