Monday, October 3, 2016

MEMANFAATKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MENCETAK GENERASI YANG CERDAS DAN SANTUN DALAM BERTEKNOLOGI



MEMANFAATKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MENCETAK GENERASI YANG CERDAS DAN SANTUN DALAM BERTEKNOLOGI
Indonesia telah dikenal di mancanegara sebagai negara ketimuran yang kental dengan adat istiadat, tata krama, dan sikap keramahtamahannya. Namun seiring perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), arus informasi yang masuk seakan tak terbendung. Kebudayaan dan adat istiadat yang telah menjadi ciri khas dan jati diri bangsa Indonesia sejak berabad-abad lamanya mulai ditinggalkan. Segala sesuatu yang masuk dari luar negeri, dianggap sebagai hal modern pembawa kesuksesan yang patut diteladani. Sedangkan hal-hal yang berbau ke-Indonesia-an, perlahan-lahan tergeser dan dianggap sebagai sesuatu yang kuno.

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi Gelar Karya Seni Rupa SPIRIT (AC) TUAL Gresik, Karya Rackmad Basuki
Pola pikir semacam inilah yang seharusnya tidak boleh menghinggapi masyarakat Indonesia. Jangan sampai kemajuan dalam bidang TIK membawa dampak yang buruk untuk masa depan bangsa. Kita harus pandai-pandai memilih dan memilah apapun yang kita dapat dari kecanggihan teknologi masa kini. Selain itu, penanaman karakter cinta tanah air harus diberikan kepada anak-anak agar mereka juga bisa membentengi diri dari pengaruh buruk TIK yang mengintai setiap saat. Karena sudah seharusnya, kemajuan bidang TIK yang sangat pesat dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan keburukannya diantisipasi sedapat mungkin.
Perkembangan TIK yang sedemikian cepat terkadang membuat orangtua gagal paham dan merasa tidak bisa mengikuti perkembangannya. Salah satu kendala ini bisa berakibat fatal jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya untuk mengejar ketertinggalan. Mengejar ketertinggalan yang saya maksudkan di sini bukan berarti para orangtua harus lebih pandai dalam mengoperasikan peralatan ber-TIK daripada anak-anak mereka. Akan tetapi, bagaimana para orangtua bisa mengambil kendali penuh, mengarahkan, dan mengawasi dengan sungguh-sungguh bagaimana anak-anak berinteraksi dengan TIK itu sendiri.

 
Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi Gelar Karya Seni Rupa SPIRIT (AC) TUAL Gresik, Karya Subeki

Jangankan anak-anak yang masih labil, para remaja dan para orangtua yang kurang bisa mengontrol diri ketika berhadapan dengan benda-benda yang ber-TIK pun juga sering dijumpai. Sebagai contoh, banyak kasus seseorang yang mengutarakan kekesalannya terhadap orang lain melalui media sosial. Karena kata-katanya yang tidak sopan, bisa menuai kontroversi di kalangan tertentu. Peristiwa semacam ini dapat menimbulkan masalah baru di atas sebuah masalah lama. Mungkin orang tersebut berbuat demikian sebagai bentuk ungkapan kekesalannya yang tidak tersalurkan dengan baik. Akan tetapi, apakah cara seperti ini merupakan cara yang cerdas dan santun dalam menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi? Itulah yang patut dipikirkan ulang.
Pernah juga kita dengar kabar beredarnya foto mesum si A dengan si B yang mirip publik figur Y dan Z. Atau foto anak yang menjadi viral di media sosial, bukan karena prestasi mereka namun karena tingkah laku mereka yang bisa dibilang tidak sesuai dengan tata krama di Indonesia. Bahkan ada juga anak-anak yang berani mengunggah video tidak senonoh bersama pasangannya yang belum sah. Beberapa kejadian yang saya sebutkan ini merupakan beberapa contoh buruk perkembangan TIK yang tidak disertai perkembangan benteng moral Sumber Daya Manusianya.
TIK di satu sisi bisa membawa dampak positif, namun di sisi lain juga membawa dampak negatif. Diperlukan kebijakan sikap dan kontrol diri yang baik agar bisa mengendalikan dampak negatif yang menyertai. Melihat fenomena ini, para orangtua sebagai pengendali yang utama bagi diri anak harus bisa membentengi dan menciptakan kontrol diri pada pribadi anak-anaknya dari dampak negatif tersebut. Sehingga diharapkan kelak mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan santun dalam memanfaatkan TIK.
Berikut ini beberapa kiat yang bisa diterapkan para orangtua dalam mengendalikan anak berinteraksi dengan TIK. Juga dalam rangka memanfaatkan TIK untuk hal-hal yang positif demi kemajuan generasi penerus bangsa Indonesia.
1.    Bagi Anda yang melek teknologi, gunakan aplikasi parental control dari smartphone Anda untuk memantau aktivitas anak. Contohnya seperti aplikasi kids place, kuukla, secureteen, kids zone, parental control board, norton family, kakatu, dan screen time. Dengan hadirnya aplikasi-aplikasi seperti itu, orangtua bisa membatasi akses internet anak, telepon, dan SMS. Orangtua juga bebas menentukan batasan waktu kapan si anak boleh menggunakan smartphone/gadget.
2.    Rajin-rajinlah berkomunikasi dengan anak, baik secara bertatap muka langsung ataupun melalui alat komunikasi. Anak mana yang tidak senang diberi perhatian oleh orangtuanya. Jangan sampai anak mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak lazim kepada lingkungannya karena orangtua yang kurang perhatian kepadanya. Sesibuk-sibuknya Anda bekerja, luangkan waktu khusus untuk mereka. Siapa tahu itu akan menjadi air hujan di tengah kekeringan, mendengar cerita konyol dari anak kadang juga bisa mengobati penat saat pekerjaan menumpuk.
3.    Jika dirasa belum cukup umur, batasi interaksi anak dengan TIK. Selain kurang bagus untuk kesehatan mata, hal ini bisa mengakibatkan perkembangan sosial yang kurang baik di masa depan. Anak menjadi terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan alat di genggamannya tanpa mempedulikan orang di sekitarnya. Mengenai usia yang tepat memberikan smartphone/gadget kepada anak, terdapat berbagai pendapat menyebutkan secara berbeda-beda. Namun secara umum, memasuki usia 7 tahun merupakan waktu yang tepat untuk memberikan smartphone/gadget kepada anak dan tentunya masih dengan rambu-rambu tertentu dari orangtua.
4.    Bagi Anda yang memiliki anak menginjak usia remaja, masa pencarian jati diri, setidaknya Anda juga harus menguasai sedikit tentang media sosial yang digunakan anak Anda. Belajarlah bermedia sosial, selain untuk mengontrol anak-anak berseluncur di dunia maya, Anda juga tidak rugi karena sudah mengikuti perkembangan TIK. Bukankah sudah banyak contoh kasus kriminal bermula dari remaja yang berkenalan di media sosial? Maka dari itu, belajar untuk mewaspadai tindak kejahatan terhadap anak di media sosial ini juga penting. Karena itu juga bagian dari menjaga anak-anak dari hal-hal yang tidak diinginkan.
5.   Buatlah jadwal harian di smartphone/gadget Anda sekedar untuk pengingat jadwal harian anak. Tujuannya agar anak-anak bisa membagi waktunya untuk kegiatan sehari-hari maupun berinteraksi dengan TIK ini. Jangan sampai mereka terlalu asyik bermain game di smartphone/gadget sehingga melupakan waktu untuk kegiatan lainnya.
6.      Arahkan anak agar mengakses internet untuk hal-hal yang positif. Ini bisa disesuaikan dengan bakat dan minat mereka. Jika memungkinkan, dampingi saat mereka baru belajar dan didik mereka agar lebih bijaksana dalam berTIK.
Demikian kiat-kiat yang bisa saya berikan kepada para orangtua untuk memanfaatkan kecanggihan TIK dalam mengendalikan anak saat berinteraksi dengan TIK. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.