Friday, October 28, 2016

ANAK SEBAGAI TUMBAL PEMBANGUNAN INDONESIA



Hai para ibu yang tengah berjuang demi keluarga,

Mari kumpulkan suara untuk perbaikan pembangunan Indonesia!


Wanita dalam Pembangunan Indonesia

Jumlah wanita di Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan angka potensial untuk pembangunan Indonesia yaitu mencapai 118.048.783 (49%) orang dari 237.556.363 orang penduduk Indonesia. Maka dari itu tidak heran apabila peran wanita dalam pembangunan Bangsa Indonesia sangat besar, baik sebagai agen perubahan maupun subyek pembangunan.

Selain peran pentingnya untuk negara, kaum wanita juga berperan penting dalam keluarga yaitu sebagai ibu yang akan melahirkan dan mendidik anak-anak mereka. Oleh karenanya, kualitas anak Bangsa Indonesia juga ditentukan oleh kualitas kaum wanita. Mereka harus meningkatkan kualitas pribadi masing-masing, sebab tidak akan terbentuk keluarga yang berkualitas tanpa meningkatkan kualitas wanita.

Berbicara tentang kualitas wanita, tak lepas dari pendidikan wanita yang juga merupakan aspek penting bagi pembangunan Indonesia. Selain itu, kesehatan wanita juga harus diperhatikan seiring dengan upaya peningkatan akses pendidikan. Sebab wanita Indonesia masa kini berbeda dengan wanita Indonesia masa lalu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bila dulu wanita Indonesia hanya beraktivitas istilahnya di “dapur, sumur, kasur”, kini bisa disaksikan wanita Indonesia berperan hampir dalam setiap bidang pekerjaan dan profesi. Bahkan, salah seorang mantan presiden Indonesia (Ibu Megawati) dan calon presiden Amerika Serikat tahun ini (Hillary Clinton) adalah wanita. Dengan melihat adanya potensi yang besar tersebut, pemerintah telah menerbitkan Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, sebagai acuan memaksimalkan potensi wanita dalam pembangunan.

Pemerintah dengan bantuan swasta/BUMN melalui Corporate Social Responsibility (CSR) telah mencoba meningkatkan peran wanita dalam kehidupan sehari-hari. Mereka melaksanakan berbagai program pemberdayaan wanita, baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun yang lain. Program ini dinilai mampu membantu wanita untuk mengembangkan potensi mereka serta mendorong perubahan ekonomi dan sosial dalam masyarakat. 

Dilansir dari www.neraca.co.id, penelitian menunjukkan bahwa investasi dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kepemimpinan bagi wanita memberikan hasil yang lebih besar dalam hal pengembangan ekonomi dan sosial, termasuk menurunnya tingkat kematian bayi dan anak, pencegahan penyakit, meningkatkan penghasilan dan produktifitas, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. Program-program pemberdayaan wanita dalam kegiatan CSR perusahaan ditujukan untuk menstimulasi pengembangan usaha wanita serta menggugah partisipasi stakeholder dalam pengembangan usaha wanita dan penanggulangan kemiskinan, meningkatkan partisipasi masyarakat kaum wanita dan dunia usaha dalam pengembangan perlindungan sosial melalui usaha dan sumber pembiayaan, meningkatkan produktivitas ekonomi wanita kelompok miskin di berbagai kegiatan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, meningkatkan akses kelompok wanita terhadap informasi, teknologi tepat guna dan berbagai sumber pembiayaan, serta mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender melalui peningkatan produktivitas ekonomi wanita.

Tak hanya itu, dengan mempersiapkan wanita untuk berpartisipasi secara kompetitif dalam ekonomi, maka akan memungkinkan perusahaan-perusahaan mendapatkan orang-orang terbaik untuk bekerja dan berkembang tanpa membedakan gender. Peningkatan lifeskill (kecakapan) serta kompetensi (keahlian) wanita yang pada gilirannya memiliki sikap hidup, kepribadian hidup, dan kemampuan hidup yang meningkat, menjadikan wanita mitra sejajar dengan kaum laki-laki. Hal ini sudah sesuai dengan maksud Inpres No. 9/2000.

Saat kita berbicara mengenai masalah ekonomi secara tidak langsung juga berbicara mengenai wanita. Karena pada kenyataannya, wanita adalah agent of development yang berperan besar dalam perkembangan perekonomian. Bagaimana tidak? Sang pemegang kuasa keuangan di dalam keluarga pasti seorang wanita atau ibu. Meskipun pria/bapak yang bekerja mencari nafkah namun tetap seorang ibu akan mengambil alih keuangan guna mengatur pengeluaran yang terjadi dalan meluarga tersebut. Bagitu pula dengan kondisi bidang perekonomian negara, seorang ibu atau wanita dalam arti luasnya, sudah pasti bisa memegang peran dan bisa menjalankan peran tersebut dengan sebaik-baiknya. Itulah sebabnya mengapa Ibu Sri Mulyani dipercaya kembali menjadi menteri keuangan di Indonesia. Masuk akal bukan?!

Berdasarkan asumsi yang berkembang di masyarakat luas sejak zaman dahulu hingga kini adalah, dengan keberdayaan wanita di bidang ekonomi sebagai salah satu indikator meningkatnya kesejahteraan. Saat wanita berpendidikan tinggi, mempunyai hak-hak kepemilikan, dan bebas untuk bekerja di luar rumah serta mempunyai pendapatan mandiri, inilah indikator bahwa kesejahteraan rumah tangga telah meningkat. Selain itu, muncul juga asumsi lain bahwa tiap wanita harus mandiri secara ekonomi, agar memiliki kekuasaan dan posisi dalam hubungan domestik, keluarga, dan lingkungan sosial. Ini juga indikator yang sering dipakai dalam mengukur keberhasilan emansipasi wanita.

Meskipun demikian, sebenarnya kesejahteraan keluarga dan keberhasilan emansipasi wanita juga bisa dipengaruhi oleh faktor lain. Belum tentu indikator-indikator yang diasumsikan itu murni benar 100%. Bisa jadi sebaliknya, wanita yang bekerja di rumah, tidak berpendidikan tinggi namun ulet dalam bekerja, pandai mengatur pengeluaran keluarga, juga bisa menjadi faktor penentu kesejahteraan keluarga. Namun di sini saya tidak membahas hal tersebut, karena pembahasan saya menitikberatkan pada wanita yang bekerja di luar rumah seperti yang telah dibahas pada asumsi di atas.

Sudah terbukti, partisipasi wanita dalam bidang ekonomi tidak hanya untuk menurunkan tingkat kemiskinan di kalangan wanita, tetapi juga sebagai pondasi yang kokoh di sektor lain. Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak (Kabinet Indonesia Bersatu II), Linda Amalia Sari Gumelar pernah mengatakan bahwa wanita merupakan aset dan potensi luar biasa untuk mengurangi angka kemiskinan, mewujudkan pembangunan, perdamaian, dan keamanan. Jika mereka diberdayakan secara ekonomi dan intelektualitas, maka akan sangat efektif bagi pengembangan masyarakat dan bangsa. Nah, yang menjadi permasalahan selanjutnya, sudahkah negara kita tercinta ini memfasilitasi wanita sepenuhnya dalam menjalankan perannya yang kompleks tersebut? Mari kita lanjutkan pembahasan!

Antara Emansipasi dan Peran Wanita sebagai Ibu dari Anak-anak

Terlepas dari emansipasi beserta peran wanita dalam pembangunan Indonesia, pada fitrahnya wanita memang memiliki peran yang penting pula dalam keluarga, salah satunya yaitu sebagai ibu dari anak-anak mereka. Peran ini menuntut seorang wanita harus benar-benar memperhatikan kewajibannya dan hak-hak yang harus diberikan kepada anak-anaknya mulai dari sang anak dilahirkan. Tak jarang masalah kedua peran ini membuat “galau” para ibu muda, belum lagi jika muncul “nyinyiran” dari emak A, ibu B, mami C, bunda D, atau mamah-mamah muda lainnya.

Kegalauan itu akan bertambah ketika hadir buah hati titipan Tuhan dalam keluarga mereka. Para ibu baru akan mulai menimbang-nimbang antara meneruskan peran mereka dalam pembangunan Indonesia yaitu pekerjaan, menjadi ibu rumah tangga, atau menjalankan kedua peran secara bersamaan. Mengingat adanya kewajiban sebagai ibu dan hak anak yang harus diberikan, di Indonesia telah diatur dalam Undang Undang Perlindungan Anak Bab I pasal 1 No. 12 dan Bab II pasal 2.

Hak anak adalah bagian dari hak azasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Hak anak tersebut mencakup (1) non diskriminasi, (2) kepentingan terbaik bagi anak, (3) hak kelangsungan hidup, dan (4) perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak. Dengan mengacu UU Perlindungan Anak tersebut, mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) termasuk salah satu hak azasi yang harus dipenuhi. Beberapa alasan yang menerangkan pernyataan tersebut, yaitu :

  • Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan dan kesehatan terbaik untuk memenuhi tumbuh kembang optimal. Komposisi ASI disesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat dan akan bervariasi tergantung usia bayi. Sehingga ada yang disebut kolostrum, ASI peralihan, dan ASI matur. Komposisi ASI juga bervariasi dari awal hingga akhir menyusui. Foremilk (ASI awal) adalah ASI yang bening, diproduksi pada awal penyusuan, banyak mengandung laktosa dan protein. Hindmilk (ASI akhir) adalah ASI yang lebih putih pekat, diproduksi pada akhir penyusuan, banyak mengandung lemak yang sangat diperlukan sebagai sumber tenaga dan pembentukan otak.
  • Setiap bayi mempunyai hak dasar atas perawatan atau interaksi psikologis terbaik untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Setelah melahirkan, ibu memerlukan keterampilan khusus untuk merawat bayinya, menyusui dengan benar baik pelekatan maupun posisinya. Kegiatan ini akan menambah kedekatan emosional antara ibu dengan bayinya.
  • ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam tahap percepatan tumbuh kembang, terutama pada 2 tahun pertama. ASI akan mencegah kekurangan nutrisi karena ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dengan tepat, mudah dicerna oleh tubuh bayi dan melindungi bayi terhadap infeksi.
  • ASI memberikan seperangkat zat perlindungan terhadap berbagai penyakit akut dan kronis. Kandungan zat aktif dalam ASI, terutama yang bekerja untuk fungsi kekebalan tubuh adalah komponen protein (α-laktalbumin, β-laktoglobulin, kasein, enzim, faktor pertumbuhan, hormon, laktoferin, lisozim, sIgA, dan imunoglobulin lain), nitrogen non protein (α-amino nitrogen, keratin, kreatinin, glukosamin, asam nukleat, nukleotida, poliamin, urea, asam urat), karbohidrat (laktosa, oligosakarida, glikopeptida, faktor bifidus), lemak (vitamin larut dalam lemak - A, D, E, K-, karotenoid, asam lemak, fosfolipid, sterol dan hidrokarbon, trigliserida), vitamin yang larut dalam air (biotin, kolin, folat, inositol, niasin, asam pantotenat, riboflavin, thiamin, vitamin B12, vitamin B6, vitamin C), mineral dan ion (bikarbonat, kalsium, khlorida, sitrat, magnesium, fosfat, kalium, natrium, sulfat), trace mineral (kromium, kobalt, copper, fluorid, iodine, mangaan, molybdenum, nickel, selenium dan seng), serta sel (sel epithelial, leukosit, limfosit, makrofag, dan neutrofil). Sehingga dengan mengonsumsi ASI, dengan mendapatkan ASI, bayi mendapatkan kekebalan terhadap berbagai penyakit seperti radang paru-paru, radang telinga, diare, dan juga mengurangi risiko alergi.
  • Memberikan interaksi psikologis yang kuat antara bayi dan ibu yang merupakan kebutuhan dasar tumbuh kembang bayi. Kegiatan menyusui terutama bila dilakukan dengan skin to skin contact dapat membentuk perkembangan emosional. Karena dalam dekapan ibu selama menyusui, bayi bisa bersentuhan langsung dengan ibu sehingga ia mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.
  • Ibu yang menyusui juga memperoleh manfaat menjadi lebih sehat, antara lain menjarangkan kehamilan, menurunkan risiko perdarahan pasca persalinan, anemia, kanker payudara dan indung telur. Selain itu, menyusui juga membantu tubuh ibu dalam mengontrol pendarahan setelah melahirkan. Kegiatan menyusui akan menghabiskan kalori yang cukup banyak, sehingga akan membantu diet ibu pascakehamilannya.
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya pemberian ASI kepada bayi, dan betapa besarnya manfaat pemberian ASI untuk ibu dan bayi, kita perlu mempertanyakan kondisi lingkungan di Indonesia. Sudahkah fasilitas dan sarana untuk ibu dan bayi ini terpenuhi? Terutama untuk ibu yang bekerja di luar rumah tadi, atau untuk ibu yang sering dan sedang bepergian ke luar rumah. Jika belum, bagaimana dampak terhadap ibu dan bayinya? Kita akan menemukan jawabannya pada pembahasan berikut.

Fakta Tentang Ibu Menyusui di Indonesia

Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2002 dan 2007 untuk pemberian ASI eksklusif pada bayi di bahwa usia 2 bulan menunjukkan angka yang menurun, yaitu 64% pada tahun 2002 menjadi 48,3% pada tahun 2007. Bahkan tahun 2010, angka ibu yang memberikan ASI eksklusif untuk bayi 6 bulan turun menjadi 15,3% dari yang semula 30% pada tahun 2007. Ini berarti, masih ada 84.7% ibu yang masih memberikan susu formula pada bayi sebelum usia 6 bulan atau bahkan semenjak lahir. Semoga saja fakta tahun 2010 ini sudah banyak berubah seiring semakin pesatnya laju media sosial dan komunikasi yang gencar menyerukan pentingnya pemberian ASI sehingga banyak ibu yang tersadarkan.

Selain itu, UNICEF menyatakan terdapat 30 ribu kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia tiap tahun. UNICEF menyebutkan bukti ilmiah yang dikeluarkan oleh jurnal Paediatrics pada 2006. Terungkap data bahwa bayi yang diberi susu formula memiliki kemungkinan meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya dan peluang itu 25 kali lebih tinggi daripada bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Sebenarnya kejadian ini bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak kelahiran bayi tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi.

Kita pasti pernah mendengar kabar banyaknya kasus kurang gizi pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun yang sempat melanda beberapa wilayah Indonesia. Bukankah kasus kurang gizi juga sering diidentikkan dengan kemiskinan? Itu karena mereka belum mengetahui andaikata mau memberikan ASI eksklusif, sebenarnya bisa menghemat pengeluaran untuk pembelian susu formula. Mereka seharusnya menyadari bahwa kasus kurang gizi dapat diminimalisir melalui pemberian ASI secara eksklusif. Karena itu, sudah sewajarnya ASI eksklusif dijadikan prioritas program di negara berkembang ini.

Usaha pemerintah Indonesia dalam menurunkan angka kematian bayi dan mendukung pemberian ASI eksklusif terwujud dengan mengeluarkan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pasal 128 yang menekankan hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif kecuali atas indikasi medis dan ancaman hukuman pidana bagi yang tidak mendukungnya, termasuk diantaranya para petugas kesehatan. Bab ini mengemukakan alasan medis yang dapat diterima untuk memberi susu formula pada bayi baru lahir yaitu beberapa situasi khusus dimana ASI memang tidak boleh diberikan, atau susu formula diperlukan sementara atau diperlukan tambahan susu formula disamping pemberian ASI.

UNICEF menyebutkan bahwa ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI, cara menyusui dengan benar, serta pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh para produsen susu formula merupakan faktor penghambat terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI eksklusif. Ditambah lagi di Indonesia, fasilitas untuk merawat dan menyusui anak-anak terutama bagi wanita yang bekerja sangatlah kurang. Kita sama-sama mengetahui, tidak ada ruang laktasi/menyusui untuk ibu yang ingin memompa ASI ataupun ibu menyusui di tempat-tempat kerja kecuali rumah sakit. Begitu pula di tempat-tempat umum seperti terminal, bandara, pasar, tempat rekreasi, taman kota, dan sebagainya. Bukankah hal ini terlihat menyedihkan? Ruang khusus merokok dan toilet saja di dalam bus sudah tersedia, tetapi mengapa justru ruang laktasi yang notabene sangat penting bagi ibu dan anak malah tidak tersedia? Coba renungkan! Mungkin ini juga salah satu faktor yang berpengaruh pada diberikannya susu formula untuk bayi-bayi mungil tak berdosa itu. Iya, karena tidak adanya ruang laktasi sehingga para ibu merasa malu dan enggan menyusui di sembarang tempat.

Lagipula dengan diluncurkannya Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pasal 128 di atas, seharusnya dibarengi dengan upaya pemerintah untuk melengkapi segala sarana dan prasarana bagi ibu-ibu yang ingin memberikan ASI ekslusif kepada bayinya dan bayi yang seharusnya mendapatkan ASI tersebut. Terutama untuk ibu-ibu yang kesulitan memberikan ASI ekslusif, dalam hal ini adalah ibu yang bekerja di luar rumah, ibu yang sedang bepergian, ibu yang tidak bisa memberikan ASI karena berbagai sebab, juga mengupayakan ASI untuk bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI secara langsung dari ibunya, yaitu melalui ibu susuan atau ASI perah dari ibu menyusui lainnya.
Kebetulan saya menemukan video yang pas untuk menyuarakan hati para ibu bekerja, tonton sejenak yuk!

Solusi Pengasuhan Anak untuk Ibu Bekerja

Pada kenyataannya, para ibu memang masih menemui kendala di lingkungan pekerjaannya ihwal cuti bersalin dan ruang laktasi. Di lain pihak, sebagian ibu tidak mengambil cuti bersalinnya karena khawatir gaji yang diterima akan dikurangi atau kehilangan pekerjaannya selama menjalankan cuti. Cuti melahirkan di Indonesia dapat diperoleh sekitar 2 bulan saja. Bahkan ada pekerjaan tertentu yang hanya memperoleh cuti kurang dari waktu tersebut. Apalagi jika sang ibu belum ditetapkan sebagai pegawai tetap, bisa-bisa hanya 2 minggu waktu yang bisa digunakan untuk cuti melahirkan. Coba bandingkan dengan negara lain seperti UK, Croasia, dan Albania, betapa sangat singkatnya waktu cuti melahirkan di Indonesia. Baca selengkapnya tentangnegara-negara dengan waktu cuti melahirkan terlama di sini.

Padahal World Health Assembly (WHA, Majelis Kesehatan Dunia) dan UNICEF (2001) menganjurkan menyusui eksklusif selama 6 bulan, selanjutnya setelah kembali bekerja, ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas untuk menyusui atau memeras ASI di tempat kerjanya. Tempat kerja/perusahaan yang mendukung tenaga kerjanya untuk menyusui bayinya disebut sebagai Tempat Kerja Sayang Bayi (Mother Friendly Work Place). Hal ini dapat terwujud bila memenuhi beberapa ketentuan seperti yang tercantum pada Undang Undang Ketenagakerjaan Tahun 2003 dan peraturan-peraturan lain, antara lain:
  • Pemimpin peduli dan mendukung tenaga kerja wanita dalam pemberian ASI. Sudah menjadi tugas seorang pemimpin, harus mempedulikan kesehatan para pekerjanya. Selain jaminan kesehatan yang disediakan, penting juga membenahi segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu–ibu sedang menyusui yang bekerja di tempatnya. Karena hal ini akan berhubungan langsung dengan kesehatan anak yang baru dilahirkan.
  • Perusahaan mempunyai kebijakan tentang izin menyusui dalam waktu kerja, penyesuaian jenis dan waktu kerja, cuti cukup, jaminan tetap kerja, upah sama. Tidak adil rasanya jika ibu-ibu harus keluar dari tempat kerjanya hanya karena dia melahirkan anak. Harus ada kebijakan tertentu yang mengatur perihal ini agar jangan sampai merugikan pihak manapun.
  • Menyediakan ruang dan sarana menyusui (termasuk lemari es). Pemimpin yang peduli kepada ibu-ibu tenaga kerja di tempatnya pasti akan mengupayakan adanya ruang khusus menyusui beserta tempat penyimpanan ASI untuk sementara selagi mereka bekerja. 
    Penyimpanan ASI Perah

    Secara kebetulan, saya juga sudah menemukan tempat untuk mewadahi suara dan keinginan para pejuang ASI yaitu dengan mendukung didirikannya booth menyusui di berbagai tempat termasuk di tempat-tempat kerja. Klik di sini untuk memberikan dukungan Anda.
  • Menyediakan tempat penitipan bayi/anak yang layak. Ini poin penting selanjutnya karena banyak TPA yang tidak sesuai dengan standar pengasuhan anak. Bisa dari faktor tempatnya, perawatannya, pengasuhnya, atau jumlah anak yang dititipkan. Desain interior dan dekorasi ruang TPA yang baik dan terstandar bisa dilihat di sini. 
    Contoh desain interior TPA terstandar
  • Mempunyai petugas penanggung jawab peningkatan pemberian ASI. Sesuai dengan himbauan dari pemerintah agar bayi diberikan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama, sudah selayaknya ada petugas yang bisa memberikan penyuluhan dan konsultasi kepada ibu-ibu untuk meningkatkan semangatnya memberi makanan terbaik bagi anak.
  • Menyelenggarakan penyuluhan dengan menggunakan media bantuan untuk lingkungan kerja, perlindungan kerja, pelayanan kesehatan, pengawasan kebersihan makanan, dan sebagainya.
Setelah mencermati peraturan berdasarkan UU Ketenagakerjaan di atas, saatnya kita bertanya,”Sudahkan tempat kerja para ibu memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut?”. Jika belum, bagaimana upaya pemerintah atau perusahaan selanjutnya untuk menjamin terpenuhinya hak azasi setiap warganya atau tenaga kerjanya? Dalam upaya peningkatan peran wanita membangun negara, jangan sampai kesehatan ibu dan anak menjadi korban. 

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa sudah selayaknya mendapatkan hak azasinya masing-masing. Sudah selayaknya bagi kita untuk tidak menghalangi hak anak mendapatkan ASI yang merupakan anugerah dari Tuhan sebagai makanan pokok pertamanya. Juga sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga mereka melalui penyediaan tempat penitipan anak yang terstandar selama ibunya bekerja, bukan asal momong anak saja. Harapan saya semoga tulisan ini bisa membuka mata pihak-pihak terkait agar memperbaiki keadaan guna memenuhi kewajiban kita terhadap sesama manusia dan negara, serta memberikan hak terhadap para ibu bekerja beserta bayi-bayi penerus generasi Indonesia.
Salam harap dari saya.... Aminnatul Widyana


Sumber referensi buku:
Marnoto, Budining Wirasatari. 2013. Buku Indonesia Menyusui. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Sanyoto, Dien dan Eveline PN. 2008. Bedah ASI. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Sumber referensi internet:



Friday, October 7, 2016

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS LAPORAN HASIL PENGAMATAN DI KELAS IV SDN MADYOPURO 4 MALANG




BAB I
PENDAHULUAN

Dalam bab I membahas tentang: (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) hipotesis tindakan penelitian, (e) manfaat penelitian, (f) ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, dan (g) definisi operasional.

A.    Latar Belakang Masalah
“Implementasi kurikulum 2013 telah ditetapkan dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia nomor 81a tahun 2013, disebutkan bahwa Implementasi  kurikulum  pada  Sekolah  Dasar/Madrasah  Ibtidaiyah  (SD/MI) dilakukan  secara  bertahap mulai tahun pelajaran 2013/2014” (Kemdikbud, 2013:70). Jadi penerapannya tidak serempak di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Akan tetapi dilakukan di sekolah-sekolah tertentu yang dipilih dan dianggap mumpuni untuk menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di daerahnya. Untuk lingkup SD baru diterapkan di kelas I dan kelas IV, sedangkan untuk kelas II, III, V, dan VI masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Orientasi kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35, yaitu kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
“Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan kurikulum baru, landasan filosofis, dan landasan empirik. Digunakan pendekatan tematik integratif/terpadu untuk pengemasan materinya dan pendekatan saintifik/ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajarannya,” (Majid, 2014:29).
Pembelajaran dengan pendekatan tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu, dalam pembahasan tema itu ditinjau dari berbagai matapelajaran. Meskipun demikian, tidak semua matapelajaran bisa ditematikkan dengan baik, jadi diperlukan analisis Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) agar materi pembelajaran cocok. Sedangkan dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuwan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) daripada penalaran deduktif (deductive reasoning) oleh karena itu digunakan pendekatan saintifik.
“Pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah merupakan pendekatan yang merujuk pada teknik-teknik investigasi atas fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik” (Kemdikbud, 2013:80). Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat rangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi dan ekperimen, kemudian merumuskan dan menguji hipotesis.
Proses pembelajaran dalam menerapkan pendekatan saintifik harus dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran . Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.
Berdasarkan hasil observasi peneliti pada hari Kamis tanggal 3 April 2014 di SDN Madyopuro 4 Malang melalui pengamatan di kelas IV, pembelajaran sampai pada tema ke-7 Cita-citaku, Sub tema 7.2 Hebatnya Cita-citaku, pembelajaran 1. Ditemukan kenyataan bahwa siswa sebanyak 48 anak telah dibagi dalam 6 kelompok belajar yang beranggota 8 siswa di tiap-tiap kelompoknya. Posisi duduk siswa kurang strategis (tidak semua siswa menghadap ke guru) saat guru memberikan penjelasan tentang kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan membuat sebagian siswa tidak konsentrasi terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Ada sekitar 8 sampai 10 siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, 2 siswa tidur-tiduran dan terlihat bosan di raut wajahnya, ada juga yang sibuk bermain dengan alat tulisnya, dan berbicara dengan teman sehingga ketika guru memberi tugas, sebagian besar belum memahami. Metode yang digunakan guru hanya ceramah, kemudian pada saat siswa diberi kesempatan untuk bertanya, tidak satu pun siswa yang menanyakan materi yang telah disampaikan.
Kelompok siswa yang duduk di pojok juga sibuk bermain dengan kotak pensil di mejanya. Pada waktu mereka sudah diminta untuk mengerjakan tugas, mereka menemui kesulitan, lalu ada 12 orang yang mendekati guru secara bergantian dan menanyakan maksud dari tugas yang diberikan. Oleh karena kondisi pembelajaran yang sedemikian itu, siswa belum dapat menyimpulkan hasil pembelajaran dengan baik sebagaimana yang diharapkan.
Observasi dilanjutkan pada hari Kamis tanggal 24 April 2014 dengan melakukan wawancara dengan guru kelas IV (Bu Daniesta), dan diperoleh informasi bahwa di SDN Madyopuro 4 Malang memang sudah diterapkan Kurikulum 2013 untuk kelas I dan kelas IVnya. Setiap pembelajaran, guru mengajar sesuai dengan acuan kegiatan di buku guru dan menggunakan buku siswa sebagai panduan aktivitas belajar siswa. Akan tetapi menurut informasi yang didapat, siswa masih belum bisa membuat laporan hasil pengamatan secara mandiri. Selama ini untuk melaporkan hasil pengamatan baik laporan dalam bentuk lisan, bagan, maupun tulisan deskriptif masih dengan cara dituliskan guru di papan tulis terlebih dahulu, setelah itu baru mereka tulis di buku mereka.
Padahal di dalam kurikulum 2013 yang diupayakan menerapkan pendekatan saintifik dalam proses pembelajarannya, diharapkan siswa dapat mengomunikasikan apa yang telah dipelajarinya setelah melalui rangkaian kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/eksperimen, dan mengasosiasi/mengolah informasi. Sedangkan dari hasil observasi, serangkaian kegiatan tersebut belum nampak keseluruhannya dan kemampuan siswa terutama pada kegiatan mengomunikasikan masih perlu ditingkatkan lagi.
Kondisi pembelajaran pada saat ini, melalui kurikulum 2013, diharapkan agar siswa mampu merumuskan masalah (dengan banyak menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah dengan menjawab atau menyelesaikan tugas saja. Pembelajaran diharapkan diarahkan untuk melatih berpikir analitis (peserta didik diajarkan bagaimana mengambil keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin dengan hanya mendengarkan dan menghapal semata). Maka dari itu, perlu adanya perbaikan proses pembelajaran yang awalnya siswa hanya mendengarkan ceramah dan mengerjakan tugas di buku, menuju pola pikir analitis dengan menerapkan pendekatan saintifik.
Penerapan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan di tingkat Sekolah Dasar belum pernah dilakukan karena hal ini merupakan bagian dari Kurikulum baru di tahun 2013. Tetapi dalam materi diklat Kurikulum 2013 dijelaskan bahwa pembelajaran berbasis pendekatan saintifik itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10% setelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25%. Pada pembelajaran berbasis pendekatan saintifik, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90% setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50% sampai dengan70%.
Untuk itu peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Laporan Hasil Pengamatan di Kelas IV SDN Madyopuro 4 Malang”. Karena selain peneliti menginginkan adanya perbaikan pembelajaran di kelas IV SDN Madyopuro 4 dengan menerapkan kurikulum 2013, peneliti juga mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pihak sekolah terutama guru kelas IV.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan judul di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah penerapan pendekatan saintifik dalam meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan makanan sehat di kelas IV SDN Madyopuro 4?
2.      Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan makanan sehat melalui penerapan pendekatan saintifik di kelas IV SDN Madyopuro 4?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan saintifik dalam meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan makanan sehat di kelas IV SDN Madyopuro 4.
2.      Untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa menulis laporan hasil pengamatan makanan sehat melalui penerapan pendekatan saintifik di kelas IV SDN Madyopuro 4.

D.    Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah jika dalam menulis laporan hasil pengamatan menggunakan pendekatan saintifik maka kemampuan siswa akan meningkat.

E.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak, yaitu:
1.    Bagi guru Sekolah Dasar, sebagai bahan masukan dan inovasi dalam penerapan pendekatan saintifik.
2.    Bagi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu informasi/temuan tentang kurikulum 2013.
3.    Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran tematik integratif khususnya di kelas IV SDN Madyopuro 4 Malang.
4.    Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sebagai masukan untuk menambah wawasan dan dapat ditindaklanjuti untuk penelitian yang sejenis.

F.     Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
1.      Ruang lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah pembelajaran di kelas IV semester 2 tema ke-9 Makananku Sehat dan Bergizi, Sub Tema 9.1 Makananku Sehat dan Bergizi, pembelajaran 1 dan pembelajaran 5. Penelitian ini dilakukan di SDN Madyopuro 4 Kedungkandang Malang.
2.      Keterbatasan penelitian
a.    Subjek dari penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV sejumlah 48 siswa.
b.    Penelitian ini dilakukan bersiklus dan dibatasi 2 siklus hanya pada Bulan Mei.
c.    Pembelajaran 1 siklus dilakukan dalam waktu 7 x 35 menit.
d.   Hasil dari penelitian ini hanya untuk diterapkan di kelas IV.



G.    Definisi Operasional
1.      Pendekatan saintifik adalah sudut pandang terhadap pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan ilmiah dengan cara menulis laporan hasil pengamatan makanan sehat.
2.      Kemampuan menulis adalah suatu kegiatan mengomunikasikan ungkapan ide/pikiran, perasaan, dan kemampuannya kepada orang lain melalui tulisan, dari hasil pengamatan makanan sehat yang telah dilakukan.
3.      Laporan hasil pengamatan adalah hasil dokumentasi dalam bentuk tulisan sistematis yang dilakukan melalui pengamatan makanan sehat sehingga diperoleh gambaran dari kegiatan tersebut.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab II membahas kajian pustaka tentang: (a) Kurikulum 2013, (b) pendekatan saintifik, (c) kemampuan menulis di sekolah dasar, (d) menulis laporan hasil pengamatan, (e) kerangka operasional pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kemampuan menulis laporan hasil pengamatan di kelas IV.

A.    Kurikulum 2013
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: “(1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab” (Kemdikbud, 2013:72).
Kemdikbud menegaskan pula bahwa, “Generasi yang kreatif dan berkarakter kuat adalah generasi yang mampu bersaing di era persaingan global di masa depan” (Husamah dan Setyaningrum, 2013:4). Oleh karena itu, proses pendidikan harus dirancang untuk mengasah rasa keingintahuan intelektual yang akan melahirkan kreativitas, di sinilah pentingnya penyempurnaan kurikulum di Indonesia.
Perubahan kurikulum terjadi karena adanya penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Tetapi yang paling mendasar adalah agar kurikulum yang diterapkan tersebut mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Selain itu juga untuk mempersiapkan anak bangsa yang mampu bersaing di masa depan dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Tahun 2013 perubahan kurikulum kembali terjadi di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Pihak pemerintah menyebutnya sebagai pengembangan kurikulum, bukan perubahan kurikulum” (Kurniasih dan Sani, 2014:32). Jadi kurikulum 2013 merupakan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah dirintis tahun 2004 (KBK) lalu diteruskan dengan kurikulum tahun 2006 (KTSP).
Dalam materi pelatihan kurikulum 2013 dijelaskan bahwa kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Kompetensi untuk Kurikulum 2013 tingkat SD/MI dirancang sebagai berikut (Kemdikbud, 2013:73).
1.    Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
2.    Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif.
3.    Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema.
4.    Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
5.    Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).
6.    Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema. Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau matapelajaran di kelas tersebut.
7.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD untuk matapelajaran dan kelas tersebut.

Pengemasan materi pembelajaran untuk jenjang Sekolah Dasar atau yang sederajat pada kurikulum 2013 menggunakan pendekatan tematik yang sering juga disebut tematik terintegrasi/tematik terpadu. “Model pembelajaran tematik memiliki perbedaan kualitatif (qualitatively different) dengan model pembelajaran lain, karena sifatnya memandu peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher levels of thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda (multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan” (Kemdikbud, 2013:192).
Untuk proses pembelajaran pada kurikulum 2013 menggunaan pendekatan saintifik. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami  berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu. Selain itu, proses pembelajaran juga harus menyentuh 3 ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

B.     Pendekatan Saintifik
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah.  Pendekatan saintifik (scientific approach) dalam pembelajaran meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk matapelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural.
Sudarwan dalam pelatihan kurikulum 2013 tentang pendekatan saintifik menjelaskan bahwa pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.
“Pembelajaran dengan pendekatan saintifik menekankan kepada pentingnya kolaborasi dan kerja sama di antara peserta didik dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru sedapat mungkin menciptakan pembelajaran selain dengan tetap mengacu Standar Proses di mana pembelajarannya diciptakan suasana memuat eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, juga mengedepankan kondisi peserta didik yang berperilaku ilmiah dengan bersama-sama diajak mengamati, menanya, menalar, merumuskan, menyimpulkan, dan mengomunikasikan” (Majid, 2014:195). Sehingga anak akan dapat menguasai materi yang dipelajari dengan baik.
Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut.
1.        Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2.        Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3.        Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
4.        Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi pembelajaran.
5.        Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
6.        Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan.
7.        Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun sistem penyajiannya menarik.
Langkah-langkah pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik bisa dicermati dari uraian yang diringkas dari buku Pembelajaran Tematik Terpadu karya Majid (2014:211-234) berikut ini.
1.    Mengamati
Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Keunggulannya, dengan menyajikan media obyek secara nyata, siswa akan senang dan tertantang, selain itu juga mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.
Kegiatan mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Melalui kegiatan menanya, siswa menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.  Kegiatan mengamati dalam pembelajaran menurut Majid dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini (2014:212).
a.       Menentukan objek apa yang akan diobservasi
b.      Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
c.       Menentukan  secara jelas  data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
d.      Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
e.       Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
f.       Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.


2.    Menanya
Guru harus mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.
Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyata, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal.
3.    Menalar
Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.
Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan  antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.
4.    Mencoba
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, siswa harus mencoba atau melakukan percobaan, terutrama untuk materi yang sesuai. Siswa juga harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yang akan dilaksanakan siswa. Guru bersama siswa juga harus mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan. Selain itu, perlu memperhitungkan tempat dan waktu. Guru pun harus menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan siswa. Masalah yang akan dijadikan eksperimen jg harus dibicarakan. Guru harus membimbing siswa selama eksperimen. Langkah terakhir, hasil eksperimen didiskusikan secara klasikal.


5.    Mengolah
Pada tahap ini sedapat mungkin siswa dikondisikan belajar secara kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif, kewenangan dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar. Sebaliknya, siswa lah yang harus lebih aktif.
6.    Menyimpulkan
Kegiatan ini bisa dilakukan bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok. Bisa juga dikerjakan sendiri setelah kegiatan mengolah informasi.
7.    Menyajikan
Hasil tugas yang telah dikerjakan bersama-sama secara kolaboratif dapat disajikan dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok atau individu. Pada tahapan ini meskipun tugas dikerjakan secara berkelompok, tetapi sebaiknya hasil pengamatan dilakukan oleh masing-masing individu.
8.    Mengomunikasikan
Pada kegiatan akhir, diharapkan peserta didik dapat mengomunikasikan hasil pengamatan yang telah disusun baik secara kelompok maupun individu dari kesimpulan yang telah dibuat. Kegiatan ini dapat diklarifikasi oleh guru agar siswa mengetahui secara benar apakah jawaban yang disampaikan sudah benar atau ada yang harus diperbaiki.

C.    Kemampuan Menulis di Sekolah Dasar
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, menulis merupakan “Kegiatan membuat huruf, angka, dsb dengan pena. Menulis juga dapat diartikan melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang cerita, membuat surat, berkirim surat)“ (1991:315).
“Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa dan dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu” (Tarigan, 1989:21). Menulis juga merupakan sebuah proses dalam rangka penyampaian simbol-simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati bersama oleh penulis dan pembaca.
“Menulis dapat dipandang pula sebagai rangkaian aktivitas yang bersifat fleksibel. Rangkaian aktivitas yang dimaksud meliputi pramenulis, penulisan draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi atau pembahasan” (Rofi’udin dan Zuhdi, 1999:76). Selain itu, Rofi’udin dan Zuhdi (1999:158) juga menyatakan bahwa, “Menulis adalah suatu proses menuangkan pikiran, perasaan, gagasan, pendapat tentang sesuatu, tanggapan terhadap suatu pernyataan, keinginan, atau pengungkapan perasaan dengan menggunakan bahasa secara tertulis.”
Dari beberapa pengertian menulis di atas, bisa diartikan menulis adalah suatu keterampilan dalam mengungkapkan ide atau gagasan dalam bentuk lambang-lambang yang terangkai dalam kata dan kalimat yang memiliki makna dan bermanfaat baik bagi penulis maupun pembacanya. Menulis juga merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bermanfaat dalam kehidupan setiap orang.
Tujuan menulis yang harus dicapai melalui menulis di Sekolah Dasar ialah agar siswa memahami cara menulis berbagai hal yang telah dikemukakan serta mampu mengomunikasikan ide/pesan melalui tulisan. Tujuan menulis yang perlu diperhatikan bukan hanya memupuk pengetahuan dan keterampilan menulis, tetapi juga harus memupuk jiwa estetis, informatif, dan persuasif. Dalam bukunya, Akhadiyah, dkk menyatakan bahwa, Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan” (1999:2).
“Permasalahan yang sering timbul dalam kegiatan belajar-mengajar menulis bersumber dari semua komponen yang merupakan unsur penentu keberhasilan pengajaran tersebut, yakni guru, siswa, media, materi, dan penilaian” (Supriyadi, 1992:230). Oleh karena itu semua komponen tersebut perlu mendapat penataan lebih maksimal lagi agar mendapat hasil yang optimal.
Permasalahan pengajaran menulis yang sering terjadi di SD dan cara mengatasinya dapat dicermati pada uraian berikut.
1.      Siswa
Permasalahan yang timbul dari siswa antara lain, rendahnya bakat dan minat untuk menguasai keterampilan menulis. Akibat dari rendahnya minat siswa tersebut, mereka menulis dengan tulisan yang asal dapat dibaca sendiri. Selain itu, mereka juga malas menulis karena dirasakan sebagai beban yang berat. Untuk mengatasi permasalahan seperti ini, guru harus mampu memberi motivasi agar para siswa menyadari bahwa menulis merupakan suatu keterampilan yang mutlak diperlukan untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan.
2.      Guru
Tidak semua guru memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar yang professional, terutama di tingkat SD. Bahkan di beberapa sekolah masih kekurangan guru dan dilaksanakan pembelajaran kelas rangkap. Untuk mengatasi permasalahan yang demikian, peningkatan kualifikasi guru mutlak diperlukan. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti diklat, kursus, lomba menulis, atau diadakan pembinaan dan memotivasi para guru SD untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang menulis.
3.      Tujuan
Hendaknya guru berusaha menanamkan tujuan menulis, bukan sekedar tulisan siswa dapat dibaca oleh mereka sendiri. Sejak kelas 1 harus sudah disadarkan bahwa menulis itu memiliki tujuan artistic (nilai keindahan), tujuan informatif, yaitu memberikan informasi kepada pembaca, dan tujuan persuasif, yakni mendorong atau menarik perhatian pembaca agar mau menerima informasi yang disampaikan penulis.
4.      Bahan atau materi pengajaran
Karena materi yang disajikan terlalu luas dan kompleks, sehingga jika guru kurang terampil maka materi tidak akan tersampaikan seluruhnya. Akibatnya, pembahasan kurang mendalam dan belum mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk mengatasi hambatan seperti ini, bisa dilaksanakan pembelajaran tematik terpadu.
5.      Metode mengajar
Masih banyak guru mengajar dengan menggunakan metode yang tidak sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan dewasa ini sehingga hasilnya belum optimal. Untuk mengatasi masalah ini, perlu adanya pembinaan kesadaran guru dalam meningkatkan kemampuan mengembangkan metode mengajar menulis di SD.


6.      Media pengajaran menulis
Media memegang peranan penting dalam usaha meningkatkan hasil belajar semaksimal mungkin. Tampaknya masih sedikit guru yang menggunakan media dalam mengajarkan keterampilan menulis. Oleh karena itu sebaiknya guru mempersiapkan berbagai macam media yang dapat dipergunakan dalam mengajarkan keterampilan menulis.
7.      Penilaian keterampilan menulis
Penilaian keterampilan menulis sering menggunakan cara menulis karangan bebas. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam menentukan kriteria penilaian. Hasil penilaiannya terlalu subjektif sehingga tidak bisa menempatkan anak seobjektif mungkin. Masalah tersebut bisa dihindari dengan menciptakan alat evaluasi yang lebih efektif. Misalnya dengan cara mengoreksi kesalahan-kesalahan dalam sebuah tulisan, membubuhkan tanda baca dan penggunaan ejaan yang benar, atau dengan mengembangkan pokok-pokok pikiran yang telah disiapkan guru.
Pengembangan keterampilan menulis antara lain meliputi:
1.      Keterampilan fisik seperti memegang pensil, cara duduk, dan kosa kata.
2.      Pengembangan tulisan tangan dan cetak.
3.      Keterampilan menggunakan tanda baca, huruf kapital, ejaan, dan kosakata.
4.      Penggunaan pola kalimat dan tata bahasa.
5.      Pemilihan gaya penulisan sesuai dengan tujuannya.
6.      Keterampilan menyunting, seperti memeriksa tulisan sendiri, memperbaiki, dan memeriksa hasil karangan sendiri.
7.      Penyusunan kerangka karangn dan keterampilan mengorganisasi idea tau gagasan secara efektif.
8.      Siswa mempelajari keterampilan menulis untuk kepentingan sendiri atau bekerja.

D.    Menulis Laporan Hasil Pengamatan
“Laporan adalah tulisan yang berisi hasil pengamatan terhadap sebuah tempat atau suatu pekerjaan. Isi laporan ialah hal-hal penting yang berkaitan langsung dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada pembuat laporan” (Warsidi, 2008:62). “Sedangkan menurut Nur’aini, laporan pengamatan adalah menyampaikan atau memberitahukan sesuatu dari hasil yang telah diamati” (2008:110).
Untuk menulis sebuah laporan yang sederhana, secara teknis sudah dituntut memenuhi persyaratan dasar seperti kalau kita menulis laporan hasil pengamatan secara lengkap. Laporan seharusnya dapat menunjukkan kompetensi yang telah dipelajari, menunjukkan kompetensi dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar, serta laporan harus efektif dan efisien.
Menurut Cheong (Depdiknas, 2007:50), secara umum laporan yang baik harus dapat:
1.      Memberikan laporan secara tepat dan jelas atas semua langkah kegiatan yang dilakukan dari sebuah kegiatan.
2.      Merefleksikan efektivitas dan efisiensi keterampilan yang digunakan selama melakukan sebuah kegiatan.
3.      Menyajikan informasi dalm urutan yang dapat diterima dan masuk akal.
4.      Ditulis dalam format yang jelas.
5.      Ditulis dalam kaidah bahasa yang benar.
6.      Mencantumkan semua sumber referensi secara proposional.
     
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan laporan adalah setiap tulisan yang diorganisasikan dan mengandung informasi, ditulis untuk suatu tujuan tertentu dalam kaidah bahasa yang benar. Laporan harus dimulai dengan pendahuluan dan diakhiri dengan kesimpulan. Di antara pendahuluan dan kesimpulan ada 3 bagian yaitu metode yang digunakan, hasil, dan pembahasan. Ketiga bagian tersebut meliputi sekitar 70% sampai 90% dari total keseluruhan laporan yang disusun. Penamaan kelima bagian yaitu pendahuluan, metode yang digunakan, hasil, pembahasan, dan kesimpulan dimaksudkan agar mudah dikenali.
Berikut ini adalah tahapan selama menulis laporan menurut Cheong (Depdiknas, 2005:52-54).
1.      Penganalisisan pokok bahasan atau tugas
Laporan dikembangkan berdasarkan pokok bahasan yang telah dipilih atau ditugaskan. Oleh karena itu, laporan yang disusun harus sesuai dengan semua persyaratan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jadi semua pokok bahasan tugas yang diberikan dan akan dikerjakan harus dimengerti secara jelas.
2.      Penelaahan ulang pokok bahasan
Gagasan yang dikembangkan dalam penulisan harus dibuat berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuannya agar dapat menjadikannya sebagai acuan dari penulisan laporan. Salah satu cara yang baik untuk melakukan hal ini adalah dengan membaca sebanyak mungkin sumber informasi/literatur yang berhubungan dengan hal yang akan diamati.
3.      Perencanaan
Penulisan yang baik berkembang dari perencanaan yang baik pula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menuangkan ide-ide secara umum. Kemudian mengorganisasikan ide-ide tersebut dalam bentuk judul dan subjudul yang akan digunakan dalam laporan. Jika sudah selesai, maka periksa kembali dengan teliti apakah ide tersebut telah tersusun dengan logis, apakah pendapat sudah dikembangkan secara sistematis, dan apakah perencanaan sudah mencakup keseluruhan ide.
4.      Membuat konsep laporan
Makalah yang baik dihasilkan dari konsep yang sempurna. Pada konsep awal, tuliskan ide-ide secara vertikal. Kemudian tuliskan dalam kalimat dan paragraf yang sederhana. Buatlah kesimpulan dalam satu paragraf dalam satu kalimat yang diletakkan di awal atau akhir paragraf.
5.      Mengonsep ulang
Laporan harus dapat mengemukakan ide secara jelas. Ketika melakukan revisi konsep, penilaiannya harus objektif. Perhatikan hal-hal yang dapat membingungkan pembaca. Kelayakan dan akurasi adalah dua kunci utama untuk merevisi konsep yang telah dibuat.
Lebih singkatnya, menulis sebuah laporan hasil pengamatan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1.      Menyusun catatan-catatan pokok
2.      Menulis konsep awal berdasarkan catatan-catatan pokok
3.      Mencari masukan untuk memperbaiki konsep awal yang telah ditulis
4.      Memperbaiki tulisan berdasarkan masukan agar laporan menjadi lebih baik
Pada langkah-langkah pendekatan saintifik, menulis laporan hasil pengamatan termasuk dalam rangkaian kegiatan menyimpulkan, menyajikan dan mengomunikasikan. Untuk kelas IV, dalam membuat laporan hasil pengamatan bisa dibantu dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada suatu kesimpulan. Selain itu, bisa juga dengan menyimpulkan dari sebuah tabel dan peta pikiran/bagan. Setelah kegiatan menyimpulkan, dilanjutkan dengan menyajikannya dalam bentuk laporan tertulis dan dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk portofolio kelompok atau individu. Terakhir yaitu mengomunikasikan hasilnya di depan kelas.

E.     Kerangka Operasional Pembelajaran dengan Menerapkan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Laporan Hasil Pengamatan di kelas IV
1.      Siklus 1
Pada siklus 1 mulai diadakan pembelajaran 1 dari Sub Tema 9.1 Makananku Sehat dan Bergizi. Pembelajaran 1 ini merupakan gabungan dari muatan (matapelajaran) matematika, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam yang bisa diamati dari Tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1 Muatan Kompetensi Sub Tema 9.1 Pembelajaran 1

No
Muatan
Kompetensi Dasar
Indikator
1.
Matematika
1.1 Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya.
2.2 Memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan pada matematika yang terbentuk melalui pengalaman belajar.
3.3 Memahami aturan pembulatan dalam membaca hasil pengukuran dengan alat ukur.
4.17 Menyatakan kesimpulan berdasarkan data tabel atau grafik.







1.      Mengumpulkan data dengan menggunakan turus (tally) dan membulatkan hasilnya.
2.      Menyusun laporan kesimpulan berdasarkan data tabel atau grafik.
2.
Bahasa Indonesia
1.2 Mengakui dan mensyukuri anugerah Tuhan yang Maha Esa atas keberadaan lingkungan dan sumber daya alam, alat teknologi modern dan tradisional, perkembangan teknologi, energi, serta permasalahan sosial.
2.4 Memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sumber daya alam melalui pemanfaatan bahasa Indonesia.
3.4 Menggali informasi dari teks cerita petualangan tentang lingkungan dan Sumber Daya Alam dengan bantuan guru dan teman dalam Bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
4.4 Menyajikan teks cerita petualangan tentang lingkungan dan Sumber Daya Alam secara mandiri dalam teks bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
3.1 Menggali informasi dari teks laporan hasil pengamatan tentang gaya, gerak, energi panas, bunyi, dan cahaya dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
4.1 Mengamati, mengolah, dan menyajikan teks laporan hasil pengamatan tentang gaya, gerak, energi panas, bunyi, dan cahaya dalam bahasa Indonesia lisan dan
tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.














1.      Membuat   peta pikiran dari teks cerita petualangan.





2.      Menceritakan  suatu peristiwa saat mengonsumsi suatu makanan.



3.      Menggali informasi dari laporan tentang makan malam yang dikonsumsi.





4.      Membuat laporan  dari data kelas yang terkumpul.
3.
Ilmu Pengetahuan Alam
1.1 Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam pengamalan ajaran agama yang dianutnya.
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, obyektif, jujur, teliti, cermat, tekun, hati-hati, bertanggung jawab, terbuka, dan peduli lingkungan) dalam
aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan inkuiri ilmiah dan berdiskusi.
3.7 Mendeskripsikan hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
4.6 Menyajikan laporan tentang Sumber Daya Alam dan pemanfaatannya oleh masyarakat.



















1.      Mengelompokkan makanan berdasarkan jenisnya.

2.      Menyimpulkan bahwa makanan-makanan kita berasal dari sumber daya alam.

Dengan beberapa muatan pada Tabel 2.1, guru bisa memulai pembelajaran dengan salam, doa, persensi, lalu memperlihatkan sayur-sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan (apel, jeruk, tomat, bayam, sawi, dan kacang panjang) yang akan diamati siswa. Dilanjutkan dengan eksplorasi materi yaitu tentang makanan sehat dan bergizi dan eksplorasi tujuan yaitu agar bisa menulis laporan hasil pengamatan tentang makanan sehat dan bergizi.
Saat kegiatan inti, pada kegiatan 1 guru menjelaskan langkah kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dimulai dengan siswa mengamati contoh peta pikiran tentang wortel. Setelah itu guru membagi kelas menjadi 6 kelompok, masing-masing beranggota 8 orang. Kemudian setiap kelompok menyiapkan 1 macam sayuran atau buah untuk diamati. Dari hasil pengamatan, siswa dipersilakan menanyakan hal-hal yang belum dipahami berkaitan dengan sayuran yang ada di kelompok mereka. Lalu, siswa bersama guru menalar dengan membuat peta pikiran tentang sayur dan buah yang tersedia di kelompok masing-masing. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Du Di Dam dan mendaftar sarapan teman-teman sekelompoknya
Kemudian pada kegiatan 2, ditunjuk perwakilan setiap kelompok dan diminta mendatangi minimal 3 kelompok lain secara bergiliran untuk menggabungkan data yang dimiliki dengan data kelompok lain. Hasil penggabungan ditulis di LKK yang tersedia. Lalu perwakilan kelompok kembali ke kelompok masing-masing untuk menyampaikan hasil penggabungan data dengan kelompok yang didatanginya. Dengan demikian maka terkumpullah data seluruh kelas untuk dibuat kesimpulan sebagai bahan membuat laporan hasil pengamatan.
Pada kegiatan 3, siswa menyimpulkan data yang diperoleh dengan menjawab beberapa pertanyaan di LKK dan mengisi tabel penggolongan makanan berdasarkan kandungan zatnya untuk dijadikan laporan hasil pengamatan. Setelah itu siswa diberi kesempatan untuk menyajikan laporan hasil pengamatan dengan menempelkan LKK di papan tulis dan masing-masing perwakilan kelompok mengomunikasikan dengan cara membacakan laporan hasil pengamatan yang telah ditempel di papan tulis kepada kelompok lain.
Saat kegiatan akhir, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari. Setelah itu refleksi dan guru menyampaikan pesan moral agar siswa membiasakan diri memakan makanan yang sehat dan bergizi. Lalu pembelajaran ditutup dengan doa dan salam penutup.
2.      Siklus 2
Pada siklus 2 mulai diadakan pembelajaran 2 dari Sub Tema 9.1 Makananku Sehat dan Bergizi. Pembelajaran 5 ini merupakan gabungan dari muatan (matapelajaran) Seni Budaya dan Prakarya, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam yang bisa diamati dari Tabel 2.2 berikut ini.
Tabel 2.2 Muatan Kompetensi Sub Tema 9.1 Pembelajaran 5

No
Muatan
Kompetensi Dasar
Indikator
1.
Seni Budaya dan Prakarya
1.1 Mengagumi ciri khas keindahan karya seni dan karya kreatif masing-masing daerah sebagai anugerah Tuhan.
2.1 Menunjukkan sikap berani mengekspresikan diri dalam berkarya seni.
3.2 Membedakan panjang-pendek bunyi, dan tinggi-rendah nada dengan gerak tangan.
4.5 Menyanyikan lagu dengan gerak tangan dan badan sesuai dengan tinggi rendah nada.








1.      Mengidentifikasi panjang-pendek bunyi dan tinggi rendah nada dengan gerak tangan
2.      Menampilkan lagu dengan gerak tangan sesuai dengan tinggi rendah nada
2.
Ilmu Pengetahuan Sosial
1.3 Menerima karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya.
2.3 Menunjukkan perilaku santun, toleran dan peduli dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya.
3.3 Memahami manusia dalam hubungannya dengan kondisi geografis di sekitarnya.
4.3 Menceritakan manusia
dalam hubungannya dengan
lingkungan geografis tempat
tinggalnya.








1.      Mengidentifikasi bahwa
kehidupan manusia sesuai dengan kondisi geografis di sekitarnya.
2.      Menjelaskan hubungan antara manusia dengan lingkungan geografis tempat tinggalnya.
3.
Bahasa Indonesia
1.2 Mengakui dan mensyukuri anugerah Tuhan yang Maha Esa atas keberadaan lingkungan dan sumber daya alam, alat teknologi modern dan tradisional, perkembangan teknologi, energi, serta permasalahan sosial.
2.2 Memiliki kedisiplinan dan  tanggung jawab terhadap penggunaan alat teknologi modern dan tradisional,  proses pembuatannya melalui
pemanfaatan bahasa Indonesia.
3.2 Menguraikan teks instruksi tentang pemeliharaan pancaindera serta penggunaan alat teknologi modern dan tradisional dengan bantuan guru dan teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
4.2 Menerangkan dan
mempraktikkan teks arahan/
petunjuk tentang pemeliharaan pancaindera serta penggunaan alat teknologi modern dan tradisional secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan memilah kosakata baku.
















1.      Menceritakan kembali teks instruksi tentang makanan/minuman secara lisan dengan menggunakan kosakata baku.




2.      Membuat teks arahan/petunjuk tentang cara membuat suatu makanan/minuman secara tertulis dengan menggunakan kosakata baku.
4.
Ilmu Pengetahuan Alam
1.1 Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya, serta mewujudkannya dalam
pengamalan ajaran agama yang dianutnya.
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, obyektif, jujur, teliti, cermat, tekun, hati-hati, bertanggung jawab, terbuka,
dan peduli lingkungan) dalam
aktivitas sehari-hari sebagai
wujud implementasi sikap dalam melakukan inkuiri ilmiah dan berdiskusi.
3.7 Mendeskripsikan hubungan antara Sumber Daya Alam dengan lingkungan, teknologi,
dan masyarakat.
4.6 Menyajikan laporan tentang Sumber Daya Alam dan pemanfaatannya oleh masyarakat.



















1.      Menjelaskan hubungan antara Sumber Daya Alam dengan lingkungan, teknologi.

2.      Membuat laporan tertulis tentang pemanfaatan Sumber Daya Alam.

Dengan beberapa muatan pada Tabel 2.2, guru memulai pembelajaran dengan salam, doa, persensi, dan apersepsi dengan menanyakan buah-buahan yang disukai siswa. Dilanjutkan dengan eksplorasi materi tentang makanan sehat dan bergizi dan eksplorasi tujuan agar bisa menulis laporan hasil pengamatan tentang makanan sehat dan bergizi.
Saat kegiatan inti pertama, guru memulai dengan permainan “konsentrasi menyebutkan nama buah-buahan”. Siswa yang mengulang nama buah, dimana nama tersebut telah disebutkan temannya, diminta maju untuk memimpin teman-temannya bernyanyi lagu Pepaya Mangga Pisang Jambu. Sebelum kegiatan bernyanyi, siswa mencatat lagu dan notnya terlebih dahulu. Jika sudah selesai, maka guru bisa memutarkan video lagu tersebut untuk mengiringi mereka bernyanyi.
Selanjutnya, kelas dibagi dalam 6 kelompok masing-masing beranggota 8 orang untuk mencoba membuat teh lemon. Kemudian siswa diminta menyiapkan alat untuk membuat teh lemon, yaitu gelas, sendok, dan pisau. Dilanjutkan dengan menyiapkan bahan, yaitu satu gelas teh yang sudah diseduh dengan air putih hangat atau dingin, gula pasir secukupnya (±1 sendok makan atau 2 sendok teh), dan sebuah jeruk lemon atau jeruk nipis. Setelah alat dan bahan siap, siswa dipersilakan membuat teh lemon bersama kelompoknya. Sesudah mereka melakukan percobaan, maka setiap kelompok dibagi lagi menjadi 2 (masing-masing beranggota 4 orang agar lebih efektif) dan dipersilakan membuat laporan dalam bentuk tulisan.
Pada kegiatan 2, siswa tetap berkelompok 4 orang lalu diminta membuat resep makanan dan minuman beserta gambarnya. Jika sudah selesai, maka resep-resep buatan mereka bisa disajikan di papan tulis dan perwakilan kelompok bisa bergantian menceritakan resepnya kepada teman-teman.
Kemudian pada kegiatan 3, guru menunjukkan gambar berbagai jenis jeruk untuk diamati siswa. Kemudian siswa berlatih menalar dengan membaca teks tentang jeruk dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Jika sudah selesai, maka siswa bisa diajak untuk membahasnya. Selanjutnya, kelas dibagi menjadi 6 kelompok lagi masing-masing beranggota 8 siswa untuk mengamati gambar dan berdiskusi tentang contoh berbagai Sumber Daya Alam. Siswa diminta menjawab pertanyaan yang tersedia untuk dibuat kesimpulan sehingga bisa disusun menjadi laporan hasil pengamatan.
Saat kegiatan akhir, siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari. Setelah itu refleksi dan tindak lanjutnya siswa diberi tugas rumah untuk mencari informasi tentang SDA melalui wawancara. Lalu ditutup dengan doa dan salam penutup.