Tuesday, December 6, 2016

HITAM PUTIH GERAKAN NASIONAL NON TUNAI (Smart Money Wave)





Pilih mana?
Segepok uang lusuh ditemani gemerincing uang koin
Atau...
Setumpuk kartu kredit bersandingkan smartphone

Mengayunkan langkah bersama sekantung barang belanja
Atau...
Jari menari di atas aplikasi belanja sambil loading barang dikirim

Apapun jawaban Anda, itulah “masa depan”

Pengguna internet semakin meningkat dari hari ke hari, keberadaan Layanan Keuangan Digital (LKD) semakin marak di kanan kiri, kemunculan e-Commerce menjadi iming-iming merogoh kocek kembali. Disadari atau tidak, semua hal itu pasti karena salah satu alasan “kita ingin praktisnya saja”. Benar?! Iya, menurut saya itu sangat benar karena saya adalah salah satu orang yang juga menggunakan alasan dengan kalimat itu.

Coba tanyakan kepada mereka generasi muda (mungkin termasuk diri Anda sendiri). Siapa yang belum memiliki nomor rekening bank, kartu ATM/kredit, gadget/smartphone/laptop, kartu member untuk belanja, atau aplikasi situs belanja online? Bisa dipastikan sebagian besar mereka punya itu semua. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan, kesemua benda itu sudah tentu menjadi teman sehari-hari yang melekat di jari-jari. Jika anak muda punya, bagaimana dengan mereka orang dewasa? Jangan salah.... Mereka bahkan bisa lebih intens berhubungan dengan benda-benda tersebut. Mengapa? Kembali lagi ke awal, alasannya tidak lain karena “praktis dan nggak ribet”. Apalagi untuk mereka para pelaku bisnis dengan skala besar, para penjual onlineshop, para pegawai, atau para karyawan dengan jam terbang tinggi, keberadaan benda-benda tersebut bagaikan setetes air di tengah gurun.


Perlahan tapi pasti, bertransaksi secara nontunai semakin digandrungi masyarakat masa kini. Seringkali saya dan suami berdiskusi akan hal ini. Suatu hari nanti tidak akan ada lagi uang cash, semua transaksi akan berlangsung secara nontunai. Kegiatan ini semakin nyata jika kita cermati. Sebagai contoh, pada tanggal 20-31 Oktober 2016 lalu telah digelar event The Big Bad Wolf Book Sale di Surabaya. Bazaar buku terbesar di dunia ini membuka 42 kasir untuk pembayaran dan hanya 3 diantaranya yang menerima pembayaran tunai dengan nominal maksimal Rp 150.000,00. Lebih dari itu, harus dilakukan dengan menggunakan kartu debit dan kredit berlogo Visa dan Mastercard, Mandiri e-money dan Mandiri e-cash di 39 kasir yang tersedia. Wow... bisa dibayangkan, betapa pesatnya laju transaksi nontunai di sini. Saya bilang keberadaan transaksi nontunai ini sangat membantu. Memang akan sangat merepotkan jika saja mereka yang berbelanja buku sampai habis jutaan bahkan puluhan juta (misalnya pengadaan buku untuk perpustakaan sekolah) harus membayar dengan uang tunai. Selain itu juga kurang aman karena bisa menjadi incaran orang yang berniat jahat. Di sana kan banyak orang dari berbagai penjuru ikut berjubel walaupun mereka tidak membeli, hanya ingin melihat-lihat, atau ada maksud lainnya.


video
Suasana Event The Big Bad Wolf Book Sale

Event The Big Bad Wolf Book Sale terlalu jauh? Gampang saja... cukup datang ke pasar-pasar modern yang ada di wilayah Anda masing-masing lalu perhatikan. Apakah di sana disediakan layanan pembayaran nontunai? Entah itu dengan penggunaan kartu kredit, dengan sistem top up pada kartu member, dengan penggunaan aplikasi-aplikasi tertentu pada smartphone, layanan parkir elektronik, atau dengan cara-cara canggih lainnya. Atau bagi Anda yang sering bepergian menggunakan kendaraan roda empat, cermati pembayaran di gerbang tol, apakah sudah mulai disediakan layanan pembayaran non tunai? Jawabannya “iya” bukan?! Bagus, ini merupakan salah satu pertanda kemajuan transaksi ekonomi di Indonesia. Dukung terus keberlanjutannya demi kemajuan bangsa di bidang perekonomian.

Kita lanjutkan lagi... akhir-akhir ini semakin marak juga yang namanya e-Commerce. Saya juga termasuk salah satu penggemar e-Commerce ini. Apa itu e-Commerce? Sebelum melanjutkan, saya jelaskan lebih dahulu secara singkat. Electronic commerce atau sering disingkat e-Commerce yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai perdagangan elektronik merupakan tempat untuk menyebarkan, menjual, membeli, memasarkan barang dan jasa, melalui sistem elektronik. Siapa saja yang bisa menjadi anggota e-Commerce ini? Banyak macamnya, semua yang terlibat di dalam proses tersebut seperti bank, situs iklan baris, yang mengurusi infrastruktur semacam google dan Telin, yang berhubungan dengan pengiriman logistik, marketplace (website mereka memfasilitasi promosi barang dagangan dan transaksi uang secara online) , online retail (toko online dengan domain sendiri dimana mereka memiliki stok barang/jasa dan menjualnya sendiri), payment gateway, serta travel.




Nah, ada event tertentu dimana diskon besar-besaran, promo awal bulan, cuci gudang akhir tahun, voucher belanja lebaran, dan berbagai tawaran lainnya menjadi poin tersendiri yang menarik perhatian. Hal ini menjadi magnet agar segera membuka email langganan dari berbagai e-Commerce tersebut. Salah satu yang dinanti-nanti adalah event harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) yang sudah pasti menyediakan tawaran-tawaran menarik dengan harga yang kompetitif. Tidak percaya? Ingat saja, tanggal 12 bulan ke-12 coba buka berbagai marketplace dan olline retail yang Anda gandrungi. Di sana akan menyediakan berbagai promo dan diskon besar-besaran akhir tahun. Event ini akan semakin membuat masyarakat meningkatkan transaksi nontunai, juga sangat pas jika disandingkan dengan program yang telah dicanangkan Bank Indonesia karena bertepatan dengan Gerakan Nasional Non Tunai yang sedang berlangsung saat ini. Tentu saja dengan pertimbangan berbagai manfaat dari Gerakan Nasional Non Tunai yang telah kita nikmati.


Beranjak dari segala gemilang modernitas kegiatan ekonomi, saya ingin mengajak Anda berjalan-jalan sebentar ke sudut-sudut kampung, ke tengah pasar tradisional, ke pedagang kaki lima, juga pedagang asongan di perempatan jalan. Suatu hal lumrah yang hampir bisa ditemui di setiap tempat di Indonesia. Lalu apa yang muncul dalam benak Anda berkaitan dengan gerakan nasional nontunai?

Yup, satu pertanyaan terbit,”Mungkinkah gerakan nasional nontunai akan bergerak di sini?” Saya sendiri hanya memiliki 10-20 persen kemungkinan itu. Saat melihat mereka para pedagang lanjut usia yang mungkin memegang smartphone saja belum pernah. Memandang kios kecil dengan penghasilan yang mungkin hanya bisa diputar untuk makan hari ini dan uang saku anak sekolah. Gerakan nasional nontunai langsung melipir pergi dari benak saya. Bagaikan tebing dan jurang, setelah bergumul dengan segala kemudahan bertransaksi tinggal klik dan tap, saat berhadapan dengan mereka saya kadang harus sedia uang receh di dompet karena mungkin saja tidak tersedia uang kembalian belanja. Jika tidak, biasanya saya harus pergi ke sana kemari untuk menukarkan uang agar bisa membayar dengan uang pas. Karena si pedagang sendiri juga sibuk melayani pembeli lain. Yah, anggap saja sedang berolahraga. Apalagi jika kondisi hujan, jalan becek, pikir saja sedang kembali ke masa kecil bermain becek-becek di bawah rintik hujan. Janganlah membayangkan berbelanja di pasar modern yang aman dari guyuran air dari langit, udara sejuk karena pendingin ruangan, lantai bersih karena ada cleaning service yang siap sedia. Itu akan membuat hati menggerutu dan penyebab rasa syukur hilang.


Pedagang di Pasar Tradisional
Saya menikmati saja, tidak ada masalah berbelanja dengan cara tunai atapun nontunai. Toh keduanya sama-sama berjalan beriringan, sama-sama dibutuhkan. Tidak mungkin kan jika Anda akan berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar modern terus? Apalagi untuk ibu-ibu yang suka berhemat dan pandai menawar harga, pasti akan menuju pasar tradisional.

Satu hal yang ingin saya lakukan dengan hadirnya artikel ini, yaitu mengajak kaum muda sebagai garda terdepan Gerakan Nasional Non Tunai untuk membatu saudara, tetangga kanan kiri, teman, atau siapapun yang membutuhkan. Selama kita mampu, selayaknya uluran tangan kita sampai kepada mereka. Bantu mereka dengan tenaga, modal ataupun pemikiran sebisa kita. Sebagai contoh yang selama ini saya lakukan adalah dengan mengorbitkan Toko Restu Jaya ke dunia maya. Restu Jaya ini merupakan salah satu toko yang menyediakan aneka jajanan khas Gresik seperti pudak, jenang jubung, jenang ayas, otak-otak bandeng, dan sebagainya. Caranya cukup mudah, bisa melalui media sosial, blog, ataupun market place. Saya yakin Anda sudah sangat akrab dengan hal-hal tersebut. Pekerjaan ini bisa dilakukan di waktu senggang. Daripada posting sesuatu yang menyulut perdebatan sengit, pertengkaran chat, menyinggung SARA, dan sejenisnya, bukankah lebih baik kita gunakan waktu untuk membantu mereka? Sekarang, simak video bagaimana saya membantu UMKM agar siap menyambut Gerakan Nasional Non Tunai berikut ini.




Dengan membantu mereka, yakini bahwa itu akan menjadi catatan kebaikan tersendiri bagi kita. Bukankah tugas manusia sebagai makhluk sosial adalah untuk menolong sesama? Syukur jika kita mendapatkan imbalan seribu dua ribu bahkan sampai bilangan juta dari hasil membantu mereka itu. Tapi bukan itu yang terpenting, yang paling utama adalah dasari semuanya dengan keikhlasan bagi sesama manusia. Akhir kata, mari kita bersama-sama memajukan perekonomian Indonesia melalui Gerakan Nasional Non Tunai, agar tidak kalah bersaing di kancah internasional.

Tentang nontunai
Bukan pura-pura buta dan tuli
Kami hanya berusaha mengais rezeki
Tetapi
Sampai di sini kemampuan kami

“Mari bantu mereka seikhlas hati”



Thursday, November 24, 2016

BERBAGI CERITA: PENGALAMAN INVESTASI EMAS




Tabungan Berupa Perhiasan Emas


"Berhias sambil menabung", kalimat itulah yang sering dilontarkan para wanita penggemar perhiasan emas. Dengan membeli perhiasan emas, mereka akan mendapatkan keuntungan ganda. Selain harga emas terkenal tahan inflasi dan cenderung mengalami kenaikan di setiap periodenya, tanpa mengalami penurunan harga yang berarti, mengenakan perhiasan emas akan membuat wanita tampil lebih percaya diri, anggun, glamour, elegan, dan tentu saja menambah kecantikan dalam berbusana.

Begitupula dengan saya, entah mengapa sejak kecil selalu lebih tertarik dengan yang namanya perhiasan emas. Tepatnya waktu kelas 5 SD, saya membeli sebuah cincin emas bermata merah muda dengan hasil uang tabungan saya sendiri. Sayang sekali kala itu saya belum punya kamera sehingga tidak punya foto kenangan cincin pertama saya. Berlanjut lagi mengumpulkan rupiah karena ingin membeli seuntai kalung emas, gelang, serta beraneka cincin emas. Proses ini berlangsung hingga saya beranjak remaja. Di saat teman-teman lebih memilih membeli mainan model terbaru, pakaian stylish dengan brand ternama, sepatu dan sandal yang sedang trend, produk dan paket perawatan wajah dengan harga yang juga tidak kalah dengan harga emas, ponsel kekinian yang canggih, maupun kendaraan baru, saya lebih senang menyimpan uang saku yang hanya cukup untuk membeli sepotong roti dan segelas air minum kemasan itu demi membeli barang idaman saya. Saya selalu berkata dalam hati,

“Biarkan saja penampilan saya sesederhana ini, demi sesuatu yang nilainya akan lebih berharga di kemudian hari.”


Perbandingan kelebihan kekurangan investasi emas perhiasan

Hingga akhirnya... Dewasa ini saya menyadari, harga perhiasan emas akan jatuh jika dijual kembali dalam waktu dekat karena susut sebab sering dipakai, juga karena biaya pembuatan atau fabrikasi saat kita membelinya dulu. Pernah saya untung saat menjual perhiasan emas, namun tak jarang juga rugi saat menjualnya kembali. Kalau untung ya gak masalah, saya patut mensyukurinya. Ruginya itu yang membuat saya agak-agak trenyuh... Uang tabungan pasti melayang sampai ratusan ribu. Itu bukan jumlah yang sedikit untuk saya, yang masih belum bekerja dengan penghasilan berjuta bahkan puluhan juta per bulannya. Persoalan bisa rugi karena waktu itu saya belum memahami betul harga emas sedang naik daun atau sedang terjun bebas. Padahal untuk membeli dan menjual emas sangat penting mengetahui kedua hal ini.

Emas Batangan Hasil Leburan (Tanpa Cap) VS Emas Batangan dengan Cap

 

Nah, sejak lulus kuliah, saya mulai deh melirik yang namanya emas batangan. Kabarnya, para investor emas menggunakan emas batangan untuk investasi mereka. Tidak hanya melirik, lama-kelamaan timbul keinginan untuk membelinya, tujuannya yaitu untuk investasi jangka panjang. Menyadari usia yang sudah kepala dua dan sudah selesai kuliah, pastilah timbul juga keinginan untuk memulai berumah tangga seperti teman-teman lain. Saat itu saya juga sudah mulai punya penghasilan sendiri meski belum seberapa besar. Sehingga saya berpikir inilah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi. Uang tabungan di bank, sebagian saya alihkan untuk membeli emas batangan hasil leburan (tanpa cap) di toko emas. Emas ini hanya disertai nota pembelian dari toko, tidak seperti emas batangan Antam, Untung Bersama Sejahtera (UBS), atau King Halim yang ada sertifikatnya. Harganya juga lebih murah dibandingkan dengan emas batangan yang sudah bercap. Berat emas yang saya beli waktu itu tidak banyak sih... Saya menyesuaikan penghasilan juga, maklum lah baru mulai belajar bekerja. Tapi sudah lumayan lah untuk tambahan modal menempuh hidup baru. Hehehee....

Usut punya usut, ternyata terdapat perbedaan harga antara toko emas satu dengan yang lain. Jadi kita sebagai pembeli harus cermat membandingkan harga di masing-masing toko. Bahkan harga beli mereka saat kita menjual emas, ada juga yang terpaut jauh sampai 20 ribu per gramnya. Bayangkan! Saran saya lebih baik mensurvey harga jual beli emasnya terlebih dahulu di toko-toko incaran Anda sebelum Anda memutuskan untuk membeli di toko tersebut kalau Anda menginginkan untung maksimal.
Ada lagi tempat investasi dan jual beli emas batangan yang sudah pasti dan terpercaya, yaitu butik emas logam mulia. Anda juga bisa melakukan jual beli serta menitipkan emas batangan di sini. Sayangnya, butik ini hanya tersedia di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Denpasar, dan kota besar lainnya. Total hanya ada 14 butik di seluruh Indonesia. Bagi yang tinggal di daerah-daerah, tentu saja belum bisa menjangkaunya karena jarak tempuh yang bisa mencapai berjam-jam.



Jual Beli Emas Online di Antamgold.com

 
https://www.antamgold.com/?referer=32980

Tahun telah berganti, sampai saatnya datang sang pujaan hati menemui kedua orang tua saya beserta keluarga besarnya. Yah, akhirnya saya menempuh hidup baru juga tepat di usia 25 tahun. Pernikahan ini telah menggantikan pekerjaan saya yang semula menjadi "yang digugu dan ditiru" di sekolah dasar sehingga menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus lebih cermat mengatur keuangan. Sedikit syok juga awalnya, dari yang setiap bulan rutin mendapatkan pemasukan, kini harus menunggu diberi jatah belanja sama suami. Apalagi pemberian ini tidak sebesar jumlah yang diterima para buruh pabrik, dimana jumlah upah mereka sudah sesuai UMR. Tapi, saya patut bersyukur juga, karena tidak perlu lagi pusing-pusing dengan kurikulum baru di sekolah, tidak perlu mengerjakan tugas administrasi kelas yang kadang menumpuk, tidak perlu memikirkan cara bagaimana murid-murid betah belajar di kelas, juga bisa fulltime menjadi ibu guru buat anakku. Lagi nih, bisa mengirit pengeluaran macam-macam karena saya pemegang kendali keuangan. Hmmm.... Sebuah perjuangan dan pengorbanan yang benar-benar membutuhkan keikhlasan.

Sampai pada akhirnya saya menemukan antamgold.com situs jual beli emas batangan secara online milik PT Sinar Rezeki Handal. Muncul deh keinginan bercengkrama bersama emas secara online, karena saya pikir ini akan sangat memudahkan saya dalam bertransaksi emas. Saya tidak perlu capek-capek survey harga emas di pasar, telepon ke penjual di toko emas untuk menanyakan harga emas, dan lebih aman dari incaran pencopet yang siap mengintai ibu-ibu yang membawa dompet tebal ke pasar. Entah itu dompet berisi uang atau nota belanjaan yang membuat tebal, mereka para pencopet kan tidak peduli.

Apa yang membuat saya berani bertransaksi via antamgold.com ini? Padahal sedang maraknya penipuan akibat belanja online, apalagi ini belanja emas. Karena Antamgold.com ini sudah terdaftar di idEA.or.id (Indonesian E-Commerce Association) atau asosiasi E-commerce Indonesia yang merupakan wadah komunikasi antar pelaku industri E-Commerce Indonesia. Jadi sudah tentu aman dan terpercaya, juga bukan merupakan usaha MLM.

Nah, di situs ini kita dapat membeli dan menjual emas dan perak secara online. Minimal pembelian memang tercantum 0,001 gram, namun itu mustahil dilakukan sebab pada dasarnya tidak ada emas batangan dengan nilai 0,001 gram. Jadi berat yang bisa Anda beli minimal adalah 1 gram. Untuk saat ini, Anda harus menyediakan uang minimal 500 ribu lebih untuk membeli emas 1 gram tanpa sertifikat dan akan dikenakan biaya cetak sertifikat jika Anda melakukan penarikan barang. Bila Anda tidak ingin menarik barang, Anda bisa menitipkannya di brankas secara gratis, berlaku untuk basic member dan dikenakan biaya untuk gold member. Selain jual beli, Anda juga bisa membeli dengan sistem cicilan. Atau jika Anda butuh dana untuk modal usaha, Anda bisa menjaminkan emas simpanan Anda di sini.

Sebagai pembeli, Anda pasti menginginkan wujud dari barang yang Anda beli berada di tangan Anda bukan? Tidak mungkin kita membeli barang tanpa ingin tahu wujudnya, itu hanya berlaku jika Anda memasuki dunia trading yang juga tersedia di antamgold.com. Trading emas dengan segala lika-likunya terdengar kontroversial, saya tidak akan membahas hal itu di sini karena bisa memicu isu SARA. Selain kontroversial, trading emas juga membutuhkan pengetahuan khusus yang berhubungan dengan kondisi perekonomian, politik, ataupun segala isu global di dunia ini. Intinya, Anda harus selalu up to date dengan berita. Sebagai contoh, kejadian Brexit (Britanian Exit) telah membuat harga emas melambung tinggi, sedangkan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden terpilih Amerika Serikat telah membuat harga emas jatuh. Bagi Anda yang baru ingin memulai investasi emas, saya sarankan jangan mengikuti trading emas dahulu jika belum bisa meramalkan situasi isu global karena risikonya terlalu jauh.

Nah, sekarang kita fokus saja pada proses jual belinya. Begini... Jual beli secara online otomatis akan ada biaya kirimnya. Apalagi ini emas, biarpun beratnya tidak mencapai 1 kilogram namun tetap akan dikirim secara khusus dengan biaya tambahan dan pasti tarifnya berbeda dari pengiriman-pengiriman biasa. Anda bisa saja mengambil di tempat penjualan, tapi tahukah Anda dimana tempatnya? Hanya ada di 6 tempat yang tersebar di Tangerang, Jakarta, dan Jawa Barat. Baguslah kalau Anda berada di wilayah ini. Tapi bagi saya... itu terlalu jauh karena saya berada di Gresik Jawa Timur.

Berlabuh di Tabungan Emas Pegadaian

 

Berkaitan dengan segala plus minus yang telah saya paparkan di atas tentang investasi emas dalam berbagai bentuknya, prosesnya, lokasinya, serta biayanya, akhirnya saya menemukan sesuatu yang baru. Apa itu? Adalah tabungan emas pegadaian. Pegadaian, yang orang mengira pasti kalau kita pergi ke sana sedang butuh uang dan akan menggadaikan barang, sekarang tidak lagi. Kita bisa menabung emas di pegadaian, bahkan jika terpaksa mendadak kita membutuhkan biaya untuk suatu hal yang mendesak, kita bisa melakukan gadai emas yang kita miliki di sana. Efektif dan efisien bukan?


Mudahnya lagi nih, kita tidak perlu repot-repot ke kota besar atau mengeluarkan ongkos kirim yang mahal. Karena pegadaian tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pegadaian juga sudah pasti legal karena memang resmi dibawah naungan pemerintah Republik Indonesia. Anda tidak perlu lagi mengkhawatirkan statusnya. Bagi yang masih meragukan, langsung cek saja di laman pegadaian.co.id.

Struktur Kepemilikan Pegadaian

Sebenarnya beberapa bulan lalu saya sudah sempat mendengar adanya program tabungan emas di pegadaian, dan itu saya anggap angin lalu saja sebab waktu itu harga emas masih di atas awan. Sekarang baru benar-benar serius ingin punya tabungan emas pegadaian  dan memulai berinvestasi emas di pegadaian saat sampai kabar di timeline twitter saya tentang dibukanya lomba blog ini. Apalagi ini adalah saat paling tepat untuk membeli emas, karena sekarang harga emas sedang terjun bebas karena ada peristiwa pemilihan presiden AS yang ternyata mempengaruhi harganya.

Mengapa saya tertarik untuk menabung emas di Pegadaian? Karena cukup mudah dan tidak perlu biaya yang besar untuk membuka tabungan di pegadaian ini. Apa saja yang perlu disiapkan jika kita ingin membuka Tabungan Emas Pegadaian? Cukup membawa identitas diri (KTP/SIP/Passpor) nanti di sana akan difotokopi, lalu sediakan uang minimal sebesar 50 ribu dengan rincian: 10 ribu rupiah untuk biaya administrasi dan 30 ribu rupiah untuk biaya fasilitas titipan selama 1 tahun. Kemudian isilah saldo di rekening Anda dengan minimal 0,01 gram saja, estimasi biayanya sekarang di angka 5 ribuan. Sangat terjangkau bukan?! Terutama oleh masyarakat kalangan bawah.

Identitas harus dibawa untuk membuka tabungan emas pegadaian
 
Jangan lupa membawa uang minimal 50 ribu rupiah
 
Ternyata.... saya sungguh beruntung ketika datang ke pegadaian untuk membuka tabungan emas, pas lagi ada promo jadi hanya ditarik biaya sebesar 23 ribu saja.




Pada saat Anda membuka tabungan emas, Anda akan diminta untuk mengisi dan menandatangani beberapa lembar berkas dokumen oleh petugas. Anda juga bisa mendownload sendiri berkas-berkas tersebut di sini
Dokumen yang harus dilengkapi saat membuka Tabungan Emas Pegadaian

Proses membuka Tabungan Emas

 

Setelah Anda menyelesaikan administrasi serta melengkapi berkas-berkas tersebut, maka buku tabungan Anda akan segera diproses oleh petugas. 

Tunggu sebentar.... kemudian.... Anda akan mendapatkan:

 Surat Bukti  Setoran Pembukaan Rekening Tabungan Emas 

dan

Buku Tabungan Emas Pegadaian

Penampakannya seperti di bawah ini.

 

Bukti Setoran Pembukaan Rekening Tabungan Emas

Buku Tabungan Emas Pegadaian

Senangnya lagi nih, tempat tinggal saya sekarang cukup dekat dengan cabang pegadaian maupun ATM, kira-kira hanya 1 kilometer saja. Jadi misalnya sehabis belanja di pasar ada uang sisa, saya bisa langsung mampir ke pegadaian dan menabungkannya di tabungan emas pegadaian. Daripada uang sisa belanja untuk membeli sesuatu yang tidak begitu penting, lebih baik sesegera mungkin ditabungkan di pegadaian. Tidak perlu juga lama-lama menunggu sampai mengantongi uang ratusan ribu bahkan jutaan untuk dibelikan emas. 
Ditambah lagi, kita juga bisa menabung dengan cara transfer melalui ATM  terdekat akan tetapi kita akan dikenai biaya transfer sebesar Rp 2.500,00. Nominal yang masih lebih murah bukan, jika dibandingkan biaya transfer antarbank?
Bagaimana cara menabung emas via transfer di ATM? Cermati gambar berikut ini!


Tata Cara Menabung Emas Via Transfer Di ATM

Satu hal lagi yang akan memudahkan Anda untuk berinteraksi dengan pegadaian, yaitu dengan hadirnya aplikasi “Sahabat Pegadaian” yang dapat diunduh di play store. Seperti ini  hasilnya....

Screenshoot aplikasi Sahabat Pegadaian

Dengan adanya aplikasi ini, Anda bisa mengecek harga emas yang berubah tiga hingga empat kali setiap harinya langsung dari ponsel pintar. Anda juga bisa mengumpulkan poin, mengetahui berbagai produk Pegadaian, mendapatkan berita tentang Program Pegadaian, dan berbagai keuntungan lainnya. Bagaimana prosedur downloadnya? Simak video tutorial berikut! Jangan lupa jika sudah download, gunakan kode referral: DVPS9FIZ saat Anda mengisikan data pada aplikasinya nanti.

Setelah membaca cerita pengalaman saya, tentu saya berharap kepada Anda yang belum berinvestasi, agar segera memulai berinvestasi emas. Mumpung sekarang harganya sedang turun. Juga karena biaya awal yang diperlukan untuk memulainya tidak sebesar saat kita membeli properti, yang memang sama-sama bisa digunakan untuk investasi. Sangat cocok untuk kaum muda yang baru belajar berinvestasi. Lagipula, jika suatu saat Anda benar-benar membutuhkan dana, Anda tidak perlu repot mencari pembeli kesana kemari seperti jika Anda akan menjual properti. Cukup datang ke Pegadaian atau toko emas terdekat, jual atau lakukan gadai emas di pegadaian dan.... dana sudah bisa dicairkan. #AyoMenabungEmas bersama-sama....


Ini ceritaku...
Mana ceritamu?

Friday, October 28, 2016

ANAK SEBAGAI TUMBAL PEMBANGUNAN INDONESIA



Hai para ibu yang tengah berjuang demi keluarga,

Mari kumpulkan suara untuk perbaikan pembangunan Indonesia!


Wanita dalam Pembangunan Indonesia

Jumlah wanita di Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan angka potensial untuk pembangunan Indonesia yaitu mencapai 118.048.783 (49%) orang dari 237.556.363 orang penduduk Indonesia. Maka dari itu tidak heran apabila peran wanita dalam pembangunan Bangsa Indonesia sangat besar, baik sebagai agen perubahan maupun subyek pembangunan.

Selain peran pentingnya untuk negara, kaum wanita juga berperan penting dalam keluarga yaitu sebagai ibu yang akan melahirkan dan mendidik anak-anak mereka. Oleh karenanya, kualitas anak Bangsa Indonesia juga ditentukan oleh kualitas kaum wanita. Mereka harus meningkatkan kualitas pribadi masing-masing, sebab tidak akan terbentuk keluarga yang berkualitas tanpa meningkatkan kualitas wanita.

Berbicara tentang kualitas wanita, tak lepas dari pendidikan wanita yang juga merupakan aspek penting bagi pembangunan Indonesia. Selain itu, kesehatan wanita juga harus diperhatikan seiring dengan upaya peningkatan akses pendidikan. Sebab wanita Indonesia masa kini berbeda dengan wanita Indonesia masa lalu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bila dulu wanita Indonesia hanya beraktivitas istilahnya di “dapur, sumur, kasur”, kini bisa disaksikan wanita Indonesia berperan hampir dalam setiap bidang pekerjaan dan profesi. Bahkan, salah seorang mantan presiden Indonesia (Ibu Megawati) dan calon presiden Amerika Serikat tahun ini (Hillary Clinton) adalah wanita. Dengan melihat adanya potensi yang besar tersebut, pemerintah telah menerbitkan Inpres No. 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, sebagai acuan memaksimalkan potensi wanita dalam pembangunan.

Pemerintah dengan bantuan swasta/BUMN melalui Corporate Social Responsibility (CSR) telah mencoba meningkatkan peran wanita dalam kehidupan sehari-hari. Mereka melaksanakan berbagai program pemberdayaan wanita, baik dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun yang lain. Program ini dinilai mampu membantu wanita untuk mengembangkan potensi mereka serta mendorong perubahan ekonomi dan sosial dalam masyarakat. 

Dilansir dari www.neraca.co.id, penelitian menunjukkan bahwa investasi dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kepemimpinan bagi wanita memberikan hasil yang lebih besar dalam hal pengembangan ekonomi dan sosial, termasuk menurunnya tingkat kematian bayi dan anak, pencegahan penyakit, meningkatkan penghasilan dan produktifitas, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. Program-program pemberdayaan wanita dalam kegiatan CSR perusahaan ditujukan untuk menstimulasi pengembangan usaha wanita serta menggugah partisipasi stakeholder dalam pengembangan usaha wanita dan penanggulangan kemiskinan, meningkatkan partisipasi masyarakat kaum wanita dan dunia usaha dalam pengembangan perlindungan sosial melalui usaha dan sumber pembiayaan, meningkatkan produktivitas ekonomi wanita kelompok miskin di berbagai kegiatan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, meningkatkan akses kelompok wanita terhadap informasi, teknologi tepat guna dan berbagai sumber pembiayaan, serta mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender melalui peningkatan produktivitas ekonomi wanita.

Tak hanya itu, dengan mempersiapkan wanita untuk berpartisipasi secara kompetitif dalam ekonomi, maka akan memungkinkan perusahaan-perusahaan mendapatkan orang-orang terbaik untuk bekerja dan berkembang tanpa membedakan gender. Peningkatan lifeskill (kecakapan) serta kompetensi (keahlian) wanita yang pada gilirannya memiliki sikap hidup, kepribadian hidup, dan kemampuan hidup yang meningkat, menjadikan wanita mitra sejajar dengan kaum laki-laki. Hal ini sudah sesuai dengan maksud Inpres No. 9/2000.

Saat kita berbicara mengenai masalah ekonomi secara tidak langsung juga berbicara mengenai wanita. Karena pada kenyataannya, wanita adalah agent of development yang berperan besar dalam perkembangan perekonomian. Bagaimana tidak? Sang pemegang kuasa keuangan di dalam keluarga pasti seorang wanita atau ibu. Meskipun pria/bapak yang bekerja mencari nafkah namun tetap seorang ibu akan mengambil alih keuangan guna mengatur pengeluaran yang terjadi dalan meluarga tersebut. Bagitu pula dengan kondisi bidang perekonomian negara, seorang ibu atau wanita dalam arti luasnya, sudah pasti bisa memegang peran dan bisa menjalankan peran tersebut dengan sebaik-baiknya. Itulah sebabnya mengapa Ibu Sri Mulyani dipercaya kembali menjadi menteri keuangan di Indonesia. Masuk akal bukan?!

Berdasarkan asumsi yang berkembang di masyarakat luas sejak zaman dahulu hingga kini adalah, dengan keberdayaan wanita di bidang ekonomi sebagai salah satu indikator meningkatnya kesejahteraan. Saat wanita berpendidikan tinggi, mempunyai hak-hak kepemilikan, dan bebas untuk bekerja di luar rumah serta mempunyai pendapatan mandiri, inilah indikator bahwa kesejahteraan rumah tangga telah meningkat. Selain itu, muncul juga asumsi lain bahwa tiap wanita harus mandiri secara ekonomi, agar memiliki kekuasaan dan posisi dalam hubungan domestik, keluarga, dan lingkungan sosial. Ini juga indikator yang sering dipakai dalam mengukur keberhasilan emansipasi wanita.

Meskipun demikian, sebenarnya kesejahteraan keluarga dan keberhasilan emansipasi wanita juga bisa dipengaruhi oleh faktor lain. Belum tentu indikator-indikator yang diasumsikan itu murni benar 100%. Bisa jadi sebaliknya, wanita yang bekerja di rumah, tidak berpendidikan tinggi namun ulet dalam bekerja, pandai mengatur pengeluaran keluarga, juga bisa menjadi faktor penentu kesejahteraan keluarga. Namun di sini saya tidak membahas hal tersebut, karena pembahasan saya menitikberatkan pada wanita yang bekerja di luar rumah seperti yang telah dibahas pada asumsi di atas.

Sudah terbukti, partisipasi wanita dalam bidang ekonomi tidak hanya untuk menurunkan tingkat kemiskinan di kalangan wanita, tetapi juga sebagai pondasi yang kokoh di sektor lain. Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak (Kabinet Indonesia Bersatu II), Linda Amalia Sari Gumelar pernah mengatakan bahwa wanita merupakan aset dan potensi luar biasa untuk mengurangi angka kemiskinan, mewujudkan pembangunan, perdamaian, dan keamanan. Jika mereka diberdayakan secara ekonomi dan intelektualitas, maka akan sangat efektif bagi pengembangan masyarakat dan bangsa. Nah, yang menjadi permasalahan selanjutnya, sudahkah negara kita tercinta ini memfasilitasi wanita sepenuhnya dalam menjalankan perannya yang kompleks tersebut? Mari kita lanjutkan pembahasan!

Antara Emansipasi dan Peran Wanita sebagai Ibu dari Anak-anak

Terlepas dari emansipasi beserta peran wanita dalam pembangunan Indonesia, pada fitrahnya wanita memang memiliki peran yang penting pula dalam keluarga, salah satunya yaitu sebagai ibu dari anak-anak mereka. Peran ini menuntut seorang wanita harus benar-benar memperhatikan kewajibannya dan hak-hak yang harus diberikan kepada anak-anaknya mulai dari sang anak dilahirkan. Tak jarang masalah kedua peran ini membuat “galau” para ibu muda, belum lagi jika muncul “nyinyiran” dari emak A, ibu B, mami C, bunda D, atau mamah-mamah muda lainnya.

Kegalauan itu akan bertambah ketika hadir buah hati titipan Tuhan dalam keluarga mereka. Para ibu baru akan mulai menimbang-nimbang antara meneruskan peran mereka dalam pembangunan Indonesia yaitu pekerjaan, menjadi ibu rumah tangga, atau menjalankan kedua peran secara bersamaan. Mengingat adanya kewajiban sebagai ibu dan hak anak yang harus diberikan, di Indonesia telah diatur dalam Undang Undang Perlindungan Anak Bab I pasal 1 No. 12 dan Bab II pasal 2.

Hak anak adalah bagian dari hak azasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara. Hak anak tersebut mencakup (1) non diskriminasi, (2) kepentingan terbaik bagi anak, (3) hak kelangsungan hidup, dan (4) perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak. Dengan mengacu UU Perlindungan Anak tersebut, mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) termasuk salah satu hak azasi yang harus dipenuhi. Beberapa alasan yang menerangkan pernyataan tersebut, yaitu :

  • Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan dan kesehatan terbaik untuk memenuhi tumbuh kembang optimal. Komposisi ASI disesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat dan akan bervariasi tergantung usia bayi. Sehingga ada yang disebut kolostrum, ASI peralihan, dan ASI matur. Komposisi ASI juga bervariasi dari awal hingga akhir menyusui. Foremilk (ASI awal) adalah ASI yang bening, diproduksi pada awal penyusuan, banyak mengandung laktosa dan protein. Hindmilk (ASI akhir) adalah ASI yang lebih putih pekat, diproduksi pada akhir penyusuan, banyak mengandung lemak yang sangat diperlukan sebagai sumber tenaga dan pembentukan otak.
  • Setiap bayi mempunyai hak dasar atas perawatan atau interaksi psikologis terbaik untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. Setelah melahirkan, ibu memerlukan keterampilan khusus untuk merawat bayinya, menyusui dengan benar baik pelekatan maupun posisinya. Kegiatan ini akan menambah kedekatan emosional antara ibu dengan bayinya.
  • ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam tahap percepatan tumbuh kembang, terutama pada 2 tahun pertama. ASI akan mencegah kekurangan nutrisi karena ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dengan tepat, mudah dicerna oleh tubuh bayi dan melindungi bayi terhadap infeksi.
  • ASI memberikan seperangkat zat perlindungan terhadap berbagai penyakit akut dan kronis. Kandungan zat aktif dalam ASI, terutama yang bekerja untuk fungsi kekebalan tubuh adalah komponen protein (α-laktalbumin, β-laktoglobulin, kasein, enzim, faktor pertumbuhan, hormon, laktoferin, lisozim, sIgA, dan imunoglobulin lain), nitrogen non protein (α-amino nitrogen, keratin, kreatinin, glukosamin, asam nukleat, nukleotida, poliamin, urea, asam urat), karbohidrat (laktosa, oligosakarida, glikopeptida, faktor bifidus), lemak (vitamin larut dalam lemak - A, D, E, K-, karotenoid, asam lemak, fosfolipid, sterol dan hidrokarbon, trigliserida), vitamin yang larut dalam air (biotin, kolin, folat, inositol, niasin, asam pantotenat, riboflavin, thiamin, vitamin B12, vitamin B6, vitamin C), mineral dan ion (bikarbonat, kalsium, khlorida, sitrat, magnesium, fosfat, kalium, natrium, sulfat), trace mineral (kromium, kobalt, copper, fluorid, iodine, mangaan, molybdenum, nickel, selenium dan seng), serta sel (sel epithelial, leukosit, limfosit, makrofag, dan neutrofil). Sehingga dengan mengonsumsi ASI, dengan mendapatkan ASI, bayi mendapatkan kekebalan terhadap berbagai penyakit seperti radang paru-paru, radang telinga, diare, dan juga mengurangi risiko alergi.
  • Memberikan interaksi psikologis yang kuat antara bayi dan ibu yang merupakan kebutuhan dasar tumbuh kembang bayi. Kegiatan menyusui terutama bila dilakukan dengan skin to skin contact dapat membentuk perkembangan emosional. Karena dalam dekapan ibu selama menyusui, bayi bisa bersentuhan langsung dengan ibu sehingga ia mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.
  • Ibu yang menyusui juga memperoleh manfaat menjadi lebih sehat, antara lain menjarangkan kehamilan, menurunkan risiko perdarahan pasca persalinan, anemia, kanker payudara dan indung telur. Selain itu, menyusui juga membantu tubuh ibu dalam mengontrol pendarahan setelah melahirkan. Kegiatan menyusui akan menghabiskan kalori yang cukup banyak, sehingga akan membantu diet ibu pascakehamilannya.
Setelah kita mengetahui betapa pentingnya pemberian ASI kepada bayi, dan betapa besarnya manfaat pemberian ASI untuk ibu dan bayi, kita perlu mempertanyakan kondisi lingkungan di Indonesia. Sudahkah fasilitas dan sarana untuk ibu dan bayi ini terpenuhi? Terutama untuk ibu yang bekerja di luar rumah tadi, atau untuk ibu yang sering dan sedang bepergian ke luar rumah. Jika belum, bagaimana dampak terhadap ibu dan bayinya? Kita akan menemukan jawabannya pada pembahasan berikut.

Fakta Tentang Ibu Menyusui di Indonesia

Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2002 dan 2007 untuk pemberian ASI eksklusif pada bayi di bahwa usia 2 bulan menunjukkan angka yang menurun, yaitu 64% pada tahun 2002 menjadi 48,3% pada tahun 2007. Bahkan tahun 2010, angka ibu yang memberikan ASI eksklusif untuk bayi 6 bulan turun menjadi 15,3% dari yang semula 30% pada tahun 2007. Ini berarti, masih ada 84.7% ibu yang masih memberikan susu formula pada bayi sebelum usia 6 bulan atau bahkan semenjak lahir. Semoga saja fakta tahun 2010 ini sudah banyak berubah seiring semakin pesatnya laju media sosial dan komunikasi yang gencar menyerukan pentingnya pemberian ASI sehingga banyak ibu yang tersadarkan.

Selain itu, UNICEF menyatakan terdapat 30 ribu kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia tiap tahun. UNICEF menyebutkan bukti ilmiah yang dikeluarkan oleh jurnal Paediatrics pada 2006. Terungkap data bahwa bayi yang diberi susu formula memiliki kemungkinan meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya dan peluang itu 25 kali lebih tinggi daripada bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Sebenarnya kejadian ini bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak kelahiran bayi tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi.

Kita pasti pernah mendengar kabar banyaknya kasus kurang gizi pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun yang sempat melanda beberapa wilayah Indonesia. Bukankah kasus kurang gizi juga sering diidentikkan dengan kemiskinan? Itu karena mereka belum mengetahui andaikata mau memberikan ASI eksklusif, sebenarnya bisa menghemat pengeluaran untuk pembelian susu formula. Mereka seharusnya menyadari bahwa kasus kurang gizi dapat diminimalisir melalui pemberian ASI secara eksklusif. Karena itu, sudah sewajarnya ASI eksklusif dijadikan prioritas program di negara berkembang ini.

Usaha pemerintah Indonesia dalam menurunkan angka kematian bayi dan mendukung pemberian ASI eksklusif terwujud dengan mengeluarkan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pasal 128 yang menekankan hak bayi untuk mendapat ASI eksklusif kecuali atas indikasi medis dan ancaman hukuman pidana bagi yang tidak mendukungnya, termasuk diantaranya para petugas kesehatan. Bab ini mengemukakan alasan medis yang dapat diterima untuk memberi susu formula pada bayi baru lahir yaitu beberapa situasi khusus dimana ASI memang tidak boleh diberikan, atau susu formula diperlukan sementara atau diperlukan tambahan susu formula disamping pemberian ASI.

UNICEF menyebutkan bahwa ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI, cara menyusui dengan benar, serta pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh para produsen susu formula merupakan faktor penghambat terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI eksklusif. Ditambah lagi di Indonesia, fasilitas untuk merawat dan menyusui anak-anak terutama bagi wanita yang bekerja sangatlah kurang. Kita sama-sama mengetahui, tidak ada ruang laktasi/menyusui untuk ibu yang ingin memompa ASI ataupun ibu menyusui di tempat-tempat kerja kecuali rumah sakit. Begitu pula di tempat-tempat umum seperti terminal, bandara, pasar, tempat rekreasi, taman kota, dan sebagainya. Bukankah hal ini terlihat menyedihkan? Ruang khusus merokok dan toilet saja di dalam bus sudah tersedia, tetapi mengapa justru ruang laktasi yang notabene sangat penting bagi ibu dan anak malah tidak tersedia? Coba renungkan! Mungkin ini juga salah satu faktor yang berpengaruh pada diberikannya susu formula untuk bayi-bayi mungil tak berdosa itu. Iya, karena tidak adanya ruang laktasi sehingga para ibu merasa malu dan enggan menyusui di sembarang tempat.

Lagipula dengan diluncurkannya Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, pasal 128 di atas, seharusnya dibarengi dengan upaya pemerintah untuk melengkapi segala sarana dan prasarana bagi ibu-ibu yang ingin memberikan ASI ekslusif kepada bayinya dan bayi yang seharusnya mendapatkan ASI tersebut. Terutama untuk ibu-ibu yang kesulitan memberikan ASI ekslusif, dalam hal ini adalah ibu yang bekerja di luar rumah, ibu yang sedang bepergian, ibu yang tidak bisa memberikan ASI karena berbagai sebab, juga mengupayakan ASI untuk bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI secara langsung dari ibunya, yaitu melalui ibu susuan atau ASI perah dari ibu menyusui lainnya.
Kebetulan saya menemukan video yang pas untuk menyuarakan hati para ibu bekerja, tonton sejenak yuk!

Solusi Pengasuhan Anak untuk Ibu Bekerja

Pada kenyataannya, para ibu memang masih menemui kendala di lingkungan pekerjaannya ihwal cuti bersalin dan ruang laktasi. Di lain pihak, sebagian ibu tidak mengambil cuti bersalinnya karena khawatir gaji yang diterima akan dikurangi atau kehilangan pekerjaannya selama menjalankan cuti. Cuti melahirkan di Indonesia dapat diperoleh sekitar 2 bulan saja. Bahkan ada pekerjaan tertentu yang hanya memperoleh cuti kurang dari waktu tersebut. Apalagi jika sang ibu belum ditetapkan sebagai pegawai tetap, bisa-bisa hanya 2 minggu waktu yang bisa digunakan untuk cuti melahirkan. Coba bandingkan dengan negara lain seperti UK, Croasia, dan Albania, betapa sangat singkatnya waktu cuti melahirkan di Indonesia. Baca selengkapnya tentangnegara-negara dengan waktu cuti melahirkan terlama di sini.

Padahal World Health Assembly (WHA, Majelis Kesehatan Dunia) dan UNICEF (2001) menganjurkan menyusui eksklusif selama 6 bulan, selanjutnya setelah kembali bekerja, ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas untuk menyusui atau memeras ASI di tempat kerjanya. Tempat kerja/perusahaan yang mendukung tenaga kerjanya untuk menyusui bayinya disebut sebagai Tempat Kerja Sayang Bayi (Mother Friendly Work Place). Hal ini dapat terwujud bila memenuhi beberapa ketentuan seperti yang tercantum pada Undang Undang Ketenagakerjaan Tahun 2003 dan peraturan-peraturan lain, antara lain:
  • Pemimpin peduli dan mendukung tenaga kerja wanita dalam pemberian ASI. Sudah menjadi tugas seorang pemimpin, harus mempedulikan kesehatan para pekerjanya. Selain jaminan kesehatan yang disediakan, penting juga membenahi segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu–ibu sedang menyusui yang bekerja di tempatnya. Karena hal ini akan berhubungan langsung dengan kesehatan anak yang baru dilahirkan.
  • Perusahaan mempunyai kebijakan tentang izin menyusui dalam waktu kerja, penyesuaian jenis dan waktu kerja, cuti cukup, jaminan tetap kerja, upah sama. Tidak adil rasanya jika ibu-ibu harus keluar dari tempat kerjanya hanya karena dia melahirkan anak. Harus ada kebijakan tertentu yang mengatur perihal ini agar jangan sampai merugikan pihak manapun.
  • Menyediakan ruang dan sarana menyusui (termasuk lemari es). Pemimpin yang peduli kepada ibu-ibu tenaga kerja di tempatnya pasti akan mengupayakan adanya ruang khusus menyusui beserta tempat penyimpanan ASI untuk sementara selagi mereka bekerja. 
    Penyimpanan ASI Perah

    Secara kebetulan, saya juga sudah menemukan tempat untuk mewadahi suara dan keinginan para pejuang ASI yaitu dengan mendukung didirikannya booth menyusui di berbagai tempat termasuk di tempat-tempat kerja. Klik di sini untuk memberikan dukungan Anda.
  • Menyediakan tempat penitipan bayi/anak yang layak. Ini poin penting selanjutnya karena banyak TPA yang tidak sesuai dengan standar pengasuhan anak. Bisa dari faktor tempatnya, perawatannya, pengasuhnya, atau jumlah anak yang dititipkan. Desain interior dan dekorasi ruang TPA yang baik dan terstandar bisa dilihat di sini. 
    Contoh desain interior TPA terstandar
  • Mempunyai petugas penanggung jawab peningkatan pemberian ASI. Sesuai dengan himbauan dari pemerintah agar bayi diberikan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama, sudah selayaknya ada petugas yang bisa memberikan penyuluhan dan konsultasi kepada ibu-ibu untuk meningkatkan semangatnya memberi makanan terbaik bagi anak.
  • Menyelenggarakan penyuluhan dengan menggunakan media bantuan untuk lingkungan kerja, perlindungan kerja, pelayanan kesehatan, pengawasan kebersihan makanan, dan sebagainya.
Setelah mencermati peraturan berdasarkan UU Ketenagakerjaan di atas, saatnya kita bertanya,”Sudahkan tempat kerja para ibu memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut?”. Jika belum, bagaimana upaya pemerintah atau perusahaan selanjutnya untuk menjamin terpenuhinya hak azasi setiap warganya atau tenaga kerjanya? Dalam upaya peningkatan peran wanita membangun negara, jangan sampai kesehatan ibu dan anak menjadi korban. 

Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa sudah selayaknya mendapatkan hak azasinya masing-masing. Sudah selayaknya bagi kita untuk tidak menghalangi hak anak mendapatkan ASI yang merupakan anugerah dari Tuhan sebagai makanan pokok pertamanya. Juga sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga mereka melalui penyediaan tempat penitipan anak yang terstandar selama ibunya bekerja, bukan asal momong anak saja. Harapan saya semoga tulisan ini bisa membuka mata pihak-pihak terkait agar memperbaiki keadaan guna memenuhi kewajiban kita terhadap sesama manusia dan negara, serta memberikan hak terhadap para ibu bekerja beserta bayi-bayi penerus generasi Indonesia.
Salam harap dari saya.... Aminnatul Widyana


Sumber referensi buku:
Marnoto, Budining Wirasatari. 2013. Buku Indonesia Menyusui. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Sanyoto, Dien dan Eveline PN. 2008. Bedah ASI. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Sumber referensi internet: