Featured Post

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Ayah Bagai Romansa

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Ayah Bagai Romansa

Tulisan ini kupersembahkan specially
#BuatKamu yang sedang mencari sosok inspiratif dalam perannya sebagai ayah
#BuatKamu yang suka dengan kisah kepahlawanan dalam lingkup keluarga
#BuatKamu yang ingin mengenal sosok kedua orangtuaku, terutama ayahku

Well, kita mulai kisah ini dari masa 29 tahun silam. A long time ago... Sebuah masa ketika aku baru saja menikmati dekapan hangat kasih sayang kedua orangtuaku. Masa dimana aku belum mampu melihat keindahan alam semesta dan seisinya. Ketika aku belum memahami pentingnya harta benda. Juga belum terbayang akan kerasnya kehidupan dunia.

pake tcash buat kamu
Foto masa kecilku bersama ayah

Pada waktu itu, seandainya aku bisa mengucap syukur, tentu aku akan sangat berterima kasih kepadaNya. Karena Tuhan telah menakdirkan aku menjadi anak dari seorang ayah yang persistent, gigih dengan pekerjaannya dan bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya. Yup, sewaktu ayahku sudah menikahi mamaku, dia tidak serta merta lepas tangan dengan ibunya. Dia masih harus menafkahi ibunya sebab ayahku telah menjadi anak yatim sejak usianya 7 tahun.

Tinggal di pelosok Kabupaten Ngawi, bersama ibu dan keempat adiknya, serta berperan sebagi anak sulung, membuatnya terbiasa bekerja keras sejak kecil. Mulai dari menjual kayu bakar, membantu pekerjaan rumah tangga orang lain, dan sebagai buruh kasar. Bahkan pernah sampai putus sekolah ketika kelas 5 SD dikarenakan tidak adanya biaya. Beruntung masih ada beberapa keluarga yang menolongnya dan mau membantu biaya sekolahnya hingga dia lulus SGO (Sekolah Guru Olahraga).

Setelah tamat sekolah, dia mendaftarkan diri sebagai guru olahraga. Tentu dibantu dengan berbagai piagam penghargaan sebagai atlet yang dia miliki. Lalu takdir berkata, dia harus mengabdi di sebuah sekolah dasar negeri, di wilayah Kabupaten Malang tepatnya. Itu daerah tempat kelahiranku. Di sanalah ayahku berjumpa dengan mamaku, untuk kemudian membangun sebuah rumah tangga.

Meskipun hidup penuh dengan keterbatasan, semangat ayah dalam menuntut ilmu tetap membara. Bahkan ketika sudah menikah dan berstatus sebagai PNS dengan gaji yang pas-pasan di era tahun 90an, dia tetap berjuang meneruskan kuliah hingga S1. Aku masih ingat betul bagaimana ayahku yang tidak memiliki kendaraan pribadi ini harus rela menumpang sepeda motor temannya untuk pergi dan pulang kuliah.

Menempuh jarak sejauh kurang lebih 40 km setiap kuliah tidak menjadi soal. Berangkat kepanasan, pulang malam kehujanan sudah biasa. Hingga tak terasa 4 tahun berlalu. Ayahku pun menyelesaikan studinya di tahun 1996. Saat sudah memiliki 2 orang anak, yaitu aku dan adik laki-lakiku.

Perjuangannya tak berhenti sampai di sini. Saat aku mulai duduk di bangku SMP pada tahun 2001, kebutuhan pun semakin meningkat. Selain menyokong uang belanja ibunya, dia juga memberi nafkah mamaku, dan untuk biaya sekolahku. Demi memenuhi semuanya, ayahku rela mencari uang tambahan dengan mengajar saat jam pelajaran tambahan di beberapa sekolah swasta. Dia pun rela menjadi tukang ojek dengan sepeda butut yang baru dibelinya.

Jangan dibayangkan jadi tukang ojek zaman now yang serba pakai aplikasi kekinian. Zaman dulu belum ada ya... Jadi ayahku menjadi tukang ojek konvensional. Dia rela bangun pagi buta jam 4 subuh demi mengantar dan menjemput pelanggan ke pasar tradisional. Bahkan mengantar daging untuk bahan pentol bakso pun dia lakoni.

Kalau ingat masa-masa itu, ingin rasanya aku bernyanyi...
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras. Namun kau tetap tabah. Meski nafasmu kadang tersengal. Memikul beban yang makin sarat. Kau tetap bertahan.

Sampai di sini, aku harus sabar. Sabar menunggu sampai ayahku datang dari mengojek. Karena apa? Uang saku harianku berada di situ. Aku tidak akan bisa membayar angkutan untuk berangkat sekolah kalau ayahku belum datang dan memberikanku uang saku. Besarnya hanya seribu lima ratus rupiah kala itu. Jatah seribu untuk membayar angkutan pergi pulang, dan lima ratusnya untuk uang jajan yang biasanya hanya cukup untuk membeli kacang pedas sebungkus saja.

Tiga tahun berlalu sudah. Aku tamat dari SMP, saatnya menjejakkan kaki ke jenjang yang lebih tinggi. Aku harus melanjutkan sekolah ke SMA. Kondisi keuangan keluargaku masih sama. Cukup, pas-pasan, dan tidak berlebih. Sampai-sampai, setelah naik angkutan, aku harus berolahraga dengan jalan kaki menuju SMAku yang lokasinya agak jauh dari halte bis. Bersyukur kalau waktu sudah mendekati jam masuk ada yang memberikanku tumpangan gratis. Aku hanya bisa... make a wish, semoga Tuhan membalas kelaikan mereka berlipat ganda.

Foto bersama teman-teman SMA

Berkali-kali pula aku harus menolak ajakan temanku untuk naik becak saja setelah turun dari angkutan. Tapi aku tak sanggup mengatakan bahwa aku tak punya uang. Karena mamaku selalu berpesan, jangan pernah berkata pada orang luar kalau kamu sedang tak punya uang, katakan saja kepada keluargamu di rumah. Iya, aku selalu menuruti pesan itu,

Keadaan seperti ini masih berlanjut hingga aku lulus SMA, bahkan sampai di perguruan tinggi. Aku mencari kos dekat kampus dengan harga paling murah di antara teman-teman yang lainnya. Meskipun murah, untungnya bukan rumah hantu yang aku tempati. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku mencoba dengan berjualan snack saat kuliah. Tidak perlu malu, toh ini bukan pekerjaan yang melanggar tindak pidana bukan?!
Foto bersama teman-teman kuliah

Bahkan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, aku terpaksa harus meminjam laptop kesana kemari. Termasuk milik seseorang yang kini menjadi teman hidupku, ayah dari anak-anakku. Iyes, selama empat tahun kuliah, aku tak punya laptop. Dari teman sekelas, hanya aku sendiri yang tak punya laptop. Untuk itulah, sebagian tugas kuliahku aku abadikan di blog pribadi yang membawa berkah ini.

Aku, ayah, dan anak sulungku
Selama ini, ayahku ingin agar aku meneruskan perjuangannya untuk mengabdikan diri pada negeri, menjadi seorang guru di sekolah. Aku turuti saja kemauannya, toh menjadi guru bukan pekerjaan yang tercela. Nah, untuk mewujudkan keinginannya ini, kemarin aku mendaftarkan diri pada rekrutmen CPNS 2018. Berbagai informasi tahapannya selalu aku update dari akun media sosial #ASNKiniBeda. Lalu setelah melewati berbagai tahapan yang sempat membuat dag dig dug, ternyata nilaiku masih melebihi passing grade yang ditentukan.

Kabar bahagia itu tentu membuat kedua orang tuaku dan keluargaku lainnya turut bersuka cita. Meskipun belum resmi dinyatakan lulus, tetapi aku optimis bisa melampaui sampai seleksi tahap akhir. Sebab aku telah mengantongi sertifikat pendidik yang menurut Permenpan Nomor 36 Tahun 2018 bisa membuat pemegangnya lulus Seleksi Kompetensi Bidang dengan perolehan nilai maksimal.

Segala tindakanku untuk berpikir optimis, bergaya hidup sederhana, dan gigih menjalani hari-hariku selalu terinspirasi dari ayahku. Aku tak boleh menyerah dan mengeluh, karena aku tahu perjuangan ayahku untuk membiayai sekolahku tidaklah mudah. Doaku, setiap tetes peluh keringat dari perjuangannya, semoga mendapatkan balasan berlimpah dari Tuhan.

Aku tahu, aku tak akan mampu membalas jasa kedua orang tuaku. Untuk memberikan harta benda berlimpah pun aku masih belum sanggup. Yah, meskipun mereka tak meminta harta benda, dan sudah sangat senang ketika aku mudik... Tetapi, layaknya seorang anak yang berbakti, aku juga ingin membantu meringankan beban perekonomian mereka biarpun sedikit.

thanks giving for dad

Untungnya aku #pakeTCASH, dengannya aku merasa lebih mudah untuk sekedar membantu memenuhi kebutuhan pulsa dan paket data bulanan kedua orang tuaku. Karena hanya TCASH yang mampu melayani pembelian untuk semua operator seluler. Tentu saja aku yang kalau kemana-mana masih ribet dengan kedua balita ini merasa cukup terbantu. Hanya tinggal buka aplikasi TCASH di smartphone, pulsa, paket data, dan uang sudah bisa sampai dengan selamat ke tujuan.

Sebenarnya, apa itu TCASH? Barangkali ada yang masih belum kenal, aku kenalin dulu nih. TCASH wallet merupakan aplikasi besutan Telkomsel yang melayani pembelian pulsa dan paket data, pembayaran di merchant tertentu, pembayaran tagihan listrik, PDAM, dan lainnya, pembelian voucher game, pemberian donasi, juga pengiriman uang ke sesama pengguna TCASH dan bank.

Aku biasanya lebih sering menggunakan TCASH  untuk membeli pulsa atau paket data. Cara beli pulsa dan paket data melalui TCASH juga sangat mudah. Simak contohnya di infografis berikut.

cara beli pulsa tcash

Untuk isi ulangnya pun sangat mudah. Kita bisa mengisi melalui aplikasi internet banking di smartphone atau melalui merchant TCASH. Kalau aku biasanya lebih memilih merchant yang dekat rumah, seperti alfamart dan indomaret. Keduanya sangat mudah ditemukan di berbagai daerah.

Bagaimana dengan kamu? Apa sudah install aplikasi TCASH di smartphone? Karena rugi kalau nggak #pakeTCASH. Sebab aplikasi ini bisa dipakai untuk semua operator selular loh. Dengannya, kita bisa berbuat baik kepada orang-orang terdekat kita tanpa perlu repot mondar-mandir kesana kemari.


Akhir kata aku ucapkan,"Selamat hari pahlawan. Mari kita berusaha menjadi sosok yang berguna dan menginspirasi bagi sekitar. Berjuanglah menggapai cita-cita dengan semangat pantang menyerah. Karena bisa saja di balik semua usaha kita, ada seseorang yang ternyata berjuang lebih dahsyat demi kebaikan dan kelayakan hidup kita. See you..." 

30 Responses to "Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Ayah Bagai Romansa"

  1. Alhamdulillah #pakeTCASH dapat memenuhi kebutuhan kuota dan pulsa yang sudah menjadi hal wajib untuk semua orang. Karena tanpa pulsa dan kuota, dapat mengakibatkan ketinggalan semua informasi, atau berita mengenai perkuliahan,ataupun pekerjaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uda.. buruan install aplikasinya. Siapa tahu ntar aku menang lombanya. Kan bisa aku transferin sebagian saldonya ke kamu wkwkkk...

      Delete
  2. Ceritanya mengharukan.Begitu membaca diawal-awal paragraf tadinya saya mau menyarankan ikut lomba TCash, eh nggak taunya memang ikut lomba itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyesss, bener saya ikutan lomba TCASH untuk kesekian kalinya. Semoga aja kali ini lagi beruntung. Sehingga bisa bagi-bagi sedikit rejeki buat orang tua di kampung. Sekalian buat uang saku mudik akhir tahun. Biar seneng mereka... Aamiin...

      Delete
  3. MasyaAllah, memang benar saat kita lahir Allah menyertakan malaikat untuk menemani kita di muka bumi, dan mereka adalah orangtua kita. Sangat menginspirasi sekali tulisan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntung ya buat kita yang masih ditemani orang tua hingga uda punya anak-anak begini. Masih banyak saudara2 kita yang besar tanpa kasih sayang orang tuanya.

      Delete
  4. Ayah,Ayah,pundakmu terkadang kupijat.
    Cm untuk Sekedar meringankan lelahmu.

    Semoga amal baktimu untuk keluarga menjadi tauladan bagi anak anakmu kelak.
    Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Sampeyan sekarang kan juga uda jd ayah. Semoga nanti kisah smpyn juga bisa menginspirasi orang lain di sekitar ya.

      Delete
  5. Cerita tentang kasih sayang Ibu dan Ayah memang selalu mengharukan, terutama bagi saya pribadi yang sejak umur 10 tahun sudah ditinggal keduanya. Tapi, saya bangga saya punya kakak-kakak yang hebat di keluarga. Nanti mampir di kisah saya juga ya mbak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ok, insyaAllah saya mampir. Ya Allah, usia 10 tahun uda gak ada bpk ibu? Anak bungsu kah? Alhamdulillah kalo ada kaka2 yg bisa kasih support ya. Kalo ayahku ini anak sulung, jd ya yang menanggung ibu dan adik2nya.

      Delete
  6. Ya Allah aku mbrebes kak baca potongan kalimat lagu Ebit itu kak. Smg kita berusaha menjadi sosok yang berguna dan menginspirasi yah kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Liriknya emang dalem banget maknanya ya. Aku juga biasanya nangis kalo dengerin lagu itu.
      Aamiin... Salam menginspirasi bagi sesama!

      Delete
  7. Perjuangan orang tua selalu menjadi inspirasi bagi anaknya. Perjuangan paling tulus. Tanpa lelah, tanpa pamrih .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, beruntung kalau kita memiliki orang tua yang tulus begini. Ada juga loh orang tua yang terang2an minta pamrih sama anaknya.

      Delete
  8. Kisah yang sangat inspiratif mbak....perjuangan seorang ayah yg sangat luar biasa. Semoga ayahnya diberi kesehatan ya mbak...aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya Roob... Semoga diberi kesehatan, panjang umur, berkah hidupnya. Iya, kisahnya memang menginspirasi hidupku hin gga sekarang. Kalo lagi susah aku biasanya ingat perjuangan ayah dulu biar aku jg kuat gak gampang mengeluh.

      Delete
  9. Baca judulnya aja udah berasa sesuatu mbak.. baca ceritanya makin terharu (saya besar tanpa seorang Ayah *malah curhat) semnagat mbak.. Inspiratif. Semoga menang ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Mbak... Mbaknya gak sendirian, banyak juga yang kisahnya serupa. Besar tanpa ayah tapi juga bisa sukses hidupnya.

      Delete
  10. Kisah para orang tua memang selalu mengharu biru, ah jadi kangen orang tua saya yang udah hampir 3 tahun gak pernah ketemu huuhhuhu *curcol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waw, lama banget Mbak, 3 tahun gak ketemu. Emangnya jauh banget kah? Antar pulau gitu mungkin? Eh, jadi kepo wkwkwk...

      Delete
  11. Storytellingnya bagus banget, jadi kebayang gimana perjuangan pantang menyerah ayahanda.

    Mungkin pas masuk ke bagian TCash-nya itu yang agak njegleg. Walaupun udah berasa kalau postingan ini berunsur kompetisi karena mengandung tagar.

    Padahal sempet melo pas baca bagian-bagian awalnya. 😅

    Anyway good luck ya buat kompetisinya.
    All the best for you.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih masukannya... Ok dah, ntatsy perbaiki lg gimana biar gak njeglek masuk ke bagian TCASH nya wkwkwk...

      Delete
  12. Waa semoga beneran jadi PNS ya Mbak. Beruntungnya masih punya ayah di usia segini ya Mbak. Papaku udah ga ada dari aku umur 11 tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau takdir berkata demikian... Apalah mau dikata wkwkwk... Ya, sy serahkan semuanya pada Tuhan. Biar dia yg berkehendak.

      Delete
  13. Cerita orang tua selalu mengharukan. Rasanya perjuangan mereka tinggal sanggup untuk dibalas karena terlalu banyak pengorbanan membesarkan kita. Nice sharingnya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bener banget... Bersyukur buat kita yg dikaruniai orang tua yg perhatian & tulus menyayangi kita. Krn banyak anak2 di luar sana yg sejak kecil uda uak dapat kasih sayang orang tua

      Delete
  14. Kisahnya sangat mengharukan, dan menginspirasiku untuk tetap semangat dalam hidup. Terimakasih juga untuk infonya tentang TCASH. Kayaknya mudah dan gk ribet. Perlu dicoba ini... ��

    ReplyDelete
  15. Ceritanya mengharukan dan menginspirasi saya untuk tetap semangat. Terimakasih juga infonya tentang TCASH. Patut dicoba ini, seper inya mudah dan gak ribet 👍😊

    ReplyDelete
  16. Kenangan kisahnya sangat memukau, dan dapat menginspirasi orang lain untuk terus semangat dalam menjalani hidup yang penuh gejolak ini. Terimakasih atas informasi mengenai T-Cash, memang kemudahan dalam mengisi pulsa atau paketan data internet sangat perlu untuk zaman semaju sekarang ini, karena dengan mengisi data internet akan mempermudah orang dalam mencari informasi terbaru. Dan yang terpenting telkomsel selalu memberi kemudahan untuk setiap penggunanya, dan saya sendiri sudah merasakan keistimewaan dari Telkomsel yaitu sinyalnya yang dapat dirasakan di berbagai pelosok desa, sehingga setelah 8 tahun menggunakan telkomsel saya merasa sangat bangga.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah singgah di blog amiwidya.com.
Saya persilakan menambahkan komentar untuk melengkapi postingan blog di atas.
Semoga bermanfaat & menginspirasi buat semua...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel