Wednesday, August 9, 2017

Toilet Training: Good Bye Popok Tanpa Bentrok


Kalau bicara tentang belanja barang buat bayi, pasti nggak lepas dari yang namanya susu dan popok. Banyak ceritanya kedua benda ini menjadi penyumbang keluarnya uang belanja terbesar setelah kebutuhan pokok sehari-hari keluarga, dan.... Nggak jarang menjadi momok "kantong kering" buat emak-emak yang uang belanjanya dirasa berada di level pas-pasan ajah. Senang... sungguh senang kalau si bayi nggak konsumsi susu formula, juga lepas dari jeratan popok pula. Macam anak saya ini wkwkwkk.... Duitnya bisa buat yang lain-lain.

Setelah sebelumnya aku tuliskan Good Bye ASI Tanpa Menyakiti Bayi, di sini aku tuliskan pasangannya: Good Bye Popok Tanpa Bentrok. Biar klop deh "kurikulum" untuk bayi 2 tahunnya. Hew hew.... Jadi, buat mamud yang pengen banget belajar gimana caranya supaya si bayi nggak ketergantungan sama popok lagi, baik popok kain maupun popok sekali pakai, yuk mari pantengin ceritaku ini!

Sebelumnya, kita samakan persepsi dulu ya. Mom setuju kan kalau pakai popok itu bisa membantu kita di hari-hari yang super selama beberapa bulan berlalu semenjak kehadiran buah hati kita? Kita nggak perlu bolak balik bersihin air pipis juga 'eek si kecil, lingkungan juga tetap bersih bebas dari bau ompol, saat bepergian pun keberadaan popok ini sangat membantu karena kita nggak perlu khawatir baju bakal bau pesing. Pokoknya, adanya popok ini sangat menolong kita meskipun keluar duitnya itu nggak nolong. Hiks hiks....

Jadi karena nilai kebermanfaatannya itulah, banyak mamud yang semakin ketergantungan sama benda satu ini. bahkan ada lho, anak yang masih pakai popok di usia 3 tahunan. Semoga anak-anak kita nggak gitu ya mom. Karena bagiku, itu bukan membantu tapi malah merepotkan. Terus gimana caranya biar usia 2 tahun udah enggak pakai popok lagi? Ok, akan aku bagiin pengalamanku yang singkat di sini.

Perlu diketahui mom, proses lepas popok atau dalam bahasa kerennya disebut toilet training itu nggak bisa instan sehari dua hari seperti menyapih ASI. Tapi perlu waktu, mingguan, bahkan bulanan. Butuh kontinyuitas, kesabaran, ketelatenan, dan keteladanan, karena apa? Yang namanya toilet training itu berupa pembiasaan perilaku, jadi membentuk pola pikir di otak supaya jadi kebiasaan sehari-hari.

Beragam waktu memulai pelatihan toilet training ini ya mom, nggak sama antara anak satu dengan satunya. Bergantung pada kepribadian serta kesiapan masing-masing anak juga momminya.Ada yang mulai bisa berjalan sudah dilatih, ada juga yang baru usia 1,5 tahun mulai dilatih, bahkan ada yang baru usia 2-3 tahun dimulai latihan. Kalau anakku, mulai usia 20 bulan sudah kukenalkan toilet training.

Awal mulanya, siang hari enggak perlu dikasih popok kecuali kalau bepergian. Cukup malam hari saat tidur dipakaikan popok. Sedikit-sedikit saja mom, bertahap, biar mommynya juga nggak kaget dengan acara bersih-bersih ompol. Nah, kalau pas nggak pakai popok begini sering-seringlah ajak si kecil ke kamar mandi. Beri contoh NYATA gimana caranya pipis, jelaskan secara SINGKAT,"kalau pipis di kamar mandi". Jangan cuma banyak kata-kata, anak disuruh ini disuruh itu tapi nggak ada keteladanan sama sekali dari mommy. Anak nggak bakal ngerti, karena dia itu butuh belajar secara kontekstual ya....

Terus ada saatnya si kecil juga bakal ngompol karena kadang kita lupa membawa atau telat mengajaknya ke kamar mandi, kan jadi basah celananya. Biasanya dia akan risih. Kalau anak yang cepat tanggap, pasti bakal laporan sama mamanya, pakai bahasa dia tentunya ya. Entah itu memanggil mommy, kasih tunjuk pipisnya, atau kadang pipisnya itu dipakai mainan, diciprat-cipratin gitu. Saat itu mommy harus cepat tanggap ya, sebelum meluber kemana-kemana. Siap sedia yang namanya alat pel dan lap. Supaya si kecil nggak sampai jatuh terpeleset di bekas pipisnya.

Demikian juga dengan proses belajar buang air besarnya di WC. Jangan terlepas dari yang namanya contoh NYATA tadi. Hilangkan deh pikiran malu, jijik, jorok, itu di hadapan anak. Karena ini masuk dalam proses pembelajaran toilet training bayi, bukan saatnya belajar sopan santun. Aku pun juga begitu, baik BAK maupun BAB biasanya ya ngajak anak masuk kamar mandi biar dia tahu gimana prosesnya. Buktinya... berhasil tuh tanpa banyak cuap-cuap atau pakai kekerasan segala. Anak juga jadi enggak takut lagi kalau keluar 'eek dari tubuhnya. Karena dia sudah paham bahwa tiap manusia pasti begitu.

Sumber: detik.com
Seminggu dua minggu, tambah lagi materinya. Jangan pakaikan popok siang malam, cuma waktu bepergian aja boleh dipakaikan buat jaga-jaga. Biasanya sih si kecil sudah mulai paham dan bakal ngomong kalau udah berasa mau pipis atau BAB. Kalau dia udah berani bilang, tolong diperhatikan baik-baik ya mom, jangan malah dicuekin dan dimarah-marahin karena mommy merasa direpotin. Beri dia motivasi, contohnya,"anak pintar sekarang udah bisa pipis di kamar mandi ya." Dijamin dia bakal merespon positif.

Begitu terus mom. selanjutnya tinggal mengulang dan mengulang kebiasaan tadi setiap hari sampai anak betul-betul terbiasa. Pesanku, mommy harus sabar, telaten, dan cepat tanggap ya, karena proses ini butuh waktu juga menyita waktu buat bersih-bersih. Jika ada saran lain, bisa ditambahkan di kolom komentar. Karena sekali lagi aku kasih tau, aku cuma mama muda yang masih belajar, bukan mama profesional yang bisa 100% telaten, sabar, dan sangat kreatif menghadapi tingkah polah si kecil. Bukan pula emak-emak beranak selusin yang pastinya udah punya trik di luar kepala menghadapi rengekan anak-anaknya. Ataupun ahli parenting yang tahu seluk-beluk menjadi orang tua. Jadi pasti artikel ini masih banyak kurangnya di sana-sini. Sekian, selamat mencoba dan semoga berhasil....

Baca juga: Good Bye ASI Tanpa Menyakiti Bayi

Tuesday, August 8, 2017

Good Bye ASI Tanpa Menyakiti Bayi


Yakin deh, sebagian besar mama-mama muda alias mamud pasti banyak galaunya kalau ditanya tentang cara bikin lepas ASI si anak yang udah mulai memasuki usia 2 tahun atau lebih. Kadang dari mamanya sendiri yang masih sayang banget, nggak rela mau pisahin anak sama ASInya. Tapi ada juga yang anaknya cinta banget sama itu ASI hingga nggak mau lepas, bahkan makin nempel dan menjadi-jadi biarpun usianya sudah memasuki 2 tahun. Termasuk yang manakah mamud sekalian??? Kalau saya sih, anaknya yang susah lepas ya. Emaknya ini udah siap lahir batin mau pisahin dia dari ASInya. Terus, gimana caranya hingga berhasil melewati tahapan lepas ASI ini? Sini aku bagiin ceritanya...

Hal yang paling utama dari proses melepas ASI adalah kesiapan mental mamud sendiri. Karena bagaimanapun supernya cara yang akan dipakai, nggak akan berhasil tanpa adanya kesiapan mental dari si ibu. Jadi harus keukeuh ya pendiriannya... Jangan luntur cuma dengan rengekan atau tangisan si kecil.

Sebenarnya ada banyak sekali cara dari mbah-mbah kita saat mau menyapih anak-anaknya. Terus, yang mau aku bahas di sini cuma sebagian kecil aja dari cara-cara itu dan tentunya cara yang sudah aku praktiin sendiri sama bayi pertamaku.

Cara yang paling awal kugunakan yaitu sounding sama si kecil jauh-jauh hari, ngomong ngecipriiisss sehari puluhan kali, bilang sama dia kalau udah 2 tahun gak boleh mimik sama mama lagi. Gantinya bisa pakai susu di botol atau gelas. Mau sih, pakai susu botol/dot, tapi cuma bertahan seminggu dan dia tetep minum ASI. Jadi cara ini aku nyatakan gagal.

Cara kedua, aku gunakan kecuekan, gak aku perhatiin meski minta minum ASI, baik itu pas siang hari maupun malam hari mau bobok. Ini mulut juga tetap berkicau jelasin kalau dia udah nggak boleh mimik sama mama lagi, dengan penekanan suku kata yang lebih dramatis. Sampai doweeerrr.... Tetap gak berhasil. Hasilnya, dia tantrum, emaknya juga tantrum, dan semakin menjadi minta mimik ASInya. Akhirnya, aku nyatakan juga: gagal.

Berikutnya, yang ketiga. Aku dapat info dari tetangga kalau dikasih tempelan asem di puting susu ibunya. Katanya sih, itu anak bakal gak mau, jijik lihat cokelat-cokelat nempel di mimiknya. Tapi, belum aku coba, aku udah pesimis, soalnya anakku gak ngaruh sama makanan & minuman rasa asem-asem begitu. Lagipula, warnanya kan mirip cokelat, jangan-jangan dia malah doyan ntar. Aku skip deh cara ini.

Lalu, ada juga teman yang bilang suruh kasih lipstik merah di puting ASI. Ntar itu anak bakal nggak mau mimik karena lihat penampakan lipstik di mimiknya. Ok, aku cobain, tapi hasilnya nihil. Cuma ditowel-towel aja sama anakku, habis itu diemut lagi. Wkwkwkw..... Dia nggak peduli bibirnya belepotan lipstik, padahal dia cowok.
Serutan Kayu Dwara Putih

Selanjutnya, ini saran dari bu mertua. Disuruh kasih olesan rebusan air "dwara putih". Aku sendiri nggak tau awalnya, gimana penampakannya barang yang dimaksud ini. Bilangyna sih, kalau orang dulu bikin jamu ini khasiatnya untuk meredakan meriang, capek-capek, demam gitu. Aku beli di toko yang jualan bahan-bahan jamu tradisional, akhirnya aku temukan juga. Sampai di rumah, direbus sama air secukupnya, sudah dingin, baru diolesin ke ASInya. Rasanya sih pahit, katanya bayinya bakal nggak mau mimik lagi karena tahu rasa ASInya berubah. Tapi, walhasil.... Tetep aja disedot. Sempat hampir putus asa juga sama kelakuannya yang nggak lepas-lepas dari ASI ini. Tapi, apa boleh buat, harus tetep semangat mencari jalan lain untuk proses yang nggak mudah ini.

Sampai-sampai ada mamud yang menyarankan supaya "disuwukne" bae (Bhs Jawa). Maksudnya didoain sama ahlinya (read: orang pintar misal kyai, dukun bayi, ustadz, dan semacam itulah). Okelah, ini bakalan jadi pengisi list terakhirku jikalau caraku sudah gagal total. Baik mau dipakai atau nggak, yang penting ditampung dulu idenya.

Terakhir kalinya nih, ada satu cara yang kucoba, termotivasi dari yang namanya "doa-doa" seperti cara yang aku sebutkan di atas. Mulai deh positif thinking, dengar-dengar, yang namanya doa ibu itu mustajab, sampai ke hadapan Tuhan tanpa ada yang menghalangi. Mulai kucoba, sesuai dengan agama dan keyakinanku, dengan bahasa campuran sebisaku, aku mulai deh memohon sama Yang Maha Membuka Pintu Hati, biar anakku bisa lepas ASI, cepet lupa sama ASI, dan nggak balik-balik lagi sama ASI. Selesai sholat 5 waktu, di sepertiga malam, waktu kasih mimik ASI si kecil juga, aku doain, baca-baca surat Al-Fatihah, sholawat nabi, diusap ubun-ubunnya gitu. Terus, esoknya aku kasih plester luka di puting susunya. Bilang ke anak kalo sakit, kasih pengertian bahwa terus-terusan kasih mimik dia yang udah muncul giginya itu bisa menyakitkan.Jadinya begini deh.... Dan alhamdulillah, dia nggak mau lagi mimik, pas bangun dari tidur pun juga nggak mau. Esoknya, disodorin juga ditolak.

Sudah berhasil begini waduh, senengnya dan leganya itu bisa mengalahkan selesai ujian skripsi wkwkwk....Bener-benar bersyukur, plong banget rasanya. Tapi mom, perlu diingat, bahwa setiap anak pasti punya respon yang berbeda. Cara yang kulakukan berhasil ini belum tentu bisa berhasil ke anak yang lainnya. Yah, dicoba aja semua, siapa tahu salah satunya bisa berhasil. Atau, mungkin mommy punya cara lain yang lebih ampuh? Bisa dishare di kolom komentar ya... Hitung-hitung, bagi-bagi pengalaman sama yang lain. Lagipula, tulisan ini bukan dari ahlinya, karena aku mama muda yang masih belajar, bukan mama profesional yang bisa telaten, sabar, dan sangat kreatif menghadapi tingkah polah si kecil. Bukan pula emak-emak beranak selusin yang pastinya udah punya trik di luar kepala menghadapi rengekan anak-anaknya. Ataupun ahli parenting yang tahu seluk-beluk menjadi orang tua. Jadi pasti artikel ini masih banyak kurangnya di sana-sini.

Akhir kata, kuucapkan selamat mencoba dan semoga berhasil!!! Semangat!!!

Next, Baca Juga: Toilet Training: Good Bye Popok Tanpa Bentrok

Tuesday, August 1, 2017

Mau Coba Solo Traveling? Lihat Dulu Kekurangan dan Kelebihannya





Momen liburan adalah waktu yang paling tepat buat melepaskan stres setelah rutin bekerja atau sekolah, galau setelah menerima undangan pernikahan dari mantan, juga tekanan batin akibat terlalu sering ditanya kapan nikah? Kapan lulus kuliah? ataupun kapan punya momongan?

Ada banyak cara yang bisa dipilih untuk pergi liburan. Bisa backpacker, flashpacker, solo traveling atau menjadi wisatawan dengan cara konvensional yang lebih praktis. Dari sekian banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk liburan, solo traveling atau jalan-jalan seorang diri adalah salah satu cara menarik yang bisa kamu pilih. Ada pengalaman berbeda yang bisa kamu dapatkan saat melakukan perjalanan seorang diri. Tapi sebelum Beli tiket online dan memutuskan untuk solo traveling, kamu harus paham dulu kekurangan dan kelebihan apa saja yang akan kamu dapatkan dari perjalanan seorang diri.


Kekurangan Solo Traveling
Ada pepatah yang bilang, ‘Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’. Jadi, sebelum menceritakan kelebihan apa saja yang akan dirasakan saat traveling sendirian, lebih baik kita mulai ulas hal tidak enak apa saja yang pasti kamu temui saat solo traveling.

Hal paling tidak enak dari solo traveling yang pertama adalah biaya. Dengan pergi sendiri, sudah pasti semua biaya perjalanan seperti bayar sewa kamar hotel, sewa kendaraan umum, dan biaya lain yang seharusnya bisa dibagi bersama-sama harus kamu tanggung sendiri.

Namun untuk masalah penginapan, kamu tidak perlu cemas karena kamu bisa memesan Hotel murah hanya di reservasi.com. Jadi meskipun biaya penginapan ini ditanggung seorang diri, kamu tidak akan merogoh kocek terlalu dalam.

Kekurangan berikutnya dari jalan-jalan sendiri adalah tidak adanya teman untuk berbagi keceriaan. Ada yang bilang, ‘happiness is real iwhen it shared’. Jadi, kamu tidak akan punya partner untuk menertawakan secara langsung hal-hal seru yang kamu temui saat liburan.

Saat traveling, ada beberapa situasi buruk yang selalu mengintai seperti jatuh dari kendaraan, diganggu orang jahat, sampai terkunci di kamar mandi. Jika hal ini terjadi saat kamu sedang solo traveling, tidak ada orang di samping kamu yang bisa langsung membantu. Kamu hanya bisa berharap bantuan orang lain yang ada di sekitar. Itu pun kalau di sekitar kamu ada orang lain. Kalau tidak, kamu cuma bisa berharap datangnya bantuan Tuhan.

Kamu juga akan kesulitan untuk mengabadikan foto diri sendiri. Kamu hanya bisa melakukan selfie kalau ingin wajahmu ada dalam frame. Hasilnya, angle foto pun benjadi tidak bervariatif. Cara lain yang bisa kamu lakukan untuk mendokumentasikan diri sendiri hanyalah dengan meminta bantuan orang lain atau menggunakan tripod.

Kekurangan terakhir dari kegiatan solo traveling yaitu kamu dituntut untuk benar-benar mandiri. Semua yang kamu butuhkan seperti informasi harus bisa kamu penuhi seorang diri.

Kelebihan Solo Traveling
Seperti kata orang bijak, di balik kesusahan selalu ada kemudahan yang menanti. Begitu pun dengan solo traveling. Di balik kesusahan yang harus kamu hadapi seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak hikmah yang bisa kamu ambil dari perjalanan seorang diri.

Dengan solo traveling, kamu tidak perlu repot mencari teman untuk diajak liburan. Bagi sebagian orang, ketiadaan sosok travelmate sering menjadi hambatan untuk pergi berlibur. Tapi buat seorang solo traveller, liburan bisa dilakukan kapan pun ia mau meskipun harus pergi sendirian. Ini karena tidak perlu repot menyesuaikan waktu liburan dengan waktu luang yang dimiliki oleh teman liburanmu.

Kamu pun bisa pergi kemana pun dan melakukan berbagai hal tanpa harus berdiskusi atau berdebat panjang dengan teman seperjalanan terlebih dahulu. Dengan menjadi solo traveler, kamu bisa menjadi petualang yang susungguhnya karena lebih bebas pergi kemana pun kamu suka.

Seorang solo traveler biasanya sering merasa butuh teman untuk diajak bicara saat berada diperjalanan. Jadi secara tidak sadar, mereka pun akan tertuntut untuk menjadi orang yang lebih supel karena merasa butuh orang berbagi cerita. Saat berada di kendaraan umum, mereka akan lebih sering berkenalan dengan orang yang baru ditemui. Hasilnya, seorang solo traveler akan mendapat lebih banyak teman baru saat liburan.

Lalu, para solo traveler pun akan mendapat pengalaman yang tidak akan bisa ditandingi dengan apapun. Pengalaman-pengalaman tersebut pun akan menumbuhkan hal-hal baik dalam diri seorang solo traveler, seperti kebiasaan berhemat, rasa tanggung jawab, lebih peka terhadap lingkungan sekitar, rasa percaya diri, kemandirian dan keberanian.

Hal-hal baik itu terbentuk karena saat solo traveling, kamu telah melewat banyak hal baru dalam hidup dan memiliki waktu untuk merenungkan berbagai hal yang kau temui saat dalam perjalanan.

Jadi, tertarik menjadi seorang solo traveler setelah melihat kekurangan dan kelebihannya? Tidak perlu ragu, karena hal paling penting untuk bisa menjadi seorang solo traveler hebat adalah dengan meyakinkan diri bahwa kamu bisa.