Monday, April 7, 2014

MEMPERSIAPKAN GENERASI TANGGAP TEKNOLOGI MELALUI PENERAPAN KURIKULUM 2013



MEMPERSIAPKAN GENERASI TANGGAP TEKNOLOGI MELALUI
PENERAPAN KURIKULUM 2013

Tahun 2013 perubahan kurikulum kembali terjadi di tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK. Pihak pemerintah menyebutnya sebagai “pengembangan kurikulum”, bukan “perubahan kurikulum” (Kurniasih dan Sani, 2014:32). Jadi kurikulum 2013 merupakan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang telah dirintis tahun 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) lalu diteruskan dengan kurikulum tahun 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
Orientasi kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU Nomor 20 tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam pasal 35, yaitu kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati (Majid, 20014:28).
Kemdikbud menegaskan bahwa generasi yang kreatif dan berkarakter kuat adalah generasi yang mampu bersaing di era persaingan global di masa depan (Husamah dan Setyaningrum, 2013:4). Oleh karena itu, proses pendidikan harus dirancang untuk mengasah rasa keingintahuan intelektual yang akan melahirkan kreativitas peserta didik.
Melalui kurikulum 2013, kelak diharapkan terbentuknya generasi yang mampu bersaing di era persaingan global tersebut. Sebab pada persaingan global dapat dipastikan zaman sudah semakin canggih, teknologi semakin maju, manusia akan menciptakan alat-alat baru yang berteknologi mutakhir. Jika ingin mengikuti kemajuan zaman, Indonesia harus menyiapkan generasi yang tanggap dan mengerti terhadap teknologi terkini. Setidaknya dengan kurikulum yang telah dikembangkan ini, putra-putri Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya. Lebih bagus lagi apabila dapat bersaing dengan negara-negara maju.
Era global mempunyai dampak positif dan negatif bagi manusia, khususnya para generasi penerus bangsa. Dampak positif bagi mereka yaitu akan memudahkan dalam beraktivitas. Teknologi masa kini yang paling dekat dengan mereka dan memudahkan aktivitas diantaranya, handphone, televisi, komputer/laptop, sepeda motor, dan mobil.
Akhir-akhir ini sedang marak online shop (toko online) di internet dan hal ini sangat digandrungi para remaja. Dengan membeli dari sini, mereka cukup mentransfer sejumlah uang kepada penjual dan memberitahukan alamat pembeli. Beberapa hari kemudian barang akan sampai tanpa mereka harus bersusah payah keliling pasar dan melakukan proses tawar-menawar yang panjang dengan para penjual. Selain itu, era global akan mendorong untuk berpikir lebih maju sehingga tidak “gaptek” atau gagap teknologi. Apalagi saat ini teknologi internet sudah berkembang cukup pesat. Bahkan anak usia Sekolah Dasar sudah mengenal kehidupan sosial media di internet, misalnya facebook dan twitter. Dampak negatifnya, terkadang mereka bermain game online sampai lupa waktu belajar dan mengabaikan tugas sekolahnya. Tidak bisa dibayangkan apabila orangtua mereka juga apatis terhadap fenomena yang menyerang anak-anak ini dengan tidak mengontrol waktu belajarnya di rumah.
Dampak negatif yang lain yaitu, membuat anak-anak menirukan gaya hidup kebarat-baratan. Padahal tidak semua budaya barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Misalnya, anak-anak jadi kurang menghormati orang tua, dalam hal ini karena anak-anak adalah peniru yang paling ulung sehingga mereka cepat sekali menirukan apa yang telah ditontonnya baik melalui acara televisi, film, maupun internet. Mereka juga bisa terjerumus ke dalam kehidupan bebas, bahkan kadang sampai melupakan kehidupan sosial yang sesungguhnya karena lebih asyik bersosial media melalui dunia maya.
                Meskipun begitu, ada cara menanggulangi/mengatasi dampak negatif globalisasi, salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Dampak negatif globalisasi merupakan sebuah realita yang mau tidak mau harus dihadapi apabila Bangsa Indonesia ingin tetap hidup sebagai bangsa yang berdaulat di dunia. Cara untuk menghadapi dampak negatif globalisasi yaitu dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya melalui pendidikan yang optimal. Melalui hal ini, bangsa Indonesia dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga dapat bersaing di kancah dunia Internasional. Fenomena ini sangat cocok dengan adanya kurikulum 2013 yang berorientasi terhadap peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge).
Dimulai dari pendidikan di usia dini, pendidikan berkarakter yang mengedepankan kompetensi sikap diharapkan mampu mengakar di dalam sanubari anak-anak Indonesia. Harapannya kelak akan membentengi mereka dari pengaruh-pengaruh negarif di era global dan menjadikan pribadi yang berakhlak mulia, terampil dan bijak terhadap teknologi, serta berpengetahuan luas.