Tuesday, February 4, 2014

Bercermin kepada Semangat Putra Putri di Pelosok Negeri



Bercermin kepada Semangat Putra Putri di Pelosok Negeri



Masih terbayang kaki-kaki telanjang menapaki tanah basah sepanjang jalan, penuh lumpur melekat. Menginjak rerumputan hijau yang tumbuh memenuhi halaman sekolah. Plastik tipis berwarna-warni seharga Rp 5.000 menjadi satu-satunya pelindung mereka dari guyuran air hujan di musim penghujan. Baju seragam basah terciprat air yang tak sengaja masuk melalui plastik yang berlubang-lubang menambah lusuh seragam yang sudah usang. Buku-buku bawaan lembab mengembun. Tinta yang tergores di atas kertasnya tak lagi berupa tinta utuh, tetapi sudah bercampur sedikit air hujan.
Sekolah beratap seng sudah berkarat, penuh lubang, dengan lantai semen bercampur tanah, serta dinding papan yang sudah melapuk termakan usia, menjadi tempat tujuan manusia-manusia yang masih kecil itu. Beruntung mereka yang menduduki kelas 1, 2, 5, dan 6 karena mereka mempunyai ruang kelas yang masih layak pakai. Meskipun bukan ruang kelas berporselin dan hangat di waktu hujan karena atap yang tertutup rapat dengan asbes seperti ruang kelas yang ada di sekolah-sekolah di Pulau Jawa.
Keadaan yang demikian bukan merupakan suatu penghalang bagi mereka untuk menuntut ilmu meskipun perjalanan menuju sekolah bukan melalui trotoar jalan raya yang mulus. Tidak terpancar sedikitpun wajah keluh kesah dengan kondisi yang sejujurnya baru saya alami pada waktu itu, di akhir Januari 2013. Saat itu baru sekitar 3 bulan saya bertugas di Sekolah Dasar Inpres Nggalak, sebuah sekolah di Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya yang asalnya bertempat tinggal di pusat Kecamatan Dampit Kabupaten Malang, terbiasa melihat anak-anak berseragam lengkap yang berangkat sekolah dengan jalan kaki di aspal, jalan paving, maupun trotoar jalan raya. Ada diantaranya yang berangkat naik ojek, ataupun diantar orangtuanya masing-masing. Ada pula yang naik angkutan umum bahkan diantar menggunakan mobil pribadi orangtuanya. Dengan tiba-tiba saya melihat pemandangan yang sungguh berbeda 180° dengan sebelumnya.
Di Desa Nggalak belum ada PDAM yang masuk untuk mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk termasuk ke sekolah, puskermas pembantu, dan kantor desa sebagai sarana umum masyarakat setempat. Satu-satunya sumber air untuk kehidupan sehari-hari hanya ada di 2 mata air yang terdapat di Desa Nggalak ini. Keadaan tanpa air memaksa anak-anak untuk mengambil air di dalam jerigen dari mata air untuk diisikan ke kamar mandi sekolah setiap pagi di musim kemarau. Keadaan inilah yang mengharuskan mereka rajin ke mata air setiap hari untuk mengambil air di sana agar kebutuhan akan air bias terpenuhi.
Mental manja sungguh tidak dibutuhkan di sana jika ingin bertahan hidup. Selain tidak tersedia air yang mengalir ke rumah penduduk, di desa ini juga belum ada listrik dari PLN yang masuk. Hanya ada orang-orang tertentu yang mempunyai mesin diesel atau genset sebagai sumber listrik saat dibutuhkan. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki akan menyalur kepda mereka guna kebutuhan akan listrik saat malam tiba. Penyaluran ini tentu tidak gratis. Ada iuran-iuran sejumlah kesepakatan, yang dibayarkan kepada pemilik mesin tersebut. Setiap harinya, listrik biasanya akan menyala selama 3-4 jam pada pukul 18.00-22.00. hidup dengan listrik yang demikian masih beruntung daripada mereka yang tidak mampu membayar iuran tersebut, kemudian hanya memakai lampu pelita di malam hari.
Hal yang demikian tidak membuat anak-anak berhenti belajar. Mereka biasanya akan mengerjakan tugas saat sore hari sebelum gelap. Sebenarnya hamper tidak ada waktu istirahat untuk mereka dari pagi sampai malam. Sepulang sekolah pukul 12.30 mereka pulang, lalu biasanya lanjut mencari kayu bakar untuk memasak di rumah, atau pergi ke kebun sekedar membantu orangtua. Baru sekitar pukul 14.30 mereka pulang lagi dan pergi ke mata air. Setelah itu berangkat belajar sore dari pukul 15.00-16.30. saat itulah mereka mengerjakan tugas dari guru. Sepulang belajar sore, mereka akan membantu memasak di rumah. Bukan masakan mewah yang lengkapdengan semua kudapannya, hanya nasi, beruntung jika ada sayur daun ubi, daun papaya, papaya muda, ataupun labu siam dan daun pakis. Akan lebih baik jika bapak mereka mendapat ikan dari sungai atau laut di desa sebelah. Pada malam hari biasanya masih ada rutinitas yang menunggu mereka, memecah kemiri.
Rutinitas yang demikian tentu sangat jauh berbeda dengan anak-anak di kota yang serba ada. Karakter mandi dan penuh rasa syukur pelan-pelan akan terbentuk dari kebiasaan mereka. Bukannya mental manja dan suka mengeluh sehingga tidak bias mensyukuri karunia Sang Pencipta. Tidak jarang dari mereka ini adalah mutiara-mutiara terpendam yang sanggup memaknai bahwa hidup ini adalah perjuangan.
Kini, sudah bukan saatnya kita membiarkan anak-anak didik kita menjadi tukang mengeluh akan keadaan yang dialaminya. Mereka harus sadar bahwa kehidupan mereka itu masih jauh lebih baik daripada mereka yang hidup di pedalaman. Sudah bukan tempatnya lagi mereka mengeluhkan tentang bekal makanna yang disiapkan ibu dengan susah payah karena anak-anak di pedalaman biasa membawa bekal ubi rebus. Bukan saatnya mereka mengeluh jika harus berjalan kaki ke sekolah. Karena anak-anak di pedalaman harus menempuh jarak yang cukup jauh ke sekolah dengan kondisi yang masih bertanah dan berbatu. Bukan saatnya mereka merengek meminta mainan terbaru ini dan itu, karena anak-anak di pedalaman untuk mencari buku pelajaran saja harus bersusah payah pergi ke took buku di kota dengan ongkos yang tidak sedikit. Bukan saatnya anak-anak kota diajari berfoya-foya membeli baju setiap bulan bahkan setiap minggu, karena mereka di pedalaman masih rela memakai baju seragam usang, karena untuk membeli baju seragam mereka harus pergi ke toko baju yang ada di kota.
Di zaman yang sudah sangat modern ini, sangat penting penanaman karakter yang baik kepada calon-calon generasi emas Indonesia. Hal ini semata-mata untuk memperbaiki generasi muda yang sudah bermoral bobrok. Sehingga bukannya mereka ikut membangun negeri akan tetapi mereka hanya sibuk dengan kesenangan dunianya sendiri yang bersifat sementara. Harapan saya, semoga tulisan ini dapat menggugah pembaca sekalian agar bersama-sama berusaha menanamkan karakter yang baik kepada mereka, anak-anak calon generasi emas Indonesia.

 Pernah Diterbitkan di Koran Pendidikan edisi 490 Desember 2013

Penulis:
Aminnatul Widyana, S.Pd.
Guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) Tahun 2012
Universitas Negeri Malang (UM)