Tuesday, February 18, 2014

MINYAK CENDANA DAN BENGKOANG, ATASI JERAWAT SEELOK NAMANYA



Problem jerawat merupakan hal yang sangat menjengkelkan bagi sebagian orang yang pernah mengalaminya, termasuk saya. Problem ini bisa dialami setiap orang, pria, wanita, remaja, terutama saat usia pubertas karena jerawat ini biasanya akan banyak muncul saat memasuki usia pubertas, berkisar antara 12-16 tahun. Apalagi untuk anak-anak yang memiliki kulit berminyak pasti akan lebih banyak lagi jerawat-jerawat yang bermunculan. Bisa dipastikan sedikit banyak dia akan minder dengan penampilannya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus yang dapat membunuh kuman penyebab jerawat dapat menjadi pengobatan baru yang ampuh. Kuman penyebab jerawat atau dalam istilah medis dikenal sebagai Propionibacterium acnes, seringkali mengganggu penampilan kita, bahkan terkadang dapat berkembang menjadi penyakit yang oleh Dokter disebut sebagai “acne vulgaris”. Kuman ini berada di dalam lubang jerawat dibawah kulit yang mengandung folikel rambut dan kelenjar keringat.
Akan tetapi kuman jerawat punya musuh yaitu sejenis virus yang dinamakan bakteriofag, atau disingkat fag. Fag ini menyuntikkan materi genetiknya ke dalam tubuh kuman. Nah, di dalam tubuh bakteri ini, fag akan memperbanyak dirinya hingga tubuh kuman tidak sanggup lagi menampung dan pada akhirnya akan meledak.
Saat ini para ahli dari University of California, Los Angeles (UCLA) sedang meneliti lebih jauh mengenai 11 fag berbeda yang dapat membunuh kuman penyebab jerawat. Kabar baiknya, hampir semua jenis fag dapat membunuh sebagian besar jenis kuman penyebab jerawat.
Selain dengan virus fag, juga ada berbagai macam cara lain mengatasi jerawat. Bisa dengan teratur menggunakan sabun pencuci muka, makan-makanan yang menyehatkan kulit, perawatan di salon kecantikan, dan berkonsultasi/bertanya ke dokter spesialis kulit. Ada juga sedikit cerita tentang pengalaman pribadi saya mengenai penyelesaian masalah jerawat di masa pubertas akan saya kupas dalam artikel ini. Barangkali bisa menjadi tips menjadikan kulit wajah sehat bebas jerawat yang berguna untuk pembaca sekalian (aamiin).
Dulu saat memasuki usia 13 tahun (kelas 1 SMP), mulai muncul bintuk-bintik kecil di wajah saya. Namanya anak-anak, ya saya biarkan saja waktu itu. Lama-kelamaan bintik-bintik tadi bertambah banyak kemudian membesar dan saat itulah saya baru mengenal yang namanya “jerawat”. Pada waktu itu saya belum pernah memakai yang namanya sabun pencuci muka, dan belum tahu sama sekali untuk apa sabun itu. Akan tetapi, karena keterpaksaan munculnya hiasan tidak diinginkan di wajah saya ini, akhirnya saya mencoba membeli sabun pencuci muka. Coba-coba saja, entah merk apa pada waktu itu, saya juga sudah lupa. Saya pakai beberapa bulan, tetap saja hasilnya bahkan jerawat tidak hilang tetapi bertambah sehingga menjadi jerawat batu dan membekas di wajah saya. Akhirnya saya ganti merk sabun pencuci muka saat memasuki kelas 2 SMP. Dengan modal pengetahuan dari teman-teman yang sudah cocok memakai suatu merk produk, saya nekat juga membeli sabun itu. Ternyata, juga tidak memberikan efek yang berarti.
Bermula dari sabun pencuci muka, salep jerawat, krim anti jerawat, masker alami daun sirih sampai masker buatan yang tersedia di pasaran sudah saya jajal satu per satu sebagai usaha untuk menghilangkan jerawat yang mulai merayap ke area punggung. Saya sampai capek sendiri melakukan perawatan wajah dan kecantikan. Orangtua saya pun ikut mencarikan obat ke sana ke mari. Ada juga yang menyarankan agar dibawa ke dokter spesialis kulit agar kulit saya menjadi sehat dan tidak berjerawat. Tapi apa daya, kondisi keuangan keluarga saya pada waktu itu sangat pas-pasan sehingga tidak ada anggaran biaya untuk pergi ke dokter spesialis kulit.
Sampai saya kelas 3 SMP, masih belum terpecahkan juga problem jerawat ini. Alhasil pada pertengahan tahun, ayah saya bertemu dengan sales minyak-minyak alami untuk obat. Sales itu datang ke SD tempat ayah saya dinas. Dia menawarkan berbagai macam minyak untuk obat, salah satunya minyak cendana asli dari NTT untuk obat jerawat. Dia menjelaskan cara pemakaiannya cukup 2 tetes minyak cendana dicampur dengan 1 sendok makan sari bengkoang (didapat dari hasil parutan bengkoang). Setelah dicampur, dipakai masker. Dioleskan merata ke wajah saat sebelum tidur malam hari. Jangan lupa sebelum memakai masker, wajahnya dibersihkan dulu.
Akhirnya ayah saya membeli minyak cendana itu 1 botol isi 5 ml seharga Rp 25.000,00 (kira-kira 10 tahun yang lalu). Setelah itu, saya mulai mencoba rutin memakai masker minyak cendana campur sari bengkoang setiap malam menjelang tidur. Selama 1 bulan pemakaian, saya merasakan kemunculan jerawat mulai berkurang. Lalu saya lanjutkan pemakaiannya, 3 bulan kemudian, puji syukur jerawat batu saya yang besar-besar itu mulai mengecil, bekas-bekas bopeng hitam juga mulai menipis.
Genap hampir setengah tahun, saat saya memasuki SMA, saya sudah tidak memakai masker minyak cendana dan bengkoang lagi. Lagipula minyaknya sudah habis, diminta tetangga sisanya. Tetangga saya itu juga mengalami masalah yang sama dengan saya, dan kabarnya berhasil mengatasinya juga. Sejak saat itu, saya hanya memakai sabun pencuci muka biasa, tidah mahal juga, dan bebas dijual di pasaran. Betapa senangnya saya, jerawat saya sudah hilang, bekas-bekasnya juga sudah tidak ada, kulit wajah jadi sehat, kencang, halus, tidak kering. Puji syukur ke hadirat Tuhan, saya tumbuh jadi wanita yang cantik, kata orang-orang sih. Hehehe…
Nih ada contoh minyak cendananya....
Memang kadang sesekali masih muncul jerawat pada waktu menjelang menstruasi sampai selesai menstruasi. Saya pikir, wajar lah, mungkin pengaruh hormone. Asalkan munculnya tidak berlebih, hanya 1 atau 2 biji saja. Kadang juga tidak muncul sama sekali. Setelah selesai menstruasi juga hilang dengan sendirinya.
Sayangnya di sini saya tidak bisa menyertakan foto waktu wajah saya penuh jerawat, maklum saat itu saya belum mempunyai kamera HP maupun digital. Saya hanya mempunyai foto wajah saya akhir-akhir ini dan foto calon suami saya yang dulu belum memakai masker itu. Mungkin bisa dipakai sebagai gambaran singkat wajah saya yang dulu penuh jerawat.
Sampai saya lulus kuliah, kira-kira 8 tahun saya tidak menemukan dan tidak menggunakan masker minyak cendana dan bengkoang. Saya baru menemukan lagi minyak cendana di pulau Flores, salah satu pulau penghasil kayu cendana. Karena kebetulan pada tahun 2012 saya mengikuti program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) dan ditempatkan di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada sales keliling di sana yang menjual minyak cendana asli. Harganya naik tidak banyak, hanya 2x lipat dari 10 tahun yang lalu.. saya membeli 1 botol 5 ml seharga Rp 50.000,00. Agak susah juga dapatnya karena tidak dijual bebas di pasar. Produksinya juga tidak banyak seperti minyak cendana hasil olahan pabrik yang ada di toko-toko atau di swalayan dekat rumah kita.
Bulan September tahun 2013 lalu saya pulang dari NTT. Saya berikan minyak cendana itu kepada calon suami saya yang kebetulan mengalami masalah yang sama dengan masalah jerawat yang pernah saya alami. Setelah dia pakai 1 bulan, hasilnya juga lumayan. Hanya karena calon suami saya kurang telaten, memakainya tidak dicampur bengkoang, dan tidak setiap malam jadi hasilnya tidak bisa cepat terlihat.
Baru-baru ini saya pesan lagi minyak cendana asli dari NTT, lumayan untuk persediaan. Hehehe…  Demikian sekilas artikel dan cerita pengalaman singkat dari saya. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Aamiin…