Wednesday, October 16, 2013

Desa Nggalak Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai

BAB II
KONDISI OBJEKTIF DAERAH SASARAN

Daerah sasaran yang dimaksud mencakup wilayah di mana Sekolah Dasar Inpres Nggalak berada, yaitu di Desa Nggalak Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Manggarai merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan panorama alam yang mempesona. Perbukitan yang sambung menyambung dalam gugusan bukit barisan, teluk dan lautnya yang biru. Kaya akan sumber daya, dengan keragaman kesenian tradisional dan memiliki legenda yang menarik.

    Kondisi Geografis
Secara geografis wilayah Kabupaten Manggarai terletak diantara 80 LU - 80.30 LS dan 119, 300 –12, 300 BT. Terletak di bagian barat pulau Flores, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut.
Tabel 2.1 Batas-batas Kabupaten Manggarai
Sebelah Barat    Kabupaten Manggarai Barat
Sebelah Utara    Laut Flores
Sebelah Timur    Kabupaten Ngada
Sebelah Selatan    Laut Sawu

Berikut ini adalah peta administrasi Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Gambar 2.1 Peta Kabupaten Manggarai (Sumber: nttprov.go.id, diakses 3 Januari 2013)

Desa Nggalak sebelumnya merupakan salah satu bagian dari Kecamatan Reok Kabupaten Manggarai. Namun sejak ada pemekaran wilayah, Desa Nggalak menjadi bagian dari wilayah Reok Barat sejak bulan September 2012. Pemekaran wilayah ini terjadi beberapa kali. Dahulu, Desa Lemarang masih termasuk wilayah Desa Nggalak, tetapi sejak pemekaran wilayah, Desa Lemarang berdiri menjadi Desa tersendiri.
Desa Nggalak yang sekarang merupakan salah satu desa di Kecamatan Reok Barat memiliki batas wilayah, meliputi:
    Utara berbatasan dengan Desa Lemarang
    Selatan berbatasan dengan Desa Wae Kajong
    Timur berbatasan dengan Dusun Maki Desa Wae Kajong
    Barat berbatasan dengan Dusun Hawir Desa Nggilat
    
Gambar 2.2 Desa Nggalak dan lapangan Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 30 Oktober 2012)

Secara geografis, Desa Nggalak merupakan daerah berbukit kapur dengan luas wilayah ±56.400 m^2. Pemanfaatan lahan diantaranya untuk pemukiman, persawahan, perkebunan, dan pekarangan. Terdapat pula hutan dengan jenis hutan produksi.
Desa Nggalak terbagi dalam 5 dusun yaitu Dusun Nggalak, Singkul, Sambor, Mbang, dan Tureng. Tempat tugas penulis di SDI Nggalak, terletak di Dusun Nggalak. Lokasi SDI Nggalak berada di dekat pemukiman penduduk dan mata air. Di depan SDI Nggalak terdapat dua rumah dinas untuk guru-guru.
  


Gambar 2.3 Gedung SDI Nggalak dan rumah dinas guru (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 30 Oktober 2012)

Letak Desa ini sangat jauh dari kota dengan akses jalan yang masih tergolong buruk yang menyebabkan kendaraan sulit masuk sampai ke desa. Jarak tempuh Desa Nggalak menuju pusat kecamatan Reok dengan kendaraan bermotor kurang lebih 2 jam. Sedangkan menuju ibu kota kabupaten adalah 3 jam.
Akses transportasi di Desa Nggalak masih sangat buruk. Jalan utama yang sudah diaspal tidak sampai masuk Desa Nggalak, selanjutnya jalan menuju Nggalak adalah jalan berbatu yang rusak dan licin. Ada beberapa alternatif kendaraan yang dipilih untuk perjalanan menuju Desa Nggalak antara lain oto umum, oto kayu, travel dan ojek. Kendaraan umum yang menuju Desa Nggalak hanya ada satu, yaitu oto (truk angkutan penumpang) milik salah satu warga Desa Nggalak. Tetapi saat musim hujan, semua angkutan tidak bisa sampai ke Desa Nggalak, hanya sampai batas aspal.

Gambar 2.4 Oto Karya Bunga dari Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 9 Februari 2013)

Kendaraan hanya sampai di ujung batas aspal jika musim penghujan tiba sebab jalan sangat licin. Setelah itu harus orang yang ingin sampai di Desa Nggalak harus berjalan kaki melewati hutan/kebun yang bergunung-gunung sejauh ± 3 km. Atau bisa jalan kaki melewati jalan pintas di dalam hutan yang ditempuh ± 20 menit dari desa Nggalak sampai di batas aspal. Akan tetapi jalan ini sangat curam sebab di kanan kiri jalan terdapat jurang. Jalan di kampung juga masih jauh dari sempurna, jalan yang ada hanya jalan setapak dan berbatu. Namun, pada akhir bulan Agustus jalan aspal menuju Desa Nggalak akan bertambah. Hanya 1 km saja yang masih berupa jalan berbatu.

Gambar 2.5 Jalan batas aspal menuju Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 15 Juli 2013)

Di balik keterbatasan masalah transportasi itu, Desa Nggalak sebenarnya memiliki kekayaan alam yang melimpah. Selain memiliki tanah yang subur dan segala jenis tumbuhan, Desa Nggalak merupakan salah satu daerah penghasil mangaan. Saat musim kemarau, banyak pengusaha yang datang ke Nggalak untuk menggali/menambang mangaan. Bukan hanya pengusaha dalam negeri, bahkan sampai pengusaha luar negeri. Akan tetapi akhir-akhir ini terdapat pertentangan pendapat untuk izin penambangan di Desa Nggalak sehingga kegiatan penambangan ini dihentikan sementara.


Gambar 2.6 Mobil Estrada untuk eksplorasi tambang mangaan (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 24 Oktober 2012)

Namun, saat ini mulai muncul harapan baru dengan adanya pemekaran Kecamatan Reok menjadi dua bagian yaitu Reok dan Reok Barat yang berpusat di Wae Kajong. Dengan adanya pemekaran ini Desa Nggalak masuk dalam wilayah kecamatan Reok Barat yang memungkinkan terjadi perubahan dan perbaikan di segala bidang karena letak Desa Nggalak dekat dengan pusat kecamatan.
Desa Nggalak masih belum memperoleh aliran listrik dari PLN maupun air dari PAM, sehingga pasokan listrik untuk Desa Nggalak diadakan dengan menggunakan mesin diesel. Untuk air bersih masyarakat Desa Nggalak mengandalkan kran air yang dibangun dari dana PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri dan mata air yang ada di dekat SDI Nggalak. Sebenarnya sampai sekarang, masyarakat Desa Nggalak masih mengalami keterbatasan sarana MCK di rumah-rumah (Mandi Cuci Kakus) karena air bersih yang ada harus mengambil di mata air, belum dialirkan ke rumah-rumah. Air di Desa Nggalak juga mengandung zat kapur, jadi perlu ada penyaringan jika akan mengkonsumsi air dari mata air di desa Nggalak.


Gambar 2.7 Mata air di Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 6 Februari 2013)
Untuk akses komunikasi dan internet, hanya di sekitar lapangan Desa dan rumah-rumah warga di pinggir jalan masuk desa yang bisa dijangkau signal. Itupun terbatas hanya beberapa/tidak penuh signalnya. Di rumah-rumah warga yang ada signal tersebut, bisa ada signal caranya dengan menenpelkan HP di dinding kayu atau kaca jendela rumah.



    Kondisi Demografis
Desa Nggalak Kecamatan Reok Barat Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah yang bisa dikatakan tergolong daerah  3T (terdepan, terluar, tertinggal). Desa Nggalak merupakan daerah di ujung utara Kabupaten Manggarai dengan jumlah penduduk sebanyak 1423 orang yang terdiri dari 347 keluarga. Jumlah ini berdasarkan data penduduk bulan Juli tahun 2012. Rincian jumlah penduduk Desa Nggalak dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Data Penduduk Desa Nggalak Per Bulan Juli 2012
NO    NAMA DUSUN    JUMLAH KK    LK    PR    TOTAL
1    NGGALAK    93    167    175    342
2    SAMBOR    95    199    224    423
3    TURENG    65    139    130    269
4    SINGKUL    48    91    97    188
5    MBANG    46    108    94    202
    JUMLAH    347    703    720    1423

Sampai laporan ini disusun, belum ada penghitungan penduduk lagi di Desa Nggalak. Sehingga data yang penulis dapat adalah data terakhir pada bulan Juli 2012. Rencananya, secepatnya akan ada pembaruan data penduduk.

Gambar 2.8 Penduduk Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 11 Januari 2013)

    Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Berikut ini saya uraikan mengenai kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Desa Nggalak.
    Kondisi sosial
Di Desa Nggalak terdapat kelompok-kelompok tani (Poktan) pada masing-masing Dusun. Ada 6 kelompok yang terdiri dari Poktan Wae Welak, Poktan Sambor 1, Poktan Sambor 2, Poktan Tureng, Poktan Singkul, dan Poktan Nggalak. Selain Poktan ada juga OMK (Orang Muda Katolik), yaitu sebuah organisasi remaja yang berkecimpung di bidang keagamaan Katolik. Organisasi di bawah pimpinan Kakak Mikael ini sudah mengadakan berbagai kegiatan, diantaranya yaitu koor, quis, kebersihan lingkungan gereja, kelompok doa setiap hari Minggu, dan pementasan seni drama untuk tahun baru.
Terdapat 5 Rukun Tetangga (RT) dan 1 Rukun Warga (RW) untuk Dusun Nggalak. Rincian nama ketua RT dan RW Dusun Nggalak dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Daftar Ketua RT dan RW Dusun Nggalak
NO    JABATAN    NAMA
1    Ketua RT 1    Aleks Jemadin
2    Ketua RT 2    Alfons Jano
3    Ketua RT 3    Leonardi Jemadu
4    Ketua RT 4    Patri Husen
5    Ketua RW 1    Yosef Tulung

Dalam bidang kesehatan Desa Nggalak telah ditunjang oleh Pustu (Puskesmas Pembantu) tetapi pemanfaatannya belum maksimal karena keterbatasan obat-obatan yang disediakan. Ada juga kegiatan posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) di pustu untuk balita yang diadakan di pustu setiap bulan pada tanggal 19 atau 20.

Gambar 2.9 Puskesmas Pembantu Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 7 Februari 2013)

    Kondisi ekonomi
Masyarakat Desa Nggalak pada umumnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Mereka memiliki sawah, ladang, dan kebun yang diperoleh dari pembagian warisan maupun dari hasil jerih payah mereka sendiri untuk membeli lahan.
Sawah yang berada di Dusun Singkul adalah sawah yang paling baik pengairan/irigasinya. Hal ini disebabkan sumber air yang tersedia melimpah sepanjang tahun di dusun tersebut sehingga petani yang tergabung dalam kelompok tani Nggalak ini mampu menghasilkan panen sebnyak tiga kali per tahun dari sawah yang mereka miliki. Hasil panen tersebut sebagian dikonsumsi sendiri, dan sebagian lainnya mereka jual di pasar Reok.
    
Gambar 2.10 Sawah dan pengairannya di Dusun Singkul Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Kelompok Tani Nggalak, 14 Januari 2013)

Sedangkan kondisi pertanian di Dusun lain, tidak sebaik di Dusun Singkul sebab kondisi pengairannya hanya bergantung pada air hujan. Keadaan ini yang menjadikan ladang mereka hanya berproduksi sekali setahun yaitu saat musin hujan tiba. Hasil panen mereka tidak dijual, melainkan dikonsumsi sendiri untuk persediaan selama satu tahun. Jika persediaan padi mereka habis, mereka akan membeli dari petani lain yang menjual hasil panennya.
Jika musim hujan tiba, orang tua, dewasa, dan anak-anak akan berbondong-bondong bekerja di sawah secara gotong-royong bersama keluarga mereka. Ada juga yang kerja harian dengan bayaran Rp 10.000,00 untuk anak-anak yang bekerja dari pagi sampai sore hari dan Rp 7.000,00 untuk anak-anak yang bekerja dari siang sampai sore hari. Sedangkan untuk orang dewasa perempuan, diberi upah Rp 20.000,00 per hari dan Rp 25.000,00 per hari untuk orang dewasa laki-laki.

Gambar 2.11 Warga beristirahat setelah bekerja di sawah (Sumber: Dokumentasi Kelompok Tani Nggalak, 14 Januari 2013)

Pengolahan sawah dan ladang di Desa Nggalak sudah cukup maju, mereka menggunakan traktor untuk membajak sawah. Pada awalnya mereka masih menggunakan kerbau, tetapi setelah ada traktor mereka mulai menggunakan traktor untuk membajak sawah-sawah mereka.


Gambar 2.12 Penggunaan traktor untuk membajak sawah (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 30 Januari 2013)
Selain pertanian, masyarakat Desa Nggalak juga mempunyai perkebunan. Akan tetapi tidak semua warga memiliki kebun pribadi. Banyak di antaranya yang bekerja pada kebun orang lain dengan upah harian. Perkebunan yang ada di Desa Nggalak di antaranya yaitu, kebun kemiri, kopi, dan kakao/coklat. Kebun kemiri tersebar hampir di seluruh wilayah desa, akan tetapi, kebun kopi dan coklat hanya terdapat di Dusun Mbang.
    

Gambar 2.13 Kebun kemiri dan penjemuran kemiri (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 30 Oktober 2012)

Saat musim hujan usai, dan datang musim kemarau, saat itulah masyarakat beralih pekerjaan menuju kebun. Mereka memanen hasil-hasil kebun tersebut pada musim kemarau. Mereka mengambil kemiri, memetik kopi, serta coklat. Ada juga beberapa warga yang membuat gula dari pohon aren untuk dijual ke pasar dengan harga per batang Rp 5.000,00.

Gambar 2.14 Pengolahan gula dari pohon aren/enau (Sumber: Dokumentasi pribadi, 20 Januari 2013)

Ada juga  beberapa tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai penghasilan tambahan seperti pohon kelapa, pisang, cendana, lamtoro, dan berbagai jenis sayur-sayuran. Akan tetapi warga tidak menjualnya, mereka mengkonsumsi sendiri hasilnya dan membagi-bagikan kepada tetangga sekitar yang membutuhkan.
Selain sebagai petani dan buruh tani, sebagian kecil masyarakat mempunyai profesi lain seperti guru, perangkat desa, sopir, dan sebagainya. Namun demikian, meski sudah memiliki profesi tersendiri, warga tersebut juga masih menjadi petani di sawah, ladang, dan kebun sebagai hasil sampingannya.
Kondisi ekonomi masyarakat pada umumnya masih tergolong rendah. Penghasilan rata-rata yang diperoleh dari data walimurid SDI Nggalak, mayoritas (90%) berpenghasilan di bawah 1 juta per bulan.
    Kondisi budaya
Pembentukan Desa Nggalak ini hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, selebihnya penduduk Nggalak adalah pendatang dari Minangkabau dan wilayah-wilayah lain di Manggarai. Oleh karena itu, adat, budaya dan bahasa banyak dipengaruhi oleh adat budaya Manggarai pada umumnya.
Terdapat sebuah rumah adat (rumah gendang) yang biasa digunakan untuk merayakan acara-acara adat di Desa Nggalak. Ada pula sebuah gereja di depan rumah adat tersebut. Di desa Nggalak ini hanya ada 1 gereja sebagai tempat peribadatan warga sebab seluruh warga menganut agama katolik.

Gambar 2.15 Rumah Gendang Desa Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 18 Januari 2012)

Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Manggarai. Orang-orang tua di Desa Nggalak sudah memahami Bahasa Indonesia namun ada sebagian di antaranya yang hanya mengerti tapi sulit untuk mengungkapkan maksudnya dalam bahasa Indonesia.
Ada beberapa acara adat yang pernah penulis ikuti, yaitu pada waktu kedatangan penulis di Desa Nggalak, acara pernikahan warga (roko), syukuran rumah baru, kurang bekal (tungku bokong), dan hang woja (makan padi). Saat ada orang baru/penduduk baru yang memasuki wilayah desa, maka akan diadakan acara penyambutan dengan memberikan ayam dan tuak/bir (secara simbolik) kepada orang baru tersebut sebagai ucapan selamat datang.

Gambar 2.16 Pemberian ayam dan bir sebagai ucapan selamat datang kepada penduduk baru (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 20 Oktober 2012)

Selain acara penyambutan penduduk baru, ada juga acara pernikahan warga. Dalam acara ini juga menggunakan ayam untuk acara adatnya, ada juga acara injak telur seperti adat Jawa. Acara yang disebit roko ini menandakan bahwa mempelai wanita harus meninggalkan segala kebiasaan dan adat lamanya di daerah asal, dan menerima adat baru di daerah yang akan ditempatinya bersama suami.
Uniknya, ada belis yang harus diberikan kepada pihak keluarga wanita. Belis ini berupa uang tunai dengan jumlah yang telah diminta keluarga wanita, mulai dari 50 juta, sampai 300 juta atau lebih tergantung tingkat pendidikan mempelai wanita, nasab/keturunan mempelai wanitanya, dan kemampuan pihak keluarga mempelai laki-laki untuk membayarnya. Selain belis, masih ada hewan-hewan ternak yang harus diberikan kepada pihak keluarga perempuan berupa kerbau, sapi, kuda, atau kambing. Jumlahnya juga berdasarkan permintaan keluarga wanita.
    
Gambar 2.17 Acara roko (adat pernikahan di Manggarai) (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 23 Oktober 2012)

Belis ini mempunyai dampak positif dan negatif bagi mereka. Dampak positifnya, hubungan keluarga akan tetap terjalin. Karena jika belis belum lunas, maka laki-laki akan tetap mempunyai hutang untuk membayar belis. Hal inilah yang menyebabkan hubungan kekeluargaan akan tetap berlanjut. Sedangkan dampak negatifnya, karena jumlah uang yang dikeluarkan untuk melangsungkan pernikahan sangat banyak, menyebabkan sebagian laki-laki malas bekerja karena mereka menganggap sudah mengeluarkan banyak uang sehingga istrilah yang harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, mereka baru menikah jika sudah mempunyai anak karena pihak keluarga laki-lakinya baru sanggup membiayai pernikahan setelah beberapa tahun pasangan itu menjalin hubungan.
Besarnya biaya pernikahan ini juga membuat pihak laki-laki sering mengeluh tidak bisa cepat kaya dalam arti mempunyai banyak harta. Sebab uang mereka telah habis untuk membiayai pernikahan dan acara-acara adat lainnya.
Selain belis, ada juga uang yang harus dibayar laki-laki kepada kelurga wanita setelah menikah yaitu saat ada keluarga pihak wanita ini yang menikah. Atau bisa juga jika ada keluarga wanitanya ini yang meninggal, mendapat musibah/bencana, dan sakit. Jumlah uangnya ditentukan oleh pihak keluarga wanita. Budaya ini telah ada turun-temurun sejak nenek moyang mereka ada dan masih berkembang hingga sekarang.
Adat lain yang tidak kalah unik adalah acara tungku bokong yang diartikan kurang bekal. Ritual ini bertujuan untuk memperpanjang usia seseorang. Jika ada orang yang sering sakit, atau ada yang mendapat mimpi yang janggal, biasanya orang inilah yang akan dimintakan panjang usianya. Karena orang Manggarai percaya bahwa orang seperti ini tidak panjang usianya. Tidak semua orang yang mengadakan acara ini, karena hanya orang-orang tertentu yang telah dilihat secara gaib juga oleh paranormal yang harus mengadakan acara. Dalam acara ini, ayam putih dan tali adalah hal utama yang harus disediakan. Untuk selanjutnya, waktu pengadaan acara haruslah pada malam bulan purnama.
Acara adat yang tergolong besar adalah Hang Woja atau  penti. Acara ini diadakan setiap tahun tanggal 4-5 Juli. Tujuannya adalah ucapan syukur kepada Tuhan YME atas berkah limpahan hasil alam kepada penduduk desa. Acara ini diikuti 7 suku yang ada di Desa Nggalak.
Hang woja dibuka dengan penyambutan para undangan. Para stickholder atau pemuka-pemuka di desa adalah undangannya. Setelah acara penyambutan dengan pemberian tuak dan ayam, maka akan diadakah acara keliling untuk berdoa di mata air, lodog, kebun kemiri, dan pemakaman. Pada waktu acara inti, kepala suku akan berbicara kata-kata pengantar dalam bahasa Manggarai dengan memegang ayam jantan. Pendamping kepala suku berdiri di sampingnya untuk membawa beras dalam piring. Kemudian saat gong dan kendang dipukul, kepala suku akan mencabut beberapa bulu di leher ayam dan pendampingnya menaburkan sedikit  beras ke depan. Demikian seterusnya sampai masing-masing kepala suku mendapatkan gilirannya.

Gambar  2.18 Acara Adat Hang Woja/Penti (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 5 Juli 2013)

    Kondisi Pendidikan
Masyarakat Desa Nggalak masih tergolong rendah tingkat pendidikannya karena sebagian besar penduduknya adalah tamatan SD (>80%) dan sisanya merupakan tamatan SMP, SMA dan perguruan tinggi. Bahkan ada penduduk yang tidak lulus SD. Di Desa Nggalak hanya terdapat 1 sekolah yaitu SDI Nggalak, tempat penulis bertugas. Di Desa Nggalak belum ada SMP, SMA, dan PAUD. Jika ada penduduk yang ingin menyekolahkan anaknya di PAUD dan SMP, anak-anak itu harus bersekolah di Desa Wae Kajong (rencananya di desa ini akan dijadikan pusat Kecamatan reok Barat) atau di Kecamatan Reok. Karena di Desa Wae Kajong sudah ada PAUD Santo Bernadus dan SMP Negeri 2 Reok. Jika mereka ingin melanjutkan sekolah ke SMA, mereka harus bersekolah ke Desa Loce, yaitu di SMA Negeri 1 Reok atau sekolah lainnya yang sederajat. Ada juga anak-anak yang melanjutkan sekolahnya di luar daerah, seperti di Labuhan Bajo atau di Ruteng. Namun kebanyakan mereka bersekolah di SMA N 1 Reok.
Kondisi sekolah SDI Nggalak masih jauh dari standar Nasional. Karena berada di daerah 3T, sekolah ini termasuk sekolah yang butuh perhatian banyak agar bisa berkembang lebih baik. SDI Nggalak hanya memiliki 2 guru PNS yang terdiri dari 1 kepala sekolah dan 1 guru, ada 3 guru komite/honorer, dan 1 guru SM-3T. Jadi totalnya ada 6 guru di sekolah ini.
Tabel 2.4 Data Guru dan Karyawan SDI Nggalak
NO    NAMA / NIP    JABATAN
1    Perkadis Jon, S.Pd.
NIP 196510031999031003    Kepala Sekolah
Guru PAK & Mulok Kelas VI
2    Habensius Ngati
NIP 196606081999031003    Walikelas I
Walikelas II
3    Matildis Diduk, A.Ma.Pd.
NIP -    Walikelas III
4    Elisabet Pamun, A.Md.
NIP -    Walikelas IV
5    Yohanes Manti, A.Ma.Pd.
NIP -    Walikelas VI
6    Aminnatul Widyana, S.Pd.
NIP -    Walikelas VI
Guru SM-3T

Keadaan gedung SDI Nggalak ada yang masih bagus, ada juga yang sudah tidak layak pakai. Ruang kelas I, II, V, dan VI, masih dalam keadaan layak pakai. Namun ruang kelas III dan IV keadaannya sangat memprihatinkan karena sudah 20 tahun belum direhabilitasi sedangkan bangunanya hanya terbuat dari papan kayu dan seng. Kondisi jendela sudah pecah dan pintu sudah rusak. Lantainya tidak ada karena hanya tanah dan batuan saja, belum disemen. Jika musim hujan tiba, pada malam hari sering dipakai tidur hewan-hewan liar di dalamnya seperti sapi, kuda, dan ular. Namun sekarang, pagar kayu di sekeliling sekolah sudah diperbaiki sehingga sapi dan kuda sudah tidak bisa masuk di sekolah.
Selain hewan-hewan bisa masuk ke dalam ruang kelas, air pun akan masuk ke dalam jika hujan turun sebab atap seng yang ada sudah berlubang-lubang, pintu dan jendelanya juga tidak ada. Sehingga air masuk melalui atap dan jendela yang terbuka.

Gambar 2.19 Kondisi di ruang kelas yang rusak saat hujan tiba (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 12 Januari 2013)

Meskipun kondisi gedung kurang memadai, namun media pembelajaran dan perpustakaan untuk menunjang pembelajaran tersedia di SDI Nggalak. Media pembelajaran cukup lengkap, mulai dari media untuk IPA, IPS, matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Media ini berupa KIT IPA, kit matematika, kit matematika dari Esis, CD pembelajaran, globe, atlas, alat-alat peraga, dan lain-lain.

Gambar 2.20 Media pembelajaran di SDI Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 4 Februari 2013)

Tidak semua sekolah di daerah 3T mempunyai perpustakaan. Namun tidak demikian dengan SDI Nggalak, di sini terdapat perpustakaan yang cukup lengkap buku-bukunya untuk penunjang pembelajaran. Mulai dari buku pelajaran, buku-buku penunjang, buku pengetahuan umum, bahasa dan sastra, cerita fiksi, cerita nonfiksi, buku bahasa Inggris, dan lain-lain. Perpustakaan ini baru saja diresmikan tahun 2012. SDI Nggalak mendapat sumbangan dari PNPM Mandiri (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) untuk membangun gedung perpustakaan lengkap dengan buku-bukunya. Sebelum ada perpustakaan baru, SDI Nggalak menempatkan buku-buku lama di sebelah ruang guru. Jadi 1 ruang mempunyai 3 fungsi, sebagai ruang guru dan kepala sekolah, ruang perpustakaan, dan ruang komputer.
   

Gambar 2.21 Perpustakaan lama dan perpustakaan baru SDI Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 9 November 2012)

SDI Nggalak mempunyai 1 perangkat komputer untuk menjalankan administrasi di sekolah. Namun karena belum ada listrik masuk Desa Nggalak, komputer ini baru bisa dipakai jika mesin diesel dinyalakan. SDI Nggalak juga memiliki 1 mesin diesel untuk digunakan menyalakan komputer sekolah.

Gambar 2.22  Seperangkat komputer milik SDI Nggalak (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 9 November 2012)

Pada tahun pelajaran 2012/2013 sampai 2013/2014, SDI Nggalak memiliki peningkatan jumlah siswa dari 108 siswa menjadi sejumlah 116 siswa. Terdiri dari 25 siswa kelas I, 27 siswa kelas II, 27 siswa kelas III, 12 siswa kelas IV, 10 siswa kelas V, dan 15 siswa kelas VI. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.5 Data Jumlah Siswa SDI Nggalak
NO    KELAS    JUMLAH SISWA    JUMLAH
        L    P   
1    I    13    12    25
2    II    16    11    27
3    III    19    8    27
4    IV    6    6    12
5    V    2    8    10
6    VI    5    10    15s
    JUMLAH    61    55    116