Friday, May 11, 2012

Memahami ‘Jenis’ Kecerdasan Anak Didik


Sebagai pendidik di sekolah, pasti kita juga merasa bertanggung jawab terhadap keselamatan anak didik. Kita akan merasa cemas jika melihat mereka berlarian menyeberang di jalan raya, melompati pagar sekolah dan jendela-jendela kelas, bermain-main di lingkungan yang ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermotor, serta masih banyak lagi kekhawatiran yang muncul ketika mereka berulah. Kadang tanpa sadar kita akan segera melarang mereka ini itu atau bahkan langsung memarahi mereka.
Begitu pula di dalam kelas, sering kita menjumpai seorang anak yang asyik memainkan meja dan alat tulisnya sehingga menghasilkan irama yang gaduh, atau kita jumpai seorang anak yang lebih menyukai berkeliling kelas dan bermain-main daripada duduk diam dan menulis serta mangarjakan tugas. Sering pula kita jumpai seorang anak yang senang menyanyikan lagu-lagu kesukaan mereka sambil beraktivitas. Kemudian di lain pihak ada juga yang lebih suka duduk manis dan mengerjakan tugas bersama teman-temannya dan menggerombol membentuk kelompok sendiri.
Selain itu, pernah pula penulis jumpai seorang anak yang hobi menirukan tingkah guru. Misalnya pada waktu guru memberikan contoh gerakan berenang seekor ikan, dia akan langsung berkomentar dan menirukan apa yang dilakukan gurunya. Hal-hal di atas kadang disikapi guru dengan kasar dan tidak jarang guru langsung memotong aktivitas mereka begitu saja. Mereka langsung diminta diam di tempat duduk dan melanjutkan tugas mereka.
Sikap seperti ini tidak salah jika memang diperlukan. Seperti pada waktu guru akan memberikan penjelasan dan butuh konsentrasi maksimal dari anak untuk memahami apa yang akan disampaikan oleh guru. Atau pada waktu ada seorang anak yang bertanya kepada guru dan meminta penjelasan lebih lanjut mengenai materi pembelajaran. Bisa juga dilakukan jika sedang dilakukan evaluasi pembelajaran dan dibutuhkan suasana yang tenang untuk menyelesaikan soal-soal.
Akan tetapi alangkah jahatnya jika dalam suasana santai, misalanya pada waktu istirahat atau pada waktu mereka ingin  menghilangkan kejenuhan belajar, tiba-tiba keasyikan mereka dihentikan disertai amukan dari guru. Ada kalanya seorang anak bermain dengan alat tulisnya dan hal itu mendapat respon positif dari teman-temannya. Hal ini karena memang permainan olah suaranya bagus. Sehingga tanpa sadar seisi kelas akan mendengarkan dan menikmati suara-suara yang dihasilkan alat tulis seorang teman mereka tadi.
Atau pada waktu tugas yang diberikan oleh guru telah diselesaikan oleh beberapa anak, dan mereka merasa jenuh jika harus menunggu teman-temannya. Kemudian mereka melakukan kegiatan bersalto-ria di sebelah tempat duduk mereka. Kegiatan seperti ini bisa mengganggu kegiatan belajar mengajar tapi bisa pula tidak. Bahkan dengan kegiatan seperti ini, positifnya adalah tanpa sadar mereka mulai berlatih materi-materi dalam ilmu olahraga.
Akan sering pula kita jumpai beberapa anak yang belum selesai mengerjakan tugasnya akan tetapi mereka sudah berlalu-lalang mengganggu teman-teman mereka dengan mengajaknya berbicara, bercanda, bahkan jika dia termasuk anak yang usil bisa saja dia akan mengganggu lebih parah lagi. Seperti menggelitik temannya, mencolek-colek temannya, atau menendang-nendang tempat duduk temannya. Kegiatan anak semacam ini tentu sangat mengganggu dan membuat anak lain merasa tidak nyaman belajar.
Sebenarnya jika ditinjau dari karakteristik anak usia Sekolah Dasar, perilaku-perilaku seperti yang dicontohkan tadi bukanlah termasuk perilaku-perilaku menyimpang. Adapun karakeristik dan kebutuhan mereka dapat dibahas sebagai berikut.
a) Senang bermain, karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan, lebih–lebih untuk kelas rendah.
b) Senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
c) Senang bekerja dalam kelompok, di sini anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya di lingkungan, belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olah raga, serta belajar keadilan dan demokrasi. Hal ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok.
d) Senang merasakan atau memperagakan sesuatu secara langsung. Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Siswa mulai membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, peran jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Satu hal lagi yang perlu diingat adalah, bahwa setiap anak sebenarnya telah dikaruniai kecerdasan oleh Tuhan. Seperti yang dikemukakan oleh Gardner, ada delapan kecerdasan yang dikenal dengan sebutan multiple intelegensi. a) Kecerdasan linguistik (tata bahasa); b) Kecerdasan matematis-logis; c) Kecerdasan kinestetis-jasmani; d) Kecerdasan musical; e) Kecerdasan interpersonal (antarpribadi); f)Kecerdasan intrapersonal (intrapribadi); g) Kecerdasan naturalis; h) Kecerdasan spasial. Mari kita pahami lebih lanjut, termasuk anak yang memiliki kecerdasan apakah mereka?