Sunday, July 24, 2011

SOSIALISASI NILAI-NILAI DALAM KEPRIBADIAN DAN ORGANISASI SOSIAL

BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Nilai-Nilai Di dalam bahasa inggris istilah ini mempunyai banyak konotasi. Istilah nilai itu berelavansi dengan sesuatu ilmu tertentu. Yang dipikirkan oleh para sosiolog adalah nilai-nilai sosial. Nilai sosial tersebut dapat didefinisikan sebagi “suatu kesadaran plus emosi yang relative lama hilangnya terhadap suatu obyek , gagasan, atau orang”. Robin William menyebutkan empat buah kualitas dari nilai-nilai, yaitu sebagai berikut: 1. Nilai-nilai itu mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebihmendalam dibandingkan dengan hanya sekedar sensasi, emosi, atau kebutuhan. Dalam pengertian ini, nilai dapat dianggap sebagai abstraksi yang ditarik dari pengalaman-pengalaman seseorang. 2. Nilai-nilai itu menyangkut atau penuh dengan semacam pengertian yang memiliki suatu aspek emosi. Emosi boleh jadi tidak diutarakan dengan sebenarnya tetapi selamanya ia merupakan suatu potensi. 3. Nilai-nilai bukanlah merupakan tujuan kongkrit daripada tindakan, tapi ia mempunyai hubungan dengan tujuan. Sebab nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai kriteria dalam memilih tujuan-tujuan tadi. Seseorang akan berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut pandangannya mempunyai nilai-nilai. 4. Nilai-nilai tersebut merupakan unsure penting dan sama sekali tidak dapat diremehkan bagi orang yang bersangkutan. Dalam kenyataan terlihat bahwa nilai-nilai tersebut berhubungan dengan pilihan dan pilihan itu merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan. William selanjutnya menambahkan bahwa nilai-nilai sosial dijunjung tinggi oleh banyak orang. Melalui consensus yang efektif dikalangan mereka, nilai-nilai tersebut dipandang sebagai hal yang menyangkut kesejahteraan bersama. Ditlik dari pengertian ini, bisa terjadi nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi oleh seseorang individu atau kelompok identik atau tidak identik dengan nilai-nilai etika atau moral. Yang dimaksudkan dengan nilai-nilai etika atau moral adalah ketentuan-ketentuan atau cita-cita dari apa yang dinilai baik atau benar oleh masyarakat luas. Keyakinan atau kepercayaan seringkali dikacaukan pengertiannya dengan nilai-nilai. Keduanya memang erat hubungannya. Keyakina itu tak perlu harus dibuktikan kebenarannya secar empiris. Nilai-nilai biasanya dating dari keyakinan. Perbedaan pokok antara nilai dengan keyakinan dapat dikatakan seperti demikian. Keyakinan merupakan pikiran-pikiran tentang hal-hal yang dipandang sebagai fakta-fakta orang-orang yang mengetahuinya tak akan berani menentangnya. Nilai-nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan ataupun tidak diinginkan, atau tentang apa yang boleh atau tidak boleh ada. Gouldner dan Gouldner telah menyusun suatu daftar keyakinan dan niali-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat USA; daftar tersebut amat membantu untuk memahami perbedaan antara kedua istilah tersebut. Keyakinan Nilai - Orang yang berambut merah, mudah sekali marah. - Pendidikan perguruan tinggi suatu hal yang perlu untuk mendapatkan pekerjaan baik (terhormat/layak). - Kecepatan mengemudikan kendaraan yang terlalu tinggi bisa mendatangkan kecelakaan. - Benda-benda berada di tempatnya karena hukum gaya berat. - Mahasiswa kadang-kadang berbuat curang saat ujian. - Amerika Serikat merupakan sebuah negara demokrasi. - Orang harus bisa menahan diri. - Pendidikan perguruan tinggi suatu hal yang baik. - Orang tidak boleh melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan hukum. - Manusia ingin menyelidiki angka luas. - Berbuat curang itu salah. - Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang baik. B. Tingkatan-Tingkatan Nilai-Nilai Sosial Arnold Green telah membuat sebuah klasifikasi yang abik untuk memahami susunan nilai-nilai di dalam kepribadian. Ia membedakan tiga macam tingkatan susunan nilai, yaitu perasaan (sentimen) yang abstrak, norma-norma moral, dan keakuan atau kedirian sebagai suatu nilai sosial. Ketiga-tiganya ditemukan di dalam kepribadian seseorang. Masing-masing tingkatan dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut. 1. Perasaan (sentimen) yang Abstrak Bangsa Amerika dan bahkan anggota-anggota dari setiap masyarakat. Kesemuanya memiliki gagasan-gagasan yang tak ada hubungannya dengan langkah-langkah tindakan terarah menuju sasaran-sasaran kongkrit. Gagasan-gagasan ini dapat dikatakan sebagai perasaan-perasaan (sentimen) yang sifatnya abstrak. Pentingnya perasaan abstrak, itu timbul dari kenyataan bahwa perasaan tersebut dipakai sebagai suatu landasan bagi orang-orang untuk membuat keputusan dan sebagai standard untuk tingkah laku kelompok. Perasaan-perasaan itu juga merupakan alat-alat yang mudah dipakai oleh seorang individu atau kelompok dalam membenarkan atau mengesahkan sesuatu yang mereka ingin lakukan (tingkah laku). Dalam kenyataannya, banyak perasaan abstrak itu yang sifatnya kontradiktif. Kebanyakan manusia dengan cepat akan menoleh kepada perasaan yang membenarkan kepentingan sendiri pada saat itu, tidak peduli apakah perasaan-perasaan itu nertentangan atau yidak dengan pendirian yang sudah diambil sebelumnya. Lazimnya konflik-konflik pada perasaan abstrak manusia itu mengabaikan konsistennannya, yang itu bisa menghancurkan kepribadian. Sebab seseorang bisa memisah-misahkan jalan pikiran dan tingkah lakunya menjadi bagian-bagian kecil. Yang terakhir itu terjadi mungkin karena dua macam sebab, yaitu: • Tingkah laku seseorang pada saat itu sesuai dengan norma-norma kelompok masyarakat yang ditempati, dan • Masyarakat setempat berfungsi dengan cara sedemikian rupa sehingga membuat perasaan-perasaan kontradiktif itu dipandang benar atau logis dan itu termasuk cara-cara hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu. Sebagai contoh kebanyakan bangsa memiliki perasaan menentang pembunuhan diwaktu yang damai, tapi di waktu perang akan sangat diagungkan pembunuhan itu. Perubahan konteks sosial itu memberikan suatu jalan pelepasan bagi kepribadian seseorang individu. 2. Norma-Norma Moral Norma-norma moral merupakan standard-standard tingkah laku yang berfungsi sebagai kerangka patokan (frame of reference) interaksi sosial. Juga sudah dikemukakan bahwa folkways, mores, adat istiadat serta hukum yang berlaku, kesemuanya itu merupakan bagian dari norma-norma tersebut. Norma-norma sebagai salah satu bagian dari susunan kepribadian seseorang, ia dapat ditinjau dari sudut lain, walaupun bukan dari sudut yang terpisah sama sekali. Yaitu sebagai reaksi seseorang terhadap tuntutan kelompok maka, ia beraksi demi kepentingan kelompok itu. Individu lebih menyadari norma-norma moral sebagai bagian dari konsepsi dirinya dibandingkan dengan kesadarannya terhadap perasaan-perasaan yang bersifat abstrak. Sebab norma-norma moral itu menggambarkan tuntutan-tuntutan khusus yang mendesak dari pihak kelompok, yaitu agar ia bertindak menurut suatu cara tertentu.pada kebanyakan peristiwa, kontradiksi-kontradiksi itu diabaikan begitu saja di dalam diri seseorang, dengan jalan melakukan semacam pengelompokkan atas bagian-bagian kepribadian. Tidak boleh dilupakan bahwa orang yangintelek lebih besar kemungkinannya untuk terganggu pikirannya oleh norma-norma yang saling bertentangan itu. Kenyataan ini sangat membantu untuk menjelaskan apa sebabnya beberapa orang intelek bersifat aktif untuk memperjuangkan reformasi keadaan sosial, dan pada waktu yang sama memberikan suatu landasan untuk memahami apa sebabnya orang-orang seperti mereka itu menderita kegoncangan pikiran tertentu. Di satu pihak, orang biasa atau orang kebanyakan akan mengabaikan atau berusaha melupakan segala macam pertentangan serta ketidaksesuaian yang terdapat di dalam tingkah lakudirinya sendiri maupun tingkah laku kelompoknya, dan sebaliknya, di dalam diri si orang intelek mungkin timbul semacam perasaan malu atau bersalah. Pokok penting disini bahwa norma-norma-norma moral menduduki suatu tempat utama di dalam pola pembentukan corak kepribadian. 3. Kedirian Sebagai Suatu Nilai Sosial Tingkatan nilai yang ketiga yang mungkin paling penting di dalam pembentukan kepribadian itu ialah kedirian (self). Konsepsi kedirian itu tidak pernah seratus persen timbul dari evaluasi-evaluasi orang lain. Walaupun demikian, ada suatu usaha yang terus menerus untuk menimbulkan suatu kesan yang menguntungkan sehingga dengan begitu akan memperbesar pentingnya nilai kedirian itu. Sehubungan dengan ini, konsepsi kedirian itu tetap menjadi pokok pikiran yang nomor satu dari setiap orang sepanjang hidupnya. Karena kenyataan inilah tingkah laku individu itu berhubungan erat dengan kedirian itu sebagai nilai sosial. Bila individu bertingkah laku menurut harapan-harapan kelompok masyarakat, mereka itu akan diterima dengan terbuka, dipuji, atau mungkin diberi ganjaran segala, yang semuanya itu akan memperbesar ego orang itu. pembaca hendaknya jangan menyimpulkan gambaran dari kedirian ini sebagai suatu nilai di dalam tingkah laku yang berarti bahwa seseorang itu tidak bisa memiliki idealism sosial yang sejati. Kenyataanya adalah bahwa sebab atau alasan yang mendorong tindakan semacam itu haruslah dicari di dalam nilai-nilai dari kelompok masyarakatnya. Dengan kata lain, cita-cita perjuangan dari kelompok itu akan dikobarkan melalui pengorbanan dari individu tadi, yang tidak akan pernah terjadi seandainya orang tadi tidak memiliki konsepsi tentang dirinya sebagai orang yang akan diagung-agungkan sebagai tokoh penjunjung yang paling tinggi dari moralitas kelompok. C. Ciri-Ciri Dari Nilai-Nilai Ada beberapa cara nilai itu dapat ditetapkan cirri-cirinya, luar sifatnya sebagai folkways, mores, dan hukum kemasyrakatan. Nilai-nilai itu janganlah dipandang bersifat dikotomis yaitu, memiliki bagian-bagian atau kelas-kelas yang dengan jelas terpisah antara satu dengan yang lain. Sebaliknya, nilai-nilai itu hendaknya dipandang berbeda di dalam taraf intensitasnya, dan berada dalam suatu ruang lingkup mulai dari yang ekstrim positif sampai ekstrim negative. 1. Nilai-Nilai yang Tercenakan Meskipun pada kenyataannya nilai-nilai itu dipelajari, banyak daripada bisa menjadi suatu bagian dari kepribadian bawah sadar (subconscious personality).pada tingkatan ini nilai-nilai tersebut merupakan suatu landasan bagi reaksi yang diberikan secara otomatis terhadap situasi-situasi tingkah laku. Nilai-nilai yang dipandang dengan cara seperti ini dapat dikatakan eksistensinya tidak dapat dipisahka dari si indvidu dengan begitu disebut dengan istilah nilai-nilai yang tercernakan. Nilai-nilai semacam ini membentuk landasan bagi hati nurani. Nilai-nilai yang tercernakan semacam itu seringkali berfungsi untuk mengungkapkan kepada pihak luar sekolah atau daya upaya yang dilakukan seseorang secara sengaja untuk menutup-nutupi perasaan hatinya. Itu merupakan bagian dari proses penyesuaian diri dalam usahanya untuk menghindari suatu konflik dengan berpura-pura setuju atau mengikuti perasaan-perasaan abstrak dan norma-norma tertentu, padahal dalam kenyataannya orang itu berpegang kepada nilai-nilai yang berlainan. 2. Nilai-Nilai Norma-Norma yang Dominan Proses sosialisasi adalah suatu proses yang sulit. Ini membantu sekali untuk menjelaskan apa sebabnya individu-individu itu berbeda-beda dalam taraf mereka mengasimilasikan dirinya dengan nilai-nilai. Kenyataan ini menentukan landasan untuk memahami nilai-nilai menurut susunan hierarki kedominannya. Niali-nilai yang lebih diutamakan daripada nilai-nilai yang lain dikatakan bersifat dominan, sebaliknya nilai yang kurang penting dikatakan sub-ordinat. Nilai dominan itu jelas terlihat dalam pilihan-pilihan yang dilakukanterhadap beberapa kemungkinan langkah tindakan yang bisa ditempuh dalam aktivitas-aktivitas setiap hari. Nilai dominan yang lebih pokok dianggap sebagai nilai yang baik. Disini nilai yang semacam itu dapat dikelompokkan sebagai mores. Nilai-nilai ini membentuk system nilai di dalam suatu masyarakat tertentu. Pada hakekatnya, nilai yang dominan itu berfungsi sebagai suatu latar belakang atau kerangka patokan bagi tingkah laku sehari-hari. William telah membuat beberapa test konkrit atas kedomonanan dari nilai-nilai tersebut banyak membentu dalam menyelidiki fenomena ini. Kedominanan dari nilai-nilai itu secara kasar dapat disusun menurut empat kriteria sebagai berikut. a. Luas tidaknya ruang lingkup (extensiveness) pengaruh nilai tersebut di dalam aktivitas total dari sitem sosial tersebut. b. Lama tidaknya pengaruh nilai itu dirasakan oleh kelompok masyarakat tadi. c. Gigih tidaknya (intensitas) nilai tadi diperjuangkan atau dipertahankan. d. Prestise dari orang-orang yang membawa nilai itu. 3. Sifat-Sifat dari Sistem-Sistem Nilai Nilai-nilai itu tidak saja berbeda-beda antara individu satu dan lainnya melainkan juga berbeda antara kelompok yang satu dan lainnya, malahan juga antara tempat satu dengan tempat yang lain. Kenyataan-kenyataan ini merupakan landasan bagi cara pendekatan system nilai dalam penyelidikan terhadap nilai-nilai masyarakat-masyarakat lainnya jelas tidak mungkin dapat diselidiki sebagai keseluruhan menurut dasar nilai-nilai tertentu berhubungan dengan adanya demikia banyak macam minat, keyakinan, serta pengetahuan, yang memberikan ciri kepada masing-masing individu dari kelompok masyarakat itu. Bila seorang sosiolog berbicara tentang system nilai ari suatu maysrakat tertentu, yang menjadi pokok pegangannya ialah apa yang disebut dengan istilah nilai-nilai inti (score values) dari masyarakat tadi. Suatu nilai inti tertentu tidaklah mesti selalu diikuti oleh setiap orang atau setiap kelompok di dalam maysrakat itu, tetapi anggota-anggota yang jumlahnya cukup besar dari masyarakat tadi menjunjung tinggi nilai itu sehingga membuat niali tersebut menjadi salah satu faktor penentu yang penting terhadap tingkah laku. William menambahkan bahwa bila seseorang berbicara tentang system-sistem nilai, dibalik ucapannay itu terkandung suatu pengertian bahwa nilai-nilai tersebut tidak hanya tersebar secara sembarangan melainkan sebaliknya mengikuti atau menunjukkan serangkaian hubungan-hubungan yang tidak bisa terjadi secara kebetulan saja. D. Sistem-Sistem Nilai di Amerika Serikat Meskipun dalam kesulitan-kesulitan di dalam penyelidikan terhadap nilai-nilai di dalam penyelidikan terhadap nilai-nilai di dalam sebuah bangsa yang sebesar dan sekompleks Amerika serikat, William membuet sebuah daftar yang merangkum orientasi-orientasi nilai yang tedapat di masyarakat Amerika. Daftar-daftar semacam itu merupakan gambaran yang disederhanakan dan digeneralisir dari potensi tingkah laku di dalam suatu masyarakat kebangsaan atau suatu bangsa, atau merupakan lukisan dari system nilainya. Daftar-daftar tersebut juga berfungsi sebagai model-model konsepsi darimana perbandingan-perbandingan dapat dilakukan, misalnya variasi-variasi regional dan individu dapat diperbandingkan. Berhubung nilai-nilai kemasyarakatan itu berupa abstraksi, orang tidak akan mungkin menemukan suatu individu atau kelompok yang seratus persen telah menghayati atau menjiwai serangkaian nilai-nilai dominan yang persis sama yang telah ditentukan untuk sebuah masyarakat tertentu. Pada kenyataannya, di dalam sebuah bangsa yang sekompleks Amerika Serikat, nilai-nilai inti (score values) tertentu sedikat banyak akan mengalami konflik dengan nilai-nilai yang lain. 1. Hasil Usaha dan Keberhasilan Nilai-nilai ini tampaknya diutamakan pentingnya bagi hasil usaha pribadi, terutama keberhasilan dibidang pekerjaan. Tema manusia yang membentuk pribadinya sendiri (self-made-man) yang begitu popular di Amerika Serikat, membuktikan adanya nilai ini. 2. Aktivitas dan Pekerjaan Hampir semua pengamat melihat adanya tekanan yang diberikan oleh ara warga Negara Amerika Serikat terhadap aktivitas. Contohnya, laski menyatakan bahwa tidakorang Amerika yang merasa gembira bila mereka itu menganggur atau tidak mngerjakan sesuatu. Kerja, pada awal sejarah berdirinya Negara ini, seringkali dikatakan mencerminkan iman terhadap Tuhan dan nomor dua pentingnya sesudah agama. Tetapi pada tahun-tahun belakangan ini yang menekankan pentingnya pekerjaan sebagai tujuan akhir mulai hilang, tetapi masih dapat diketemukan suatu orientasi nilai yang kuat kearah itu. 3. Organisasi Moral Rakyat Amerika cenderung memandang dunia ini di sudut moral, yaitu sebagai sesuatu yang baik atau buruk, benar atau salah moral atau amoral. Tema nilai ini kebanyakan berasal dari etika Yahudi-Nasrani dan memiliki suat dasar puritan yang kuat. Tema itu menjelaskan apa sebabnya dari para individu dan kelompok cenderung untuk diuji dengan prinsip-prinsip etika dan aspirasi nyata dari sebagian besar warga Negara yang diarahkan pada suatu tingkat kehidupan yang lebih tinggi, tak lepas dari semangat etik/moral tadi. 4. Mores Kemanusiaan meskipun terlihat banyak tindakan yang tidak bisa disebut berperi kemanusiaan, rakyat Amerika Serikat sudah tidak asing lagi akan diulurkan tangannya kepada bangsa-bangsa lain yang mebutuhkan pertolongan. Kisah-kisah dalam surat kabar tentang kasus pihak-pihak atau bentuk pertolongan lain yang mencerminkan nilai-nilai yang berkaitan dengan kedermawanan, yaitu meringankan beban penderitaan orang lain. 5. Efisiensi dan Kepraktisan Penghargaan bangsa Amerika akan unsur-unsur efisiensi ini sudah lama mengesankan bagi para pengamat dari luar. Unsur ini telah dikaitkan dengan taraf standarisasi yang tinggi dan teknik-teknik produksi missal di bidang industry di Negara ini. Tema kepraktisan itu erat hubungannya dengan efisiensi yang mengandung arti bahwa segala sesuatu itu harus dikerjakan sedikit banyak untuk suatu tujuan yang berfaedah. 6. Kemajuan Kemajuan sebagai suatu organisasi nilai tidak begitu mudah dilihat seperti beberapa tema yang lain. Walapun begitu, sejak dari awal rakyat Amerika telah ditandai dengan suatu perasaan optimis kea rah masa depan. Maka, di dalam hampir seluruh aktivitasnya, yang lebih ditonjolkan buat masa kini atau masa lampau melainkan masa yang akan datang. Orientasi ini rupanya merupakan bagian dari suatu perasaan yang dibenarkan oleh umum bahwa manusia harus bergerak kearah kemajuan yang semakin meningkat. 7. Kekayaan Materi Amerika Serikat sudah sejak lama merupakan suatu bangsa yang memiliki cirri berorientasi kepada materi, dimana rakyat meberikan suatu nilai yang tinggi kepada kekayaan materi tadi. Pada kenyataannya bahwa rakyat di Amerika berdaya upaya sekuat tenaga untuk mendapatkan benda-benda materi itu, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahawa dalam hal ini mereka berpegang pada suatu orientasi nilai kea rah materi. 8. Persamaan Derajat Pernah suatu ketika dalam sejarah mayoritas dari bangsa Amerika itu tidak memandang tinggi nilai persamaan derajat itu. Bagaimanapun juga, pernyataan tentang apa yang dimaksud dengan persamaan derajat itu bisa menimbulkan jawaban-jawaban yang beraneka ragam. 9. Kebebaan Tidak ada suatu katapun di Amerika yang diucapkan orang dengan lebih bersemangat daripada kata kebebasan itu. Kebebasan yang ada di dalam lingkungan bangsa ini masih merupakan perdebatan yang tidak ada habisnya. Bagaimanapun juga, realita dari suatu orientasi nilai yang kuat kea rah kebebasan itu tidak usah disanksikan lagi. Bukti dari kenyataan ini dapat ditemukan di dalam ucapan kata “kebebasan” yang seringkali terdengar, seperti yang diucapkan oleh para pembicara politik dan oleh orang-orang yang berjuanguntuk mencapai kebebasan itu. 10. Penyesuain Dirri Terhadap Dunia Luar Standardtisasi, produksi masal, pendidikan umum, keyakinan-keyakinan yang kuat, dan keinginan universal mendapatkan pengakuan dari pihak lain semuanya ini merupakan pendorong bagi apa yang oleh Williams disebut sebagai usaha untuk menyesuaikan diri terhadap dunia luar. Kecenderungan ini lebih lanjut ditekankan oleh adanya suatu migrasi intern yang besar jumlahnya dimana hal itu menuntut orang untuk bisa menyesuaikan diri secara cepat terhadap dunia luar itu mungkin merupakan suatu masalah menyesuaikan diri terhadap tunuttan-tuntutan dari suatu masyarakat yang kompleks dibandingkan terhadap hal-hal yang lain. 11. Penggunaan Rasio/Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan (science) jelas dipandang sebagai jalan ke arah kemajuan dan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Amerika Seriakat. Selain itu, ilmu pengetahuan tadi dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan suatu tradisi yang rasinalistis dan individualistis karena memilki aspek-aspek kepraktisan dan keterusterangannya. Ilmu pengetahuan juga merupakan alat untuk mengasai alam secara rasional, yang menimbulkan keyakina yang kuat bahwa secara berangsur-angsur rahasia-rahasia alam akan bisa dibongkar. 12. Patriotism Kebangsaan Intensitas dari kepatriotisme-an kebangsaan di Amerika itu dengan mudah dapat disaksikan di dalam etnosentrisme dan kultur sentrisme dari rakyatnya. Organisasi-organisasi patriotism mendapat sokongan yang layak sebagaimana program-program pertahanan nasional. 13. Demokrasi Arti dari demokrasi itu berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya, tetapi keyakinan terhadap demokrasi itu sifatnya universal. Di dalam faham yang popular, sedikit banyak demokrasi itu dikaitkan dengan bentuk pemerintahan, sedikit banyak dengan persamaan di dalam setiap bentuk kesempatan di dalam kehidupan, dan selain itu juga dikaitkan dengan kebebasan dan kemerdekaan individu, yang semuanya menggambarkan nilai-nilai yang dominan di Amerika Serikat. 14. Kepribadian yang Individual Bila warga negara Amerika Serikat diminta untuk menguraikan secara singkat cara terbaik untuk membesarkan anak-anaknya, besar kemungkinan ia akan menekankan unsure proses-proses pendidikan yang mementingkan integritas individu, kebebasan bertindak, tanggung jawab, individual, dan self respect. Selain itu besar kemungkinan juga bahwa ia akan mengatakan bahwa seseorang itu harus bisa menjunjung tinggi haknya sendiri dan diatas segalanya ia harus bisa menempuh cara hidup menurut pilihannya sendiri . kenyataan bahwa tidak semua orang menempuh cara kehidupan seperti itu bekanlah berarti bangsa Amerika telah meninggalkan prientasi nilai yang amat pokok ini. 15. Tema Rasial dan Superioritas Kelompok Suatu bukti ketidak-konsistenan nilai-nilai individu serta nilai-nilai yang diyakini kelompok, yaitu bahwa Amerika memiliki tema-tema yang bercirikan superioritas kelompok itu. Walaupun begitu, sepanjang sejarah bangsa ini status yang berkaitan dengan ras (kebangsaan), latar belakang etnis, atau keyakinan agama telah menimbulkan perpecahan antar kelompok. Satu-satunya jalan untuk menghapuskan perpecahan tadi sehingga kelompok-kelompok tadi akan sama-sama menjunjung tinggi orientasi nilai yang menekankan nilai serta kebesaran derajat dari individu ialah dengan melalui konpartemenlisasi nilai-nilai yang terdapat di dalam kepribadian. E. Keluasan Fungsi Dari Nilai-Nilai Pengetahuan yang diperoleh dari penyelidikan-penyelidikan terhadap nilai-nilai itu memiliki suatu fungsi yang luas dan penting bagi sosiologi. Fungsi ini secara umum dapat dikatakan sebagai langkah persiapan bagi petunjuk-petunjuk penting untuk membuat pendugaan atau ramalan mengenai tingkah laku, sebaliknya juga memiliki kegunaan praktis yang penting bagi sosiologi. Hasil-hasil penemuan dari penyelidikan terhadap nilai-nilai itu telah digunakan untuk mmecahkan masalah-masalah pada tiga tahap yaitu, masalah yang dihadapi individu, masalah yang dihadapi kelompok, dan masalah yang dihadapi bangsa. Masalah individu, pada tahun-tahun belakangan ini banyak penyelidikan telah dilakuakn terhadap nilai-nilai individu. Penyelidikan-penyelidikan ini telah menunjukkan bahwa sekumpulan nilai-nilai tertentu boleh jadi merupakan faktor-faktor kunci di dalam sikap penerimaan atau penolakan terhadap suatu praktek baru yang lebih efisien. Masalah kelompok, nilai-nilai pada tingkatan kelompok juga telah menjadi bahan penyelidikan serta telah membantu para ahli dalam membuat rencana-rencana pengembangan masyarakat. Sebuah penyelidikan terhadap dua kelompok masyarakat di wilayah barat daya menunjukkan apa sebabnya di situ dijumpai sikap-sikao yang berbeda terhadap usaha pengembangan masyarakat tadi. Kelompok yang pertama, yaitu suatu masyarakat Mormon yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama pada tingkat kelompok, telah mampu mencapai hasil-hasil yang patut diiri di dalam pembangunan sebuah gymnasium, jalan trotoar,serta memperluas sitem jalan yang ada.kelompok yang kedua, yang besarnya serta potensinya sama dengan kelompok yang pertama, tetapi yang sebaliknya lebih cenderung untuk menjunjung tinggi inisiatif perorangan dairpada inisiatf kelompok, ternyata tidak mampu menggalang kerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan yang serupa dengan yang telah dicapai oleh kelompok pertama. Masalah bangsa, pengetahuan mengenai system-sistem nilai dari sebuah masyarakat bangsa tertentu atau sebuah kelompok akan sangat bermanfaat untuk meramalkan atau menduga bagaimana kemungkinan tingkah laku kelompok tadi sebagai respon terhadap suatu stimulus tertentu.