Sunday, July 24, 2011

PERKEMBANGAN DAN CARA BELAJAR ANAK

PERKEMBANGAN DAN CARA BELAJAR ANAK


Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Pendidikan Anak
yang dibimbing Drs. I Wayan Sutama, M. Pd.



Oleh

Nevina Rachmadani 107151410103
Muhammad Fitra R 107151410106
Aminnatul Widyana 107151410127
Wibi Gilang Saputro 107151410129
Silfi Mauluti Aski 107151410134











UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP S1 – PGSD – F
Oktober 2008


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulisan makalah yang berjudul ”Perkembangan dan Cara Belajar Anak “ yaitu untuk mengetahui tentang karakteristik perkembangan anak usia SD, cara belajar anak usia SD, dan tentang multiple intelegensi.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan masukan, dan menyusun makalah yang disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Pendidikan anak ini. Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dari pembaca sangat diharapkan guna menyempurnakan makalah ini dalam kesempatan berikutnya.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan, serta para pembaca.



Malang, Oktober 2008


Penulis









DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………...............i

DAFTAR ISI………………………………………………………………....ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah………………………………………………2
C. Tujuan Masalah…………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN
A. Karakteristik Perkembangan anak Usia SD………………….....3
B. Identifikasi Cara Belajar Anak SD……………………………..10
C. Macam-macam Multiple Intelegensi…………………………...12
D. Cara Pembelajaran untuk Mengembangkan Multiple
Intelengensi pada Anak Usia SD……………………………….18

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………..23
B. Saran…………………………………………………….……...23

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..…..27




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan merupakan hal yang melekat dalam pengertian perkembangan. Perkembangan atau development merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Ini berarti perkembangan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat progresif (maju), baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan kuantitatif disebut juga pertumbuhan yang merupakan buah dari aspek fisik. Sedangkan perubahan kualitatif meliputi perubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir, berbahasa, perubahan emosi dan sikap, dll (Kurnia, dkk, 2007).
Selama ini tingkat intelegensi menjadi bagian terpenting dari perkembangan seseorang. Jika seseorang memiliki orangtua yang cerdas, kelak anak mewarisinya. Sebaliknya, jika orangtua memiliki kemampuan yang sedang-sedang saja, maka kelak anak juga akan mewarisinya. Asumsi tradisional ini menganggap potesi kecerdasan inteligensi terbatas pada saat anak lahir. Kemudian lahirlah pandangan modern terhadap inteligensi berdasarkan kapasitas otak seseorang. Artinya anak akan belajar dari pengalaman jika orangtua memfasilitasi anak yang kelak berdampak besar bagi inteligensi dan potensinya.
Model penilaian yang menggunakan satu aspek kecerdasan tidak akan mengoptimalkan kemampuan individu anak, melainkan justru mengurangi ragam kecerdasan lainnya yang mungkin sangat berpotensi untuk dikembangkan. Ragam kecerdasan tersebut dikemukakan oleh Gardner yang kemudian dikenal dengan Teori Multiple Intelegence dalam bukunya Frames of Mind. Teori ini memberikan landasan yang kuat untuk mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas di dalam diri setiap anak (Armstrong, 2003). Sehingga cara tebaik untuk melejitkan keceradasan anak adalah mengenal secara baik dan mendalam potensi mereka agar tidak terjadi salah asuh apalagi eksploitasi yang mengatas namakan “demi kepentingan anak”. Selanjutnya hindari proses pencerdasan yang mengedepankan pemaksaan dan ambisi pribadi orang tua.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana karakteristik perkembangan anak usia SD?
2. Bagaimana mengidentifikasi cara belajar anak usia SD?
3. Apakah macam-macam multiple intelegensi?
4. Bagaimana cara pembelajaran untuk mengembangkan multiple intelengensi pada anak usia SD?

C. Tujuan Masalah
Tujuan penyusunan makalah ini adalah hal-hal berikut:
1. Mendeskripsikan bagaimana karakteristik perkembangan pada anak usia SD.
2. Mendeskripsikan cara belajar anak usia SD.
3. Mengetahui macam-macam multiple intelegensi.
4. Mendeskripsikan cara pembelajaran untuk mengembangkan multiple intelegensi pada anak usia SD.






BAB I I
PEMBAHASAN

A. Karakteristik Perkembangan Anak Usia SD
Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.
Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya, benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasan anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
1.Konkrit, yakni proses belajar beranjak dari hal-hal yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
2.Integratif, yakni anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu.
3.Hierarkis, yaitu cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks.
Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan kebutuhan peserta didik. Adapun karakeristik dan kebutuhan peserta didik dibahas sebagai berikut:
1. Senang bermain
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan, lebih–lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang-seling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
2. Senang bergerak
Orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
3. Senang bekerja dalam kelompok
Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
4. Senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, peran jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.
Selain itu, karakteristik anak SD dapat diklasifikasikan lagi berdasarkan pertumbuhan fisik atau jasmani, perkembangan intelektual dan emosional, perkembangan bahasa, perkembangan moral, sosial, dan sikap.
1. Pertumbuhan Fisik atau Jasmani
Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama, bahkan dalam kondisi ekonomi yang relatif sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak, kebiasaan hidup dan lain-lain.
Perkembangan fisik anak usia SD meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan, perubahan proporsi atau perbandingan antar bagian tubuh yang membentuk postur tubuh, pertumbuhan tulang, gigi, otot, dan lemak. Secara langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik anak akan menentukan keterampilan ank bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan cara anak memandang orang lain, yang berdampak lebih lanjut dalam melakukan penyesuaian dengan dirinya dan orang lain (Kurnia, dkk, 2007).
Nutrisi dan kesehatan amat mempengaruhi perkembangan fisik anak. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lamban, kurang berdaya dan tidak aktif. Sebaliknya anak yang memperoleh makanan yang bergizi, lingkungan yang menunjang, perlakuan orang tua serta kebiasaan hidup yang baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.
Olahraga juga merupakan faktor penting pada pertumbuhan fisik anak. Anak yang kurang berolahraga atau tidak aktif, sering kali menderita kegemukan atau kelebihan berat badan yang dapat mengganggu gerak dan kesehatan anak. Orang tua harus selalu memperhatikan berbagai macam penyakit yang sering kali diderita anak, misalnya bertalian dengan kesehatan penglihatan (mata), gigi, panas, dan lain-lain. Oleh karena itu orang tua selalu memperhatikan kebutuhan utama anak, antara lain kebutuhan gizi, kesehatan dan kebugaran jasmani yang dapat dilakukan setiap hari sekalipun sederhana.
2. Perkembangan Intelektual dan Emosional
Perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada berbagai faktor utama, antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan pembinaan orang tua. Akibat terganggunya perkembangan intelektual tersebut anak kurang dapat berpikir operasional, tidak memiliki kemampuan mental dan kurang aktif dalam pergaulan maupun dalam berkomunikasi dengan teman-temannya.
Perkembangan emosional berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru di sekolah. Perbedaan perkembangan emosional tersebut juga dapat dilihat berdasarkan ras, budaya, etnik dan bangsa.
Perkembangan emosional juga dapat dipengaruhi oleh adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh. Namun sering kali juga adanya tindakan orang tua yang sering kali tidak dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak. Misalnya sangat dimanjakan, terlalu banyak larangan karena terlalu mencintai anaknya. Akan tetapi sikap orang tua yang sangat keras, suka menekan dan selalu menghukum anak sekalipun anak membuat kesalahan sepele juga dapat mempengaruhi keseimbangan emosional anak. Perlakuan saudara serumah (kakak-adik), orang lain yang sering kali bertemu dan bergaul juga memegang peranan penting pada perkembangan emosional anak.
Dalam mengatasi berbagai masalah yang sering kali dihadapi oleh orang tua dan anak, biasanya orang tua berkonsultasi dengan para ahli, misalnya dokter anak, psikiater, psikolog, dan sebagainya. Dengan berkonsultasi tersebut orang tua akan dapat melakukan pembinaan anak dengan sebaik mungkin dan dapat menghindarkan segala sesuatu yang dapat merugikan bahkan memperlambat perkembangan mental dan emosional anak.
Gangguan mental pada anak dapat mengakibatkan stres. Selain itu, stres juga dapat disebabkan oleh penyakit, frustasi dan ketidakhadiran orang tua, keadaan ekonomi orang tua, keamanan dan kekacauan yang sering kali timbul. Sedangkan dari pihak orang tua yang menyebabkan stres pada anak biasanya kurang perhatian orang tua, sering kali mendapat marah bahkan sampai menderita siksaan jasmani, anak disuruh melakukan sesuatu di luar kesanggupannya menyesuaikan diri dengan lingkungan, penerimaan lingkungan serta berbagai pengalaman yang bersifat positif selama anak melakukan berbagai aktivitas dalam masyarakat.
3. Perkembangan Bahasa
Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4 - 5 bulan. Orang tua yang bijak selalu membimbing anaknya untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana sampai anak memiliki keterampilan berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu bahasa berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak dan kesediaan orang tua membimbing anaknya.
Owen (Kurnia, dkk, 2007) menjelaskan perkembangan bahasa anak pada usia sekolah dasar, menurutnya, anak usia 5 tahun sangat sering menggunakan bahasa untuk mengajukan permintaan, mengulang untuk perbaikan, mulai membicarakan perbaikan topik-topik gender. Anak usia 6 tahun mengulang dengan cara elaborasi untuk perbaikan, dan menggunakan kata-kata keterangan. Anak usia 7 tahun menggunakan dan memahami sebagian istilah dan membuat plot naratif yang mempunyai pengantar dan akhir dari topik yang diutarakan. Anak usia 8 tahun menggunakan topik-topik yang konkret, mengenal makna non literal dalam bentuk permintaan langsung, dan mulai mempertimbangkan maksud lainnya. Pada usia 9 tahun, anak memelihara topik melalui beberapa perubahan.
Fungsi dan tujuan berbicara antara lain: (a) sebagai pemuas kebutuhan, (b) sebagai alat untuk menarik orang lain, (c) sebagai alat untuk membina hubungan sosial, (d) sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri, (e) untuk dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain, (f) untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal, yaitu: (a) kematangan alat berbicara, (b) kesiapan mental, (c) adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak, (d) kesempatan berlatih, (e) motivasi untuk belajar dan berlatih, (f) bimbingan dari orang tua.
Di samping adanya berbagai dukungan tersebut juga terdapat gangguan perkembangan berbicara bagi anak, yaitu: (a) anak cengeng, (b) anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain.
4. Perkembangan Moral, Sosial, dan Sikap
Dalam mempelajari perkembangan moral anak usia SD, Piaget (Kurnia, dkk, 2007) mengemukakan 3 taha perkembangan moral sesuai dengan kajiannya pada aturan dalam permainan anak, yaitu:
1. Fase absolut, di mana anak menghayati peraturan sebagai sesuatu hal yang mutlak, karena berasal dari otoritas yang dihormati (orang tua, guru, anak yang lebih berkuasa)
2. Fase realistis, di mana anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan orang lain. Dalam permainan, anak menaati aturan yang disepakati bersama sebagai suatu kenyataan/realitas yang dapat diubah asal disetujui bersama.
3. Fase subjektif, di mana anak memperhatikan motif atau kesengajaan dalam penilaian perilaku, anak menaati aturan agar terhindar dari hukuman, kemudian memahami aturan dan gembira mengembangkan serta menerapkannya.
Menurut Hurlock, perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial (Kurnia, dkk, 2007). Tuntutan sosial pada perilaku sosial anak tergantung dari perbedaan harapan dan tuntutan budaya dalam masyarakat tempat anak tumbuh kembang, serta usia dan tugas perkembangannya. Pada anak usia SD, mereka mulai membentuk kelompok bermain yang dapat berkembang menjadi kelompok belajar dan melakukan aktivitas pada masa anak.
Kepada orang tua sangat dianjurkan bahwa selain memberikan bimbingan juga harus mengajarkan bagaimana anak bergaul dalam masyarakat dengan tepat, dan dituntut menjadi teladan yang baik bagi anak, mengembangkan keterampilan anak dalam bergaul dan memberikan penguatan melalui pemberian hadiah kepada anak apabila berbuat atau berperilaku yang positif. Terdapat bermacam hadiah yang sering kali diberikan kepada anak, yaitu yang berupa materiil dan non materiil. Hadiah tersebut diberikan dengan maksud agar pada kemudian hari anak berperilaku lebih positif dan dapat diterima dalam masyarakat luas.
Fungsi hadiah bagi anak, antara lain: (a) memiliki nilai pendidikan, (b) memberikan motivasi kepada anak, (c) memperkuat perilaku, (d) memberikan dorongan agar anak berbuat lebih baik lagi.
Dalam mempelajari pola perkembangan moral yang berkaitan dengan ketaatan akan suatu aturan yang berlaku universal, perlu dibahas mengenai disiplin. Disiplin diperlukan untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan aturan dan peran yang ditetapkan dalam kelompok budaya tempat orang tersebut menjalani kehidupannya. Disiplin dapat diterapkan secara otoriter melalui pengendalian perilaku dengan menggunakan hukuman. Fungsi hukuman yang diberikan kepada anak adalah: (a) fungsi restruktif, (b) fungsi pendidikan, (c) sebagai penguat motivasi.
Syarat pemberian hukuman adalah: (a) segera diberikan, (b) konsisten, (c) konstruktif, (d) impresional artinya tidak ditujukan kepada pribadi anak melainkan kepada perbuatannya, (e) harus disertai alasan, (f) sebagai alat kontrol diri, (g) diberikan pada tempat dan waktu yang tepat.

B. Identifikasi Cara Belajar Anak SD
Identifikasi cara belajar anak dapat kita ketahui dengan cara mengenalkan pada anak tentang cara belajar sesuai dengan "gaya belajarnya", apakah secara visual (gambar), kinestetik (gerak), atau auditif (suara). Dengan begitu, akan mempermudah anak menyerap pelajaran yang diterimanya. Berikut penjelasannya:
1. Visual (gambar)
Penglihatan anak dengan gaya belajar visual relatif lebih tajam. Ia cenderung mengekspresikan sesuatu lewat gerakan tubuh, misalnya geleng-geleng kepala untuk mengatakan "tidak", atau mengangguk untuk mengatakan "ya". Dia menyukai cara belajar dengan peragaan. Sebaliknya, dia bukan pendengar yang baik, jadi kurang bisa menangkap informasi yang diberikan secara lisan.
Solusi:
Anak-anak dengan gaya belajar visual membutuhkan bukti konkret. Orangtua/guru bisa mengenalkan huruf dan angka disertai gambar-gambar yang menarik. Aktivitas belajar dengan cara ini mudah ditangkap anak sebab gambar-gambar yang menarik akan diserapnya dengan cepat. Contoh, gunakan gambar yang digunting dari majalah kemudian sebutkan kata-kata yang dimulai dengan huruf tertentu seperti huruf "a" untuk "ayam", "apel", dan sebagainya. Atau buat potongan huruf-huruf dan minta anak mencari bentuk yang sama. Agar anak mudah memahami huruf yang dimaksud, orangtua bisa mengasosiasikannya dengan benda-benda tertentu yang sudah akrab dengan kehidupan anak. Misal, angka satu seperti tongkat atau huruf "b" punya perut gendut seperti badut, dan sebagainya.
2. Auditif (suara)
Anak dengan gaya belajar auditori lebih mudah menyerap pelajaran dengan cara mendengar. Anak cenderung senang berkomunikasi dengan orang lain, dia dibilang sebagai pendengar yang ulung. Dia juga mampu mengingat dengan baik penjelasan yang diberikan.
Solusi:
Bila auditifnya yang kuat, materi pelajaran bisa disampaikan lewat informasi pada pendengarannya. Semisal dengan sering-sering mendengarkan atau menyanyikan lagu-lagu tentang angka maupun huruf. Karena mengandalkan pendengaran, bisa juga dengan cara merekam suara, kemudian memperdengarkan melalui tape recorder. Atau cara lain misalnya dengan membacakan dongeng atau cerita.
3. Kinestetik (gerak)
Anak mengandalkan gerak tubuh, selalu ingin bergerak dan sulit untuk bersikap tenang. Dia menyukai permainan dan aktivitas fisik, suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya. Akan tetapi dia sulit menguasai hal-hal abstrak seperti simbol dan lambang. Sering mengerjakan sesuatu dengan tangannya. Lalu, praktik dan percobaan sederhana sangat disukainya.
Solusi:
Dengan mengenalkan aneka permainan fisik yang mengasah kemampuan kinestetik. Ajarkan sambil bermain kuas/pensil untuk membentuk huruf maupun angka. Latihan semacam ini sekaligus juga dapat melatih motorik halusnya.
Belajar juga bisa dengan menyanyi dan menari. Semisal dengan mengajari anak mengenai angka sambil bernyanyi, "Dua mata saya, hidung saya satu..." Jangan lupa, saat menyanyikan lagu tersebut hendaknya orangtua ikut menunjuk anggota tubuh yang dimaksud. Mintalah anak untuk melakukan hal yang sama.
Belajar lewat bermain peran juga bermanfaat. Yang pasti, saat belajar, anak-anak kinestetik membutuhkan jeda yang lebih sering daripada anak-anak dengan dua gaya belajar sebelumnya, sebab umumnya mereka cepat bosan. Belajar beberapa puluh menit saja sudah membuatnya gelisah.
Cara mengajarkan pada setiap anak berbeda, sesuai dengan kemampuan masing-masing yang menonjol. Tapi yang terbaik adalah menstimulasinya melalui gabungan semua aspek. Soalnya, semakin banyak panca indra yang digunakan, semakin besar pula kemungkinan pemahaman anak akan angka dan huruf.

C. Macam-Macam Multiple Intelegensi
Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang mempunyai nilai budaya. Ia mengatakan bahwa psikologi dan pendidikan telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mempelajari kecerdasan di dalam ruang tes, dan bahwa kedua disiplin ilmu ini seharusnya lebih banyak melihat ke dalam dunia nyata untuk mencari contoh-contoh cara manusia memecahkan masalah dan menciptakan bebagai produk yang penting bagi perkembangan budaya (Armstrong, 2003). Gardner menemukan delapan kecerdasan yang dikenal dengan sebutan multiple intelegensi. Berikut ini penjelasan mengenai delapan kecerdasan tersebut:
1. Kecerdasan linguistik ( tata bahasa )
Yaitu kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi bahasa atau struktur bahasa, fonologi atau bunyi, bahasa , semantik atau makna bahasa, dimensi pragmatik atau pengunaan praktis bahasa. Pengunaan bahasa ini antara lain mencakup retorika (pengunaan bahasa untuk mempengaruhi orang lain melakukan tindakan tertentu), mnemonic atau hafalan (pengunaan bahasa untuk mengingat informasi, eksplanasi (pengunaan bahasa untuk memberikan informasi), metabahasa (pengunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri).
Anak yang berbakat dalam kemampuan linguistik mempunyai keterampilan pendengaran yang sangat berkembang dan menikmati bermain-main dengan bunyi bahasa. Mereka sering berpikir dalam kata-kata. Mereka sering asyik membaca atau sibuk menulis cerita atau puisi. Meski seandainya mereka tidak menikmati membaca atau menulis, mereka mungkin seorang penutur cerita yang berbakat. Mereka sering menyukai permainan kata-kata dan mungkin mereka sangat hafal pantun, lirik, atau hal-hal kecil. Mereka mungkin ingin menjadi penulis, sekretaris, penyunting, ilmuwan sosial, guru humaniora, atau politisi. Mereka paling cepat belajar dengan menggunakan kata-kata, atau dengan mendengar dan melihatnya (Armstrong, 2003).
2. Kecerdasan matematis-logis
Yaitu kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran dengan benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, pernyatan dan dalil (jika–maka, sebab–akibat), fungsi logis dan abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis logis antara lain:kategorisasi, klasifikasi, pengambilan kesimpulan, generalisasi, perhitungan , dan pengujian hipotesis.
Anak yang mempunyai kelebihan dalam kecerdasan ini berpikir secara numerik atau dalam konteks pola serta urutan secara logis, atau dalam bentuk-bentuk cara berpikir logis yang lain. Anak yang berbakat di bidang ini terus-menerus bertanya dan ingin tahu tentang peristiwa alam. Mereka suka berinteraksi dengan komputer atau perangkat kimia, mencoba mencari jawaban masalah yang sulit. Mereka sering menyukai teka-teki dan permainan seperti catur yang membutuhkan kemampuan berpikir. Anak-anak ini mungkin ingin menjadi ilmuwan, insinyur, pemrogram komputer, akuntan, atau bahkan mungkin filsuf (Armstrong, 2003).
3. Kecerdasan kinestetis-jasmani
Yaitu keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan/mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan- kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi keseimbangan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan (proprioceptive) dan hal yang berkaitan dengan sentuhan (tactile&baptic).
Anak yang mempunyai kecerdasan kinestetik jasmani yang sangat berkembang, sring tidak bisa diam saat sedang duduk makan, dan biasanya merekalah yang nomor satu minta izin keluar rumah untuk bermain. Mereka memproses pengetahuan melalui sensasi tubuh. Mereka bisa “merasakan” jawaban tes yang benar. Beberapa dikaruniai kemampuan atlet atau keterampilan seorang penari, aktor, atau pandai berpantomim. Mereka sangat pandai menirukan ciri terbaik atau terburuk seseorang. Yang lain, dikaruniai koordinasi motorik yang sempurna dan unggul dalam mengetik, menggambar, memperbaiki, menjahit, kerajinan tangan, dan kegiatan serupa. Anak dengan kecerdasan kinestetik jasmani yang sangat berkembang bisa berkomunikasi dengan sangat efektif melalui gerakan dan bentuk-bentuk bahasa tubuh yang lain. Mereka mungkin ingin menjadi montir, tukang kayu, aktor, atlet, atau pilot. Mereka butuh kesempatan untuk belajar dengan bergerak atau memeragakan sesuatu (Armstrong, 2003).
4. Kecerdasan musikal
Yaitu kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara memersepsi, mengubah, membedakan, dan mengekspresikan. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titik nada atau melodi, dan warna nada atau warna suatu lagu.
Anak yang mempunyai kecerdasan musik yang sangat berkembang, sering bernyanyi, bersenandung, atau bersiul seorang diri. Mainkan sebuah lagu, maka mereka akan langsung mulai menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama dan mulai bernyanyi. Mereka mungkin bahkan sudah bisa memainkan alat musik atau menjadi anggota paduan suara. Meskipun demikian, anak-anak lain dengan potensi serupa lebih menunjukkan potensi ini melalui penghargaan terhadap musik. Mereka akan mempunyai opini yang kuat mengenai musik yang dimainkan di radio atau stereo. Mereka juga peka terhadap suara-suara nonverbal seperti kerik jangkrik dan dering bel di kejauhan (Armstrong, 2003).
5. Kecerdasan interpersonal (antarpribadi), yaitu kemampuan memersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motifasi, dan perasaan orang lain. Anak dengan kecerdasan antarpribadi yang tinggi tidak selalu berhasil di sekolah. Beberapa anak yang kecerdasan antarpribadinya tinggi, memperlihatkan kemampuan alami untuk mengantisipasi guru, bekerja sama dalam kegiatan sekolah, dan berhasil secara akademis walau mungkin mereka mempunyai masalah dengan pelajaran membaca atau matematika. Yang lain mungkin populer di antara teman-temannya tapi mempunyai masalah besar di sekolah dengan otoritas orang dewasa. Mereka mungkin ingin menjadi seorang konselor, pengusaha, atau organiser komunitas.
6. Kecerdasan intrapersonal (intrapribadi)
Yaitu kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri), kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri.
Anak yang mempunyai kecerdasan intrepribadi yang sangat berkembang mengetahui siapa diri mereka dan apa yang bisa mereka capai di dunia. Mereka sering pandai menetukan target untuk diri sendiri. Meski seandainya tidak mencapa target itu, mereka pandai menciptakan target baru yang lebih realistis. Mereka juga mungkin mempunyai bakat ketekunan dan bisa mengambil manfaat dari kesalahan masa lalu. Mereka tidak selalu tertutup atau pemalu, tapi mungkin mereka mempunyai kebituhan yang sangat besar untuk menyendiri dan merenung. Banyak di antara mereka mempunyai kesadaran mendalam tentang perasaan, mimpi, dan visi batin mereka. Mereka mungkin mempunyai buku harian atau melakukan proyek dan hobi yang hanya diketahui oleh diri mereka sendiri dan mungkin oleh satu atau dua orang teman yang mereka percayai. Mungkin ada semacam kebijaksanaan batin atau sifat intuitif yang seumur hidup mendampingi mereka. Kesadaran diri yang dalam ini bisa memisahkan mereka dan membuat mereka pergi seorang diri ke tempat-tempat yang tak pernah disinggahi sebelumnya. Mereka mungkin ingin menjadi penulis, wirausaha, ataau bahkan mungkin terlibat dalam karya religius atau spiritual (Armstrong, 2003).
7. Kecerdasan naturalis
Yaitu keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya, misalnya formasi awan dan gunung-gunung. Sedangkan bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan perkotaan, yakni membedakan benda tak hidup, seperti mobil, sepatu karet, dan sampul kaset CD.
Anak yang sangat kompeten dalam kecerdasan ini merupakan pecinta alam. Mereka lebih suka berada di alam terbuka, di padang atau di hutan, mengumpulkan bebatuan atau bunga, daripada terkurung di sekolah atau di rumah mengerjakan tugas menulis mereka. Di sisi lain, jika tugas sekolah itu melibatkan kadal, kupu-kupu, dinosaurus, bintang, atau sistem kehidupan atau bentuk-bentuk alam lain, maka motivasi mereka kemungkinan akan melambung tinggi. Beberapa di antara anak ini merasakan ikatan yang lebih dekat dengan hewan daripada denga manusia. Mereka mungkin ingin menjadi dokter hewan, penjaga hutan, pakar ekologi, atau petani (Armstrong, 2003).
8. Kecerdasan spasial
Yaitu kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat (misalnya, sebagai pemburu, pramuka, pemandu) dan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut (misalnya, dekorator interior, arsitek, seniman, atau penemu). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk ruang, dan hubungan antar unsur tersebut. Kecerdasan ini juga meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam matriks spasial.
Anak ini tampaknya mengetahui letak semua barang di dalam rumah. Mereka berpikir dalam bentuk visualisasi dan gambar. Merekalah yang selalu menemukan barang-barang yang hilang atau salah taruh. Mereka sering menghabiskan waktu luang dengan menggambar, merancang, membangun balok-balok, atau sekadar melamun. Banyak di antara mereka yang kemudian mengagumi aneka mesin dan peralatan aneh, bahkan kadang menciptakan hasil karya mereka sendiri. Mereka mungkin ingin menjadi arsitek, seniman, montir, insinyur, atau perancang kota (Armstrong, 2003).

D. Cara Pembelajaran untuk Mengembangkan Multiple Intelengensi pada Anak Usia SD
1. Ilmu Tata Bahasa
Anak-anak dengan kecerdasan ilmu tata bahasa yang tinggi mempunyai kepandaian khusus dalam berbahasa, mereka akan belajar dengan maksimal dengan mengucapkan, mendengar, dan melihat kata-kata. Cara terbaik untuk memotivasi mereka adalah dengan menyediakan berbagai buku, rekaman, dan kaset. Salah satu kegiatan yang disukai anak adalah kegiatan membaca. Untuk anak usia prasekolah mulai perkenalkan dengan buku cerita dongeng, puisi sederhana, bacaan untuk anak. Saat usia sekolah, perkenalkan anak dengan majalah anak, novel, komik, dan ensiklopedia. Televisi bisa mendemontrasikan banyak hal melalui acara program edukasi, atau DVD. Atau anak belajar membaca melalui teks dialog yang ditampilkan di layar televisi. Dukung kegiatan menulis dengan menyediakan kertas, bolpoin, pensil dan krayon (Armstrong, 2003).
Cara belajar untuk anak-anak yang berbakat dalam bidang ini adalah dengan mengucapkan, mendengar, dan melihat kata-kata. Cara terbaik memotivasi mereka di rumah termasuk berbicara dengan mereka, menyediakan banyak buku, rekaman, dan kaset kata-kata yang diucapkan, serta menciptakan peluang untuk menulis. Lengkapi mereka dengan peralatan untuk membuat kata, termasuk tape recorder untuk bahasa lisan, dan mesin tulis, komputer, pembuat label, dan perangkat mencetak untuk kegiatan menulis. Bawa mereka ke tempat-tempat di mana kata sangat penting, termasuk perpustakaan, toko buku, biro surat kabar, dan penerbitan.
2. Logika Matematika
Anak-anak yang mempunyai kelebihan dalam jenis kecerdasan ini belajar dengan membentuk konsep dan mencari pola serta hubungan absrtak. Beri mereka materi konkret yang bisa dijadikan bahan percobaan, waktu yang berlimpah untuk mempelajari gagasan baru, kesabaran dalam menjawab pertanyaan ingin tahu mereka, dan penjelasan logis untuk jawaban yang Anda berikan. Beri mereka permainan seperti catur, teka-teki logika, perangkat ilmu pengetahuan, dan permainan komputer yang melibatkan daya penalaran logis dalam fokus permaian. Pergilah ke tempat-tempat yang mendorong pemikiran yang ilmiah, termasuk museum ilmu pengetahuan, pameran komputer, dan pameran elektronik (Armstrong, 2003).
Sediakan instrumen matematik, biarkan anak bereksplorasi dengan kompas, penggaris, skala, gelas ukur. Gunakan peralatan karena alat berhubungan dengan kecerdasan logika dan gerak tubuh anak. Setiap peralatan memerlukan pemahaman logika untuk menggunakannya. Dorong anak untuk belajar menggunakan banyak peralatan.
3. Visual/Spasial
Anak-anak yang unggul dalam bidang ini paling efektif belajar secara visual (meski seorang tuna netra juga bisa mempunyai kemampuan spesial yang tinggi). Mereka perlu diajari melalui gambar, metafora visual, dan warna. Cara terbaik untuk memotivasi mereka adalah melalui media seperti film, video, diagram, peta, dan grafik. Beri mereka peluang untuk menggambar dan melukis. Lengkapi mereka dengan kamera, teleskop, kompas, dan perlengkapan bangunan tiga dimensi. Kunjungi planetarium, museum seni, dan tempat-tempat lain yang menekankan kemampuan spasial (Armstrong, 2003).
Sediakan alat kerajinan tangan. Sangat menyenangkan jika anak berhasil membuat sesuatu dengan kertas-kertas, krayon, gunting dan lem. Sediakan alat melukis. Mulai ajari anak melukis dengan menggunakan jari-jarinya lalu lanjut menggunakan cat air, akrilik dan cat minyak. Bisa juga anak menggambar dan membuat ilustrasi menggunakan komputer.
4. Jasmani Kinestik
Anak-anak yang berbakat dalam jenis kecerdasan ini, belajar dengan menyentuh, memanipulasi, dan bergerak. Mereka memerlukan kegiatan belajar yang bersifat kinestetik, dinamik, dan viseral. Cara terbaik memotivasi mereka adalah melalui seni peran, improvisasi dramatis, gerakan kreativ, dan semua jenis kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik. Beri mereka akses ke lapangan bermain, lapangan rintangan, jalur hiking, kolam renang, dan ruang olah raga. Beri mereka kesempatan untuk memperbaiki mesin, membangun model, dan terlibat dalam kegiatan seni kerajinan tangan seperti mengukir kayu dan membentuk tanah liat (Armstrong, 2003).
Kembangkan imajinasi anak dengan bermain sebagai actor menggunakan kostum dan make up. Peralatan olahraga dan permainan membantu mengembangkan kordinasi mata-tangan dan mengembangkan kemampuan gerak motorik anak. aktivitas fisik juga berperan dalam perkembangan cerebellum, bagian otak yang mengatur beberapa fungsi motorik juga daya ingat, konsentrasi, persepsi spasial, dan bahasa. Aktivitas gerak motorik halus. Mengembangkan kemampuan motorik halusnya dengan kegiatan menjahit, merajut, menggambar atau kegiatan lain yang menggunakan keterampilan jari tangan dan kakinya.
5. Musikal
Anak-anak dengan kecerdasan musikal, belajar melalui irama dan melodi. Mereka bisa mempelajari apapun dengan lebih mudah jika hal itu dinyanyikan, diberi ketukan, atau disiulkan. Biarkan mereka belajar dengan diiringi musik kesukaan mereka jika hal ini kelihatannya membantu. Beri mereka akses ke CD dan kaset, instrumen musik, dan pelajaran musik jika mereka memintanya (Armstrong, 2003).
Studi menemukan anak yang mendengarkan musik Mozart selama 10 menit, akan lebih baik di kegiatan spasial. Penelitian menunjukkan beberapa jenis musik tertentu dapat meningkatkan kecerdasan anak. Penelitian membuktikan bermain musik tak hanya meningkatkan kecerdasan musik anak tapi juga bisa mengembangkan bagian otak. Fasilitasi anak dengan beragam lagu yang bisa dinyanyikannya.
6. Naturalis/Alam
Anak-anak yang condong sebagai naturalis akan menjadi bersemangat ketika terlibat dalam pengalaman di alam terbuka. Beri mereka akses ke hutan untuk dijelajahi, sungai atau danau untuk direnangi, bukit atau gunung untuk didaki, gua untuk diselidiki, dan padang rumput untuk dijelajahi dengan bebas, dan mereka akan sering menggunakan waktu mereka untuk mengamati makhluk hidup yang menetap di setiap tempat. Untuk membantu mereka dalam penelitian mereka, lengkapi mereka dengan peralatan naturalis, seperti sepasang teropong, kaca pembesar, masker selam untuk penjelajahan bawah air, atau ransel untuk tempat mengumpulkan sample dalam sebuah perjalanan (Armstrong, 2003).
Coba masukan tangannya ke kolam ikan atau akuarium. Hati-hati jangan sampai anak memasukan tangannya ke mulut. Memelihara binatang piaraan merupakan cara terbaik anak berinteraksi dengan hewan. Anak belajar kebiasaan, karakteristik, dan perbedaan sifat hewan. Sekuntum bunga atau kebun tanaman bisa dijadikan perjalanan seru. Anda juga bisa mengajarkan tanaman di pot. Melihat dengan teleskop atau menggunakan gelas ukur atau mikroskop untuk menganalisa.
7. Interpersonal
Cara belajar terbaik anak-anak yang berbakat dalam kategori ini adalah dengan berhubungan dan bekerja sama. Mereka perlu belajar melalui interaksi dinamis dengan orang lain. Beri mereka kesempatan untuk mengajari anak-anak lain. Sediakan berbagai jenis permainan yang bisa mereka lakukan bersama teman-teman mereka, biarkan mereka terlibat dalam kegiatan komunitas, klub, kepanitiaan, program seusai jam sekolah, dan organisasi sukarelawan (Armstrong, 2003).
Kegiatan menelepon dapat mengembangkan kemampuan anak berinteraksi. Namun awasi pemakaian waktu penggunaan telepon. E-mail dan sms adalah salah satu media baru berkomunikasi. Ajari anak menggunakan peralatan komunikasi inovatif. Bermain dengan anak meski permainannya sederhana seperti petak umpet, monopoli, catur, dan sebagainya. Undang saudara, teman atau kerabat lainnya untuk bermain bersama anak. Orangtua dapat mengembangkan kemapuan anak berinteraksi dengan lingkungannya.
8. Intrapersonal
Anak-anak dengan kecenderungan ke arah ini paling efektif belajar ketika diberi kesempatan unutk menetapkan target, memilih kegiatan mereka sendiri dan menentukan kemajuan mereka sendiri melalui proyek apapun yang mereka minati. Anak-anak ini memotivasi diri sendiri. Beri mereka kesempatan untuk belajar sendiri, dengan kecepatan yang mereka tentukan sendiri, dan melakukan proyek serta permainan individu. Sangat penting bagi mereka untuk mempunyai ruang pribadi sendiri di rumah di mana mereka bisa mengerjakan hobi dan minat tanpa gangguan dan bisa berinstropeksi dengan tenang. Hargai privasi mereka, biarkan mereka tahu bahwa mereka boleh menjadi independen, dan beri mereka fasilitas yang diperlukan untuk membantu mereka menekuni minat tertentu mereka (Armstrong, 2003).
Kadang anak memerlukan waktu untuk sendiri tanpa berinteraksi atau gangguan dari luar. Anak hanya ingin mendengarkan pikirannya sendiri. Apakah ada tempat anak merenung di rumah? Mungkin di kamar atau kebun. Dukung anak menyalurkan hobinya. Anda bisa mengikut sertakan anak ke kelas fotografi, jurnalis, vocal. Musik, menggambar, untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak. Sebuah area anak bisa menikmati waktunya dengan menulis diari atau menempatkan barang-barang pribadinya.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar, yaitu (1) senang bermain, (2) senang bergerak, (3) senang bekerja dalam kelompok, (4) senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Dengan diketahui karakteristik pada anak usia SD, maka dapat diidentifikasi pula beberapa macam cara belajar mereka sesuai dengan "gaya belajarnya", apakah secara visual (gambar), kinestetik (gerak), atau auditif (suara). Dengan begitu, akan mempermudah anak menyerap pelajaran yang diterimanya.
Gardner menemukan delapan kecerdasan yang dikenal dengan sebutan multiple intelegensi, yaitu (1) kecerdasan linguistik ( tata bahasa ), (2) kecerdasan matematis-logis, (3) kecerdasan kinestetis-jasmani, (4) kecerdasan musikal, (5) kecerdasan interpersonal (antarpribadi), (6) kecerdasan intrapersonal (intrapribadi), (7) kecerdasan naturalis, (8) kecerdasan spasial. Kedelapan macam kecerdasan tersebut dapat ditingkatkan sesuai dengan bakat yang dimiliki anak.

B. Saran
Anak-anak memang sungguh luar biasa mereka memiliki potensi kecerdasan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Sehingga sebagai orang tua atau sebagai guru hendaknya dapat mendeteksi, menemukan, dan mengoptimalkan bakat kecerdasan itu. Selain itu orang tua dan guru hendaknya tidak memiliki pandangan hanya pada satu kecerdasan saja untuk dioptimalkan, sebab ada kemungkinan anak mampunyai macam kecerdasan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, Thomas. 2003. Setiap Anak Cerdas. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.
Armstrong, Thomas. 2004. Membangkitkan Bakat Alami Kejeniusan Anak Anda. Terjemahan oleh Margaritifera R.L. Nugroho. 2004. Batam: Interaksara.
Kurnia, Ingridwati dkk. 2007. Perkembangan Belajar Peserta Didik. Jakarta:Depdiknas.
Hardywinoto & Tony Setiabudhi. 2002. Anak Unggul Berotak Prima. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.
Saifullah, Ach. 2005. Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak. Yogyakarta:Katahati.
http://anto0102.multiply.com/reviews/item/2
http://209.85.175.104/search?q=cache:DpIjrYlpoUIJ:www.telkomsekolah-online.net/docupl/1276_Menemukan%2520Anak%2520Cerdas.pdf+pendapat+gardner+mengenai+multiple+intelegensi&hl=id&ct=clnk&cd=6&gl=id
http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/20/karakteristik-perkembangan-anak-usia-kelas-awal-sd-serta-pembelajaran-tematik-keuntungan-penggunaan/
http://nhowitzer.multiply.com/journal/item/3
http://massofa.wordpress.com/2008/01/25/karakteristik-anak-usia-sekolah-dasar/
http://jeperis.blogspot.com/2007/06/pembelajaran-tematik.html
http://209.85.175.104/search?q=cache:knpd9y9OAE4J:www.geocities.com/segaintil/VISUALSPATIALLEARNER-vs-LEARNING-DISABILITIES.pdf+cara+belajar+anak+usia+SD+melalui+auditif&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id
http://209.85.175.104/search?q=cache:oSnU27JqNzUJ:www.smk2-yk.sch.id/dlib/resources/Umum%2520-%2520Metode%2520pembelajaran%2520SMKN2.ppt+cara+belajar+auditif&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id
http://sweetyvira75.blogspot.com/2007/11/kenal-huruf-dan-angka-tanpa-dipaksa.html
http://www.bahana-magazine.com/?p=productsMore&iProduct=660&sName=Melatih-Anak-Gemar-Belajar