Sunday, July 24, 2011

PEMBELAJARAN TEMATIK

PEMBELAJARAN TEMATIK


Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Belajar dan Pembelajaran
yang dibimbing Dra. Purwendarti, M. Pd.



Oleh

Riski Budi Utami 107151410116
Aminnatul Widyana 107151410127
Saeful Mizan 107151410132
Silfi Mauluti Aski 107151410134
Ratna Sari Dewi 107151410141











UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP S1 PGSD - F
Oktober 2008


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulisan makalah yang berjudul ”Pembelajaran Tematik“ yaitu untuk mengetahui tentang seluk beluk penerapan pembelajaran tematik di Sekolah Dasar.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan masukan, dan menyusun makalah yang disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Belajar dan Pembelajaran ini.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dari pembaca sangat diharapkan guna menyempurnakan makalah ini dalam kesempatan berikutnya.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan, serta para pembaca.



Malang, Oktober 2008


Penulis












DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………...............i

DAFTAR ISI………………………………………………………………....ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah………………………………………………2
C. Tujuan Masalah…………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajarn Tematik………….………………….....3
B. Karakteristik Pembelajaran Tematik……………………………4
C. Landasan Pembelajaran Tematik………………………………..5
D. Rambu-rambu atau Batasan-batasan Pembelajaran Tematik…....7
E. Kelebihan Pembelajaran Tematik……………………………….7
F. Prinsip Pemilihan Tema…………………………………………8

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………...9
B. Saran…………………………………………………….……....9

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peserta didik yang berada pada Sekolah Dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada usia dina. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan, serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada objek-objek konkret dan pengalaman yang dialami secara langsung.
Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas 1-3 untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan Bahasa Indonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran, yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut. Pada pembelajaran yang memisahkan penyajian mata pelajaran, kurang mengembangkan anak untuk berpikir secara utuh dan membuat kesulitan bagi mereka.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta didik kelas awal SD di Indonesia cukup rendah. Sementara itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak.
Atas dasar pemikiran tersebut di atas dan dalam rangka implementasi Standar isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan maka pembelajaran pada kelas awal Sekolah Dasar lebih sesuai dilaksanakan dengan pembelajaran tematik.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah pengertian pembelajaran tematik?
2. Apa landasan dilaksanakannya pembelajaran tematik?
3. Apasajakah karakteristik pembelajaran tematik?
4. Apasajakah rambu-rambu atau batasan-batasan dalam pembelajaran tematik?
5. Apasajakah kelebihan dari pembelajaran tematik?
6. Apasajakah prinsip pemilihan tema?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah Pembelajaran Tematik ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan pengertian pembelajaran tematik.
2. Mengetahui landasan pembelajaran tematik
3. Mengetahui karakteristik pembelajaran tematik
4. Mengetahui rambu-rambu atau batasan-batasan dalam pembelajaran tematik.
5. Mengetahui kelebihan dari pembelajaran tematik.
6. Mengetahui prinsip pemilihan tema.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta,1983). Tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh. Dalam pembelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu-kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna.
Penggunaan tema dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Jadi, pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka.
Tim pengembang PGSD dalam pembelajaran terpadu D-II PGSD menyebutkan bahwa pengertian pembelajaran terpadu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pembelajaran yang berangkat dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep-konsep, baik yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi yang lainnya.
2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang mencerminkan dunia riil di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak.
3. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
4. Menggabungkan suatu konsep dalam beberapa bidang studi atau mata pelajaran yang berbeda dengan harapan anak akan belajar lebih baik dan bermakna.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemasatau merancang pengalaman belajar yang menunujukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistis).

B. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2. Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Focus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari bebagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5. Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel), dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

C. Landasan pembelajaran tematik
Landasan pembelajaran tematik mencakup hal-hal berikut.
1. Landasan filosofis
Landasan filosofis dalam pelajaran tematik dapat dipengaruhi oleh tiga macam aliran filafat yaitu :
a. Progresivisme
Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
b. Konstruktivisme
Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dari pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat di transfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa.pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
c. Humasnisme
Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan atau kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Siswa, selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan.
2. Landasan psikologis
Dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan dibutuhkan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya. Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral, maupun sosial.
3. Landasan yuridis
Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanaan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

D. Rambu-rambu Pembelajaran Tematik
1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan.
2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester.
3. Kompetensi dasar yang tidak bisa dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri.
4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, lingkungan, dan daerah setempat.

E. Kelebihan Pembelajaran Tematik
Kelebihan Pembelajaran Tematik antara lain:
a. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik.
b. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
c. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna.
d. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
e. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.
f. Memiliki sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

F. Prinsip Pemilihan Tema
Pemilihan tema hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Kedekatan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema yang terdekat dengan kehidupan anak kepada tema yang semakin jauh dari kehidupan anak.
2. Kesederhanaan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang sederhana menjadi tema-tema yang lebih rumit bagi anak.
3. Kemenarikan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang menarik minat anak kepada tema-tema yang kurang menarik minat anak.
4. Keinsidentalan, artinya peristiwa atau kejadian di sekitar anak (sekolah) yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung hendaknya dimaksukkan dalam pembelajaran walaupun tidak sesuai dengan tema yang dipilih hari ini













BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta,1983).
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik yaitu berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, hasil pembelajran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Tematik memiliki beberapa landasan yaitu landasan filosofis yang dipengaruhi oleh progresivisme,konstruktivisme,humanisme; landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikolog belajar; landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan tematik di sekolah.
Pemilihan tema hendaknya memperhatikan prinsip kedekatan, kesederhanaan, kemenarikan, keinsidentalan.

B. Saran
Sebaiknya guru yang mengajar menggunakan pembelajaran tematik adalah guru yang telah menguasai dengan baik seluruh bidang studi yang berkaitan dengan tema yang akan dipelajari. Karena dikhawatirkan jika yang mengajar kurang menguasai materi, pembelajaran tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.
Pembelajaran tematik hendaknya diajarkan di kelas rendah karena siswa SD usia kelas rendah masih berpola pikir memandang suatu hal secara utuh.

DAFTAR PUSTAKA

Muslich masnur. 2008. Pembelajaran berbasis kompetensi dan kontekstual. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Kunandar, S.pd M.si. 2007. Guru professional implementasi kurikulum KTSP dan sukses dalam sertifikasi guru. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Khaerudin. Dkk.2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jogjakarta: Pilar media.
http://www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/tematik.pdf
http://www.puskur.net/inc/mdl/020_Model_Tematis.pdf
http://www.puslitjaknov.depdiknas.go.id/data/file/2008/makalah_peserta/64_Hesty,%20S.Si_%20IMPLEMENTASI%20MODEL%20PEMBELAJARAN%20TEMATIK.pdf
http://125.160.17.21/speedyorari/view.php?file=pendidikan/pelajaran-sekolah/ktsp-sd/13.ppt