Sunday, July 24, 2011

IMPLEMENTASI MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DI SDN REMBUN 01 DAMPIT MALANG, SDN DAMPIT 02 MALANG, DAN SD MUHAMMADIYAH 09 MALANG

IMPLEMENTASI MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DI SDN REMBUN 01 DAMPIT MALANG, SDN DAMPIT 02 MALANG, DAN SD MUHAMMADIYAH 09 MALANG





Laporan Penelitian
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Manajemen dan Supervisi Pendidikan SD
yang dibimbing oleh
Dr. H. Achmad Supriyanto, M. Pd., M. Si.





Oleh
Rochma Arini 107151410110
Aminnatul Widyana 107151410127
Wibi Gilang Saputro 107151410129
Lilik Mulyeni 107151410130
Ellys Nur Aini 107151410138
Yanik Rinawati 107151410140












UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP S1 PGSD
Mei 2009

IMPLEMENTASI MANAJEMEN HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DI SDN REMBUN 01 DAMPIT MALANG, SDN DAMPIT 02 MALANG, DAN SD MUHAMMADIYAH 09 MALANG




Laporan Penelitian
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Manajemen dan Supervisi Pendidikan SD
yang dibimbing oleh
Dr. H. Achmad Supriyanto, M. Pd., M. Si.





Oleh
Rochma Arini 107151410110
Aminnatul Widyana 107151410127
Wibi Gilang Saputro 107151410129
Lilik Mulyeni 107151410130
Ellys Nur Aini 107151410138
Yanik Rinawati 107151410140











UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP S1 PGSD
Mei 2009
ABSTRAK

Arini, Rochma, dkk. 2009. Implementasi Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang. Laporan Penelitian, S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Achmad Supriyanto, M. Pd., M. Si.

Kata kunci: Hubungan, sekolah, masyarakat.

Sekolah merupakan sistem terbuka terhadap lingkungannya termasuk masyarakat pendukungnya. Sebagai sistem terbuka, sekolah selalu membukakan pintu terhadap kehadiran warga masyarakat, terhadap ide-ide mereka, terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka, dan terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sebaliknya masyarakat juga membuka diri untuk dimasuki oleh aktivitas-aktivitas sekolah. Dengan demikian antara sekolah dengan masyarakat terjadi komunikasi dua arah untuk bisa saling memberi dan menerima.
Istilah sekolah di sini merupakan konsep yang luas, mencakup lembaga formal maupun lembaga nonformal. Sedangkan istilah masyarakat merupakan konsep yang mengacu kepada semua individu, lembaga/organisasi yang berada di luar sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Sekolah harus berhubungan dengan masyarakat didasarkan pada beberapa pandangan filosofis tentang hakikat sekolah itu sendiri dan hakikat masyarakat. Hubungan antara keduanya yaitu (1) sekolah adalah bagia integral dan masyarakat bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat, (2) hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat, (3) sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan, (4) kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkorelasi, keduanya saling membutuhkan, (5) masyarakat adalah penilik sekolah, sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.
Dari uraian-uraian di atas dapat dipahami bahwa hubungan dengan masyarakat bagi suatu sekolah adalah hubungan dua arah antara sekolah dengan masyarakat untuk memusyawarahkan ide-ide dan informasi-informasi tertentu yang berguna bagi peningkatan pendidikan. Hubungan dengan masyarakat didasarkan pada ketentuan bahwa (1) masyarakat adalah salah satu penanggung jawab sekolah, (2) proses belajar serta media pendidikan juga terjadi dan ada di masyarakat, dan (3) masyarakat menaruh perhatian terhadap pendidikan putra-putrinya.






KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Penelitian ini dengan baik.
Penulisan Laporan Penelitian yang berjudul ”Implementasi Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang “ yaitu untuk mengetahui peranan pihak-pihak yang terkait hubungan sekolah dengan masyarakat dalam penerapannya di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, mengetahui penerapan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, mengetahui penerapan teknik hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.
Penulisan Laporan Penelitian ini disusun berdasarkan observasi dan wawancara di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang sehingga dapat diperoleh data mengenai hubungan sekolah dengan masyarakat di kedua sekolah tersebut.
Tak lupa penulis ucapkan banyak terima kasih atas semua pihak yang ikut membantu akan penyelesaian tugas ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan guna menyempurnakan tulisan ini dalam kesempatan berikutnya. Semoga penulisan Laporan Penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Amin.



Malang, Mei 2009


Penulis

DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL i
ABSTRAK ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR LAMPIRAN v

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan Penelitian 3
D. Hipotesis Penelitian 3
E. Kegunaan Penelitian 4
F. Asumsi 5
G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian 5
H. Definisi Istilah atau Definisi Operasional 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 7
B. Manfaat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 8
C. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 9
D. Peranan Pihak-pihak yang terkait hubungan antara Sekolah dengan Masyarakat 13
E. Prinsip Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 17
F. Teknik Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 19
G. Jenis Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 23
H. Bentuk-bentuk Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 25

BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian 27
B. Kehadiran Peneliti 27
C. Lokasi Penelitian 27
D. Sumber Data 28
E. Teknik Pengumpulan Data 28
F. Instrumen Penelitian 29
G. Analisis Data 30

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di Sekolah Dasar
Negeri Rembun 01 Dampit Malang 32
B. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di Sekolah Dasar
Negeri Dampit 02 Malang Malang 41
C. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di Sekolah Dasar
Muhammadiyah 09 Malang 47

BAB V PEMBAHASAN
A. Perbandingan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
antara Sekolah Dasar Negeri dengan Sekolah Dasar Swasta 53
B. Perbandingan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
antara Sekolah Dasar di Desa, di Kecamatan, dan di Kota
Malang 54

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan 56
B. Saran 56

DAFTAR RUJUKAN 58
LAMPIRAN-LAMPIRAN















DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Pedoman Wawancara 59
Lampiran 2: Laporan biaya ke UTS 61
Lampiran 3: Laporan Kesra Dampit 02 62
Lampiran 4: Contoh rapor SDN Rembun 01 Dampit 66
Lampiran 5: Contoh rapor SDN Dampit 02 Malang
Lampiran 6: Iuran Bulanan Wali murid kelas V SDN Dampit 02
Lampiran 7: Contoh rapor SD Muhammadiyah 09
Lampiran 8: Surat Keterangan Penelitian di SDN Rembun 01 Dampit
Lampiran 9: Surat Keterangan Penelitian di SDN Dampit 02
Lampiran 10: Surat Keterangan Penelitian di SD Muhammadiyah 09
Lampiran 11: Profil Kelompok



































DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Kirab Budaya dalam rangka HUT Kota Dampit ke 91 35
Gambar 2: Kepala sekolah memberi sambutan 36
Gambar 3: Wakil kepala sekolah memberi sambutan 36
Gambar 4: Sambutan perwakilan kelas 6 36
Gambar 5: Sambutan dari adik kelas 36
Gambar 6: Dua orang siswa sedang mengambil nasi tumpeng 37
Gambar 7: Rapat wali murid 37
Gambar 8: Wali murid menghadiri acara perpisahan kelas 6 37
Gambar 9: Acara pentas seni persami 37
Gambar 10: Upacara Pramuka 38
Gambar 11: Regu putri 38
Gambar 12: Regu putra 38
Gambar 13: Wali murid mengunjungi putrinya di perkemahan 38
Gambar 14: Perolehan kayu bakar regu putra 38
Gambar 15: Rekreasi ke pantai Popoh bersama wali murid 39
Gambar 16: Beberapa wali murid sedang mengobrol santai 39
Gambar 17: Acara makan bersama saat mengadakan kunjungan ke
wali lima 38
Gambar 18: Koran Pendidikan 40
Gambar 19: Persiapan sebelum lomba baris-berbaris 40
Gambar 20: Regu putra 41
Gambar 21: Regu putri 41
Gambar 22: Guru-guru yang mendampingi siswa di perkemahan 45
Gambar 23: Para guru membantu mendirikan tenda 45
Gambar 24: Tenda putri 45
Gambar 25: Regu putri 45
Gambar 26: Regu putra 45
Gambar 27: Regu putra 1 di garis start 45
Gambar 28: Regu putri 1 di garis start 45
Gambar 29: Regu putri 2 di garis start 46
Gambar 30: Berbaris di jalan raya 46
Gambar 31: Koran Pendidikan 46


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan salah satu bidang garapan administrasi pendidikan. Istilah “sekolah” merupakan konsep yang luas, mencakup lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan nonformal. Sedangkan istilah “masyarakat” merupakan konsep yang mengacu kepada semua individu, kelompok, lembaga, atau organisasi yang berada di luar sekolah sebagai lembaga pendidik. Masyarakat yang bersifat kompleks, terdiri dari berbagai macam tingkatan masyarakat yang saling melengkapi over lapping) dan bersifat unik sebagai akibat latar belakang dimensi budaya yang beraneka ragam. Hasil penelitian menunjukkan betapa penting dan perlunya program sekolah yang selalu menghayati adanya hubungan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat.
Hubungan kerja sama antara sekolah dengan masyarakat yaitu dengan melibatkan orang tua dan masyarakat serta isu-isu yang timbul dan bagaimana menyelesaikan isu-isu tersebut. Dalam hal ini kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peranan menentukan suatu kekuatan atau kewibawaan (power) di dalam menghimpun dan menggerakkan segala sumber daya di dalam kerja sama dengan masyarakat pendidikan yang lebih luas, serta untuk memperoleh berbagai dukungan sumber daya manusia, dana, serta dukungan informasi berbagai lembaga dan dukungan politis dari segenap jajaran aparat pendidikan (Setiawan, siaksoft.net).
Semakin majunya pengertian masyarakat akan pentingnya pendidikan anak-anaknya, maka merupakan kebutuhan vital bagi sekolah dan masyarakat untuk menjalin kerja sama. Kerja sama tersebut maksudnya demi kelancaran pendidikan di sekolah pada umumnya dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada khususnya. Jadi hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat dengan maksud meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dan praktek pendidikan serta mendorong minat dan kerja sama warganya dalam usaha memperbaiki sekolah.
Setiap program yang ada di sekolah perlu dikembangkan, lebih-lebih program hubungan sekolah dengan masyarakat yang masih dini dalam masyarakat perlu mendapat perhatian terus untuk dikembangkan. Mungkin kesadaran masyarakat akan keikutsertaannya dalam bertanggung jawab terhadap pendidikan di sekolah belum tinggi, walaupun kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah tinggi, membuat mereka tidak banyak berpartisipasi di sekolah. Atau mungkin juga karena kondisi sosial ekonomi mereka membuat perhatian mereka hanya terpaku kepada usaha-usaha meningkatkan kehidupan dan memandang pendidikan di sekolah cukup ditangani oleh personalia-personalia sekolah saja. Apapun alasannya yang membuat partisipasi masyarakat dalam pendidikan di sekolah belum banyak, perlu diteliti dan dikaji oleh sekolah untuk dijadikan bahan mengembangkan hubungan sekolah dengan masyarakat.
Penerapan hubungan sekolah dengan masyarakat antara sekolah satu dengan sekolah lainnya kemungkinan ada perbedaan disebabkan adanya desentralisasi dari Diknas setempat dan adanya peluang dari kurikulum saat ini (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang memberikan kesempatan pada sekolah untuk mengelola diri sendiri dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Adanya peluang tersebut memungkinkan timbulnya gerak yang berbeda kepada pihak-pihak sekolah baik sekolah negeri maupun sekolah swasta dalam menjalankan hubungan sekolah dengan masyarakat. Adanya perbedaan tersebut sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut sebab latar belakang sekolah negeri dan swasta sangat berbeda. Melalui laporan penelitian ini, penulis mengambil tiga sekolah sebagai sampel untuk sekolah negeri dan sekolah swasta. SDN Rembun 01 Dampit Malang dan SDN Dampit 02 Malang sebagai sampel untuk sekolah negeri dan SD Muhammadiyah 09 Malang sebagai sampel untuk sekolah swasta.
Selain dilihat dari ststus sekolah, juga bias kita pandang dari sisi letak sekolahnya. Mungkin saja sekolah di daerah perkotaan mempunyai hubungan dengan masyarakat yang lebih baik daripada sekolah di daerah kecamatan dan pedesaan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Bisa karena faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal berasal dari sekolah itu sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal dari masyarakat.
Kita sebagai calon pendidik diharapkan mampu menjalin kerja sama dengan masyarakat. Jadi kita harus mengetahui cara bekerja sama yang baik dengan masyarakat demi kelancaran pendidikan sekolah melalui adanya makalah ini. Selain itu, kita juga diharapkan memahami perbedaan pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat antara sekolah negeri dengan sekolah swasta, dan antara sekolah di pedesaan maupun sekolah di perkotaan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah peranan pihak-pihak yang terkait hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang?
2. Bagaimana penerapan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang?
3. Bagaimana penerapan teknik hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan laporan penelitian ini adalah hal-hal berikut:
1. Mengetahui peranan pihak-pihak yang terkait hubungan sekolah dengan masyarakat di lingkungan SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.
2. Mengetahui penerapan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.
3. Mengetahui penerapan teknik hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.

D. Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mempunyai hipotesis yaitu, adanya perbedaan hubungan antara sekolah dengan masyarakat di sekolah negeri (SDN Rembun 1 Dampit Malang dan SDN Dampit 02 Malang) dan sekolah swasta (SD Muhammadiyah 1 Malang), serta adanya perbedaan antara sekolah di daerah perkotaan (SD Muhammadiyah 09 Malang), sekolah di daerah kecamatan (SDN Dampit 02 Malang) dengan sekolah di daerah pedesaan (SDN Rembun 01 Dampit Malang).

E. Kegunaan Penelitian
Ada dua kegunaan/manfaat yang dapat diambil dari laporan penelitian ini, yaitu:
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis, penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kepentingan ilmu manajemen dan supervisi pendidikan SD.
a. Manajemen pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan, khususnya dalam bidang hubungan sekolah dengan masyarakat, sehingga tercapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan.
b. Supervisi pendidikan
Penelitian ini bisa dijadikan dasar untuk mempermudah dalam mengawasi kegiatan yang dilakukan di sekolah, di mana dalam hal ini dikhususkan dalam bidang hubungan sekolah dengan masyarakat.
2. Manfaat praktis
Segala sesuatu yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, antara lain:
a. Bagi tenaga pendidik di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, sebagai pedoman yang bisa digunakan ketika menghadapi adanya masalah yang berkaitan dengan hubungan sekolah dengan masyarakat sehingga bisa meminimalisir masalah yang muncul.
b. Bagi pimpinan lembaga, kepala di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, dapat dijadikan sumber masukan dalam merumuskan kebijakan keputusan apabila terjadi masalah dalam hubungan sekolah dengan masyarakat.
c. Bagi para siswa, sebagai bahan masukan dan kajian dalam berperilaku ketika di sekolah maupun di rumah, sehingga selalu ada komunikasi yang baik antara pihak orang tua dan pihak sekolah.
d. Bagi para calon tenaga pendidik, sebagai pedoman untuk menghadapi berbagai keadaan dan permasalahan mengenai hubungan sekolah dengan masyarakat yang mungkin akan dihadapi kelak ketika sudah terjun dalam dunia kerja.

F. Asumsi
Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa:
1. Penelitian ini hanya dikenakan pada kepala sekolah dan dewan guru di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.
2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2009 semester genap.
3. Materi yang digunakan sebagai tema penelitian adalah hubungan sekolah dengan masyarakat.

G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian tentang hubungan sekolah dengan masyarakat ini hanya dilakukan di tiga Sekolah Dasar saja untuk perbandingan, masing-masing sebagai sampel untuk Sekolah Dasar Negeri, Sekolah Dasar swasta, Sekolah Dasar daerah perkotaan, Sekolah Dasar daerah kecamatan dan Sekolah Dasar di daerah pedesaan.
Wawancara dan angket yang diberikan terbatas pada guru-guru dan kepala sekolah SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, serta beberapa orang wali murid sebab waktu dan keadaan yang kurang memungkinkan untuk menjelajah dan membagikan angket kepada warga masyarakat di sekitar sekolah dan semua wali murid.

H. Definisi Istilah atau Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Sekolah adalah bangunan/lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
2. Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.
3. Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah hubungan dua arah antara sekolah dengan masyarakat untuk memusyawarahkan ide-ide dan informasi-informasi tertentu yang berguna bagi peningkatan pendidikan.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Suatu sekolah tidak dibenarkan mengisolasi diri dari masyarakat. Sekolah tidak boleh menutup diri terhadap masyarakat sekitarnya, ia tidak boleh melaksanakan idenya sendiri dengan tidak mau tahu akan aspirasi-aspirasi masyarakat. Sekolah tidak boleh bersikap dan berlaku demikian, sebab pada hakekatnya ia adalah milik masyarakat. Masyarakat menginginkan sekolah itu berdiri di daerahnya untuk meningkatkan perkembangan putra-putra mereka. Masyarakat juga menginginkan agar sekolah bisa memberi pengaruh positif terhadap perkembangan masyarakat baik langsung maupun tidak langsung. Untuk maksud ini masyarakat siap mendukung usaha-usaha sekolah di daerahnya.
Sekolah adalah merupakan sistem terbuka terhadap lingkungannya termasuk masyarakat pendukungnya. Sebagai sistem terbuka sudah jelas ia tidak dapat mengisolasi diri, sebab bila hal ini ia lakukan berarti ia menuju ke ambang kematian, akibat menentang kewajaran hukum alam. Sebagai sistem terbuka, sekolah selalu membukakan pintu terhadap kehadiran warga masyarakat, terhadap ide-ide mereka, terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka, dan terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sebaliknya masyarakat juga membuka diri untuk dimasuki oleh aktivitas-aktivitas sekolah. Sekolah juga dapat belajar dari masyarakat, guru-guru dan para siswa dapat mencari pengalaman, belajar dan praktek di masyarakat. Antara sekolah dan masyarakat terjadi komunikasi dua arah untuk bisa saling memberi dan saling menerima.
Masyarakat dalam arti sempit di sini adalah masyarakat di lingkungan sekolah itu sendiri, sedangkan dalam arti luas yaitu masyarakat dalam negara dan bahkan bila diperlukan dapat dihubungkan dengan masyarakat Internasional. Sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak menghubungkan diri dengan masyarakat dalam arti sempit ialah masyarakat setempat, sebab fungsi sekolah yang pertama adalah melayani kebutuhan masyarakat setempat.
Hubungan dengan masyarakat berarti komunikasi sekolah dengan masyarakat, ialah mengkomunikasikan masalah-masalah pendidikan baik yang bersumber dari sekolah maupun yang bersumber dari masyarakat. Komunikasi inilah merupakan pintu-pintu keterbukaan sekolah terhadap masyarakat, pintu-pintu yang menghubungkan sekolah sebagai sistem dengan masyarakat sebagai suprasistemnya.
Komunikasi itu merupakan lintasan dua arah yaitu dari arah sekolah ke masyarakat dan dari arah masyarakat ke sekolah. Kedua kelompok kehidupan itu saling memberi informasi, berpartisipasi membina pendidikan. Jones (1969:388) menyambut hubungan dengan masyarakat itu sebagai hubungan dua arah tempat memadu ide antara sekolah dengan masyarakat untuk melahirkan saling pengertian. Ide-ide tentang pendidikan tidak selalu datang dari sekolah. Lagi pula tidak semua ide sekolah itu dapat diterima oleh masyarakat sebagai pemilik sekolah. Masyarakat yang mempunyai kepentingan terhadap pendidikan putra-putranya seringkali punya ide tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah.
Dari uraian-uraian di atas dapat dipahami bahwa hubungan dengan masyarakat bagi suatu sekolah adalah hubungan dua arah antara sekolah dengan masyarakat untuk memusyawarahkan ide-ide dan informasi-informasi tertentu yang berguna bagi peningkatan pendidikan. Hubungan dengan masyarakat didasarkan kepada ketentuan bahwa (1) masyarakat adalah salah satu penanggung jawab sekolah, (2) proses belajar serta media pendidikan juga terjadi dan ada di masyarakat, dan (3) masyarakat menaruh perhatian terhadap pendidikan putra-putranya.

B. Manfaat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Manfaat hubungan sekolah dengan masyarakat dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat:
a. Tahu hal-hal persekolahan dan inovasi-inovasinya
b. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tentang pendidikan lebih mudah diwujudkan.
c. Menyalurkan kebutuhan berpartisipasi dalam pendidikan.
d. Melakukan tekanan/tuntutan terhadap sekolah.
2. Bagi sekolah:
a. Memperbesar dorongan, mawas diri.
b. Memudahkan memperbaiki pendidikan.
c. Memperbesar usaha meningkatkan profesi staf.
d. Konsep masyarakat tentang guru menjadi benar.
e. Mendapatkan koreksi dari kelompok penuntut.
f. Mendapat dukungan moral dari masyarakat.
g. Memudahkan meminta bantuan dan material dari masyarakat.
h. Memudahkan pemakaian media pendidikan di masyarakat.
i. Memudahkan pemanfaatan narasumber.

C. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Mengenai hubungan sekolah dengan masyarakat, T.Sianipar meninjau dari sudut kepentingan kedua lembaga tersebut, yaitu kepentingan sekolah dan kepentingan masyarakat itu sendiri. Ditinjau dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dan masyarakat bertujuan untuk:
1. Memelihara kelangsungan hidup sekolah.
2. Meningkatkan mutu pendidikandisekolah yang bersangkutan.
3. Memperlancar proses belajar mengajar.
4. Memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Sedangkan jika ditinjau dari kebutuhan masyarakat itu sendiri, tujuan hubungannya dengan sekolah adalah untuk:
1. Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam bidang mental-spiritual.
2. Memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat
3. Menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
4. Memperoleh kembali angota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.
Secara lebih konkret lagi, tujuan diselenggarakannya hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:
1. Mengenalkan pentingnya sekolah bagi masyarakat.
2. Mendapatkan dukungan dan bantuan moril maupun financial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah.
3. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program sekolah.
4. Memperkaya atau memperluasprogram sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
5. Mengembangkan kerjasama yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendidik anak.
Menurut Elsbree dan McNally, bermacam-macam tujuan seperti dikemukakan di atas dapat dikelompokkan menjadi tiga tujuan pokok, yaitu:
1. Mengembangkan mutu belajar dan pertumbuhan anak-anak
Makin majunya konsep-konsep pendidikan menunjukkan kepada para pendidik, terutama guru-guru di sekolah, agar pendidikan dan pengajaran tidak lagi subject matter centered, tetapi hendaknya community life centered; tidak lagi berpusat pada buku, tapi berorientasi pada kebutuhan kehidupan di dalam masyarakat. Konsep pendidikan yang demikian mengandung implikasi-implikasi yang berhubungan dengan masyarakat, seperti antara lain:
a. Personil sekolah, terutama guru-guru, perlu mengetahui benar-benar kondisi masyarakat lingkungan hidup anak-anak yang sangat penting bagi program pendidikan seperti lingkungan alam tempat anak itu hidup, macam-macam masalah pendidikan yang timbul di dalam masyarakat itu, adat istiadat dan kepercayaan masyarakat, keadaan kehidupan dan ekonomi mereka, kesempatan dan sarana rekreasi bagi anak-anak.
b. Kepala sekolah dan guru-guru hendaknya selalu berusaha untuk dapat bekerja sama dan memanfaatkan sumber-sumber di dalam masyarakat yang diperlukan untuk memperkaya program sekolah. Dengan memandang masyarakat itu sebagai laboratorium untuk belajar, berarti penting bagi guru-guru untuk mengetahui fasilitas-fasilitas apa yang tersedia di dalam masyarakat yang diperlukan dalam belajar.
c. Sekolah hendaknya dapat bekerja sama dengan organisasi-organisasi dan instansi lain di dalam masyarakat yang mempunyai tugas dan kepentingan yang sama terhadap pendidikan anak-anak. Misalnya lembaga-lembaga keagamaan, organisasi kepramukaan, kesenian dan kesehatan. Semua itu dapat membantu pendidikan anak-anak, baik pendidikan di sekolah maupun pendidikan di luar sekolah.
d. Guru-guru hendaknya selalu mengikuti perkembangan masyarakat dan selalu siap memahami dan mengkaji sumber-sumber masyarakat yang dapat dimasukkan ke dalam rencana perkembangan pendidikan. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa bahan pengajaran yang diberikan kepada murid-murid bukanlah bahan yang statis dan using, melainkan merupakan bahan yang fungsional dan akurat bagi kebutuhan murid sekarang dan kehidupan yang akan datang.
2. Meningkatkan tujuan dan mutu kehidupan masyarakat.
Di dalam masyarakat yang demokratis, sekolah seharusnya dapat menjadikan dirinya sebagai pelopor dan pusat perkembangan bagi perubahan-perubahan masyarakat di dalam bidang-bidang kehidupan ekonomi, kebudayaan, teknologi dan sebagainya, ke tingkat yang lebih tinggi. Jadi dalam hal ini, bukan sekolah yang harus mengekor secara pasif kepada perkembangan masyarakat, tetapi sebaliknya sekolahlah yang justru yang harus mempelopori bagaimana dan kemana masyarakat itu harus dikembangkan. Seperti pernah dikemukakan oleh prof. Dr. Bachtiar Rifai dan Ir. S. Sudarmadi, M.Sc. dalam ulasannya mengenai sekolah pembangunan yang telah dirintis di Indonesia sejak tahun 1972 sebagai berikut :
Sekolah pembangunan harus dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup, sekolah hendaknya mempunyai dwifungsi yaitu mampu memberikan pendidikan formal dan juga pendidikan nonformal,baik itu untuk para pemuda maupun untuk orang dewasa baik pria maupun wanita.
b. Sekolah hendaknya mempunyai kurukulum, metode mengajar, serta evaluasi dan program yang menyenangkan, merangsang dan cocok dengan tujuan pendidikan.
c. Sekolah hendaknya merupakan bagian integral dari masyarakat sekitarnya dan berorientasi kepada pembangunan dan kemajuan.
d. Sekolah hendaknya mempunyai mekanisme untuk menjamin terpeliharanya dialog yang kontinu antara sekolah-orang tua murid-masyarakat, dan juga dialog intrasekolah dan antar sekolah.
Dari apa yang dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, berbeda dengan sekolah-sekolah tradisional seperti yang kita miliki sekarang ini, sekolah pembangunan lebih merupakan community center atau lebih spesifik lagi, “pusat kegiatan belajar masyarakat”, walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk memakai fasilitas-fasilitasnya untuk rekreasi, balai budaya, ataupun pertemuan dan rapat-rapat anggota masyarakat di sekitarnya.
3. Mengembangkan pengertian, antusiasme, dan partisipasi masyarakat.
Hal tersebut penting, apalagi bagi masyarakat Indonesia. Yang pada umumnya masih belum begitu menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab pendidikan anak-anak adalah juga tugas dan tanggung jawab masyarakat di samping sekolah dan pemerintah. Seperti pernah dikemukakan oleh Menteri P dan K Mashuri, SH. sebagai berikut: “Sekolah itu hendaknya merupakan bagian integral dari masyarakat sekitarnya. Sesuai dengan azas pendidikan seumur hidup, sekolah itu hendaknya mempunyai dwi fungsi: mampu memberikan pendidikan formal dan juga pendidikan informal, baik untuk para pemuda maupun untuk orang dewasa pria wanita”.
Dalam hubungannya dengan antusiasme dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan, Menteri P dan K pernah pula mengusulkan dalam salah satu tulisannya antara lain: “Azas pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan sepanjang umur hidup manusia, dari sejak lahir sampai meninggal, bagi semua jenis seks, umur, golongan, dan keyakinan.
Mengingat wadah yang tidak hanya berbentuk sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat pada umumnya, maka azas pendidikan nasional menetapkan pula, bahwa bentuk pendidikan yang kita manfaatkan melalui berbagai wadah itu tidak hanya bentuk pengajaran, tetapi juga tauladan, komunikasi, kelompok atau massa, dan sosialisasi pada umumnya.

D. Peranan Pihak-pihak yang terkait hubungan antara Sekolah dengan Masyarakat
Dalam kaitannya dengan hubungan sekolah dan masyarakat, ada beberapa pihak yang turut andil dalam pembentukan hubungan sekolah dan masyarakat, pihak-pihak tersebut antara lain:
1. Orang tua
Peranan orang tua dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, antara lain:
a. Mendukung pelaksanaan belajar mengajar di sekolah.
b. Berpartisipasi aktif dalam mensosialisasikan kegiatan sekolah di berbagai komunitas.
c. Bersedia menjadi narasumber sesuai keahlian dan profesi yang dimiliki.
d. Menginformasikan nilai-nilai positif dari pelaksanaan kegiatan di sekolah kepada masyarakat secara luas.
e. Bekerjasama dengan anggota komite sekolah atau atau pihak lain dalam pengadaan sumber belajar.
f. Aktif bekerja sama dengan guru dalam proses pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus.
g. Aktif dalam memberikan ide/gagasan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran.
2. Guru
Peranan guru dalam hubungan antara sekolah dengan masyarakat, antara lain:
a. Berkomunikasi secara berkala dengan keluarga, yaitu: orang tua atau wali tentang kemajuan anak mereka dalam belajar dan berprestasi.
b. Bekerjasama dengan masyarakat untuk menjaring anak yang tidak bersekolah, mengajak dan memasukkannya ke sekolah.
c. Menjelaskan manfaat dan tujuan sekolah kepada orang tua peserta didik.
d. Mempersiapkan anak agar berani berinteraksi dengan masyarakat sebagai bagian dari kurikulum, seperti mengujungi museum, memperingati hari-haribesar keagamaan dan Nasional.
e. Mengajak orang tua dan anggota masyarakat terlibat di kelas.
3. Komite sekolah
Komite Sekolah merupakan nama baru pengganti Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan di luar sekolah (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Secara kontekstual, peran Komite Sekolah sebagai:
a. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
b. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
c. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
d. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Depdiknas dalam bukunya Partisipasi Masyarakat, menguraikan tujuh peranan Komite Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah, yakni:
a. Membantu meningkatkan kelancaran penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah baik sarana, prasarana maupun teknis pendidikan.
b. Melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa. Membantu usaha pemantapan sekolah dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan demokrasi sejak dini (kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan pendahuluan bela negara, kewarganegaraan, berorganisasi, dan kepemimpinan), keterampilan dan kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga, daya kreasi dan cipta, serta apresiasi seni dan budaya.
c. Mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.
d. Melakukan penilaian sekolah untuk pengembangan pelaksanaan kurikulum, baik intra maupun ekstrakurikuler dan pelaksanaan manajemen sekolah, kepala/wakil kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan.
e. Memberikan penghargaan atas keberhasilan manajemen sekolah.
f. Melakukan pembahasan tentang usulan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
g. Meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu (Depdiknas, 2001:17).
4. Kepala sekolah
Peranan kepala sekolah dalam hubungan sekolah dengan masyarakat anatara lain:
a. Mengatur hubungan sekolah dengan orang tua siswa.
b. Memelihara hubungan baik dengan BP3.
c. Memelihara dan mengembangkan hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga lain, baik pemerintah maupun swasta.
d. Memberi pengertian kepada masyarakat tentang fungsi sekolah melalui bermacam-macam media komunikasi.
e. Mencari dukungan dari masyarakat. Dukungan yang diperlukan meliputi :
1) Personil, seperti : tenaga ahli, konsultan, guru, orang tua, pengawas dan sebagainya.
2) Dana yang diperlukan untuk mendukung tersedianya fasilitas, perlengkapan dan bahan-bahan pengajaran yang lain.
3) Dukungan berupa informasi, lembaga dan sikap politis.
f. Memanfaatkan sumber-sumber daya yang diperoleh secara tepat, sehingga mampu meningkatkan proses mengajar dan belajar.
5. Supervisor
Kepala sekolah beserta supervisor memegang kunci akan keberhasilan mengadakan hubungan dengan masyarakat. Para supervisor adalah partner kepala sekolah yang mempunyai kedudukan sama dalam masalah-masalah supervisi. Oleh karena itu hubungan dengan masyarakat yang berkenaan dengan usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ditangani bersama kepala sekolah dan para supervisor.
Peranan supervisor dalam mengadakan hubungan dengan masyarakat, yaitu:
a. Membantu kepala sekolah merencanakan program hubungan sekolah dengan masyarakat.
b. Membantu kepala sekolah meningkatkan atau mengembangkan program tersebut.
c. Membina staf mengisi program hubungan dengan masyarakat secara baik.
d. Membantu kepala sekolah mengadakan kontak-kontak hubungan dengan:
1) Dewan penasihat atau yayasan.
2) Organisasi atau orangtua siswa.
3) Kelompok-kelompok penuntut di masyarakat.
4) Sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi.
5) Majikan-majikan pemakai tenaga kerja.
6) Individu-individu yang berkepentingan.
e. Membantu kepala sekolah menilai program dan pelaksanaan hubungan dengan masyarakat.
Antara peranan kepala sekolah dan peranan supervisor terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah kedua-duanya mengadakan hubungan dengan badan atau instansi-instansi dinas di atas sekolah, yang satu menekankan kepada instansi-instansi di atas sekolah sedang yang satunya kepada badan penanggung jawab pendidikan sekolah itu. Kesamaan yang kedua antara peranan kepala sekolah dengan peranan supervisor dalam hubungan dengan masyarakat ialah dalam mengadakan kontak-kontak hubungan. Kalau kepala sekolah menekankan kepada kontak-kontak hubungan secara individual, maka supervisor menitikberatkan kepada pemberian informasi tentang performan para siswa baik secara individual maupun secara kelompok.

E. Prinsip Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Untuk mencapai tujuan kerja sama sekolah dengan masyarakat, ada beberapa prinsip sebagai pedoman untuk melaksanakannya, yaitu yang dikemukakan oleh Elsbree (Soetopo:1982).
1. Ketahuilah apa yang Anda yakini. Dalam hal ini, merupakan tugas kepala sekolah untuk mengembangkan filsafat pendidikan yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan di sekolah agar guru-guru dan staf tata usaha sadar akan apa yang dikerjakan di sekolah sehingga tidak ada kesimpangsiuran dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.
2. Laksanakanlah program pendidikan dengan baik dan bersahabat dengan masyarakat. Maksudnya, untuk mencapai kerja sama dan memperoleh bantuan dari masyarakat, buatlah program belajar bagi anak-anak sebaik mungkin, buatlah sekolah yang dapat menciptakan suasana yang bahagia dan situasi belajar yang menggairahkan bagi murid. Dan sekolah hendaknya melayani setiap orang yang datang ke sekolah itu secara bersahabat.
3. Ketahuilah masyarakat Anda. Masyarakat sekolah hendaknya benar-benar mengetahui keadaan masyarakat di daerah itu, baik sifat dan problemnya maupun sumber-sumber yang ada dalam masyarakat tersebut.
4. Adakan survey mengenai masyarakat di daerah tertentu. Survey itu perlu untuk menghimpun informasi yang meliputi aspek kehidupan masyarakat dan kondisinya. Pengenalan dalam masyarakat merupakan bahan dalam penyusunan hasil survey yang membantu anak-anak dadlam meningkatkan keingintahuan tentang orang-orang yang ada di sana, kejadian-kejadian, masa depan masyarakat, dan membangkitkan minat anak-anak untuk mengadakan penelitian tentang kesejahteraan masyarakat tersebut dan juga akan terbukanya pintu untuk kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
5. Bahan-bahan dokumen. Dalam menyelidiki dan mempelajari keadaan masyarakat itu melalui dokumen-dokumen dari sumber-sumber seperti kantor sensus, lembaga-lembaga ilmiah, dan sebagainya.
6. Keanggotaan dalam organisasi masyarakat. Banyak faedah dan tujuan yang akan diperoleh dari sekolah, tidak hanya mengetahui dari luar tetapi juga dari dalamdengan jalan menjadi anggota dari organisasi kepemudaan kebudayaan, dan sebagainya. Tujuan masuk organisasi bukan merumuskan sekolah tetapi cara bagaimana mereka dapat mengerti kepentingan sekolah serta turut membantu sekolah.
7. Adakan kunjungan ke rumah. Banyak tujuan dan faedah yang akan diperoleh dari kunjungan guru ke rumah orang tua murid, baik untuk tujuan proses perkembangan anak maupun untuk menghimpun informasi tentang masyarakat di daerah tersebut.
8. Layani masyarakat di daerah Anda. Sekolah melayani anak-anak dari masyarakat melalui pendidikan dan pengajaran, tetapi sekolah akan menjadi lebih baik bila dijadikan pusat kegiatan masyarakat. Misalnya pada suatu sekolah ada perpustakaan untuk masyarakat, tempat pertemuan, dan sebagainya. Sedangkan pengaturan kegiatan tersebut direncanakan dan dilaksanakan bersama.
9. Doronglah masyarakat untuk melayani sekolah. Ada beberapa prinsip penggunaan masyarakat untuk mencapai atau melayani sekolah, yaitu:
a. Adakanlah hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh dalam masyarakat yang dapat memberi bantuan berupa materi, tenaga, dan waktu demi kepentingan sekolah.
b. Mohon bantuan pada pendidik dalam masyarakat untuk melayani sekolah.
Memajukan program belajar anak-anak dan tingkatan mutu belajar melalui kemampuan dan pelayanan tokoh-tokoh masyarakat tapi pelaksanaan program tersebut hendaknya direncanakan dan diatur dengan baik.

F. Teknik Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Menurut Soekarto Indra Fachrudi (1989:246), mengungkapkan ada 11 teknik yang dapat dilakukan untuk memberikan gambaran tentang sekolah yang perlu diketahui oleh masyarakat. Teknik-teknik tersebut antara lain meliputi:
1. Laporan kepada orang tua murid
Laporan yang diberikan oleh seklah kepada masyarakat berisi laporan tentang kemajuan anak, aktivitas anak di sekolah, kegiatan sekolah sendiri, dan segala sesuatu yang terjadi di sekolah sehubungan dengan pendidikan anak ddi sekolah. Laporan ini dapat dilakukan sekali dalam tiga atau empat bulan, semesteran atau tahunan. Laporan tersebut tidak hanya berupa data, angka-angka akan tetapi menyangkut inframasi yang bersiafat diagnostik. Artinya dalam laporan tersebut dicantumkan juga kelebihan dan kelemahan anak, disertai dengan jalan pemecahan yang kiranya dapat dilakukan orang tua dalam ikut membantu kesuksesan belajar anak.
2. Buletin Bulanan
Buletin bulanan dapat diusahakan oleh guru, staf sekolah , dan para orang tua yang dapat diterbitkan satu bulan sekali. Bahkan dapat juga melibatkan murid, sambil memberikan latihan dan membentuk kader dari pihak murid.
Isi buletin bulanan ini adalah tentang kegiatan sekolah, artikel-artikel guru dan murid (bisa juga artikel dari orang tua murid), pengumuman- pengumuman sekolah, berita-berita sekolah, dan berita-berita masyarakat yang perlu diketahui sekolah dan lain sebagainya.
Disamping jalur di atas, sekolah dapat pula menerbitkan”booklets”, yaitu buku kecil yang diberikan kepada keluarga yang anaknya yang sekolah ditempat itu, atau orang tua yang akan memasukkan anaknya di sekolah itu. Isi ”booklets” adalah petunjuk cara belajar di sekolah yang bersangkutan, fasilitas sekolah, kurikulum yang dipakai, keadaan sekolah dan sejarahnya. Pengurus sekolah dan pengurus OSIS, kemajuan dan aktivitas sekolah selama ini dan program kerja sekolah pada saat itu.
3. Penerbitan Surat Kabar
Apabila dimungkinkan, sekolah dapat menerbitkan surat kabar sekolah. Isinya menyangkut segala aspek yang menunjang kesuksesan program pendidikan. Artikel-artikel yang dimuat pun harus berkaitan dengan dunia pendidikan sesuai dengan bidang yang dipelajari anak didik. Berita-berita yang dimuat hendaknya juga berita-berita yang memiliki nilai didik.
”The Twenty Eight Years Book of American Association of School Administration” menyarankan 10 masalah yang hendaknya dimasukkan dalam surat kabar sekolah:
a. Kemajuan dan kesejahteraan murid.
b. Program pengajaran sekolah.
c. Pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
d. Tata-tertib dan kehadiran di sekolah.
e. Tenaga yang bekerja di sekolah.
f. Anggota staf sekolah dan alumni.
g. Program pengadaan dan pemeliharaan rumah sekolah.
h. Biaya dan sistem administrasi sekolah.
i. Perkumpulan orangtua murid dan guru.
j. Aktivitas murid.
4. Pameran Sekolah
Pameran sekolah merupakan metode yang sangat efektif untuk memberikan gambaran tentang keadaan sekolah dengan berbagai hasil aktivitasnya. Masyarakat dapat melihat secara langsung keadaan sekolah dengan mengunjungi pameran tersebut. Tempat penyelenggaraan pameran dapat di dalam kelas atau di luar kelas, yaitu di halaman sekolah. Bahkan dapat juga dilakukan di luar sekolah. Tentu saja yang terakhir ini memerlukan pengelolaan yang lebih rumit. Barang-barang yang dipamerkan dapat berupa hasil karya siswa dan guru, alat-alat peraga dan hasil panenan kebun atau sawah (bila ada). Termasuk juga hasil karya para guru perlu dipamerkan.
5. Open House
Open House merupakan suatu metode mempersilakan masyarakat yang berminat untuk meninjau sekolah serta mengobservasi kegiatan dan hasil kerja murid dan guru yang diadakan pada waktu yang telah terjadwal. Pada saat itulah masyarakat dapat melihat secara langsung proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah itu. Dari gambaran ini, masyarakat dapat memberikan penilaian atas pelaksanaan pendidikan di sekolah tersebut.
6. Kunjungan ke sekolah (school visitation)
Kunjungan orang tua murid ke sekolah pada saat pelajaran berlangsung yang dimaksudkan agar para orang tua murid berkesempatan melihat anak-anaknya pada waktu mengikuti pelajaran. Bagus kiranya apabila setelah orang tua mengadakan kunjungan ini kemudian diadakan diskusi untuk memecahkan masalah yang timbul menurut pengamatan para orang tua. Kunjungan ke sekolah ini dapat dilaksanakan sewaktu-waktu, sehingga mereka dapat melihat kewajaran yang terjadi di sekolah itu.
7. Kunjungan ke rumah murid (home visitation)
Kunjungan ke rumah murid dilakukan untuk melihat latar belakang kehidupan murid di rumah. Penerapan metode ini akan mempererat hubungan antara sekolah dengan orang tua murid, di samping dapat menjalin silaturrahmi antara guru dengan orang tua murid. Masalah-masalah yang dihadapi murid di sekolah dapat dibicarakan secara kekeluargaan dan persahabatan intim. Guru yang berkunjung ke rumah orang tua murid harus bersikap bijaksana, hati-hati dan ramah tamah, terutama dalam menanggapi problema yang dikemukakan oleh orang tua.
Kunjungan ke rumah orang tua murid harus direncanakan dan harus mengemban kepentingan sekolah. Jadi tidak boleh dipakai untuk kepentingan anak didik. Kecuali diadakan kunjungan oleh guru yang tidak direncanakan oleh sekolah, kemudian dalam percakapan diperbincangkan masalah siswa. Cara ini kadang-kadang yang membawa hasil yang sangat memuaskan.
8. Melalui penjelasan oleh staf sekolah
Kepala sekolah hendaknya berusaha agar semua personal sekolah turut aktif mengambil bagian dalam mensukseskan program hubungan sekolah dengan masyarakat. Para personal sekolah dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang kepentingan sekolah, organisasi sekolah dan semua kegiatan sekolah.
Kepala sekolah dapat menanamkan loyalitas para staf dengan mengikutsertakan mereka bekerja. Mereka harus berpegang teguh pada etika jabatan. Hendaklah kepala sekolah juga mendorong para staf sekolah untuk menyebarkan kebaikan tentang sekolah dan mendudukkan kebaikan yang sebenarnya apabila sekolah mendapatkan kritik dari pihak luar. Inilah yang dinamakan cinta almamater.
9. Gambaran keadaan sekolah melalui murid.
Murid dapat juga didorong untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang keadaan sekolah. Jangan sampai bahkan menyebarkan isu-isu yang tidak baik mengenai sekolah kepada masyarakat. Apabila sekolah memiliki pemancar radio maka media ini dapat dimanfaatkan agar murid berbincang bincang dalam siaran mengenai situasi sekolah.
10. Melalui radio dan televisi
Radio dan televisi memiliki daya yang kuat untuk menyebarkan pengaruh melalui informasi yang disiarkannya. Radio dan televisi cepat sekali membentuk “public opinion” yang sangat dibutuhkan dalam program hubungan sekolah dengan masyarakat ini.
Melalui radio dan televisi, masyarakat akan lebih mengenal situasi dan perkembangan sekolah. Melalui radio dan televisi sekolah dapat menyampaikan berita-berita dan pengumuman-pengumuman yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, termasuk apabila ada permohonan sumbangan dari pihak sekolah. Hal ini untuk menghindari tipuan yang sering dlakukan oleh anak kepada orang tua, bahwa anak minta uang iuran yang sebenarnya tidak ditarik oleh sekolah.
11. Laporan tahunan
Laporan tahunan disusun oleh kepala sekolah untuk diberikan kepada penilik sekolah atau kepada Kantor Departemen P dan K kecamatan yang membawanya atau kepada atasan langsungnya. Kepala sekolah dapat menugaskan kepada stafnya atau langsung dia sendiri memberikan informasi tersebut yang berkenaan dengan isi laporan tahunannya. Isi laporan tahunan tersebut antara lain mencakup: kegiatan yang telah dilakukan, kurikulum, personalia, anggaran dan situasi murid.

G. Jenis Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Banyak orang mengartikan hubungan kerjasama sekolah dan masyarakat itu dalam pengertian yang sempit. Mereka berpendapat bahwa hubungan kerjasama itu hanyalah dalam hal mendidik anak belaka. Padahal, hubungan kerjasama antara sekolah dan masyarakat itu mengandung arti yang lebih luas dan mencakup beberapa bidang. Sudah barang tentu bidang-bidang yang ada hubungannya dengan pendidikan anak-anak dan pendidikan masyarakat pada umumnya.
Penulis berpendapat bahwa hubungan kerjasama sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjdi tiga jenis hubungan, yaitu:
1. Hubungan edukatif
Hubungan edukatif adalah hubungan kerjasama dalam hal mendidik anak/murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dpat mengakibatkan keraguan pendirian dan sikap pada diri anak. Antara sekolah yang diwakili oleh guru dan orang tua tidak saling berbeda atau berselisih paham, baik tentang norma-norma etika maupun norma-norma sosial yang hendak ditanamkan kepada anak didik mereka.
2. Hubungan kultural
Hubungan kultural adalah kerjasama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Kita mengetahui bahwa sekolah merupakan suatu lembaga yang seharusnya dapat dijadikan barometer bagi murid-muridnya. Kehidupan, cara berpikir, kepercayaan, kesenian, adat istiadat dari masyarakat. Bahkan yang lebih diharapkan adalah hendaknya sekolah itu dapat merupakan titik pusat dan sumber tempat terpencarnya norma-norma kehidupan (norma agama, etika, sosial, estetika, dan sebagainya) yang baik bagi kemajuan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang maju. Jadi, bukanlah sebaliknya sekolah hanya mengintroduksikan apa yang hidup dan berkembang di masyarakat.
3. Hubungan institusional
Hubungan institusional yaitu hubungan kerjasama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerjasama antara sekolah dengan sekolah-sekolah lain, dengan kepala pemerintahan setempat, jawatan penerangan, jawatan pertanian, perikanan dan peternakan, dengan perusahaan-perusahaan negara atau swasta yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mendidik anak-anak yang nantinya akan hidup sebagai anggota masyarakat yang terdiri atas bermacam-macam golongan, jabatan, status sosial, dan bermacam-macam pekerjaan, sangat memerlukan adanya hubungan kerjasama itu. Dengan adanya hubungan ini sekolah dapat meminta bantuan dari lembaga-lembaga lain, baik berupa tenaga pengajar, pemberi ceramah tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengadaan dan pengembangan materi kurikulum maupun bantuan yang berupa fasilitas serta alat-alat yang diperlukan bagi kelancaran program sekolah.
Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan bahwa dengan dilaksanakannya ketiga jenis hubungan sekolah dan masyarakat seperti telah diuraikan di atas, diharapkan sekolah tidak lagi selalu ketiggalan dengan perubahan dan tuntutan masyarakat yang senantiasa berkembang. Apalagi menghadapi era globalisasi seperti sekarang ini,ketika masyarakat berubah dan berkembang dengan sangat pesatnya akibat kemajuan teknologi, sehingga seperti dikatakan oleh Tilaar, sekolah makin tercecer dan terisolasi dari masyarakat, sekolah lebih berfungsi sebagai penjara intelek. Maka untuk dapat memperoleh kembali fungsi yang sebenarnya, sekolah harus merupakan salah satu pusat belajar dari banyak pusatbelajar yang kini dikategorikan sebagai pendidikan nonformal.
Adanya hubungan sekolah dan masyarakat ini dimaksudkan pula agar proses belajar yang berlaku di sekolah mengalami perubahan,dari proses belajar dengan cara “menyuapi”, dengan bahan pelajaran yang telah dicerna oleh guru, menjadi proses belajar yang inovatif, yaitu belajar secara antisipatoris dan partisipatoris. Anak-anak dididik untuk berpartisipasi dalam arti luas di dalam kehidupan masyarakat, dan dapat mengantisipasi kehidupan masyarakat yang akan datang tempat mereka akan hidup dan terlibat di dalamnya setelah mereka dewasa.

H. Bentuk-bentuk Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Cara-cara dan alat-alat yang dipakai oleh sekolah untuk melakukan hubungan dengan masyarakat ialah: (1) melalui aktivitas para siswa, (2) aktivitas guru-guru, (3) ekstrakurikuler, (4) kunjungan masyarakat atau orangtua siswa ke sekolah, dan (5) melalui media masa (Jones, 1969:395-400). Cara-cara ini perlu ditambah lagi dengan pertemuan-pertemuan kelompok. Dengan demikian bentuk hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Aktivitas para siswa/kelas atau tingkat kelas.
2. Aktivitas guru, beberapa guru, atau guru-guru satu bidang studi.
3. Media masa
4. Kunjungan warga masyarakat atau orangtua siswa ke sekolah.
5. Pertemuan dengan kelompok masyarakat yang menaruh perhatian kepada pendidikan di sekolah.

































BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian diartikan sebagai strategi yang mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan tujuan penelitian (PPKI dalam Nurhayati, 2009:29). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini ialah rancangan deskriptif.
Penelitian deskriptif yaitu, penelitian yang tidak menggunakan perhitungan statistik dan data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Dengan demikian laporan penelitian berupa gambaran (deskripsi) yang berisi data apa adanya yang ada di penelitian itu.
Penelitian ini bertujuan menggambarkan secara sistematis dan akurat mengenai fakta dan karakteristik bidang tertentu. Penelitian ini berusaha menggambarkan situasi atau kejadian dalan hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.

B. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Selain itu, peneliti juga mempunyai kedudukan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data, dan pelapor hasil penelitiannya. Atas dasar pentingnya kedudukan peneliti, maka kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian mutlak diperlukan. Sehingga peneliti mendatangi secara langsung sumber informasi, yaitu di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.

C. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di ruang guru Sekolah Dasar Negeri Rembun 1 Dampit Malang, Sekolah Dasar Negeri Dampit 02 Malang, dan Sekolah Dasar Muhammadiyah 9 Malang.

D. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh. Hal ini memberikan gambaran bahwa yang dimaksud sumber data adalah dari mana kita nantinya akan mendapat informasi yang diperlukan dan mendukung penelitian. Apabila peneliti menggunakan kuesioner/wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon/menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Apabila peneliti menggunakan teknik observasi maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak/proses sesuatu(Suharsmi, A, dalam Nurhayati, 2009:31). Dan apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka sumber data dari penelitian ini ada dua, yaitu:
a. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data utama yang nantinya diminta informasi oleh peneliti, baik melalui angket maupun wawancara. Adapun yang menjadi sumber data primer di dalam penelitian ini adalah kepala sekolah di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data pelengkap dari sumber data primer. Adapun yang menjadi sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah guru-guru dan karyawan di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.

E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data ini maksudnya adalah terkait dengan cara yang digunakan oleh peneliti dalam mendapatkan atau menggali informasi berupa data-data yang berasal dari sumber data yang telah ditetapkan oleh peneliti. Untuk mewujudkan hal tersebut, peneliti telah menetapkan instrumen penelitian yaitu alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap, sistematis, sehingga lebih mudah diolah (Arikunto dalam Nurhayati, 2009:32).
Adapun teknik pengumpulan data penelitian dalam penelitian ini meliputi; (1) observasi atau pengamatan, (2) wawancara atau interview, dan (3) dokumentasi.
1. Observasi atau pengamatan
Observasi merupakan kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra(Arikunto dalam Nurhayati, 2009:33). Dalam hal ini, peneliti melakukan observasi dengan mengamati secara langsung objek penelitian. Adapun observasi/pengamatan ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.
2. Wawancara atau interview
Wawancara atau interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Arikunto dalam Nurhayati, 2009:34). Wawancara atau interview ini digunakan untuk mendukung data dari hasil observasi atau pengamatan.
3. Dokumentasi
Berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto dalam Nurhayati, 2009:34). Dokumentasi digunakan untuk melengkapi perolehan data dari teknik pengumpulan data penelitian sebelumnya.

F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto dalam Nurhayati, 2009:32).
Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah (1) pedoman wawancara atau interview, dan (2) dokumen.
1. Pedoman wawancara atau interview
Pedoman wawancara atau interview ini berisi pertanyaan-pertanyaan terkait dengan data yang diperlukan oleh peneliti. Pedoman ini bertujuan untuk mendukung perolehan data hasil observasi (pedoman wawancara atau interview dapat dilihat pada lampiran 1).
2. Dokumen
Penelitian ini juga menggunakan instrumen berupa dokumentasi yang bertujuan untuk melengkapi perolehan data dari instrumen-instrumen sebelumnya. Dokumen yang digunakan peneliti untuk menggali informasi atau data penelitian yaitu berupa foto-foto yang berkaitan dengan praktek hubungan sekolah dengan masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang.

G. Analisis Data
Setelah memperoleh data, peneliti melakukan pengolahan data dengan teknik analisis yang telah ditentukan oleh peneliti. Karena penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang tidak menggunakan perhitungan statistik, maka penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif.
Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang subjek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperoleh dari kelompok subjek yang diteliti dan tidak dimaksudkan untuk pengujian hipotesis. Penyajian hasil analisis deskriptif biasanya berupa frekuensi dan prosentase, tabulasi silang, serta berbagai bentuk grafik berupa statistik kelompok pada data yang bukan kategorial (Azwar dalam Nurhayati, 2009:36).
Analisis yang dilakukan pada penelitian deskriptif hanya sampai pada tahap deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Adapun langkah-langkah yang peneliti tempuh dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data
2. Memilah-milah data
3. Mendeskripsikan data












































BAB IV
HASIL PENELITIAN

Sebelum dilakukan penelitian pada bulan April sampai bulan Mei peneliti melakukan observasi di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang. Peneliti menyampaikan kepada kepala sekolah bahwa wawancara akan dilakukan pada guru-guru dan staf sekolah.
A. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di Sekolah Dasar Negeri Rembun 01 Dampit Malang
Hasil wawancara di SDN Rembun 01 Dampit Malang.
Peneliti : “Pernahkah sekolah mengadakan laporan kepada wali murid?”
Guru : “Pernah, dua kali dalam satu semester.”
Peneliti : “Apakah sekolah mengadakan buletin bulanan?”
Guru : “Tidak, tetapi langganan koran pendidikan yang terbit tiap minggu.”
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan penerbitan surat kabar?”
Guru : “Tidak pernah.”
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan pameran sekolah? Kapan?”
Guru : “Tidak pernah.”
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan open house? Kapan?”
Guru : “Ya, tetapi bukan saat pelajaran. Open house diadakan saat acara persami di sekolah.”
Peneliti : “Pernahkah sekolah mengadakan kunjungan wali murid ke sekolah?”
Guru : “Pernah, pada saat rapat wali murid.”
Peneliti : “Pernahkah guru mengadakan kunjungan ke rumah murid? Apakah alasannya?”
Guru : “Pernah, dengan alasan melihat latar belakang kehidupan murid, membicarakan masalah prestasi siswa, dan menjalin siolaturrahim dengan orang tua siswa.”
Peneliti : “Adakah buku penghubung antara guru dengan wali murid?”
Guru : “Ada, seperti rapor dan buku tugas rumah yang harus ditandatangani dan diperiksa oleh orang tua siswa.”
Peneliti : “Apakah sekolah selalu membuat laporan tahunan kepada wali murid?”
Guru : “Ya, tetapi bukan dalam bentuk buku melainkan disampaikan saat rapat dengan wali murid.”
Peneliti :
“Yang manakah prinsip-prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat di bawah ini yang diterapkan di sekolah Anda?”
1. Ketahuilah apa yang Anda yakini!
2. Laksanakan program pendidikan yang baik dan bersahabat dengan masyarakat!
3. Ketahuilah masyarakat Anda!
4. Adakan survey mengenai masyarakat di daerah Anda!
5. Membuktikan dan mempersiapkan bahan-bahan dokumen seperti dari sumber-sumber (kantor sensus, lembaga-lembaga ilmiah, dan sebagainya).
6. Menjadi anggota dalam organisasi masyarakat.
7. Mengadakan kunjungan ke rumah orang tua siswa.
8. Melayani masyarakat dengan baik.
9. Mendorong masyarakat untuk melayani sekolah.
10. Mengadakan hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat.
11. Memajukan program belajar.
Guru : “Prinsip yang pertama diterapkan dengan cara, kepala sekolah memberi pengarahan kepada guru-guru. Biasanya tentang lingkungan dan pendidikan di sekolah. Prinsip yang kedua juga diterapkan, melalui komite sekolah yang diwakili oleh salah seorang wali murid. Komite sekolah bertugas memegang dana BP3. Dalam hal ini, kepala sekolah tidak ikut campur tangan. Prinsip yang ketiga, diwujudkan dalam hal sekolah mengetahui keadaan masyarakat sekitar, tentang lingkungan siswa-siswinya. Prinsip keempat, diterapkan saat idul fitri misalnya. Guru-guru bersilaturrahim ke rumah wali murid, begitu juga sebaliknya. Prinsip kelima dan keenam tidak diterapkan. Prinsip ketujuh, kedelapan, dan kesembilan diterapkan. Prinsip kesembilan diwujudkan dalam hal pembangunan dan rehabilitasi bangunan sekolah. Wali murid yang berprofesi sebagai tukang bangunan membantu menyelesaikannya. Prinsip kesepuluh dan kesebelas juga diterapkan melalui jalinan hubungan yang baik antara pihak sekolah dengan ketua RT atau ketua RW, dan memajukan program sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.”
Peneliti : “Apakah guru selalu mengadakan komunikasi secara berkala dengan wali murid?”
Guru : “Ya, sewaktu-waktu, jika ada rapat, dan kunjungan ke rumah siswa.”
Peneliti : “Apakah sekolah ini bekerja sama dengan masyarakat untuk menjaring anak yang tidak bersekolah, mengajak dan memasukkannya ke sekolah ini?”
Guru : “Ya, misalnya yang tidak lulus SD diajak untuk mengikuti program paket A.”
Peneliti : “Kapan sekolah mengadakan kunjungan ke lokasi bersejarah?”
Guru : “Saat akhir tahun ajaran, misalnya mengadakan karyawisata ke museum.”
Peneliti : “Apakah sekolah mengajak orang tua dan anggota masyarakat untuk terlibat di kelas?”
Guru : “Tidak.”
Peneliti :
“Di antara kendala-kendala berikut ini, yang manakah yang pernah terjadi di sekolah Anda?”
1. Masyarakat atau wali murid yang kurang merespon kegiatan di sekolah.
Guru : “Pernah terjadi saat sekolah akan mengadakan karyawisata, siswa dilarang ikut dengan alasan keselamatan siswa, pada kegiata ekstrakurikuler, siswa dilarang ikut karena orang tua takut anak kecapaian. Masalah ini diatasi dengan mengikutsertakan wali murid dalam setiap acara karyawisata dan memberikan pengertian kepada wali murid dalam acara rapat agar mengizinkan anaknya merngikuti kegiatan ekstrakurikuler.”
2. Wali murid yang acuh tak acuh terhadap perkembangan peserta didik.
Guru : “Orang tua yang tidak peduli terhadap anaknya karena mereka pikir sudah ada guru yang mengajari anak di sekolah.”
3. Komunikasi tidak terjalin dengan baik antara wali murid dengan sekolah.
Guru : “Tidak pernah terjadi.”
4. Kurang adanya transparansi dari sekolah terhadap orang tua siswa.
Guru : “Permasalahan sudah dibahas di rapat-rapat.”
5. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terpaku pada usaha-usaha masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidup dan memandang pendidikan di sekolah cukup ditangani oleh pihak sekolah saja.
Guru : “Menjadikan orang tua acuh tak acuh pada anaknya.”
6. Tidak adanya staf yang menangani hubungan sekolah dengan masyarakat.
Guru : “Hubungan sekolah dengan masyarakat ditangani oleh guru.”
7. Persepsi masyarakat tentang adanya undangan rapat pasti berkaitan dengan masalah uang.
Guru : “Ya, akan tetapi nanti akan diberikan keringanan pada wali murid yang kurang mampu dengan membayar separuh uang sumbangan atau tidak membayar sama sekali.”
8. Kurang mengertinya wali murid terhadap penjelasan pihak sekolah karena keterbelakangan pendidikan.
Guru : “Ya, karena masyarakat rata-rata hanya lulus SD.”
Hasil dokumentasi yang menjelaskan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini:






Salah satu bentuk hubungan kultural antara SDN Rembun 01 Dampit Malang dengan masyarakat Dampit. Terlihat bahwa tiga orang siswi SDN Rembun 01 Dampit sedang mengikuti lomba tari beskalan dalam rangka hari jadi kota Dampit ke 91. Kegiatan ini merupakan wisdom culture di Dampit yang diadakan setiap tahun, dengan dibarengi acara kirab budaya atau bersih desa. Pada acara ini, setiap SD di Dampit diwajibkan mengirimkan perwakilannya ke kecamatan baik secara perorangan maupun beregu untuk menampilkan tarian.
Di bawah ini merupakan kegiatan sekolah pada saat acara perpisahan kelas enam. Kegiatan ini berlangsung 1 tahun sekali. Semua wali murid kelas 6 diundang dalam acara perpisahan.




















Selain itu, ada juga acara syukuran kelulusan siswa-siswi kelas 6 yang biasanya diadakan acara “tumpengan”. Tumpeng diberi oleh wali murid yang anaknya mendapatkan peringkat di sekolah pada waktu kelulusan, mereka yang mempersembahkan tumpeng adalah mereka yang mendapat NUN tertinggi di sekolah.
















Acara persami di sekolah juga menunjukkan adanya hubungan sekolah dengan masyarakat, terutama pada saat diadakannya malam pentas seni yang disaksikan peserta dan warga sekitar. Hal ini merupakan salah satu bentuk kunjungan ke sekolah yang bertujuan agar wali murid dan masyarakat mengetahui kegiatan pada waktu di sekolah.













Gambar-gambar di bawah ini diambil pada saat SDN Rembun 01 mengikuti acara perkemahan dalan rangka hari jadi Pramuka, tepatnya berada di desa Ngelak Kwarran Dampit.














Kayu bakar di atas diperoleh dari lingkungan sekitar dan rumah-rumah penduduk. Hal ini menunjukkan partisipasi dan kerja sama yang baik antara pihak sekolah dengan masyarakat setempat.
Dalam hubungan sekolah dengan masyarakat, adakalanya juga mengalami kendala, diantaranya adalah tidak diizinkannya siswa-siswi untuk mengikuti kegiatan karyawisata. Oleh sebab itu, pihak sekolah mengajak wali murid untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Berikut ini dokumentasi saat rekreasi akhir tahun ajaran ke pantai Popoh bersama wali murid.



























Di Kabupaten Malang, setiap Sekolah diwajibkan berlangganan koran pendidikan sebagai tanda bahwa sekolah peduli terhadap berita-berita pendidikan dan lingkungan di sekitarnya. Gambar berikut sebagai bukti bahwa di SDN Rembun 01 Dampit Malang juga berlangganan koran mingguan, Koran Pendidikan.







Berdasarkan prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat, “Ketahuilah masyarakat Anda!”, hendaknya sekolah benar-benar mengetahui kegiatan di masyarakat, seperti kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya. Di bawah ini merupakan kegiatan sekolah saat mengikuti lomba baris-berbaris yang diadakan setiap tahun untuk mengikuti HUT RI. Lomba baris-berbaris di Kecamatan Dampit tidak hanya diikuti oleh pihak-pihak sekolah saja, melainkan juga diikuti oleh masyarakat setempat. Hal ini membuktikan bahwa hubungan masyarakat Dampit dengan sekolah sangat baik karena masyarakat bisa bekerja sama dengan pihak sekolah.







Acara lomba baris-berbaris ini juga sekaligus sebagai salah satu bentuk pameran sekolah yang dapat digunakan sebagai metode efektif untuk memberikan gambaran tentang keadaan sekolah dengan berbagai hasil aktivitasnya. Dengan teknik ini, sekolah bisa berpromosi kepada masyarakat agar di tahun ajaran mendatang banyak siswa yang mendaftar karena jika sekolah tersebut mendapatkan juara, maka diharapkan masyarakat akan menaruh simpati kepada sekolah dan mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah tersebut.








Bukti laporan kepada wali murid dalam bentuk rapor yang diberikan setiap akhir semester. Rapor yang diberikan pada pertengahan semester dinamakan rapor sisipan. Untuk lebih jelasnya, contoh rapor dapat dilihat di lampiran 4.

B. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di Sekolah Dasar Negeri Dampit 02 Malang
Hasil wawancara di SDN Dampit 02 Malang.
Peneliti : “Pernahkah sekolah mengadakan laporan kepada wali murid?”
Guru : “Pernah, dua kali dalam satu semester.”
Peneliti : “Apakah sekolah mengadakan buletin bulanan?”
Guru : “Tidak, tetapi langganan koran pendidikan yang terbit tiap minggu.”
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan penerbitan surat kabar?”
Guru : “Tidak pernah.”
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan pameran sekolah? Kapan?”
Guru : “Tidak pernah.”
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan open house? Kapan?”
Guru : “Ya, tetapi bukan saat pelajaran. Open house diadakan saat acara persami di sekolah.”
Peneliti : “Pernahkah sekolah mengadakan kunjungan wali murid ke sekolah?”
Guru : “Pernah, pada saat rapat wali murid.”
Peneliti : “Pernahkah guru mengadakan kunjungan ke rumah murid? Apakah alasannya?”
Guru : “Pernah, dengan alasan melihat latar belakang kehidupan murid, membicarakan masalah prestasi siswa, dan menjalin siolaturrahim dengan orang tua siswa.”
Peneliti : “Adakah buku penghubung antara guru dengan wali murid?”
Guru : “Ada, seperti rapor dan buku tugas rumah yang harus ditandatangani dan diperiksa oleh orang tua siswa. Ada juga buku laporan iuran wali murid pada masing-masing kelas yang dipegang oleh salah satu wali murid.”
Peneliti : “Apakah sekolah selalu membuat laporan tahunan kepada wali murid?”
Guru : “Ya, contohnya seperti laporan pertanggungjawaban pengurus dan laporan biaya ke UTS.”
Peneliti :
“Yang manakah prinsip-prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat di bawah ini yang diterapkan di sekolah Anda?”
1. Ketahuilah apa yang Anda yakini!
2. Laksanakan program pendidikan yang baik dan bersahabat dengan masyarakat!
3. Ketahuilah masyarakat Anda!
4. Adakan survey mengenai masyarakat di daerah Anda!
5. Membuktikan dan mempersiapkan bahan-bahan dokumen seperti dari sumber-sumber (kantor sensus, lembaga-lembaga ilmiah, dan sebagainya).
6. Menjadi anggota dalam organisasi masyarakat.
7. Mengadakan kunjungan ke rumah orang tua siswa.
8. Melayani masyarakat dengan baik.
9. Mendorong masyarakat untuk melayani sekolah.
10. Mengadakan hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat.
11. Memajukan program belajar.
Guru : “Prinsip yang pertama diterapkan dengan cara, kepala sekolah memberi pengarahan kepada guru-guru. Biasanya tentang lingkungan dan pendidikan di sekolah. Prinsip yang kedua juga diterapkan, melalui komite sekolah yang diwakili oleh salah seorang wali murid. Komite sekolah bertugas memegang dana BP3. Dalam hal ini, kepala sekolah tidak ikut campur tangan. Prinsip yang ketiga, diwujudkan dalam hal sekolah mengetahui keadaan masyarakat sekitar, tentang lingkungan siswa-siswinya. Prinsip keempat, tidak diterapkan. Prinsip kelima diterapkan untuk laporan tahunan. Prinsip keenam tidak diterapkan. Prinsip ketujuh, kedelapan, dan kesembilan diterapkan. Perwujudan prinsip kesembilan misalnya saat siswi SDN Dampit 02 akan melaksanakan lomba baris-berbaris, orang tua akan sibuk membantu persiapannya dalam hal tata rias grup putri. Prinsip kesepuluh dan kesebelas juga diterapkan melalui jalinan hubungan yang baik antara pihak sekolah dengan pemuka agama di sekitar sekolah, dan memajukan program sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.”
Peneliti : “Apakah guru selalu mengadakan komunikasi secara berkala dengan wali murid?”
Guru : “Ya, sewaktu-waktu, jika ada rapat, dan kunjungan ke rumah siswa.”
Peneliti : “Apakah sekolah ini bekerja sama dengan masyarakat untuk menjaring anak yang tidak bersekolah, mengajak dan memasukkannya ke sekolah ini?”
Guru : “Ya, misalnya yang tidak lulus SD diajak untuk mengikuti program paket A.”
Peneliti : “Kapan sekolah mengadakan kunjungan ke lokasi bersejarah?”
Guru : “Saat akhir tahun ajaran, misalnya mengadakan karyawisata ke museum.”
Peneliti : “Apakah sekolah mengajak orang tua dan anggota masyarakat untuk terlibat di kelas?”
Guru : “Tidak.”
Peneliti :
“Di antara kendala-kendala berikut ini, yang manakah yang pernah terjadi di sekolah Anda?”
1. Masyarakat atau wali murid yang kurang merespon kegiatan di sekolah.
Guru : “Pernah terjadi saat sekolah akan mengadakan karyawisata, siswa dilarang ikut dengan alasan biaya tidak mencukupi, pada kegiatan ekstrakurikuler, siswa dilarang ikut karena ada uang iuran.”
2. Wali murid yang acuh tak acuh terhadap perkembangan peserta didik.
Guru : “Rata-rata wali murid menaruh perhatian terhadap perkembangan peserta didik.”
3. Komunikasi tidak terjalin dengan baik antara wali murid dengan sekolah.
Guru : “Tidak pernah terjadi.”
4. Kurang adanya transparansi dari sekolah terhadap orang tua siswa.
Guru : “Permasalahan sudah dibahas di rapat-rapat.”
5. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terpaku pada usaha-usaha masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidup dan memandang pendidikan di sekolah cukup ditangani oleh pihak sekolah saja.
Guru : “Menjadikan orang tua acuh tak acuh pada anaknya.”
6. Tidak adanya staf yang menangani hubungan sekolah dengan masyarakat.
Guru : “Hubungan sekolah dengan masyarakat ditangani oleh guru.”
7. Persepsi masyarakat tentang adanya undangan rapat pasti berkaitan dengan masalah uang.
Guru : “Sebagian kecil saja yang berpikiran demikian.”
8. Kurang mengertinya wali murid terhadap penjelasan pihak sekolah karena keterbelakangan pendidikan.
Guru : “Tidak.”
Hasil dokumentasi yang menjelaskan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini:






















Dalam kegiatan perkemahan untuk memperingati hari jadi Pramuka di desa Ngelak, SDN Dampit 02 Malang juga mengikuti seperti layaknya Sekolah Dasar lainnya di Kecamatan Dampit.






















Gambar di atas menunjukkan bahwa masyarakat bisa memberikan tenggang rasa kepada siswa-siswi yang sedang mengikuti lomba baris-berbaris. Terlihat bahwa mobil-mobil di sekitarnya memberikan jalan kepada mereka.
SDN Dampit 02 Malang juga berlangganan koran pendidikan seperti di sekolah-sekolah lainnya. Gambar dapat kita lihat di bawah ini.






Contoh laporan tahunan di SDN Dampit 02, dapat kita lihat pada lampiran 2 dan lampiran 3. Sedangkan untuk contoh laporan iuran dari wali murid, dapat dilihat di lampiran 6. Untuk contoh rapor, dapat dilihat pada lampiran 5.

C. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di Sekolah Dasar Muhammadiyah 09 Malang
Hasil wawancara di SD Muhammadiyah Malang.
Peneliti : “Pernahkah sekolah mengadakan laporan kepada wali murid?”
Guru : “Pernah, yaitu 1 kali dalam satu tahun.”
Peneliti : “Apakah sekolah mengadakan buletin bulanan?”
Guru : “Tidak".
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan penerbitan surat kabar?”
Guru : “Pernah, yaitu 1 kali dalam 1 tahun".
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan pameran sekolah? Kapan?”
Guru : “Pernah, pameran sekolah di SD Muhammadiyah Malang diadakan tergantung dengan situasi yang ada dan biasanya di akhir tahun.
Peneliti : “Apakah sekolah pernah mengadakan open house? Kapan?”
Guru : “Ya pernah, jadi dengan adanya Open house ini diharapkan masyarakat dapat melihat secara langsung proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah. Dari sini maswyarakat dapat memberikan penilaian atas pelaksanaan pendidikan di sekolah kami".
Peneliti : “Pernahkah sekolah mengadakan kunjungan wali murid ke sekolah?”
Guru : “Pernah, untuk waktunya pada saat pelajaran berlangsung yang dimaksudkan agar orang tua murid berkesempatan melihat anak-anaknya pada waktu mengikuti pelajaran”.
Peneliti : “Pernahkah guru mengadakan kunjungan ke rumah murid? Apakah alasannya?”
Guru : “Pernah, dengan alasan melihat latar belakang kehidupan murid, membicarakan masalah prestasi siswa, dan menjalin siolaturrahim dengan orang tua siswa.”
Peneliti : “Adakah buku penghubung antara guru dengan wali murid?”
Guru : “Di dalam SD muhammadiyah 9 ada buku penghubung yang fungsinya sebagai buku laporan siswa selama berada di sekolah kepada orang tua murid supaya orang tua murid mengetahui perkembangan baik dan buruknya dalam belajar di sekolah tersebut.”
Peneliti : “Apakah sekolah selalu membuat laporan tahunan kepada wali murid?”
Guru : “Ya, laporan tahuanan disusun oleh kepala sekolah untuk diberikan kepada pemilik sekolah atau kepada kantor Dinas P dan K kecamatan yang membawanya atau kepada atasan langsung, isi laporan tahunan tersebut antara lain mencakup kegiatan yang telah dilakukan antara lain: kurikulum, personalia, anggaran dan situasi murid.”
Berikut ini merupakan hasil wawancara antara peneliti dengan guru atau narasumber mengenai prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat di SD Muhammadiyah 9 Malang:
Peneliti : “Apakah di SD Muhammadiyah 9 ini dalam kegiatan hubungan masyarakat dengan sekolah menerapkan prinsip "ketahuilah apa yang Anda yakini? dimana di dalamnya mengandung makna bahwa tugas kepala sekolah yaitu untuk mengebangkan filsafat pendidikan yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan di sekolah agar guru-guru dan staf tata usaha sadar akan apa yang dikerjakan di sekolah sehingga tidak ada kesimpangsiuran dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran."
Guru :"Di sekolah kami prinsip tersebut tidak digunakan.
Peneliti :"Untuk prinsip kedua yaitu: "laksanakan program pendidikan yang baik dan bersahabat dengan masyarakat! Diterapkan di sekolah ini?
Guru : "Ya tentu saja. Sebab sekolah kami telah membuat program belajar bagi anak-anak sebaik mungkin dan kamin juga melayani setiap orang yang akan datang ke sekolah secara bersahabat.
Peneliti : "Kemudian untuk prinsip "ketahuilah masyarakat anda" apakah diterapkan di sekolah ini?
Guru : "Prinsip ini tidak kami terapkan. Sebab, masyarakat sekolah kami tidak begitu paham tentang keadaan masyarakat di daerah sekitar. Hal ini bisa juga dipengaruhi karena keberadaan sekolah di lingkungan perkotaan.
Peneliti : "Selanjutnya yaitu prinsip "Adakan survey mengenai masyarakat di daerah Anda! Apakah prinsip tersebut diterapkan di sekolah ini?
Guru : "Sama dengan prinsip yang barusan, untuk prinsip ini juga tidak kami terapkan".
Peneliti : "Mengapa demikian?"
Guru : " Tentu saja karena kami tidak pernah mengadakan survey ke masyarakat tentang kondisi masyarakat di sekitar daerah yang ada di sini."
Peneliti :" Untuk prinsip berikutnya yaitu: "Membuktikan dan mempersiapkan bahan-bahan dokumen seperti dari sumber-sumber (kantor sensus, lembaga-lembaga ilmiah, dan sebagainya).
Guru :"Tidak, karena kami tidak pernah meneliti menyelidiki dan mempelajari keadaan masyarakat sehingga kami tidak menerapkan prinsip ini."
Peneliti :" Prinsip yang selanjutnya yaitu: "Menjadi anggota dalam organisasi masyarakat". "Apakah juga diterapkan di sekolah ini?"
Guru : "Tidak"
Peneliti :"Prinsip yang selanjutnya yaitu: "Mengadakan kunjungan ke rumah orang tua siswa."Juga diterapkan di sekolah ini?"
Guru :”Tidak"
Peneliti :"Untuk prinsip "Melayani masyarakat dengan baik." Apakah diterapkan di sekolah ini?
Guru : "Kalau prinsip ini sudah diterapkan di sekolah kami. Sekolah kami melayani anak-anak dari masyarakat melalui pendidikan dan pengajaran.
Peneliti :"Kemudian prinsip "Mendorong masyarakat untuk melayani sekolah."Apakah diterapkan di sekolah ini?
Guru : " Untuk prinsip tersebut tidak kami terapkan di sekolah kami".
Peneliti : "Prinsip "Mengadakan hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat." Apakah diterapkan di sekolah ini?
Guru :" Kalau prinsip ini kami terapkan sebab masyarakat dapat memberi bantuan berupa materi, tenaga, dan waktu demi kepentingan sekolah. Sehingga kami harus mengadakan hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat."
Penelit :"Untuk yang terakhir yaitu prinsip memajukan program belajar.Apakah prinsip ini diterapkan di sekolah Anda?”
Guru :"Ya kami menerapkan prinsip ini. Sekolah kami memajukan program belajar anak-anak dan tingkatan mutu belajar melalui kemampuan dan pelayanan tokoh-tokoh masyarakat dan kami atur dan rencanakan dengan baik.
Peneliti : “Apakah guru selalu mengadakan komunikasi secara berkala dengan wali murid?”
Guru : “Ya, biasanya ini dilakukan sesuai jadwal yang disepakati dimana dilihat dari segi komunikasi SD Muhammadiyah 09 Malang melakukan proses komunikasi secara berkala dengan wali murid berjalan dengan baik. Dengan ini wali murid bisa mengetahui tentang seberapa besar kemajuan siswa dalam belajar di sekolah. Setelah wali murid mengetahui, mereka bisa membina anaknya dalam mengoptimalkan kekurangan belajar anaknya. Untuk hasil belajar yang lebih baik mungkin dengan bimbingan belajar di sekolah maupun di luar sekolah. Selain dari segi kemajuan belajar, supaya wali murid mengetahui tentang perilaku baik dan buruk anak-anaknya di sekolah dan terjaganya silaturahmi antara pihak sekolah drngan masyarakat.”
Peneliti : “Apakah sekolah ini bekerja sama dengan masyarakat untuk menjaring anak yang tidak bersekolah, mengajak dan memasukkannya ke sekolah ini?”
Guru : “Ya, dengan adanya kerjasama tersebut merupakan suatu bentuk adanya hubungan baik antara sekolah kami dengan masyarakat untuk menjaga ketertiban di sekolah.”
Peneliti : “Kapan sekolah mengadakan kunjungan ke lokasi bersejarah?”
Guru : “satu kali dalam satu semester, dengan adanya kegiatan ini siswa diajarkan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebudayaan yang dimiliki oleh negara kita dan secara tidak langsung antara pihak sekolah dengan masyarakat akan melakukan rapat wali murid berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Jadi disini saling adanya jalinan komunikasi antara pihak sekolah dengan masyarakat.”
Peneliti : “Apakah sekolah mengajak orang tua dan anggota masyarakat untuk terlibat di kelas?”
Guru : “Ya, keterlibatan orang tua di kelas ini juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas anak di kelas, antara anak yang aktif dan tidak aktif . Jika anak mereka yang tidak aktif atau kurang adanya komunikasi, orang tua bisa melatih anaknya untuk meningkatkan kemampuan verbalnya, bagi anak yang aktif orang tua bisa mengoptimalkan segala kemampuan yang dimilikinya.”
Kendala Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Dalam menjalankan hubungan sekolah dengan masyarakat, SD Muhammadiyah 9 tentunya mengalami beberapa kendala. Berikut adalah wawancaranya:
Peneliti : "Apakah ada kendala-kendala yang dihadapi SD Muhammadiyah 9 dalam menjalankan kegiatan Humas?
Guru : "Secara garis besar, kendala itu pasti ada dalam setiap permasalahan. Begitu juga dengan kegiatan Humas di SD Muhammadiyah 9."
Peneliti :" Apakah adanya masyarakat atau wali murid yang krang merespon kegiatan di sekolah juga termasuk kendala?"
Guru :" Iya. Sebab jika para wali murid tidak ada respon tentang berbagai kegiatan di sekolah. Hal ini akan mempengaruhi berjalan atau tidaknya kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah nanti. Hal ini berkaitan dengan wali murid yang acuh tak acuh terhadap perkembangan anaknya. Mereka hanya berkepentingan menyekolahkan anaknya, tetapi beberapa hal yang mendukung agar anaknya maju tidak begitu merespon".
Peneliti :" Mengapa hal itu bisa terjadi?"
Guru :" Biasanya yang sering kita hadapi itu karena kurang adanya komunikasi yang baik antar wali murid dengan pihak sekolah.dan mungkin karena kesibukan para wali murid untuk mencari nafkah, sehingga merea merasa bahwa pendidikan untuk anaknya telah dirasa cukup ditangani oleh pihak sekolah saja."
Peneliti :" Setahu kami, tidak adanya staf tersendiri juga mempengaruhi brjalanya kegiatan humas. Apakah seperti itu?"
Guru :" Memang benar, tapi Alhamdulillah untuk kendala seperti itu tidak kami temui sebab kami telah mempunyai staf tersendiri yang menangani bagian humas.
Peneliti :"Apakah sering terjadi komplain dari wali murid ketika sekolah akan mengadakan suatu kegiatan?"
Guru :" Masyarakat atau wali murid sering persepsi bahwa undangan rapat untuk membicarakan kegiatan di sekolah, sekolah selalu berkaitan dengan uang sehingga sering komplain dan jenuh untuk datang. Padahal itu kami lakukan agar selau ada transparasi segala kegiatan di sekolah kepada wali murid, tapi mereka sering salah persepsi."
Peneliti :" Bagaimana tentang latar belakang wali murid?" Apakah ada yang mempunyai keterbelakangan pendidikan?"
Guru :" Secara garis besar semua wali murid adalah dari keluarga yang berpendidikan walaupun masih ada beberapa yang kurang. Namun hal itu juga menjadi suatu kendala walaupun hanya sedikit pengaruhnya."
Contoh rapor dari SD Muhammadiyah 09, dapat dilihat pada lampiran 7.
BAB V
PEMBAHASAN

A. Perbandingan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat antara Sekolah Dasar Negeri dengan Sekolah Dasar Swasta
Tabel Perbandingan sekolah dasar negeri dengan sekolah dasar swasta
No Aspek Perbandingan SD Negeri SD Swasta
1. Manfaat humas:
a. Bagi masyarakat Terpenuhi Terpenuhi
b. Bagi sekolah Terpenuhi Terpenuhi
2. Tujuan humas Tercapai Tercapai
3. Peranan orang tua dalam humas Tercapai Tercapai
4. Prinsip humas Tercapai Tercapai
5. Teknik dalam menjalin humas Tercapai Tercapai
6. Jenis hubungan sekolah dengan masyarakat Terpenuhi Kurang terpenuhi
7. Bentuk hubungan sekolah dengan masyarakat Tercapai Tercapai

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan suatu perbedaan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat di SD negeri dengan SD swasta. Jika dikaitkan dengan staf Humas, maka SD swasta telah memenuhinya, namun untuk saat ini SD negeri yang kami observasi belum mempunyai staf tersendiri untuk menangani Humas. Hal ini dikarenakan belum adanya peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan SK tersendiri untuk Humas. Sedangkan untuk masalah kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah dan memerlukan bantuan dana dari pihak wali murid, maka SD swasta lebih mudah dalam mengeluarkan dana. Sebab, kebanyakan anak-anak dari SD swasta, terutama SD swasta kota berasal dari kalangan menengah ke atas. Berbeda dengan SD negeri yang kebanyakan dari keluarga menengah ke bawah. Jadi, setiap ada rapat parawali murid selalu mengaitkan dengan permintaan dana. Hal inilah yang membuat mereka (para wali murid SD negeri) enggan datang ketika ada undangan rapat di sekolah.
Teknik hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan SD negeri dengan SD swasta secara garis besar menggunakan teknik-teknik yang sama, yaitu dengan mengadakan laporan rutin kepada orang tua murid, misalnya dengan buku penghubung ataupun raport yang diberikan tiap semester. Selain itu sekolah juga mengadakan buletin bulanan yang digunakan untuk memberi informasi kepada wali murid tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah dilakukan pihak sekolah dalam waktu 1 bulan itu. Jika memang diperlukan, sekolah mengadakan acara kunjungan orang tua/wali murid ke sekolah guna memperlihatkan perkembangan anak dalam hal berprestasi ataupun kondisi sekolah.
Dalam melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat, setiap sekolah selalu mempunyai prinsip-prinsip tertentu. Secara garis besar prinsip-prinsip yang digunakan adalah sama, baik dari SD negeri maupun SD swasta. Prinsip-prinsip yang digunakan meliputi: melayani masyarakat dengan baik, melaksanakan program pendidikan yang baik dan bersahabat dengan masyarakat, mengadakan survey mengenai masyarakat di sekitar sekolah, dan sebagainya.
Hubungan masyarakat dengan sekolah sangat berperan dalam kelancaran proses belajar mengajar di sekolah. Sebab, tanpa adanya hubungan sekolah dengan masyarakat yang berjalan dengan baik, maka kegiatan-kegiatan di sekolah tidak akan bisa berjalan normal sebagaimana mestinya.
Setiap kegiatan pasti terdapat suatu kendala. Begitu juga dalam pelaksanaan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ini. Kendala yang terjadi di SD negeri maupun SD swasta tidak begitu banyak perbedaan, kecuali masalah staf humas dan pendanaan yang telah kami jelaskan di atas.

B. Perbandingan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat antara Sekolah Dasar di Desa, di Kecamatan, dan di Kota Malang
Perbedaan SD di wilayah desa, kecamatan, dan kota di kawasan Malang dalam segi kehumasan terdapat perbedaan yang mencolok. Di SD Rembun I atau di wilayah desa masyarakatnya kurang begitu peduli terhadap pentingnya hubungan sekolah terhadap masyarakat atau hubungan masyarakat terhadap sekolah hal ini dikarenakan rendahnya pendidikan orang tua atau wali murid itu sendiri. Jadi kurang begitu peduli terhadap hubungan tersebut, misalnya: dalam penarikan dana murid SD Rembun I juga tidak peduli, ini disebabkan karena kondisi ekonomi yang kurang mampu, ada juga yang acuh tak acuh karena pendidikan anaknya sudah diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Jadi wali murid sudah lepas tangan.
Kalau di SD di wilayah kecamatan sudah mempunyai perhatian lebih baik terhadap pendidikan anaknya. Tetapi juga masih ada bebrapa yang enggan perhatian terhadap pendidikan anaknya dikarenakan orang tua yang sibuk dengan rutinitas masing-masing. Selain itu dikarenakan kondisi ekonomi juga tidak mendukung sehingga jika ada undangan rapat mereka mempersepsikan dengan ” Ujung-ujungnya Duit”.
Untuk di SD di daerah kota sudah berjalan optimal, ini terbukti dari tidak adanya kendala tentang hubungan sekolah dengan masyarakat itu sendiri di sekolah tersebut karena wali murid merasa bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat itu penting agar terjadi transparansi dari segi apapun. Misalnya, dari segi pendanaan sekolah, prestasi siswa, dan lain-lain. Berjalannya hubungan sekolah dengan masyarakat dengan baik didukung dari latar belakang pendidikan orang tua yang tinggi, kondisi ekonomi yang baik, dan lain-lain.
Jadi di sinilah bisa kita lihat bahwa perbedaan antara sekolah di wilayah desa, kecamatan dan kota itu mempunyai banyak perbedaan. Khususnya dalam hal humas. Hubungan sekolah dengan masyarakat di wilayah kota itu lebih baik atau dirasa lebih penting bagi orang tua murid karena dirasa pihak sekolah harus transparan dalam segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat. Dan dengan adanya hubungan sekolah dengan masyarakat akan terjalin hubungan yang baik dengan orang tua murid, di samping itu juga dapat menjalin silaturahmi antara guru dengan orang tua murid.









BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa peranan orng tua, guru, kepala sekolah, serta pihak-pihak lain yang terkait dengan sekolah sangatlah penting. Mereka sangat berpengaruh pada kelangsungan proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Baik itu sekolah negeri, swasta, sekolah di wilayah pedesaan, kecamatan, maupun perkotaan.
Mengenai prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat, pada umumnya telah diterapkan dengan baik oleh kedua belah pihak. Akan tetapi, pada prinsip keenam, “Keanggotaan dalam organisasi masyarakat” masih belum dioptimalkan penerapannya sebab pihak sekolah lebih mengedepankan keorganisasian yang berhubungan dengan kepemerintahan, seperti pramuka.
Teknik hubungan sekolah dengan masyarakat, pada umumnya juga telah dilaksanakan dengan baik, hanya beberapa teknik saja yang masih belum dilaksanakan sebab sekolah mungkin menganggap hal tersebut tidak perlu dilakukan lagi. Karena tanpa dilakukanpun, sekolah sudah mempunyai hubungan yang baik dengan masyarakat.

B. Saran
Adapun saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan penelitian yang berjudul “ Implementasi Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang“ adalah sebagai berikut:
1. Bagi tenaga pendidik di SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, hendaknya lebih meningkatkan komunikasi dengan masyarakat agar masyarakat bisa lebih memperhatikan kebutuhan sekolah peserta didik. Dengan demikian peserta didik akan lebih termotivasi dalam belajar.
2. Bagi pimpinan lembaga, kepala SDN Rembun 01 Dampit Malang, SDN Dampit 02 Malang, dan SD Muhammadiyah 09 Malang, hendaknya bisa menempatkan diri sebagai teladan bagi guru-guru dan karyawan dalam menjalankan hubungan antara sekolah dengan masyarakat.
3. Bagi para siswa, hendaknya tidak mengada-ada mengenai keadaan sekolahnya agar tidak terjadi kesimpangsiuran permasalahan yang sedang terjadi di sekolah dengan pemberitahuan siswa kepada orang tuanya.
4. Bagi para calon tenaga pendidik, hendaknya lebih meningkatkan keprofesionalan diri agar kelak dapat mengatasi segala permasalahan yang terjadi dalam hubungan sekolah dengan masyarakat.
5. Bagi masyarakat dan wali murid, hendaknya dapat memberikan pengertian kepada pihak sekolah jika diajak bekerja sama dalam mendidik putra-putri mereka agar tidak ada kesalahpahaman dan saling tuduh dalam kelanjutan mendidik anak-anak.
6. Bagi Dinas Pendidikan, masih kurangnya pemahaman pihak sekolah terhadap hubungan sekolah dengan masyarakat menyebabkan pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat belum berjalan secara maksimal. Oleh karena itu, peran Dinas Pendidikan sangan tdibutuhkan dalam memberikan sosialisasi tentang pentingnya hubungan sekolah dengan masyarakat. Hendaknya Dinas Pendidikan mengadakan pendidikan dan pelatihan terkait dengan pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat dan penambahan tenaga kerja di Sekolah Dasar yang khusus menangani masalah hubungan sekolah dengan masyarakat.

















DAFTAR RUJUKAN

Akhir, Ibnu. 2008. Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat, (online), (http://khairuddinhsb.blogspot.com/2008/07/hubungan-sekolah-dengan-masyarakat.html, diakses tanggal 26 Februari 2009).

Anonim. 2009. (online), (http://www.idp-europe.org/toolkit/Buku-2.pdf, diakses tanggal 26 Februari 2009).

Nurhayati, Sri. 2009. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik di SD Gugus V Kecamatan Gandusari Blitar. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM.

Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwanto, M. Ngalim. 1990. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Setiawan, Yasin. 2009. (online), ( http://siaksoft.net/?p=560, diakses 26 Februari 2009).

Soetopo, Hendyat dan Wasty Sumanto. 1982. Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Wijono. 1989. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Trimo. 2008. Peranan Komite Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan, (online), ( http://re-searchengines.com/trimo80708.html, diakses tanggal 26 Februari 2009).

Tim Penyiapan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Keempat. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: UM.

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Wahyuningati, NR. 2009. Penerapan Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Konsep Pengukuran Waktu di SDN Klumpit 01 Soko Tuban. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM.