Sunday, July 24, 2011

Dampak Pencemaran Lingkungan Tanah

Aminnatul Widyana (107151410127)
Dampak Pencemaran Lingkungan Tanah
Bentuk dampak pencemaran tanah tergantung pada komposisi limbah padat yang dibuang serta jumlahnya. Bentuk dampak pencemaran tanah dapat berupa dampak langsung dan dampak tidak langsung.
a. Dampak langsung
Dampak pencemaran tanah yang secara langsung dirasakan oleh manusia adalah dampak dari pembuangan limbah padat organik yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan juga dari kegiatan industri olahan bahan makanan. Lim bah padat organik yang didegradasi oleh mikroorganisme akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat penguraian limbah tersebut menjadi bagian-bagian yang terkecil yang disertai dengan pelepasan gas yang berbau tidak sedap.
Dampak langsung akibat pencemaran daratan lainnya adalah adanya timbunan limbah padat dalam jumlah besar yang akan menimbulkan pemandangan yang tidak sedap, kotor, dan kumuh. Keadaan ini umumnya terjadi pada tempat pembuangan akhir (TPA) atau dump station. Timbunan limbah padat yang banyak dan menggunung karena belum diolah lagi menjadi bahan lain yang berguna menyebabkan pemandangan di sekitar tempat tersebut menjadi kotor. Kesan kotor ini secara psikis akan mempengaruhi penduduk di sekitar tempat pembuangan tersebut.
b. Dampak tak langsung
Dampak tak langsung akibat pencemaran tanah adalah dampak yang dirasakan oleh manusia melalui media lain yang ditimbulkan akibat pencemaran tanah. Jadi media lain inilah yang merupakan dampak langsung akibat pencemaran tanah tersebut yang selanjutnya memberikan dampaknya kepada manusia.
Sebagai contoh dari dampak tak langsung ini adalah bahwa tempat pembuangan limbah padat, baik tempat penimbunan sementara maupun tempat pembuangan akhir, akan menjadi pusat berkembangbiaknya tikus dan serangga yang merugiakn manusia, seperti lalat dan nyamuk. Tempat pembuangan sampah adalah tempat yang kumuh namun menyediakan makanan yang cukup bagi perkembangbiakan tikus, yaitu limbah organik terutama sisa-sisa makanan yang ikut dibuang ke tempat itu. Celah-celah antara limbah padat seperti ban, kaleng bekas, kardus, kotak kayu dan lain sebagainya merupakan tempat ideal bagi persembunyian dan perkembang-biakan tikus.
Lalat pada umumnya berkembang biak di tempat yang terdapat limbah padat organik, terlebih limbah padat sisa olahan bahan makanan yang banyak mengandung protein. Limbah organik yang mengandung protein merupakan sumber makanan bagi lalat, sedangkan proses degradasi limbah akan memberikan panas yang cukup (hangat) untuk menetaskan telur-telurnya. Oleh karena itu, tuidak mengherankan bila tempat sampah organik berasal rumah tangga yang selalu banyak lalatnya.
Contoh dampak tak langsung lainnya adalah berkembangbiaknya nyamuk. Limbah padat yang berupa kaleng, ban, dan lain-lainnya, bila hujan dapat terisi air yang kemudian menjadi tempat nyamuk bertelur dan berkembang biak. Baik tikus, lalat, dan nyamuk adalah binatang yang dapat menimbulkan penyakit menular bagi manusia. Panyakit menular yang ditimbulkan antara lain :
Penyakit pes
Penyakit pes pada mulanya menyerang tikus. Setelah tikus mati maka penyakit itu kemudian ditularkan ke manusia melalui kutu tikus (pinjal) yang menggigit manusia. Penularan dapat terjadi secara langsung dari orang ke orang melalui dahak yang keluar dari mulut penderita dan juga dari darah.
Penyakit kaki gajah
Penyakit ini dinamakan penyakit kaki gajah karena penderita mengalami pembengkakan pada kaki sehingga kaki tidak berbentuk lagi, mirip kaki gajah. Oleh karena itu, penyakit ini sering disebut penyakit elephantiatis. Penyebab penyakit kaki gajah adalah cacing bulat kecil yang disebut filaria. Sebagai pembawa atau vektor penyakit ini adalah nyamuk jenis culex fatigans.
Penyakit malaria
Penyakit malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles. Penyebabnya adalah mikroba patogen jenis protozoa, yaitu plasmodium malariae yang mempunyai empat spesies penyebab malaria.
Tabel 2.5.1 Empat spesies plasmodium malariae penyebab malaria
SPESIES PENYEBAB
Plasmodium vivax Malaria tertiana
Plasmodium malariae Malaria quartana
Plasmodium falciparum Malaria falciparum
Plasmodium ovale Malaria ovale

Penyakit demam berdarah
Seperti halnya malaria, penyakit demam berdarah juga ditularkan oleh nyamuk, yaitu nyamuk jenis aedes aegepti. Demam berdarah disebabkan disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk aedes aegepti senang bertelur dan berkembang biak di genangan air bersih (hujan), jembangan bunga, potongan bambu dan ban di tempat penimbunan sampah.
Tetanus
Penyakit tetanus dapat terjadi jika luka kena tanah, terutama jika tanah tercemar oleh kotoran hewan atau manusia yang mengandung Clostridium tetani.
Typhoid dan kolera
Dalam tiap masyarakat selalu ada manusia dan hewan yang mengeluarkan penyebab penyakit dalam kotorannya, baik berupa limbah cair maupun limbah padat. Limbah cair bahkan limbah padat seringkali secara langsung dibuang ke dalam air sungai, sedangkan air ini dipergunakan juga untuk keperluan rumah tangga dan sebagainya, tanpa pengolahan atau dengan pengolahan yang kurang sempurna. Selain itu, air kotor dapat meresap ke dalam tanah dan mengotori air sumur dan air pompa. Karena hal-hal inilah, maka terjadi wabah typhoid dan kolera.
Pencemaran lingkungan tanah dapat menyebabkan lahan kritis. Lahan kritis merupakan lahan yang telah kehilangan unsur hara sehingga menyebabkan turunnya produktivitas tanah. Hal ini terjadi karena adanya pengelolaan dan pemanfaatan tanah yang tidak memperhatikan kaidah konservasi. Selain itu juga bisa disebabkan pencemaran zat-zat kimiawi atau bahan anorganik lainnya.
Bila ditinjau dari faktor penghambatnya, lahan kritis dibagi menjadi :
Kritis fisik
Termasuk di dalam kategori kritis fisik adalah tanah yang secara fisik telah mengalami kerusakan, sehingga dalam mengusahakannya perlu masukan investasi yang cukup besar. Ciri visual yang dapat dilihat di lapang dari tanah-tanah kritis fisika ini adalah :
a. Tanah mempunyai kedalaman solum yang dangkal dengan top soil produktif yang tipis atau yang telah hilang sama sekali.
b. Pada bagian tertentu atau keselurusah dapat dilihat adanya lapisan padas, sub soil, atau bahkan induk tanah yang tersembul di permukaan
Kritis kimia
Termasuk ke dalam tanah kritis kimia adalah tanah yang apabila ditinjau dari tingkat kesuburan kimiawi, salinitas, sodiksitas, ataupun toksisitasnya tidak lagi memberikan dukungan positif apabila tanah tersebut diusahakan sebagai lahan usaha pertanian. Ciri yang menonjol yang dapat diamati di lapang adalah :
a. Tanah menunjukkan gejala penurunan produktivitas atau memberikan produksi yang sangat rendah.
b. Tanah mempunyai kedalaman solum yang dangkal dengan top soil produktif yang tipis atau yang telah hilang sama sekali
c. Pada bagian tertentu atau keseluruhan dapat dilihat lapisan pada, sub soil, atau bahan induk tanah yang tersembul di permukaan
Bagi lahan-lahan berlereng, kritis kimia dapat terjadi karena proses pengangkutan hebat hara bersama koloid-koloid tanah pengikatnya akibat terangkutnya top soil oleh aliran permukaan.
Kritis sosial ekonomi
Termasuk dalam kategori ini adalah tanah-tanah kritis dan terlantar sebagai akibat rendahnya salah satu atau beberapa faktor sosial ekonomi sebagai kendala dalam usaha-usaha pendayagunaan lahan tersebut.
Kritis hidro-orologis
Tanah kritis di sini keadaannya sedemikian rupa di mana tanah tidak mampu lagi mempertahankan fungsinya sebagai pengatur tata air. Hal ini disebabkan terganggunya daya penahan, penyerap, dan penyimpan air dari tanah. Keadaan ini mempunyai hubungan kausatif yang erat dengan keadaan kritis fisik tanah.
Kondisi kritis hidro-orologis dapat dilihat di lapang menurut banyaknya vegetasi yang tumbuh di atas tanah. Dari segi edafologis, tanpa pemberian air, sebagian besar jenis vegetasi diatasnya tidak mampu lagi tumbuh dan berkembang dengan baik pada keadaan kritis hidro-orologis ini, kecuali tanaman yang mempunyai daya resistensi terhadap kekeringan dan jenis tanaman xerophyte.
Meskipun usaha-usaha pencegahan dan rehabilitasi telah dilaksanakan secara terus-menerus, tetapi diperkirakan telah terjadi penambahan kritis seluas 200.000-300.000 ha setiap tahunnya.
Untuk mengurangi laju penambahan luas lahan kritis yang terjadi tersebut, diperlukan usaha-usaha pencegahan di lahan-lahan yang potensial kritis dan rehabilitasi di lahan-lahan yang telah mengalami semi kritis maupun kritis.