Tuesday, August 2, 2011

Membaca

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan pada abad yang akan datang semakin tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca. Sebagian besar informasi disampaikan dalam bentuk tulisan. Seiring dengan pernyataan diatas, bertambah pentinglah upay pengembangan dan peningkatan kemampuan membaca dikalangan bangsa-bangsa yang ingin maju. Upaya tersebut diantaranya dilakukan melalui pendidikan dasar. Dalam hal ini sekolah dasar (SD) sebagai penggalan pertama pendidikan dasar harus mampu membekali lulusannya dengan dasar-dasar kemampuan membaca yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Upaya ini terutama merupakan tanggung jawab guru SD.
Bagi bangsa yang ingin maju, membaca merupakan ketrampilan dasar. Ini berarti bahwa ketrampilan tersebut perludimiliki oleh setiap orang, tidak saja untuk meraih keberhasilan selama bersekolah melainkan juga sepanjang hayatnya. Karena kebiasaan yang salah yang kita bawa dari kecil ketika kita belajar membaca, cara membaca kita menjadi lambat. Di negara-negara yang telah maju, pengajaran membaca mendapat perhatian yang besar. Di negara-negara tersebut banyak dijumpai pusat program membaca. Salah satu organisasi yang menyangkut puluhan negara di dunia ialah International Reading Association (IRA) yang berpusat di Newark, Delaware, Amerika Serikat. Organisasi ini menyelenggarakan berbagai kegiatan dibidang penelitian dan pengajaran membaca serta menghasilkan berbagai terbitan seperti buku-buku, majalah, alat peraga, dan media cetak lainnya.
Di negara-negara maju, kegiatan membaca telah membudaya, merupakan bagian serta kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan di Indonesia, 80% penduduk Indonesia tinggal di desa-desa, banyak sekali di antara mereka yang tidak pernah memperoleh kesempatan untuk bersekolah atau kalaupun sempat hanya sampai kelas II atau III SD. Catatan Biro Pusat Statistik 1980 menunjukkan bahwa 20–30% diantara bangsa Indonesia masih buta aksara dan buta angka. Keadaan seperti ini tentu saja tidak dapat dibiarkan. Karena itu pemerintah melalui berbagai jalan dan program pendidikan berusaha untuk memberantas kebutaan tersebut. Program Kejar misalnya merupakan suatu program untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan melalui program ketrampilan membaca.
Para guru SD bertanggung jawab untuk memberikan kemampuan membaca yang memadai kepada anak didiknya. Sebagian dari mereka akan langsung terjun ke masyarakat dan sebagian lagi meneruskan pelajaran ke sekolah yang lebih tinggi. Untuk itu mereka harus dibekali kemampuan membaca yang memungkinkan mereka memperoleh dan memahami informasi.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah definisi membaca?
2. Apakah tujuan membaca?
3. Apasajakah faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca?
4. Apasajakah faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada anak Sekolah Dasar?
5. Bagaimanakah penerapan pengajaran membaca di Sekolah Dasar?
6. Apasajakah model-model pembelajaran membaca yang diterapkan pada anak Sekolah Dasar?
7. Bagaimanakah pelaksanaan evaluasi membaca?

C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah hal-hal berikut:
1. Mendeskripsikan pengertian membaca.
2. Menjelaskan tujuan membaca.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca.
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada anak Sekolah Dasar.
5. Menjelaskan penerapan pengajaran membaca di Sekolah Dasar.
6. Mengetahui model-model pembelajaran membaca yang diterapkan pada anak Sekolah Dasar.
7. Mengetahui pelaksanaan evaluasi membaca.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Membaca
Membaca merupakan satu kesatuan yang terpaut yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi serta maknanya serta manarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Anderson dkk. (1985) memandang membaca sebagai suatu proses untuk memehami makna suatu tulisan. Kemampuan membaca merupakan kemampuan yang kompleks yang menuntut kerja sama antara sejumlah kemampuan. Untuk dapat membaca sutau bacaan, seseorang harus dapat menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Pada waktu membaca, mata mengenali kata sementara pikiran menghubungkannya dengan maknanya. Makna kata dihubungkan satu sama lian menjadi makna frasa, klausa, kalimat dan akhirnya seluruh bacaan. Pemahaman akan bacaan ini tdak mungkin terjad tanpa pengetahuan yang telah dimiliki dahulu, misalnya tentang konsep-konsp yang terdapat dalam bacaan, tentang bentuk kata-kata, struktur kalimat, ungkapan dan sebagainya. Dengan singkat, pada waktu membaca pikiran sekaligus memproses informasi grafonik yang menyangkut hubungan antara tulisan dan bunyi bahasa, informasi sintaksis, yaitu yang brehubungan dengan struktur kalimat, serta informasi semantik, dan menyangkut aspek makna.
Kegiatan membaca meruapakan kemampuan yang sangat penting dan mempengaruhi kehidupan manusia disetiap jalannya. Ini adalah klise tetapi mempunyai sebuah konsekuensi. Banyak dari pengetahuan kita didunia datang kepada mata pelajaran bahsa, psikologi, studi sastra, sosiologi dan lainnya. Sebuah topik yang tidak lengkap akan menjadi bahan bacaan yang memerlukan pengertian / wawasan dan teknik yang berbeda-beda pada suatu mata pelajaran tersebut.
Keuntungan dari informasi ini ialah, mereka yang mempunyai pengalaman individu yang berbeda-beda dari kegiatan membaca misalnya membaca tentang cerita binatang buas yang mereka tidak ketahui sebelumnya. Tugas kita sebagai pembimbing hendaknya menyediakan pengertian yang penuh dengan penyelesaian secara lebih jauh sehingga permasalahan membaca dan beberapa contoh pengertian dapat kita bicarakan bersama.
1. Membaca adalah kemampuan berbahasa
Membaca adalah awal dari semua kemampauan berbahasa. Bahan mentah mambaca meliputi : suara, kata, kalimat, dan tujuan komunikasi adalah banyak persamaannya sebagai bahasa pada umumnya. Membaca adalah kemampuan bahasa yang harus menutupi kesalahan pembelajaran dan menyambungkan arti dengan kelengkapan spektrum dari kelengkapan bahasa, memasukkan percakapan, menyimak, menulis dan berfikir.
2. Proses membaca khusus menolak kognitif
Hampir setiap orang mempelajari bicara, tetapi orang jauh lebih sedikit memberikan kesempatannya untuk mempelajari membaca. Ini lebih dari sekedar membaca dari pada menggunakan bahasa. Membaca sebagai sebuah simbol yang berusaha menyamakan hubungan cara bicara dengan pengertian berbahasa, ini tidak mudah untuk diterapkan.
3. Membaca adalah kumpulan kesekpatan
Membandingkan bahasa bicara dengan membaca memungkinkan untuk membuat sekurang-kurangnya perbedaan pada setiap kesempatannya. Dari sini timbul kesulitan misalnya, sikap untuk menolak membaca, contoh cara bicara, tidak mengakui simbol visual, dan sulit membaca alfabet. Ini membuktikan bahwa membaca lebih sulit dari pada berbicara, dimana memerlukan mental yang tersedia untuk menemukan kata-kata atau phonem. Maka kita harus mempunyai kumpulan kosakata yang tersedia dalam pemikiran dan dipasangkan dengan kumpulan tulisan pada sebuah halaman sehingga membentuk sebuah bacaan. Dari sini kita dapat melihat sifat-sifat kesempatan dalam membaca, yang kemudian menjadi sumberdalam membaca dari pada perspektif visual.
4. Membaca adalah berhubungan dengan “Act”
Membaca teks disebut pembaca, dan teks mempunyai struktur fakta yang sungguh berbeda dari kegiatan berbicara yang memakai permintaan khusus pada pengertian membaca. Bertanya pada guru untuk memberitahukan bahwa kelengkapan penolakan dan kelengkapan poin membaca akan datang untuk mengetahui struktur dan kata yang bagus dari literatur yang familiar dengan banyak tulisan teks, sehingga menyegarkan pembaca teks baru dengan pengertian yang nyata dan bukan menyebutkan penghargaan.
5. Membaca adalah psikomotor otomatis “Act”
Kita kadang-kadang menjadi reporter jarak lintas pada beberapa orang yang menyediakan teks sulit dan pengucapan kata dengan cepat dan tepat walaupun tanpa pengetahuan perubahan nada suara. Mereka tidak dapat berfikir sejalan dengan teksyang dibaca, mereka harus belajar lebih jauh tentang kumpulan mekanik dari proses yang memungkinkan mereka untuk mengubah kata menjadi suara yang keras.
Membaca kadang dibandingkan dengan bermain tenis, atau bahkan berjalan pada beberapa level. Dalam pelaksanaannya secara otomatis tanpa berfikiran tentang teks sehingga pemikiran kita tidak akan bebas untuk memilih setrategi dalam membaca.
6. Membaca mempunyai dimensi sosial
Orang belajar membaca dari masing-masing perorangan. Dalam keluarga dan masyarakat atau kelas sosial akan menerima sebuah persetujuan bagus dari dorongan untuk belajar membaca, dan mereka akan sangat senang melihat orang membaca dan menulis, mereka beranggapan bahwa mereka akan bercita-cita secara alami untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ini mungkin tidak simpel menjadi suatu kasus atau masalah yang mempunyai perbedaan dan terjadi pada kelompok sosial, tetapi mengungkapkan bahasa dan mengerti huruf dalam beberapa kelompok yang diharapkan di sekolah.
7. Membaca adalah perkara dari pembentukan kepribadian dan nilai diri
Belajar membaca mengharapakan satu prestasi akademik yang sangat pantas untuk dicapai. Sukses atau tidak dalam membaca dapat menjadikan sensasi pada orang tersebut. Sebaliknya dapat memberikan atau menyembunyikan kepercayaan diri seseorang. Seseorang yang tidak mengerti membaca menganggap dirinya sendiri sebagai “boneka”, bahkan ia adalah seorang yang tidak mempunyai kemampuan dalam setiap hal yang lain. Ini adalah langka untuk kita temui dalam sebuah masalah membaca, seseorang yang kesulitan dalam membaca tidak akan menjalin erat pada orang lain tanpa adanya masalah motifasi dan keraguan diri.
8. Membaca adalah mesin pencetak pokok persoalan ekonomi
Kita sering mendengar istilah hubungan fungsional yang digunakan untuk kegiatan membaca dan menulis. Kita juga tahu bahwa diperlukan level yang rata-rata untuk kesuksesan dalam membaca secara cepat dan tepat. Seperti benda yang keras yang dapat dikatan sebagai leve rata-rata untuk kesuksesan di dalam pekerjaan membaca. Di dalam proses informasi ini mereka mengartikan definisi membaca kedalam masalah kompetisi ekonomi untuk masyarakat.
9. Membaca adalah pekerjaan sampingan yang menyenangkan.
Membaca adalah sebuah jalan kehidupan, kebiasaan seumur hidup, pekerjaan sampiungan yang menyenamgkan dan kelangkaan kegiatan membaca. Tapi untuk yang lain para pembaca mengklaim bahwa mereka tidak mengeluarkan diri mereka secara simpel saat membaca, mereka menyalurkan diri mereka, memperkerjakan diri mereka kedalam bacaan, selain itu mereka mendapatkan fersi terbaru pada diri mereka yang menggambarkan kembali dari sebuah bacaan.
10. Membaca adalah sebuah urusan pelajaran yang bersifat mengkritik
Sebagai mata pelajaran yang cukup terkenal di kurikulum sekolah dasar, pelajaran membaca memberikan inspirasi yang sangat besar dalam pemecahan masalah, bahan dan metode. Pelajaran membaca diberikan banyak waktu dan diteruskan pengujian lebih kemudian pengajaran remidi.
Anderson dkk. (1985) megemukakann lima ciri membaca. Ciri-ciri tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Membaca memerlukan motivasi
Pengertian atau pemahaman pembaca mengenai suatu tulisan merupakan hasil pengolahan berdasarkan informasi yang terdapat dalam tulisan itu dipadukan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki.
2. Membaca harus lancar
Kelancaran membaca ditentukan oleh kesanggupan pembaca mengenali kata-kata. Artinya,pembaca harus dapat menghubungkan tulisan dengan maknanya.
3. Membaca harus dilakukan dengan strategi yang tepat
Pembaca yang terampil dengan sendirinya akan menyesuaikan strategi membaca dengan taraf kesulitan tulisan, pengenalannya tentang topik yang dibaca, serta tujuan membacanya. Pembaca yang terampil harus tahu apa yang harus dilakukannya. Ia dapat memilih salah satu cara untuk mengatasi kesulitan atau kegagalan itu, yaitu (a) membiarkan masalahnya dengan harpan bahwa penjelasan tenteng hal itu akan diperoleh pada bagian selanjutnya, (b) membaca ulang bagian yang menjadi masalah, (c) mencari informasi dari sumber lain.
4. Motivasi merupakan kunci keberhasilan dalam belajar membaca.
Membaca pada dasarnya adalah sesuatu yang menyenangkan. Akan tetapi, pengajaran membaca mungkin membosankan, lebih-lebih bagi siswa yang menemui kegagalan.
5. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan secara berkesinambungan.
Keterampilan itu tidak dapat diperoleh secara mendadak atau dalam waktu singkat dan untuk selamanya. Keterampilan itu diperoleh melalui belajar, tahap demi tahap, dalam waktu yang panjang secara terus menerus.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca itu (a) merupakan suatu proses yang kompleks/ banyak aspeknya (b) melibatkan kegiatan fisik dan mental (c) memanfaatkan pengetahuan yang telah ada untuk menafsirkan makna (d) membentuk makna baru dalam sistem pengetahuan/ pengalaman yang telah dimiliki (e) dipengaruhi oleh banyak faktor.

B. Tujuan Membaca
Tujuan membaca memang sangat baragam, bergantung pada situasi dan berbagai kondisi pembaca. Secara umum tujuan ini dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Salah satu tujuan membaca ialah untuk mendapatkan informasi. Informasi yang dimaksud di sini mencakup informasi, bisa tentang fakta dan kejadian sehari-hari sampai informasi tingkat tinggi tentang teori-teori serta penemuan dan temuan ilmiah yang canggih. Tujuan ini berkaitan dengan keiginan pembaca untuk mengembangkan diri.
2. Ada orang-orang tertentu yang membaca dengan tujuan agar citra dirinya meningkat. Mereka ini mungkin membaca karya para penulis kenamaan, bukan karena berminat terhadap karya tersebut melainkan agar orang memberikan nilai positif terhadap diri mereka. Tentu saja kegiatan membaca bagi orang-orang semacam ini sama sekali tidak merupakan kebiasaanya, tetapi hanya dilakukan sekali-kali di depan orang lain.
3. Ada kalanya orang membaca untuk melepaskan diri dari kenyataan, misalnya pada saat ia merasa jenuh, sedih, bahkan putus asa. Dalam hal ini, membaca dapat merupakan submilasi atau penyaluran yang positif, apalagi jika bacaan yang dipilihnya adalah bacaan yang bermanfaat yang sesuai dengan situasi yang dihadapinya.
4. Mungkin juga orang membaca untuk tujuan rekreatif, untuk mendapat kesenangan atau hiburan, seperti halnya menonton film atau bertamasya. Bacaan yang dipilih untuk tujuan ini ialah bacaan-bacaan ringan atau jenis bacaan yang disukainya, misalnya cerita tentang cinta, detektif, petualangan dan sebagainya.
5. Kemungkinan lain orang membaca tanpa tujuan apa-apa, hanya karena iseng tidak tahu apa yang akan dilakukan, jadi hanya sekedar merintang waktu. Dalam situasi iseng itu, orang tidak memilih atau menentukan bacaan apa saja yang dibaca: iklan, cerita pendek, berita keluarga, lelucon pendek dan sebagainya. Kegiatan membaca seperti itu, tentu lebih baik dilakukan daripada pekerjaan iseng yang merusak atau bersifat negatif.
Tujuan membaca yang tinggi ialah untuk mencari nilai-nilai keindahan atau pengalaman estetis dan nilai-nilai kehidupan lainnya.Dalam hal ini bacaan yang dipilih ialah karya bernilai sastra.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Membaca
Pembinaan dan pengembangan minat baca siswa tidak terlepas dari pembinaan kemampuansiswa dalam membaca, sebab untuk menjadi orang yang minat tentu harus mampu membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca tidak mungkin merasa senang membaca.
Ada faktor – faktor yang mendukung pembinaan minat baca :
1. Secara alamiah orang beragama mempunyai kitab suci yang harus dibaca, maka orang yang beragama akan cenderung membaca kitab sucinya dan memberikan motivasi kepada siswa atau anaknya untuk membaca kitab suci pula.
2. Orang yang berpendidikan akan berusaha meningkatkan kemampuan membacanya dan menularkan pada siswa atau anaknya.
3. Bahan bacaan yang sudah tersedia, akan meningkatkan minat membaca karena seseorang tidak perlu bersusah payah mencari bahan bacaaan yang dapat digunakan pada waktu senggang.
4. Perpustakaan sudah mulai berkembang dan nyaman dikunjungi akan membuat pembaca merasa betah tinggal di sana.
5. Perhatian pemerintah sudah ada walau belum memadai.
6. Faktor transportasi, komunikasi, informasi dan iptek yang baik.
Sedangkan rendahnya minat baca dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Belum banyak dirasakan manfaat langsung dari membaca.
2. Bahan bacaan belum merata
3. Pembinaan perpustakaan belum merata
4. Pemajuan teknologi lebih menarik perhatian
5. Daya beli buku kurang

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca pada Anak Sekolah Dasar
Kemampuan membaca, seperti juga kegiatan membaca, merupakan suatu kemampuan yang kompleks, artinya banyak seginya dan banyak pula faktor yang mempengaruhinya. Pada bagian ini akan dibahas beberapa faktor-faktor tersebut.
1. Motivasi
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa membaca memerlukan motivasi. Motivasi juga merupakan faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan membaca.kerap kali kegagalan dalam bidang membaca terjadi karena rendahnya motivasi.
Motivasi untuk membaca dapat dibedakan berdasarkan sumbernya. Dalam hal ini ada motivasi yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Contoh motivasi yang intrinsik ialah keinginan atau doronagan untuk mendapatkan penghargaan, atau mandapatkan imbalan, baik berupa hadiah atau pujian.
2. Lingkungan keluarga
Orang tua yang memiliki kesadaran akan pentingnya kemamouan membaca akan berusaha agar anak-anaknya memiliki kesempatan untuk belajar membaca. Kebiasaan orang tua membacakan cerita untuk anak-anak yang masih kecil, merupakan usaha yang besar. Artinya, dalam menumbuhkan minat mereka maupun perluasan pengalaman serta pengetahuan anak.
Pembicaraan orang tua, serta anggota keluarga lainnya dirumah juga akan mempengaruhi kemanpuan membaca anak. Pembicaraan yang berisi pengalaman yang melibatkan berbagai konsep, istilah, pandangan dan sebagainya akna memperluas pengalaman serta wawasan yang duperlukan dalam memahami berbagai topik bacaa. Dalam hubungan lingkungan keluarga ini, sangat penting artinya kebiiasaan bernalar diantara mereka. Cara menaggapi dan menjawab pertanyaan anak, cara mengajukan pertanyaan, serta cara orang tua memberikan alasan sangat mempengaruhi cara anak bernalar melalui bacaan. Pertanyaan-pertanyaan yang mendorong untuk berfikir serta kebiasaan memberikan alasan yang logis akan menumbuhkan kebiasaan bernalar secara lurus pada anak; dampaknya akan terlihat dalammenganalisis serta memahami bacaan.
3. Bahan bacaan
Bahan bacaan akan mempengaruhi seseorang dalam minat maupun kemampuan memahaminya. Bahan bacaan yang terlalu sulit untuk seseorang akan memecahkan selera untuk membacanya. Seorang anak yang diberi bacaan yang disajikan dalam struktur kalimat serta istilah-istilah yang terlalu tinggi baginya akhirnya akan menolak untuk membacanya.sebaliknya, bahan yang terlalu kekanak-kanakan jika diberikan pada orang dewasa atau telah memiliki kemampuan baca tingkat tinggijuga tidak akan diminati. Sehubungan dengan bahan bacaan ini ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
a. Topik
Topik yang sesuai dengan kehidupan pembaca tentu akan lebih menarik daripada yang tidak sesuai. Topik mengenai petualangan, kegiatan mendaki gunung, permainan, perkemahan, perburuan dimminati oleh siswa SD daripada topik tentang hal-hal berat. Namun, harus diperhatikan bahwa siswa perlu diberi bacaan mengenai bermacam-macam topik agar mereka memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Dalam hal ini, penyajian yang mudah dan menarik untuk topik-topik yang kurang diminati akan banyak menolong.
b. Keterbacaan bahan
Faktor keterbacaan merupakan faktor yang sangat penting dalam pemilihan bahan bacaan. Keterbacaan ini berhubungan erat dengan taraf kesulitan bacaan. Tentu saja keterbacaan bacaan maupun kesulitan bacaan itu berbeda-beda bagi tingkatan kemampuan membaca. Demikian pula bagi satu tingkatan kemampuan membaca pun, suatu bacaan mempunyai keterbacaan/kesulitan yang berbeda dengan lainnya.
Sehubungan dengan keterbacaan/kesulitan bahan dibedakan tiga tingkatan, yaitu bebas, instruksional, dan frustasi. Suatu bahan dikatakan berada pada tingkatan bebas jika bahan itu dapat dipahami siswa tanpa bantuan atau imbingan guru. Artinya, siswa dapat memahaminya secara mandiri. Jika bahan itu hanya dapat dibaca/ dipahami siswa dengan bimbingan guru, maka bahan itu termasuk tingkatan instruksional. Seterusnya, jika bahan itu sangat sulit sehingga tidak dapat dibaca dan dipahami siswa meskipun telah dipelajari dengan bimbingan guru, maka bahan tersebut digolongkan pada tingkat frustasi.
c. Pengetahuan dan pengalaman anak
Pengetahuan dapat mempengaruhi proses membaca pada anak karena menambah perbendaharaan kata sehingga anak mudah memahami bahan bacaan ketika mereka menemukan bahasa atau kosa kata yang sulit. Selain pengetahuan , pengalaman juga mempengauhi pola baca anak. Karena anak mampu memilih bahan bacaan yang tepat untuk dibacanya.
d. Tebal buku
Ketebalan buku mempengaruhi minat baca anak untuk mau membaca. Karena anak akan merasa malas ketika memngetahui ketebalan buku yang akan dibacanya. Apalagi jika buku yang akan dibaca tidak menarik perhatian anak.
e. Ukuran buku
Ukuran buku juga mempengaruhi minat baca anak. Anak cenderung menyukai buku yang berukuran besar karena dianggap lebih menarik serta lebih brsahabat.
f. Ilustrasi
Minat baca anak akan tumbuh ketika mereka melihat buku dengan banyak ilustrasi serta dilengkapi dengan warna yang menarik. Ilustrasi Gambar yang sesuai dengan bacaan akan lebih menarik anak akan bahan bacaan yang dibaca serta mudah untuk memahami isi bacaan.
g. Ukuran, bentuk, dan warna huruf
Anak akan merasa lebih senang membaca buku yang memiliki ukuran huruf yang besar, bentuk yang bervariasi serta warna yang mencolok.
Berikut ini merupakan tabel yang mencakup beberapa kemampuan membaca berikut masalah-masalah yang dialami anak beserta solusinya.
Mekanika Keterampilan Membaca Masalah Tips Cepat
• Dapat membaca kata dalam jumlah yang besar secara cepat
• Dapat mengidentifikasi dan mendefinisikan pola kata seperti akhiran dan awalan

• Dapat membaca dan memahami bagian dari cerita





• Bisa membuat kesimpulan berdasarkan membaca



• Memahami pilihan kualitas kosakata • Kesulitan mengidentifikasi kata dengan jelas
• Tidak bisa melihat hubungan antara kedua kata dengan awalan dan akhiran
• Membaca dengan tanpa mengerti alur, setting, atau kesimpulan




• Menyimpulkan adalah jalan akhir dari menandai




• Mempunyai masalah memperbincangkan definisi • Membuat kartu flash dari kata-kata
• Memeriksa kata-kata yang mempunyai persamaan huruf awalan dan akhiran
• Memotong cerita sepotong demi sepotong dan mendiskusikan siapa, apa, di mana, kapan, dan mengapa.
• Menggunakan grafik organizer, seperti pemetaan di luar bagian penting cerita
• Menggunakan kosakata dalam kehidupan sehari-hari sama seperti kemungkinan menggali maknanya



E. Penerapan Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar
Untuk para pembaca dasar, terdapat beberapa langkah yang harus dilewati dalam belajar membaca, antara lain:
1. Langkah 1: Persiapan, yang termasuk di dalamnya adalah:
a. Motivasi: ketertarikan anak dalm membaca cerita. Membuat cerita yang sesuai dengan kebutuhan anak dan semenarik mungkin.
b. Kata baru: arti pengembangan dari kata baru membangun konsep kecepatan untuk selesainya diskusi mereka. Menentukan pengetahuan anak tentang kata dengan mendengarkan atau kata yang dilafalkan. Jika anak mengucapkan kata dengan benar, akan menentukan anak bias atau tidak mengartikannya.
c. Pengembangan konsep: memperluas latar belakang pengetahuan anak selesai menggunakan kata baru atau sesudah membaca cerita yang tak dikenalnya. Konsep yang masuk mungkin tidak menjadi baru untuk semua anak, tetapi mungkin menjadi baru untuk beberapa anak.
2. Langkah 2: Membaca dalam hati
Yang temasuk langkah ke-2, lebih dari sekedar murid-murid membaca cerita, antara lain:
a. Anak tidak harus berbicara untuk membaca kecuali mereka mempunyai suatu tujuan pasti untuk membaca cerita. Pertanyaan diberikan dengan sebuah tujuan agar murid-murid membaca. Mereka harus bisa mengerti sebelum mereka membaca, bahwa mereka harus menjawab pertanyaan.
b. Setelah cerita dibacakan, hendaknya murid-murid menjawab pertanyaan.
3. Langkah 3: Membaca lisan dan diskusi
Langkah ke-3 ini melanjutkan dari membaca dalam hati untuk menilai murid-murid sudah mengerti kata-kata baru, konsep-konsep, dan pemberian ide cerita ataukah belum mengerti.
Cara untuk memimpin pelajaran efektif, adalah sebagai berikut:
a. Mengingatkan anak akan tujuan mereka membaca. Teknik diberikan dengan tujuan untuk membantu anak-anak mengingat bahwa membaca berarti memperoleh arti dari halaman yang dicetak, tidak hanya membeo kembali dari pemisahan kumpulan kata.
b. Berbicara merupakan sebuah hubungan pertanyaan khusus untuk tujuan dari cerita yang dibacakan dengan murid-murid yang mencari jalan untuk menjawab pertanyaan. Murid harus membaca secara lisan jawaban mereka. Ini merupakan praktek kuno, murid-murid harus membaca dengan suara keras. Setiap siswa membaca kalimatnya menurut urutannya.
c. Meliputi banyak anak yang memungkinkan. Guru bisa berbicara ke satu murid, kemudian berbicara ke murid yang lain untuk meneruskan dan mencapai tujuan yang berbeda. Teknik ini memberi pilihan pada semua murid untuk membaca lisan. Sebagai contoh, guru mendiskusikan cerita dengan murid untuk membangun pertanyaan yang telah mereka bicarakan lebih dahulu untuk membaca dalam hati.
4. Langkah 4: Meneruskan
Yng termasuk dalam langkah ke-4 yaitu, murid-murid membutuhkan ke level yang lebih tinggi setelah selesai membaca dan berdiskusi, murid di level lain mungkin bisa memperluas keterampilan mempelajari pelajaran harian, dan murid lain hening membaca dalam level bawah, mungkin belajar menolong mereka mengejar keterampilan agar mereka sedikit lebih pandai. Langkah ke-4 meliputi hal-hal berikut:
a. Mengejar sebuah keterampilan baru.
b. Praktek sebuah keterampilan dalam pelajaran sekarang dan di pelajaran sebelumnya.
c. Belajar keduanya, sebuah keterampilan baru dan praktek, yang mungkin bisa dikerjakan secara bersamaan di langkah ini.
5. Langkah 5: Aktivitas perluasan
Yang termasuk langkah ke-5, banyak bentuk aktivitas keterampilan menguatkan kesiapan belajar. Seorang anak bisa bermain sebuah permainan untuk belajar kemampuannya. Yang termasuk dalam langkah ini, yaitu seluruh aktivitas untuk menguatkan dan memperluas keterampilan membaca pelajaran sebelumnya. Komponene yang termasuk adalah sebagai berikut:
a. Membaca tambahan: Ini bisa dilatih dengan membaca untuk kesenangan di dalam sebuah topik yang menarik.
b. Dramatisasi: Ini meliputi membuat sebuah permainan dari sebuah peristiwa di dalam cerita.
c. Membaca kembali untuk tujuan yang berbeda. Meskipun murid bisa mengerti konsep dasar waktu pertama mereka membaca cerita, anak bisa membaca kembali untuk menentukan karakter tokoh dalam cerita atau untuk latar belakang musik pada saat aktivitas dramatisasi.
d. Aktivitas kreativ seperti seni atau menulis. Anak-anak bisa mengatakan untuk menggambar lukisan dari karakter utama atau kumpulan cerita.
Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan memahami bacaan dalam rangka memperoleh informasi atau pesan yang terkandung di dalam bacaan. Untuk memperoleh kemampuan membaca yang memadai, seseorang memerlukan banyak pengetahuan dan kemampuan lain sebagai pendukung. Herber (1978: 9-10) berpendapat bahwa membaca merupakan proses berpikir yang meliputi kegiatan: 1) memahami dan menghubungkan simbol-simbol bahasa yang disebut dengan decoding; 2) memaknai gubungan simbol-simbol (kata-kata) tersebut yang merupakan tahap interpretation; dan 3) menerapkan ide atau pengetahuan yang diperoleh melalui bacaan dalam kehidupan sehari-hari merupakan tahap aplication.
1. Decoding
Decoding adalah suatu proses memahami simbol-simbol bahasa yaitu simbol grafis atau harus-huruf dengan cara mengasosiasikannya atau menghubungkan simbol-simbol dengan bunyi-bunyi bahasa beserta variasi-variasinya.
2. Interpretation
Interpretation atau interpretasi merupakan kegiatan memahami maksud atau informasi yang terkandung dalam bacaan. Pada tahap ini pembaca dituntut untuk mampu menafsirkan makna setiap kata dan menghubungkannya menjadi satu kesatuan makna yang utuh sesuai dengan konteks yang terdapat dalam bacaan. Oleh karena itu dalam proses interpretasi diperlukan pengertahuan tentang makna kata atau kosakata (Vocabulary). Sebagai contoh, kita kembali pada contoh kalimat diatas, jika satu kata saja misalnya kata drama atau wayang, atau yang lainnya tidak kita ketahui maknanya, maka kita akan kesulitan menangkap makna atau menafsirkan isi kalimat tersebut.Pada tingkat ini pembaca tidak lagi berpikir tentang simbol-simbol bahasa (huruf). Simbol-simbol tersebut sudah secara otomatis dikenal oleh monitor yang ada di otak setiap pembaca
3. Aplikasi
Pembaca yang telah sampai pada tingkatan ini mampu memanfaatkan hasil bacaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Membaca tersusun dari 4 komponen: strategi, kelancaran, pembaca, dan teks. Strategi adalah kemampuan pembaca menggunakan beragam strategi untuk mencapai tujuan dalam membaca. Kelancaran ialah kemampuan membaca dengan kecepatan tertentu dengan pemahaman yang cukup. Gabungan dari teks, strategi, kelancaran, dan pembaca ini yang disebut membaca (Anderson, 2003:68). Pemahaman dalam hal ini merupakan tujuan dari membaca.
Ada dua aspek dalam pengajaran membaca. Aspek pertama, merujuk pada pengajaran membaca untuk pertama kali. Kedua, mengajar membaca bagi mereka yang telah memiliki keterampilan membaca dalam bahasa pertamanya (L1). Karena itu, menurut Anderson, kalau sudah dapat membaca dalam satu bahasa maka tidak perlu belajar baca dalam bahasa asing lainnya (L2), tetapi hanya perlu mentransfer keterampilan untuk membaca konteks baru dalam bahasa lain.
Banyak usaha dan penelitian yang telah dilakukan untuk mengembangkan teknik pembelajaran membaca yang baik dan efektif. Beberapa teknik pembelajaran membaca yang populer diterapkan dapat disebutkan berikut ini:
1. Membaca cepat: teknik yang mengajak siswa membaca sebuah bacaan dalam waktu tertentu yang harus diselesaikan. Dengan teknik ini siswa diharapkan termotivasi untuk gemar membaca, mengatasi repitisi, dapat menggunakan cara baca sistem lompat kodok, dan dapat menggunakan suatu petunjuk sebagai penentu kecepatan.
2. Membaca bergantian: yakni mengajak siswa membaca dengan suara, intonasi, dan pelafalanya sendiri dengan tepat secara bergantian dengan pasangannya.
3. Presenter: teknik ini bertujuan agar siswa dapat melisankan teks layaknya presenter atau MC dengan lafal, intonasi, dan tanda baca yang terukur.
4. Membaca teks pidato: mengajak siswa untuk mempresentaskan teks pidato dengan cara membacanya.
5. Membaca berita: siswa diajak menyampaikan informasi dengan intonasi dan nada yang sesuai.
6. Membaca intensif: siswa dapat memahami bacaan secara intensif, tanpa bersuara, dan tuntas.
7. Membaca ekstensif: siswa diajak untuk mengintegrasikan isi berbagai bacaan dengan topik serupa dan dapat menjelaskan inti bacaan tersebut.
8. Membaca kritis: siswa diajak memberikan komentar mengenai apa yang mereka baca.
9. Membaca memindai: teknik ini mengajak siswa menemukan secara cepat kata-kata tertentu yang dianggap penting dalam bacaan.
10. Memberi catatan bacaan: siswa diharapkan dapat membuat catatan dengan memberikan kalimat kunci dalam bacaan.
Mengubah bacaan ke dalam gambar: teknik ini mengajak siswa untuk memaknai bacaan dengan cara membuat gambar menurut persepsinya.
Beberapa prinsip berikut mendasari kegiatan pengajaran membaca.
1. Ketahui latar pengetahuan siswa
Latar pengetahuan pembaca bisa mempengaruhi pemahaman siswa dalam membaca. Latar pengetahuan ini meliputi semua pengalaman yang ia bawa ke sebuah teks, misalnya, pengalaman hidup, pendidikan, pengetahuan mengenai bagaimana teks bisa diatur secara retorikal, pengetahuan bagaimana bahasa pertama atau kedua itu bekerja, serta latar belakang budaya. Pemahaman membaca dapat lebih ditingkatkan jika latar pengetahuannya itu diaktifkan melalui tujuan, pertanyaan, prediksi, struktur teks, dan sebagainya. Jika siswa membaca sebuah topik yang tidak familiar, maka guru perlu memulai proses bacaan dengan membangun latar pengetahuan.
2. Membangun dasar kosakata yang kuat
Kosakata mendapat tempat paling tinggi dalam pembelajaran bahasa. Banyak penelitian yang menekankan pentingnya kosakata dalam kesuksesan membaca. Menurut Anderson (2003), kosakata menjadi penting untuk diajarkan bagi siswa dan penggunaannya dalam konteks agar mereka dapat menebak makna suatu kosakata yang jarang muncul.
3. Ajari pemahaman
Pada beberapa program istruksi membaca, penekanan kebanyakan pada pengetesan pemahaman membaca, alih-alih pada mengajarkan siswa bagaimana untuk paham. Memonitor pemahaman adalah penting untuk mencapai sukses membaca. Salah satu hal yang terkati dalam proses monitoring ini ialah memeriksa prediksi yang dihaslkan itu sudah benar dan mengecek apakah siswa telah menyesuaikan apa yang diperlukan ketika makna dalam bacaan itu belum diperoleh.
4. Usahakan meningkatkan kecepatan (kelancaran) membaca
Salah satu kendala bagi siswa L2 dalam hal membaca adalah meski mereka bisa baca tetapi bacaannya kurang lancar. Dalam hal ini, prinsipnya ialah bahwa guru harus seimbang baik posisinya sebagai pendamping siswa maupun pengembang keterampilan siswa dalam pemahaman bacaan. Yang paling penting untuk dicatat bahwa fokusnya itu bukan pada pengembangan kecepatan siswa dalam membaca, tapi pada kelancaran membaca. Seseorang dikatakan lancar membaca jika ia mampu membaca 200 kata per menit dengan sedikitnya 70% memahami bacaan itu (Anderson, 2003: 76).
5. Ajarkan strategi membaca
Guna meraih hasil yang diinginkan, siswa perlu belajar menggunakan strategi-strategi membaca yang sesuai dengan tujuannya. Mengajarkan mereka akan hal ini dapat menjadi pertimbangan utama dalam kelas membaca.
6. Dorong siswa menjelmakan strategi menjadi keterampilan
Ada perbedaan antara strategi dan keterampilan. Yang pertama merujuk pada tindak kesadaran untuk meraih tujuan atau sasaran. Yang kedua adalah strategi yang telah menjadi otomatis. Hal ini menekankan peran aktif yang dimainkan oleh siswa dalam strategi membaca. Sebagai pelajar yang secara sadar belajar dan mempraktikkan strategi membaca secara khusus, strategi itu berpindah dari kesadaran menuju ketaksadaran, yakni dari strategi menuju keterampilan.
Baberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam pengajaran membaca, antara lain:
1. Sebelum membaca
a. Memilih literatur yang bagus
b. Menyesuaikan kebutuhan siswa
c. Mempersiapkan bahan, diantaranya papan panel dan gambar
d. Menciptakan suasana yang nyaman
e. Memperkenalkan buku penunjang
f. Mempelajari kata
2. Selama membaca
a. Membaca kembali
b. Membuat prediksi
c. Penegasan prediksi
d. Berbicara tentang cerita
e. Menyalurkan ide untuk dikeluarkan
3. Setelah membaca
a. Mengingat kembali pengalaman membaca
b. Mempelajari kata
c. Memilih tanggapan antara menggambar dan menulis
d. Pengaruh reaksi yaitu kegiatan yang diperluas
Banyak cara belajar tentang proses membaca, salah satunya menggunakan penelitian schema theory. Schema theory adalah cara untuk menjelaskan bagaimana orang bercerita tentang pengetahuan dalam pikiran mereka, bagaimana mereka menggunakan pengetahuan yang mereka punya, dan bagaimana mereka memperoleh pengetahuan baru. Istilah schema/bagan mengarah ke struktur tentang pengetahuan di pikiran manusia. Berikut ini aspek-aspek proses membaca menurut schema theory:
1. Membaca sama artinya dengan aktif mencari pengertian.
Guru harus selalu mengingat bahwa membaca memperoleh orientasi pengertian. Pertama dan seterusnya, membaca akan terlihat seperti pemahaman dan bentuk khusus dari pemikiran, tidak mengucapkan kata atau menyuarakan. Membaca akan terlihat sangat ilmiah seperti mencari pemahaman tidak berarti mengabaikan tulisan dan kata-kata. Tentu saja, mereka harus mengidentifikasi tulisan dan kata-kata. Bagaimanapun, hal ini untuk mencari pemahaman secara keseluruhan mulai dari awal.
Mulai dari sekarang, mereka mulai mengerti pemikiran alam dan membuat orang mengerti apa yang mereka baca. Pada tahap membaca ini mereka diharapkan aktif mencari pengertian. Ketika kita mengajarkan anak membaca, kita seharusnya menjaga pemikiran bahwa pekerjaan kita pada dasarnya menolong mereka belajar menggunakan pemikiran yang berhubungan dengan teks.
Yang harus kita pahami ketika kita berkata, membaca adalah pemikiran, sedikit banyak kita masuk dalam kesimpulan. Kesimpulan diartikan membuat hubungan logis atau merasakan informasi dari sebuah memori dan pengalaman.
Menurut prinsip schema theory, kita bisa membaca dengan memahami karena siap mempunyai pemikiran yang tertata atau pengetahuan terstruktur. Pengetahuan ini membantu kita untuk berpikir yang layak.
2. Membaca adalah proses konstruktif.
Aspek kedua yang penting adalah membaca sama artinya dengan proses konstruktif selama pembaca membantu hubungan pengertian antara ide dalam teks dan latar belakang pengetahuannya.
Ide hubungan terkonstruktif tidak terjadi secara spontan atau secara terus terang. Agaknya pembaca secara berangsur-angsur memahami secara terkonstruktif dari teks. Proses ini menggabungkan hipotesa tentang teks, menilainya, kemudian disambungkan atau menolaknya.
Sebagai guru, kita ingin membantu murid kita belajar mengolah dan menilai hipotesa mereka mengenai teks. Dalam proses ini kita tidak akan tertarik dalam memberi jawaban “benar” atau “salah” sehingga dalam tahap ini hanya mengikuti anak dalam membuat dan mengoreksi hipotesa. Kita tidak boleh menolak argument mereka tetapi member pikiran pemahaman untuk member komentar yang lebih baik.
3. Membaca adalah mengaplikasikan bermacam-macam pengetahuan yang berbeda.
Aspek ketiga dalam proses membaca, kita melihat bermacam-macam perbedaan dalam pengetahuan. Pembaca harus dapat mengolah dan membuat hipotesa tentang teks. Pembaca juga harus mempunyai gagasan pemahaman dalam teks. Mereka harus membuka gambaran informasi yang ada di pikirannya. Artinya guru sebaiknya menjaga pemahamannya mengikuti dua poin, yaitu:
a. Anak tidak dapat diharapkan membaca dengan pemahaman jika mereka tidak mempunyai arah hubungan informasi baru di teks lebih dahulu atau latar belakang pengalaman.
b. Tdak ada dua pembaca yang mempunyai pengalaman hidup sama persis, karena perbedaan kultur dan keadaan keluarga.
Dalam praktiknya, ketika kita mengajar anak untuk membaca, kita membutuhkan persiapan yang benar dan mengkoordinasi berbagai perbedaan pengetahuan dan informasi.
4. Membaca adalah proses strategi.
Aspek keempat juga konsisten dengan fokus kita pada pembaca, sama seperti orang di mana membawa keinginan mereka dan cerita unik dari latar belakang pengetahuan untuk tugas penyusunan pemahaman dari teks. Ketika kita berkata bahwa membaca adalah strategi/cara, kita artikan bahwa dapat mengarahkan kepercayaan tujuan pembaca di waktu tertentu. Kadang-kadang kita akan mengatur tujuan siswa membaca, tetapi kita ingin mereka secara berangsur-angsur membaca untuk tujuan mencari masukan dan mengatur dirinya sendiri. Sekarang ini, pembaca membaca untuk beberapa pemahaman, contoh: untuk hiburan mereka sendiri, atau belajar menggunakan alat-alat baru.
Membaca adalah proses strategi untuk mengawasi aktivitas pemahaman jika tujuan kita dapat kita jumpai (Brown, 1982).

F. Model-model Pembelajaran Membaca yang Diterapkan pada Anak Sekolah Dasar
Membaca adalah pembentukan makna yang utama. Tidak sesederhana yang terdengar. Teori membaca dan penelitian telah bersusah payah selama bertahun-tahun untuk menggambarkan secara nyata bagaimana makna dibentuk selama membaca. Kita sehahusnya terbiasa dengan model-model penting membaca sebaik metode dan bahan yang mencerminkan masing-masing model. Berikut ini adalah beberapa model membaca yang digunakan untuk mengajar di Sekolah Dasar:
1. Model linear (The Linear Model)
Model membaca linear umumnya disebut model membaca bawah atas (buttom-up model), melihat membaca sebagai bagian dari sebagian proses. Pertama, pembaca belajar untuk mengenal huruf, diikuti kata-kata kemudian kata-kata dalam konteks, hingga akhirnya dia mulai mengerti apa yang ia baca. Oleh karena itu, pekerjaan pembaca adalah menggambarkan arti dari teks sebagaimana dimaksudkan oleh penulis.
Model linear adalah teori di belakang pembaca dasar, rangkaian pendekatan untuk mengajak membaca. Menurut pendekatan ini, proses membaca dipecah ke dalam seri yang lebih kecil ke yang lebih besar yang diajarkan dalam perintah tertentu. Keahlian ini dikelompokkan dalam bab-bab seperti persiapan, pengenalan kata, arti kata, dan pemahaman. Pembaca dasar menyiapkan penggambaran materi dan metode mdel linear ini. Yaitu, pembaca dasar dikurutkan pada kumpulan buku-buku yang mempunyai susunan objektif dan aktivitas. Semua siswa membaca cerita yang sama dalam perintah yang sama dan panduan manual guru.
Program iklan pembaca dasar yang menggambarkan model linear membaca mempunyai metode yang dominan dari instruksi membaca di Sekolah Dasar. Program pembaca dasar terdiri dari kumpulan buku yang dikelompokkan dan digunakan dalam satu kelas atau oleh kelompok-kelompok dalam satu kelas. Semua buku-buku termasuk cerita pilihan yang membentuk inti pelajaran membaca.
Guru mengikuti perintah dalam petunjuk guru untuk menutupi pemisahan keahlian yang dianggap perlu untuk dalam belajar membaca. Murid melengkapi buku tugas dan lembar kegiatan untuk mempraktekkan keahlian selama pelajaran dengan arahan guru yang direncanakan dalam petunjuk guru.
Metode yang digunakan dengan bahan ini adalah untuk membentuk kelompok membaca. Biasanya pada kemampuan dasar siswa selama beberapa periode membaca, guru bekerja dengan satu kelompok pada suatu waktu ketika ketika kelompok lain mengerjakan latihan di buku tugas siswa atau lembar kegiatan.
2. Model interaktif (The Interactive Model)
Model interaktif menggabungkan elemen-elemen pada dua model sebelumnya. Asumsinya bahwa sebuah pola itu disintesiskan atas dasar informasi yang diberikan secara bersamaan dari berbagai sumber pengetahuan (Stanovich, 1980: 38).
Strategi penyususnan pertanyaan untuk berbagai macam tes dasar bacaan, daftar bacaan anak, buku pelajaran anak atau majalah bias berkembang dari model interaktif pada proses dasar membaca di atas teori skema. Kebanyakan guru memahami strategi tanya jawab untuk mengembangkan teori skema dan model interaktif dalam proses membaca. Contohnya, strategi tanya jawab dapat digunakan untuk siswa agar mereka mendapatkan pemahaman membaca dengan berbagai tipe tes.
3. Model bahasa jiwa (The Psycholinguistic Model)
Model bahasa jiwa dikembangkan oleh Keneth Goodman (1976) yang terkenal dengan sebutan model atas bawah (up-down model), yang menampilkan membaca sebagai bagian dari perkembangan bahasa dan proses dari pengujian hipotesis, di mana pekerjaan membaca adalah untuk membuat perkiraan tentang arti dari apa yang sedang dibaca.
Goodman menggunakan tebak-tebakan bahasa jiwa (psycholinguistic guessing game) untuk mendeskripsikan informasi sementara memproses pembaca melakukan ketika membaca. Pembaca seketika diuji dan menerima atau menolak hipotesis seperti mereka memaknainya. Goodman juga memperkenalkan gagasan miscue analysis untuk menegaskan bahwa tidak semua kesalahan sama penting. Dia mengubah gagasan bahwa bahasa harus dipikirkan dalam potongan-potongan.
4. Model transaksi (The Transactional Model)
Membaca model transaksi dikembangkan oleh Louise Rosenblatt (1978, 1983, 1994) menggambarkan membaca sebagai sebuah transaksi antara membaca dan bagian teks yang terjadi pada waktu dan konteks. Ini berarti tiadak tinggal sendiri dalam teks atau sendiri dalam pembaca. Tetapi datang melalui sebuah transaksi di antara keduanya. Membaca yang aktif hanya membuat tanda pada halaman sampai pembaca mengerti dengan hal tersebut. Istilah pembaca sebagai akibat transaksi dengan sebuah bacaan, dan istilah teks merupakan akibat dari sebuah transaksi dengan pembaca. Keduanya tidak seluruhnya nyata, tetapi termasuk bagian dalam semua situasi. Ini terlihat bahwa proses membaca telah mempengaruhi pendekatan untuk mengajar dan literatur yang mempengaruhi pentingnya respon pembaca, siswa, dan pengajaran yang terpusat pada respon, kelompok bacaan, respon penulis, dan menggunakannya lebih terbuka,serta pertanyaan estetik.
Weaver (1988) telah memetakan bagaimana membaca dan teks terjadi dalam konteks kelas khusus yang berlawanan bangkitnya komunitas yang besar dan kebudayaan siswa yang membawa siswa ke sekolah. Metode dan bahan-bahan yang mencerminkan pandangan ini adalah pendekatan penglaman berbahasa dan literature denagn metode dasar seperti membaca keras, membaca dalam hati, penilaian membaca bebas, membaca bersama-sama, bercerita “Big Book” dan unit literature lain.

G. Pelaksanaan Evaluasi Membaca
Evaluasi program membaca tidak berakhir dengan penilaian. Komponen penting adalah memperbaiki program. Satu kekuatan dan kelemahan dicatat, langkah-langkah yang perlu diambil untuk membangun kekuatan dan memperbaiki titik-titik lemah. Sebagai contoh, jika Anda memberikan survei sikap dan itu menunjukkan bahwa siswa tidak suka membaca, Anda akan merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan membantu siswa Anda menemukan kepuasan membaca.
Sebagian besar evaluator sekarang menganggap bahwa tindakan hanya mengevaluasi untuk menentukan apakah suatu program yang memadai atau cukup untuk menjadi buang-buang waktu. Apa yang ingin tahu adalah bagaimana meningkatkan program peduli seberapa baik atau seberapa buruk itu. Apa yang benar tentang program ini juga berlaku dalam evaluasi individu siswa. Penekanannya harus pada mendapatkan informasi mengenai perencanaan instruksi dan bukan label.
Evaluasi adalah benar-benar mengajukan serangkaian pertanyaan. Pertanyaan khusus tergantung pada program sasaran dan tujuan tertentu. Namun, beberapa yang umum yang harus ditanya tentang setiap program keaksaraan meliputi.
1. Di mana siswa dalam pengembangan keaksaraan mereka?
2. Pada tingkat apa yang mereka baca?
3. Apakah mereka membaca sampai ke tingkat kemampuan mereka?
4. Seberapa baik mereka memahami apa yang mereka baca?
5. Bagaimana memadai adalah mahasiswa membaca kosakata?
6. Serangan kata apa keterampilan yang mereka gunakan efektif?
7. Apakah mereka tahu bagaimana belajar?
8. Apa pemahaman dan strategi melakukan serangan kata siswa gunakan?
9. Apa sikap mereka terhadap membaca?
10. Apa jenis buku yang mereka suka membaca?
11. Apakah mereka membaca sendiri?
12. Apakah mereka menikmati membaca?
13. Seberapa baik mereka menulis?
14. Jenis apa tugas-tugas menulis telah mereka berusaha?
15. Apakah siswa membaca dan menulis memperbaiki?
16. Siswa yang tampaknya memiliki kebutuhan khusus dalam membaca dan menulis?
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penting ini membantu guru merencanakan, merevisi, dan meningkatkan program membaca. Sisa dari bab ini membahas sejumlah evaluatif teknik untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk menjawabnya. Namun, salah satu bahaya dalam evaluasi adalah godaan untuk mengumpulkan terlalu banyak informasi. Ekonomis. Jangan membuang waktu untuk mengumpulkan informasi jika Anda tidak akan menggunakannya.
Rangkaian belajar mengajar adalah serangkaian tahap yang mengarahkan menggunakan penilaian informasi untuk memperbaiki pengajaran membaca.
Tahap 1: Penafsiran siswa dibutuhkan sebelum pengajaran memperbaiki unit.
Guru seharusnya mempunyai pemikiran apakah siswa sudah siap belajar dan memahami tujuan dari rencana pembelajaran di bidangnya. Kemudian guru membandingkan tujuan dengan informasi tentang pengetahuan siswa dan keterkaitan bahwa hal tersebut terdapat di lembar kerja/portofolio mereka. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana objektivitas siswa siap untuk dilihat dan mengetahui kesiapan siswa untuk mempelajari unit berikutnya. Selain itu, guru juga bisa menguji pengetahuan khusus mereka tentang rangkaian rencana pembelajaran. Kemampuan guru sebagai pengamat, bisa juga seperti penafsir hasil tes, dan sebagai perancang sistem yang berguna untuk penilaian langsung di dalam kelas.
Tahap 2: Pengaturan tujuan pengajaran.
Dasar penilaian guru adalah lembar kegiatan siswa/portofolio, karena melalui ini guru dapat menentukan sejauh mana siswa dapat berpikir panjang. Guru bisa melanjutkan aktivitas dengan membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil, dan berperan sebagai pengawas kelompok-kelompok tersebut.
Tahap 3: Pengajaran untuk menemukan tujuan.
Tahap ini cukup sulit karena siswa diharapkan mampu bersaing, tentunya dengan bantuan guru agar mereka memperoleh pengetahuan baru dan meningkat kemampuannya. Di tahap ini, siswa boleh membuat kelompok untuk topik membaca fakta. Kelompok ini akan lebih mirip tahap pengajaran.
Tahap 4:Pengaturan kesempatan siswa untuk praktik dan menemukan konsep.
Kesempatan ini digunakan siswa untuk mengerjakan tugas dan menerapkan kemampuan mereka berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kemampuan baru mereka. Dalam tahap ini, siswa bekerja mandiri, dengan sedikit bantuan guru atau tidak sama sekali.
Tahap 5: Mengawasi proses belajar siswa.
Guru berperan mengawasi siswa jika seandainya mereka mengalami kemajuan yang memuaskan dalam menemukan arti tujuan luas dari belajar membaca. Guru hendaknya juga mengawasi mereka ketika mereka bekerja berkelompok.
Sejumlah alternatif pengujian tradisional yang tersedia:
1. Retelling
Menceritakan kembali memiliki potensi untuk penyediaan informasi lebih lanjut tentang pemahaman siswa dibandingkan teknik lainnya. Bebas dari pengaruh pertanyaan, itu menunjukkan siswa mengonstruksi teks, dan memberikan wawasan ke dalam bahasa dan proses berpikir. Ini menunjukkan bagaimana dia mengatur dan menetahui jawabannya. Guru juga dapat menilai kualitas bahasa yang digunakan dalam menceritakan kembali.
2. Berpikir keras
Digunakan untuk menunjukkan pada pembaca bahwa dalam proses berpikir, mereka dapat menggunakan strategi tertentu. Mereka dapat juga digunakan untuk melihat ke dalam proses siswa ketika mereka berusaha untuk membangun makna. Selama berpikir-keras, pembaca menjelaskan proses pemikirannya ketika ia membaca teks. Ini mungkin setelah setiap kalimat, setiap akhir paragraf, atau akhir dari keseluruhan seleksi.
3. Observations
Di lain waktu, guru memeriksa siswa tentang daftar buku yang dibaca. Pada kesempatan lain lagi, sudah hampir tidak mungkin untuk memisahkan penilaian dari ajaran seperti dalam pengajaran atau responsif timbal balik elaborasi. Tujuan akhir adalah meningkatkan pembelajaran siswa. Guru belajar tentang anak-anak "dengan melihat bagaimana mereka belajar. (Goodman, 1985, hal 9). Ketika mereka melakukan hal ini, guru akan lebih mampu untuk menyediakan dukungan atau meminta jenis-jenis pertanyaan yang membantu siswa membangun pengetahuan mereka.
4. Opportunities untuk pengamatan
Evaluatif pengamatan dapat dilakukan kapan saja siswa yang terlibat dalam membaca dan menulis. Beberapa peluang terutama bermanfaat untuk pengamatan termasuk berbagi membaca.












BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari makalah ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kegiatan membaca itu (a) merupakan suatu proses yang kompleks/ banyak aspeknya (b) melibatkan kegiatan fisik dan mental (c) memanfaatkan pengetahuan yang telah ada untuk menafsirkan makna (d) membentuk makna baru dalam sistem pengetahuan/ pengalaman yang telah dimiliki (e) dipengaruhi oleh banyak faktor.
2. Tujuan membaca ialah salah satunya untuk mendapatkan informasi. Informasi yang dimaksud di sini mencakup informasi, bisa tentang fakta dan kejadian sehari-hari sampai informasi tingkat tinggi tentang teori-teori serta penemuan dan temuan ilmiah yang canggih. Tujuan ini berkaitan dengan keiginan pembaca untuk mengembangkan diri.
3. Faktor – faktor yang mendukung pembinaan minat baca : (1)Secara alamiah orang beragama mempunyai kitab suci yang harus dibaca, maka orang yang beragama akan cenderung membaca kitab sucinya dan memberikan motivasi kepada siswa atau anaknya untuk membaca kitab suci pula; (2) Orang yang berpendidikan akan berusaha meningkatkan kemampuan membacanya dan menularkan pada siswa atau anaknya; (3) Bahan bacaan yang sudah tersedia, akan meningkatkan minat membaca karena seseorang tidak perlu bersusah payah mencari bahan bacaaan yang dapat digunakan pada waktu senggang; (4) Perpustakaan sudah mulai berkembang dan nyaman dikunjungi akan membuat pembaca merasa betah tinggal di sana; (5) Perhatian pemerintah sudah ada walau belum memadai; (6) Faktor transportasi, komunikasi, informasi dan iptek yang baik.Sedangkan rendahnya minat baca dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: (1) Belum banyak dirasakan manfaat langsung dari membaca; (2) Bahan bacaan belum merata; (3) Pembinaan perpustakaan belum merata; (4) Pemajuan teknologi lebih menarik perhatian
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca pada Anak Sekolah Dasar adalah motivasi, lingkungan keluarga, dan bahan bacaan.
5. Penerapan Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar adalah Decording, Interpretation dan Aplikasi.
6. Model membaca yang digunakan untuk mengajar di Sekolah Dasar: (1)Model linear (The Linear Model); (2) Model interaktif (The Interactive Model); (3) Model bahasa jiwa (The Psycholinguistic Model); (4) Model transaksi (The Transactional Model)
7. Pelaksanaan Evaluasi Membaca yaitu evaluasi program membaca tidak berakhir dengan penilaian. Komponen penting adalah memperbaiki program. Satu kekuatan dan kelemahan dicatat, langkah-langkah yang perlu diambil untuk membangun kekuatan dan memperbaiki titik-titik lemah. Sebagai contoh, jika Anda memberikan survei sikap dan itu menunjukkan bahwa siswa tidak suka membaca, Anda akan merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan membantu siswa Anda menemukan kepuasan membaca.Sebagian besar evaluator sekarang menganggap bahwa tindakan hanya mengevaluasi untuk menentukan apakah suatu program yang memadai atau cukup untuk menjadi buang-buang waktu. Apa yang ingin tahu adalah bagaimana meningkatkan program peduli seberapa baik atau seberapa buruk itu. Apa yang benar tentang program ini juga berlaku dalam evaluasi individu siswa. Penekanannya harus pada mendapatkan informasi mengenai perencanaan instruksi dan bukan label. Evaluasi adalah benar-benar mengajukan serangkaian pertanyaan. Pertanyaan khusus tergantung pada program sasaran dan tujuan tertentu.

B. Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan sehubungan dengan makalah ini adalah:
1. Bagi guru: hendaknya memberi motivasi kepada sisiwa agar siswa gemar membaca dan membuat kegiatan membaca menjadi mudah dan menyenangkan.
2. Bagi siswa: hendaknya meningkatkan kemampuan membaca dengan membaca bacaan-bacaan yang bermanfaat bagi perkembangan IPTEK agar kelak bias menjadi generasi penerus Bangsa yang dapat diandalkan.
3. Bagi sekolah: hendaknya menyediakan buku-buku bacaan yang menarik dan menyediakan fasilitas yang memadai sehingga meningkatkan minat siswa untuk membaca.

Sunday, July 24, 2011

MEDIA PEMBELAJARAN RADIO DAN TAPE RECORDER

MEDIA PEMBELAJARAN RADIO DAN TAPE RECORDER

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Sumber dan Media Pembelajaran SD
yang dibimbing Drs. Usep Kustiawan, M. Sn.


Oleh
Muhammad Fitra R. 107151410106
Rochma Arini 107151410110
Harvey Agil A. 107151410115
Wirardharani P 107151410122
Aminnatul Widyana 107151410127
Lilik Mulyeni 107151410130
Silfi Mauluti Aski 107151410134












UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP S1 – PGSD – F
April 2009


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulisan makalah yang berjudul”Media Pembelajaran Radio Dan Tape Recorder “ yaitu suatu media pembelajaran yang menggunakan radio dan tape recorder.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan masukan, dan menyusun makalah yang disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Pendidikan anak ini. Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dari pembaca sangat diharapkan guna menyempurnakan makalah ini dalam kesempatan berikutnya.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan, serta para pembaca.



Malang, 4 April 2009


Penulis










DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………...............i

DAFTAR ISI………………………………………………………………....ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah………………………………………………2
C. Tujuan Masalah…………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN
A. Hakekat Media Pembelajaran Radio dan Tape Recorder…………………………………………………………3
B. Sejarah Radio dan Tape Recorder..………………………………4
C. Jenis-Jenis Radio dan Tape Recorder………………………….....8
D. Kelebihan dan Kekurangan Radio dan Tape Recorder dalam Pembelajaran…………………………………………………….11
E. Fungsi Radio dan Tape Recorder dalam Pembelajaran………….13
F. Pemanfaatan Media Pembelajaran Radio dan Audio
Tape Recorder dalam Kegiatan Belajar Mengajar 15

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………17
B. Saran…………………………………………………….…….....19

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..……21


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini telah banyak muncul media pembelajaran yang semakin canggih seiring berjalannya waktu. Hal tersebut memudahkan para guru dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga murid akan mendapatkan hasil yang maksimal dalam menerima materi yang ada.
Setiap murid mempunyai karakteristik sendiri-sendiri dalam menerima/merespon materi pelajaran yang disampaikan guru. Di antara mereka ada yang dapat memaksimalkan penerimaan materi pelajaran yang disampaikan guru secara auditif (mendengarkan). Adapula yang dapat menangkap materi pelajaran secara maksimal jika materi disampaikan secara visual (melihat). Namun yang paling banyak terjadi adalah campuran antara audio dan visual (melihat dan mendengar). Dikarenakan berbagai perbedaan individu yang ada, seorang guru harus pintar dalam menggunakan berbagai metode pembelajaran beserta media yang digunakan, sehingga semua siswa bisa terlayani dengan baik.
Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah radio dan tape recorder. Radio merupakan media pembelajaran auditif yang hanya bisa dinikmati melalui alat pendengaran, Pengaruh sifat aktualita yang dapat dilayani oleh radio secara lebih cepat daripada televisi. Hal ini telah mengakibatkan evaluasi yang lebih positif terhadap radio dari pada sebelumnya. Terutama karena dalam bentuk transistor radio lebih murah dari pada televisi dan dapat tersebar di pedesaan, dan radio bagi masyarakat berkembang akan mempunyai peranan yang tidak kalah dengan televisi, terutama dalam isi –mengisi kebutuhan manusia akaninformasi. Karena radio transistor lebih mudah dibawah dan tidak terlalu terikat pada tempat serta harganya yang murah, maka negara berkembang akan lebih banyak mengambil manfaat radio sebagai sumber informasi. Ditinjau darisegi individual dimana tiap-tiap orang akan membeli sarana komunikasi ini dari kantongnya sendiri.
Sedangkan audio cassette atau tape recorder adalah media audio dengan alat perekam. Tape recorder ini sangat cocok sangat cocok untuk pembelajaran menyimak, sehingga menguntungkan bagi siswa yang cenderung belajar secara auditif. Sedangkan siswa yang memiliki cara belajar secara visual atau audio-visual bisa menggunakan media pembelajaran lain yang sesuai. Dari serangkaian penjabaran di atas, penulis mempunyai inisiatif dengan menulis makalah yang berjudul “Media Pembelajaran Radio dan Tape Recorder”.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Apakah hakekat media pembelajaran radio dan audio tape recorder?
2. Bagaimanakah sejarah radio dan audio tape recorder?
3. Apasajakah jenis-jenis radio dan audio tape recorder?
4. Apakah kelebihan dan kekurangan radio dan audio tape recorder dalam pembelajaran ?
5. Apa fungsi radio dan audio tape recorder?
6. Apa saja pemanfaatan media pembelajaran radio dan audio tape recorder dalam kegiatan belajar mengajar?

C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah hal-hal berikut:
1. untuk mengetahui hakekat media pembelajaran radio dan audio tape recorder
2. untuk mengetahui sejarah radio dan audio tape recorder
3. untuk mengetahui jenis-jenis radio dan audio tape recorder
4. untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan radio dan audio tape recorder dalam pembelajaran
5. untuk mengetahui fungsi radio dan audio tape recorder
6. untuk mengetahui manfaat media pembelajaran radio dan audio tape recorder dalam kegiatan belajar mengajar
BAB II PEMBAHASAN
A. Hakikat Media Pembelajaran Radio dan Audio Tape Recorder
Media audio adalah media yang berkaitan dengan pendengaran, pesan yang akan disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif Menurut Djamarah (2002:140) "Media Auditif adalah media yang mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette Recorder, dan piringan hitam". Seperangkat media auditif yang biasanya ditemukan terdiri atas dua bagian yang berbeda dalam fungsi maupun pengoperasiannya. Kedua bagian tersebut adalah radio dan TapeRecorder
Radio merupakan media auditif, yang hanya bisa dinikmati dengan alat pendengaran. Radio menjadi media penyampai gagasan, ide dan pesan melalui gelombang elektromagnetik, berupa sinyal-sinyal audio (Dodi Mawardi dalam http://dodimawardi.wordpress.com). Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini, melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).
Sedangkan media audio dengan alat perekam sering disebut Audio cassette atau Tape Recorder. Pengertian audio Tape Recorder menurut Sudjana (1994: 129) adalah sebuah bahan pengajaran yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran. perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga terjadi proses belajar mengajar. Hamidah (2003:14) menjelaskan bahwa Tape Recorder merupakan salah satu media audio elektronik yang terdiri atas hardware dan software. Hardware berupa Tape Recorder, sementara itu software-nya adalah kaset yang berisi pesan. Tape Recorder ini sangat cocok untuk pembelajaran menyimak. Namun juga bukan pula berarti pembelajaran kemampuan yang lain seperti berbicara, menulis, sastra, dan kebahasaan tidak bisa menggunakan media ini.

B. Sejarah Radio dan Audio Tape Recorder
1. Radio
Dari keluarga berada, lahirlah Guglielmo Marconi tahun 1874 di Bologna, Itali. Penemu radio ini dapat pendidikan privat dari seorang guru. Tahun 1894 ketika usianya menginjak dua puluh, Marconi membaca percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Heinrich Hertz beberapa tahun sebelumnya. Percobaan ¬percobaan ini dengan gamblang mendemonstrasikan adanya gelombang elektromagnetik tidak tampak, bergerak lewat udara dengan kecepatan suara.
Marconi menyimpulkan bahwa gelombang ini bisa dimanfaatkan mengirim tanda-tanda melintasi jarak jauh tanpa kawat, saat itu telegram sudah digunakan sebagai alat komunikasi. Ide ini menimbulkan banyak kemungkinan berkembangnya komunikasi yang tak bisa dijangkau telegram dan tidak terpikirkan sebelumnya. Misalnya, dengan teknologi ini informasi dapat dikirim dari darat ke kapal di tengah laut.
Tahun 1895, hanya dalam jangka waktu setahun, Marconi berhasil membuat peralatan yang diperlukan. Tahun 1896 dia memperagakan alatnya di Inggris dan memperoleh hak paten untuk penemuan ini. Pada tahun 1898. dengan alat temuannya dia sudah mampu mengirim berita tanpa kawat menyeberang selat Inggris. Meskipun patennya yang terpenting diperolehnya tahun 1900, Marconi terus mempatenkan penyempurnaan-penyempurnaan terhadap alat penemuannya. Di tahun 1901 dia berhasil mengirim berita radio melintasi Samudera Atlantik, dari Inggris ke Newfoundland.
Keberhasilan penemuannya secara dramatis dilukiskan di tahun 1909 ketika kapal S.S. Republic rusak akibat tabrakan dan tenggelam ke dasar laut. Berita radio sangat membantu, semua penumpang bisa diselamatkan kecuali enam orang. Pada tahun yang sama Marconi berhasil meraih Hadiah Nobel untuk penemuannya. Dan pada tahun berikutnya dia berhasil mengirim berita radio dari Irlandia ke Argentina, suatu jarak yang sangat jauh, lebih dari 6000 mil.
Di awal abad XX, para ilmuwan mengembangkan tabung hampa udara yang bisa melacak dan memperkuat sinyal radio.Penemu AS Lee De Forest mematenkan trioda atau audion-nya tahun 1907, yang kemudian menjadi elemen penting dalam penerimaan sinyal radio. Kemampuan penerimaan ini ditingkatkan lagi dengan temuan Edwin H. Armstrong, yang menciptakan sirkuit superheterodyne tahun 1918. Sirkuit yang masih dipakai hingga sekarang ini punya kemampuan seleksi yang tinggi Armstrong pula yang mengembangkan sistem siaran FM pada 1933 (www.romeltea.com).
Penyiaran radio dalam skala komersial baru mulai awal tahun 20-an, tetapi kepopulerannya dan arti pentingnya tumbuh dengan amat cepat. Sebuah penemuan yang hak patennya punya harga tinggi biasanya akan menimbulkan pertentangan di pengadilan. Tetapi, berbagai tuntutan lewat pengadilan sirna sesudah tahun 1914 ketika pengadilan mengakui hak-hak Marconi. Pada tahun berikutnya, Marconi melakukan pula penyelidikan penting di bidang gelombang pendek dan komunikasi microwave. Dia menghembuskan nafas terakhir di Roma tahun 1937.
Pengaruh Marconi terhadap perkembangan teknologi komunikasi tak diragukan lagi. Marconi tidak menemukan televisi. Tetapi, penemuan radionya merupakan pembuka jalan penting untuk perkembangan televisi, karena itu sangat layak menganggap Marconi memiliki peranan penting dalam perkembangan televisi.
Komunikasi tanpa kabel punya arti penting dalam dunia modern. Ini bermanfaat untuk pengiriman berita, hiburan, keperluan militer, penyelidikan ilmiah, tugas-tugas kepolisian, dan lain-lain. kegunaan teknologi radio sangatlah besar. Teknologi ini bisa mencapai kapal di lautan, pesawat yang sedang mengudara, bahkan pesawat ruang angkasa.
Sejarah telah menunjukkan besarnya peranan radio dalam perjuangan kemerdekaan kita. Melalui radiolah rakyat seluruhnya mengetahui bahwa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, melalui radiolah rakyat mengerti apa yang harus diperbuat, rakyat mengalami dan ikut menghayati pengalaman orang lain, sehingga melalui radio dapat terbina rasa kesatuan yang kuat. Radio telah memberikan pendidikan politik pada kita semua. Dalam keadaan-keadaan yang kritis yang timbul beberapa kali kemudian, orangpun masih dan tetap akan berpaling kepada radio, tidak hanya sekedar memperoleh informasi, tetapi untuk memperoleh pendidikan, karena orang-orang akan bersikap dan bertindak sesuai dengan pesan yang diperolehnya.
Melalui radio masing-masing, banyak warga Jakarta memantau perkembangan situasi kota yang sedang dilanda kerusuhan. Pentingnya peran radio, mengingatkan kita pada kondisi di tahun 1920-an, ketika tiap malam jutaan keluarga di seluruh bagian dunia yang punya radio, berkutat di sekitar pesawat itu untuk mendengarkan berbagai hiburan dan program.
Radio siaran pertama kali ada di Indonesia adalah Batviasche, Vereniging (BRV) yang berdiri di Jakarta tanggal 16 Juli 1925. Sejak saat itu banyak bermunculan radio-radio lain seperti Nederlansch Indische Radio Oemroep Mij (NIROM) di Jakarta, Bandung, dan Medan. Di Solo juga muncul Solosche radio Vereninging (SRV) dan di Jogjakarta berdiri Mataresme Vereninging Voor Radio Omroep (MAVRO). SRV dapat dikatakan sebagai pelopor munculnya radio siaran yang diusahakan oleh pribumi asli.
Pada tanggal 11 September 1945 didirikanlah Radio Republik Indonesia (RRI). Manfaat dari perkembangan radio di Indonesia antara lain sebagai media propaganda, sebagai media komunikasi, sebagai media pendidikan dan pengembangan kebudayaan, sebagai penyalur pendapat masyarakat dan sebagai media hiburan.
Pada tahun 1951, jawatan pendidikan masyarakat pada kementerian pendidikan dan pengajaran, menyelenggarakan suatu program siaran radio untuk pendidikan masyarakat. Sasaran pendidikan radio ini terutama adalah pelajar demobilisan, yang setelah selesainya perang kemerdekaan mengalami banyak masalah baik untuk kembali ke bangku sekolah maupun untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat. Siaran dipancarkan dari pemancar jawatan sendiri di Jakarta dengan radius pemancaran efektif 10 km. Isi siaran diambilkan dari bahan pelajaran SMA dan bahan-bahan yang aktual dari masyarakat.
Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 300 radio komunitas. Radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian di antaranya telah mengorganisasikan diri dalam organisasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Jaringan Independen Radio Komunitas (JIRAK CELEBES), dan lain-lain.
Berbagai siaran komersial radio adalah drama, komedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya, tidak hanya berita dan musik saja. Penggunaan radio dalam pembelajaran juga bukan suatu hal yang aneh lagi. Dengan media radio akan mempermudah guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Adapun sebagai contohnya yaitu penggunaan radio dalam pelajaran mendengarkan dongeng.
2. Tape Recorder
Awal terciptanya alat perekam atau yang disebut dengan Audio Cassette atau Tape Recorder adalah berawal dari ditemukannya sebuah alat phonograph yang oleh Thomas Edison pada tahun 1877. Alat phonograph merupakan ujung tombak penemuan teknologi audio di mana suara sudah bisa direkam ke dalam suatu alat. Dengan tabung silinder (wax cylinder) yang dibungkus oleh material yang halus seperti lilin yang merupakan media untuk dapat merekam suara ke dalam satu media. Untuk melakukan play back, diperlukan alat yang seperti jarum pada phonograph yang diguratkan pada silinder tadi, dan akan menghasilkan getaran yang secara mekanik akan menghasilkan suara pada corong phonograph.
Magnetic recording diperkenalkan oleh Valdemar Poulsen dengan menggunakan telegraphone pada tahun 1898. Dengan menggunakan kekuatan magnet, media yang bergerak secara. konstan dengan kecepatan yang konstan pula melewati “head” perekam. Sinyal elektrik yang secara analog menjadi suara yang ingin direkam, melewati head tadi dan menghasilkan pola magnet yang serupa dengan sinyal yang menghasilkan suara yang lebih baik dari teknologi sebelumnya.
Tape Recorder mulai dikembangkan di Jerman tahun 1932. Titik awalnya pada saat hari Natal 1932, di mana British Broadcasting Corporation kali pertama digunakan para profesional untuk situasi tertentu. Pita yang semakin kecil dengan suara stereo yang sudah baik, membuat para seniman musik sudah dapat melakukan rekaman dengan dukungan alat yang sudah makin ringkas. Di akhir tahun 1990-an, digital recording sudah mulai menjadi standar industri rekaman. Dan kini, di era milenium, semuanya semakin mudah, ringkas, canggih, dan praktis. Perangai pita rekaman yang tadinya besar bukan main sudah diringkas rnenjadi harddisk dan corong phonoautogruph disulap menjadi speaker dengan teknologi kinetik yang canggih.
Kini perkembangan teknologi audio sudah serba digital. Ini berarti semakin ringkas alat-alat untuk bisa menghasilkan studio recording, dan semakin mudah untuk merawat dan memaintain-nya. Pada masa analog, untuk merekam suara mentah pada saat tracking harus di simpan pada pita 2 inch, yang kini sudah bertransformasi menjadi harddisk yang bentuknya kecil dan tidak menghabiskan tempat (baca books "Sejarah Teknologi Perekam").

C. Jenis-Jenis Radio dan Audio Tape Recorder
1. Jenis jenis Radio
a. Berdasarkan Frekuensi:
1) Frekuensi Modulasi (FM) bergerak pada frekuensi 87 MHz sampai 108 MHz.
2) Amplitudo Modulasi (AM) atau Medium Wave (MW) berada pada jalur 540 sampai 1600 KHz. Band standar radio siaran moda amplitudo modulation (AM)) dimulai dari 540 sampai dengan 1600 kHz. Di Indonesia lebih dikenal dengan gelombang menengah (medium wave/MW). Band MW ini adalah tempat mengudaranya stasiun-stasiun radio siaran swasta di Indonesia sebelum banyak yang pindah ke band FM. Spektrum frekuensi MW tidak tergolong gelombang pendek. Spektrum gelombang pendek justru dimulai dari batas akhir alokasi frekuensi standar untuk radio siaran AM di MW, yaitu 1600 kHz sampai 30000 kHz atau 30 MHz (1000 kHz = 1 MHz). Sinyal radio yang dipancarkan pada gelombang pendek akan dapat dipantau di tempat-tempat yang sangat jauh (DX). Ini terjadi karena pancaran sinyal dari bumi akan terpantul kembali ke bagian lain di bumi karena berbenturan dengan ionosfir, sebuah lapisan yang tidak terlihat, di atas bumi. Akibat dari proses refraksi/pemantulan itu yang dapat terjadi berkali-kali,serta faktor-faktor alamiah lainnya (propagasi), maka penerimaan sinyal radio siaran di gelombang pendek dapat berlangsung dengan baik, di siang hari atau pun di malam hari
3) Short Wave (SW) mempunyai ruang frekuensi yang sangat lebar yaitu dari 1600 KHz sampai 30.000 KHz. SW biasanya digunakan untuk siaran radio-radio amatir. Lalulintas komunikasi antar pilot pesawat terbang dengan menara pengawas di bandara juga dilakukan dengan radio gelombang pendek ini. Jadi jika kamu kebetulan gemar mendengar dan mencari-cari gelombang di "jalur" SW, kamu akan mendengar pembicaraan antara pilot dan bandara.
b. Berdasarkan Penyelenggara:
1) Radio milik Negara/Radio public
2) Radio swasta/komersial
3) Radio komunitas (kampus/LSM). Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radio komunitas adalah "dari, oleh, untuk dan tentang komunitas".
Radio komunitas di Indonesia mulai berkembang pada tahun 2000. Radio komunitas merupakan buah dari reformasi politik tahun 1998 yang ditandai dengan dibubarkannya Departemen Penerangan sebagai otoritas tunggal pengendali media di tangan pemerintah. Keberadaan radio komunitas di Indonesia semakin kuat setelah disahkannya Undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran.
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 300 radio komunitas. Radio-radio komunitas tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian di antaranya telah mengorganisasikan diri dalam organisasi Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), Jaringan Independen Radio Komunitas (JIRAK CELEBES), dan lain-lain.
4) Radio asing.
Hampir setiap negara-negara besar, juga negara-negara yang lebih kecil, menyelenggarakan radio siaran (broadcast) dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang dapat ditangkap di Indonesia. Lamanya siaran bervariasi, mulai dari 30 menit sampai dengan 3 jam. Agar para pendengarnya dapat menangkap siaran mereka dengan jelas, daya transmisinya diperbesar hingga puluhan/ratusan ribu Watt. Berkat adanya stasiun relaynya di berbagai tempat di dunia, transmisinya juga bisa diarahkan ke satu kawasan tertentu saja, misalnya ke Indonesia. Jadwalnya pun diatur dengan baik, yaitu di luar jam-jam sibuk pendengar di kawasan itu. Beberapa stasiun radio siaran dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang mudah dipantau di Indonesia adalah: BBC London, Radio Moskow, Radio Jepang, Suara Amerika (VOA), Radio Australia, Radio Nederland, All India Radio, Radio Korea Selatan, Radio Beijing, Suara Jerman, Suara Malaysia dll.
c. Berdasarkan Program:
1) Radio Hiburan/Musik
2) Radio Informasi/News
3) Radio Campuran
4) Radio Propaganda
5) Radio Religius
2. Jenis-jenis Tape Recorder
a. Phonograph yaitu perekam suara dengan menggunakan vinyl (piringan hitam) sebagai media penyimpan hasil rekamannya.
b. Tape cassette yaitu alat perekam suara menggunakan format pita kaset berukuran 2 inch yang dapat merekam dengan durasi hingga 1 jam di setiap sisinya. Kualitasnya cukup baik namun kerap kali terjadi penurunan kualitas suara yang dihasilkan ketika pita kaset mengalami gangguan, kotor atau rusak sebagai media penyimpannya.
c. Walkman hampir sama dengan pemutar musik portabel pertamanya, hanya saja lebih praktis karena lebih mudah dibawa kemana-mana.
d. Compact Disc (CD) yang diputar dengan media pemutar portable yaitu; VCD, DVD atau discman.
e. MP3 Player dan IPod sebagai proses digitalisasi terhadap format rekaman musik analog, lagu atau musik digital mempunyai beraneka ragam format yang bergantung pada teknologi yang digunakan.

D. Kelebihan dan kekurangan Radio dan Audio Tape Recorder dalam Pembelajaran
Setiap media pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-¬masing. Kelebihan dan kekurangan dari media radio dan audio Tape Recorder adalah sebagai berikut:
1. Radio
Kelebihan Radio adalah sebagai berikut:
a. Kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar (Theater of Mind)
b. Harganya relatif murah.
c. Kemampuan selektivitas memilah program dan segmen khalayak.
d. Bersifat personal sehingga mampu menjadi sahabat pendengar.
e. Fleksibel karena mudah dibawa kemanapun.
f. Dapat menjangkau sasaran yang luas.
g. Dapat menyampaikan informasi secara serempak.
h. Dapat mengerjakan hal-hal yang tidak dapat dilakukan guru, misalnya menyajikan cerita tentang petualangan, kepahlawanan, yang telah dikemas dan diberi efek suara dan musik, sehingga terasa lebih hidup.
i. Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.
j. Dapat memberikan informasi dari sumber utama secara langsung.
k. Aktual
Kekurangan Radio adalah sebagai berikut:
a. Jika menggunakannya sebagai media pembelajaran di kelas menjadikan guru tidak bisa mengontrol dan sangat terikat dengan jadwal siaran.
b. Aktivitas pendengar kurang terkontrol.
c. Isi pesan hanya dapat didengar saja sehingga bagi anak yang kurang mempunyai ingatan kuat akan mudah lupa dengan isi pesan.
d. Tidak dapat diulang.
e. Rentan cuaca
f. kontrol ada pada stasiun radio
g. Abstrak, terutama berkaitan dengan angka, ukuran, penghitungan dll
h. Auditif, sehingga membutuhkan konsentrasi dalam mendengarkan
2. Audio Tape Recorder
Kelebihan Audio Tape Recorder (ATR) adalah sebagai berikut :
a. Memiliki fungsi ganda dapat menyajikan hasil rekaman, dapat merekam, dan dapat menghapus rekaman.
b. Guru dapat menggunakan ATR dalam pembelajaran sesuai dengan jadwal yang ada di sekolah (tidak terikat dengan jadwal siaran).
c. Jika ada yang tidak jelas dalam penyampaian pesan, dapat diulang kembali.
d. Dapat menyajikan hal-hal yang terjadi di luar kelas/sekolah misalnya: wawancara, rekaman hasil diskusi atau seminar.
e. Tepat digunakan untuk pembelajaran bahasa khususnya bahasa asing (memberikan contoh pengucapan sesuai dengan bahasa aslinya).
Kelemahan Audio Tape Recorder (ATR) adalah sebagai berikut :
a. Komunikasi satu arah.
b. Daya jangkau terbatas (tidak seperti radio)
c. Isi pesan hanya dapat didengar saja sehingga bagi anak yang tidak mempunyai ingatan kuat akan mudah lupa dengan isi pesan
d. Abstrak, terutama berkaitan dengan angka, ukuran, penghitungan dll
e. Auditif, sehingga membutuhkan konsentrasi dalam mendengarkan
f. Bisa terhapus, bisa kusut, dan tidak bisa disimpan lama

E. Fungsi Radio dan Audio Tape Recorder dalam Pembelajaran
Bagi negara berkembang, yang berkemampuan membawa informasi aktual dan merupakan sarana komunikasi yang sangat penting ialah media massa. Melalui informasi aktual, atau pendidikan informal, perhatian komunikan dapat dirangsang dan diarahkan untuk pertamakalinya ke suatu arah tertentu. Melalui pengulangan dan perluasan oleh media yang sama, atau media yang lain, pengetahuan masyarakat akan ditunjang. Karena itu, radio merupakan sarana pembuka jalan bagi media masa lainnya maupun memperkenalkan untuk pertamakalinya suatu masalah sebelum penyuluh melanjutkan dan memperdalam pengetahuan komunikan tentang masalah tersebut. Dengan demikian, radio menjadi perangsang bukan saja untuk pendidikan nonformal yang merupakan serangkaian kursus, melainkan juga untuk pendidikan formal. Dalam situasi kekurangan guru, radio dapat menunjang pengulangan dan penyebaran bahan pelajaran pendidikan formal maupun nonformal, walaupun pengajaran melalui radio tanpaguru, tidaklah mungkin atau hanya menghasilkan mutu pendidikan yang rendah sekali. Bagaimanapun juga kehadiran guru dalam komunikasi langsung dan berkomunikasi timbal balik, tidak dapat diganti oleh media massa yang umumnya bersifat komunikasi searah, karena komunikasi langsung dan timbal balik merupakan syarat mutlak proses belajar yang efektif.
Pada umumnya fungsi radio dan Tape Recorder adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan komunikasi audio.
2. Membuat suasana belajar lebih mantab dan komunikatif
3. Mengembangkan apresiasi dan imajinasi siswa terhadap hal-hal yang disajikan
4. Dapat merangsang partisipasi aktif pendengarnya
5. Sangat tepat untuk materi musik dan bahasa
6. Mengatasi batas waktu dan ruang
Secara khusus media radio dan audio Tape Recorder sangat berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia terutama dalam pembelajaran mendengarkan cerita atau dongeng. Dalam pengajaran bahasa, guru dituntut dalam berkomunikasi. Salah satu bentuk komunikasi adalah teknik bercerita. Dengan radio dan Tape Recorder guru akan lebih memotivasi siswa dalam pembelajaran serta mengurangi tingkat kebosanan siswa dalam pembelajaran. Dongeng yang diceritakan melalui radio memberikan kesan yang lebih menarik karena sudah disempurnakan dengan kombinasi suara yang dapat menambah motivasi siswa untuk mendengarkan cerita. Fungsi lain dari radio yaitu dapat memberikan informasi secara serentak kepada seluruh siswa, sehingga dapat mengefisiensikan waktu.
Pendidikan melalui radio harus merupakan bagian dari suatu kebulatan sistem penyajian (total delivery sistem) beberapa komponen penting dalam penyampaian sistem ini ialah:
1. kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
2. acara dan metode siaran yang diatur
3. tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang pembina pendidikan
4. monitoring kegiatan dan kemampuan anak
5. evaluasi





F. Pemanfaatan Media Pembelajaran Radio dan Audio Tape Recorder dalam Kegiatan Belajar Mengajar
No Mata Pelajaran Materi Kegiatan
1. Bahasa Indonesia 1. Membaca intensif


a. Mendengar
b. Membuat kerangka karangan
c. Membacakan karangan dengan bahasa sendiri
d. Menceritakan kembali
2. Teks pidato a. Mendengarkan pidato di radio
b. Mencatat pokok-pokok isi pidato
c. Membacakan isi pidato di depan kelas
3. berita a. Mendengarkan isi berita
b. Mencatat isi pokok berita
c. Membacakan isi pidato di depan kelas
4. Puisi
a. Mendengarkan puisi di radio
b. Memparafrasekan puisi
c. Membacakan amanat puisi di depan kelas
2. Bahasa Inggris Perkenalan a. Mendengarkan percakapan (listening to dialogue)
b. Mencatat atau membuat percakapan
c. Mempraktekkan percakapan
d. Kuis pada awal pelajaran atau akhir pelajaran
3. Matematika Operasi hitung bilangan a. Mendengarkan soal dari tape recorder
b. Mengerjakan soal
4. Kesenian 1. Melipat bentuk benda a. Mendengarkan instruksi dari radio
b. Guru sebagai instruktur peraga di depan kelas
2. Seni tari a. Guru memberi contoh gerakan tari sedikit demi sedikit tanpa menggunakan musik
b. Setelah siswa lancar menari, guru memberi contoh menari dengan iringan musik
c. Siswa mempraktekkan sendiri
3. Seni suara Siswa bersama guru mendengarkan lagu nasional dan mempraktekkannya
4. Seni drama Siswa menyajikan drama dengan diiringi rekaman suara (dubbing)
5. Olahraga Senam irama Siswa mengikuti gerakan guru yang berperan sebagai instruktur
6. IPS Pengalaman diri Siswa menceritakan pengalaman pribadi melalui acara di radio
7. Kewarga-negaraan 1. Kerukunan






2. Tata tertib a. Menyebarluaskan berita bencana dan meminta bantuan
b. Mengucapkan selamat atas keberhasilan teman/keluarga melalui radio
c. Mematikan radio ketika ada orang sedang beribadah
Mendengarkan iklan di radio tentang tata tertib/undang-undang
3. Hak mengeluar-kan pendapat Menanggapi pernyataan penyiar radio melalui telepon


8. Agama Ceramah Mendengarkan ceramah agama di radio
9. IPA 1. Pelestarian jenis makhluk hidup Mendengarkan acara khusus yaitu info tentang tips melestarikan jenis makhluk hidup
2. perubahan energi listrik Menunjukkan radio sebagai bentuk perubahan energi listrik menjadi energi bunyi
3. hemat energi Mematikan radio atau tape recorder jika tidak digunakan
4. gelombang elektromagnetik Menunjukkan radio sebagai contoh adanya gelombang elektromagnetik
5. alat indra Sebagai alat tes pendengaran




















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Media audio adalah media yang berkaitan dengan pendengaran, pesan yang akan disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif Menurut Djamarah (2002:140) "Media Auditif adalah media yang mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette Recorder, dan piringan hitam". Seperangkat media auditif yang biasanya ditemukan terdiri atas dua bagian yang berbeda dalam fungsi maupun pengoperasiannya. Kedua bagian tersebut adalah radio dan TapeRecorder
Radio merupakan media auditif, yang hanya bisa dinikmati dengan alat pendengaran. Radio menjadi media penyampai gagasan, ide dan pesan melalui gelombang elektromagnetik, berupa sinyal-sinyal audio (Dodi Mawardi dalam http://dodimawardi.wordpress.com). Sedangkan media audio dengan alat perekam sering disebut Audio cassette atau Tape Recorder. Pengertian audio Tape Recorder menurut Sudjana (1994: 129) adalah sebuah bahan pengajaran yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran. perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga terjadi proses belajar mengajar.
2. Pada tahun 1874 lahirlah Guilmo Marconi yang mendapat pendidikan privat dari seorang guru. Kemudian Marconi melakukan percobaan-percobaan yang akhirnya menyimpulkan bahwa gelombang bisa dimanfaatkan untuk mengirim tanda-tanda melintasi jarak jauh tanpa kawat, sehingga pada tahun 1900 Marconi mematenkan penemuannya tersebut. Di tahun 1901 dia berhasil mengirim berita radio melintasi Samudera Atlantik, dari Inggris ke Newfoundland. Sedangkan awal terciptanya alat perekam atau yang disebut dengan Audio Cassette atau Tape Recorder adalah berawal dari ditemukannya sebuah alat phonograph yang oleh Thomas Edison pada tahun 1877. Alat phonograph merupakan ujung tombak penemuan teknologi audio di mana suara sudah bisa direkam ke dalam suatu alat. Dengan tabung silinder (wax cylinder) yang dibungkus oleh material yang halus seperti lilin yang merupakan media untuk dapat merekam suara ke dalam satu media. Untuk melakukan play back, diperlukan alat yang seperti jarum pada phonograph yang diguratkan pada silinder tadi, dan akan menghasilkan getaran yang secara mekanik akan menghasilkan suara pada corong phonograph. Tape Recorder mulai dikembangkan di Jerman tahun 1932. Titik awalnya pada saat hari Natal 1932, di mana British Broadcasting Corporation kali pertama digunakan para profesional untuk situasi tertentu.
3. Jenis-jenis Radio dibedakan menjadi 3, yaitu berdasarkan frekuensi, penyelenggara dan berdasarkan program yang ditayangkan. Sedangkan jenis-jenis Tape Recorder ada 5, antara lain: Phonograph, Tape cassette, Walkman, CD, dan MP3 Player.
4. Radio dan Audio Tape Recorder mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihan radio yang dapat kita lihat secara jelas adalah harganya relatif murah, namun mempunyai kekurangan yang sering menjadi kendala guru dalam menggunakan radio sebagai media pembelajaran, yakni sangat terikat dengan jadwal siaran. Sedangkan kelebihan Audio Tape Recorder salah satunya adalah memiliki fungsi ganda, karena dapat menyajikan hasil rekaman, dapat merekam, dan dapat menghapus rekaman. Dan salah satu kekurangannya adalah daya jangkaunya terbatas.
5. Pada umumnya fungsi radio dan Tape Recorder adalah sebagai berikut: (1) Meningkatkan komunikasi audio, (2) Membuat suasana belajar lebih mantab dan komunikatif, (3) Mengembangkan apresiasi dan imajinasi siswa terhadap hal-hal yang disajikan, (4)Dapat merangsang partisipasi aktif pendengarnya, (5) Sangat tepat untuk materi musik dan bahasa, (6) Mengatasi batas waktu dan ruang.


B. Saran
1. Bagi Guru
Dalam pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran radio guru diharapkan memiliki andil sebagai berikut:
a. Guru hendaknya memberikan stimulus berupa review materi untuk menyamakan konsep dan pemahaman siswa tentang materi tersebut
b. Guru memberikan reinforcement ( penguatan ) guna melatih seberapa jauh pemahaman siswa sebelum diadakan tindaklanjut berupa tes / kecakapan pengolahan kata dengan bahasa dengan bahasa dan pemahamannya sendiri.
c. Guru menguji kembali pemahaman siswa dengan bahan pangayaan yang jauh lebih sulit
2. Bagi Orang Tua
Orang tua sebagai pengawas sekaligus pendamping anak dalam belajar di rumah hendaknya mengetahui kemampuan anaknya, oleh karena itu apabila anak tersebut sangat sulit dalam menerima pembelajaran secara auditif hendaknya orang tua selalu melatih adanya kekurangan kepekaan tersebut sejak dini.
3. Bagi Anak
Seorang anak pasti lebih tau dimana dan sejauh mana kekurangannya dalam segala hal. Oleh karena itu, jika ia menyadari dirinya kurang bisa menerima materi secara auditif hendaknya dia mencoba mengoptimalkan kemampuannya dalm kepekaan yang lain. Sekaligus memperbaiki kemampuan auditifnya yang kurang
4. Bagi Lembaga
Hendaknya instansi / lembaga pendidikan juga lebih tahu dan lebih sering memantau perkembangan mutu peserta didinya sehingga apabila dirasa peserta didiknya secara dominan kurang tanggap dalam pembelajaran yang bersifat auditif sehingga lebaga yang ditunjuk dapat meningkatkan perbaikan dengan memperbaiki sarana dan prasarananya juga mengoptimalkan prestasi dengan cara pembelajaran yang lain









































DAFTAR PUSTAKA

Jo, Ycolow. 1998. Mendengarkan Siaran Radio pada Gelombang Pendek. Cinere (diakses 4 April 2009, 17.00 WIB, yc0low@qsl.net)

Mambo. 2009. Mendengarkan Radio Yuk. (diakses 4 April 2009, 17.10 WIB, http://yb1zdx.arc.itb.ac.id/data/orari-diklat/pemula/teknik-operasi/advanced/mendengarkan-siaran-radio-pada-sw.pdf)

Mawardi, Dodi. (http://dodimawardi.wordpress.com).

Miarso, Yusufhadi. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta:CV Rajawali.

Susanto, Phil Astrid S. 1982. Komunikasi Massa. Bandung:Angkasa Offset.

(www.romeltea.com).

http://b0cah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=749&Itemid=54

http://id.wikipedia.org/wiki/Radio#Penggunaan_radio

PENTINGNYA WAWASAN DALAM PERSPEKTIF GLOBAL

PENTINGNYA WAWASAN DALAM PERSPEKTIF GLOBAL


Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Perspektif Global
yang dibimbing Dra. Sri Sugiharti




Oleh
Aminnatul Widyana 107151410127
Risma Lusi Santi 107151410128
Silfi Mauluti Aski 107151410134












UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP S1 – PGSD – F
Maret 2009


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Penulisan makalah yang berjudul ”Pentingnya Wawasan dalam Perspektif Global “ yaitu untuk mengetahui tentang pentingnya wawasan perspektif global dalam era globalisasi seperti saat ini.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu menyiapkan, memberikan masukan, dan menyusun makalah yang disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Perspektif Global ini. Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang dapat dijadikan masukan dari pembaca sangat diharapkan guna menyempurnakan makalah ini dalam kesempatan berikutnya.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan, serta para pembaca.



Malang, Maret 2009


Penulis









DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………...............i

DAFTAR ISI………………………………………………………………....ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah………………………………………………2
C. Tujuan Masalah…………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pendidikan dalam wawasan Global 3
B. Nilai Budaya dalam Arus Globalisasi 4
C. Pentingnya Kesadaran dan Wawasan Global 5

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 9
B. Saran 9

DAFTAR PUSTAKA 10



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini Indonesia memasuki era globalisasi yang mau tidak mau kita harus terlibat di dalamnya. Oleh karena itu kita sebagai warga Negara Indonesia harus mempersiapkan diri untuk ikut terjun dalam gelanggang globalisasi tersebut. Ini adalah kewajiban kita bukan saja sebagai warga Negara Indonesia akan tetapi juga sebagai warga dunia (global citizenship). Seorang warga dunia yang baik perlu berbekal pengetahuan, sikap, dan nilai, serta aktivitas sosial yang mendunia sehingga dapat mengikuti perubahan dunia yang begitu cepat.
Oleh karena itu, guru dan siswa harus mampu mengembangkan kemampuan, kesadaran, dan wawasan global agar dapat mengenali, memahami, dan memecahkan segala permasalahan dan ketidakmenentuan di lingkungan sekitar mereka. Pengertian lingkungan di sini yang dimaksud yaitu lingkungan lokal, nasional, dan dunia. Pentingnya wawasan dalam perspektif global perlu dibangun agar setiap warga Negara Indonesia menyadari tentang peran dan fungsi dia sebagai warga Negara dan warga dunia.
Terjadinya interaksi dalam masyarakat dunia yang sangat beragam budayanya kadang-kadang bisa menimbulkan kekurangharmonisan, sehingga konsep berteman dan bertetangga dengan baik dengan sesama umat manusia yang mendiami bumi ini menjadi penting. Terdapat satu prinsip bahwa sekalipun ada perbedaan budaya dalam masyarakat dunia, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai berbagai macam keinginan dan kebutuhan yang sama, seperti kebutuhan akan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang bersih dan sehat, kebutuhan untuk hidup harmonis, keinginan untuk bekerjasama, dan sebagainya yang bisa terwujud antara lain bila kita sudah mempelajari perspektif global. Hal ini bertujuan untuk menggugah kesadaran masing-masing individu dan seluruh masyarakat bahwa mereka berkesempatan dan bertanggung jawab untuk berperan serta meningkatkan lingkungan sosial dan fisik dunia.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Jelaskan peranan pendidikan dalam meningkatkan wawasan global!
2. Bagaimana nilai budaya dalam arus globalisasi?
3. Jelaskan pentingnya kesadaran dan wawasan dalam perspektif global!

C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah hal-hal berikut:
1. Mengetahui peranan pendidikan dalam meningkatkan wawasan global.
2. Mengetahui nilai budaya dalam arus globalisasi.
3. Mengetahui pentingnya kesadaran dan wawasan global dalam perspektif global.



















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan dalam Wawasan Global
Dalam menghadapi globalisasi tanpa adanya persiapan yang kuat maka globalisasi akan menjadi sesuatu yang menakutkan dan akan berubah menjadi sesuatu yang negatif. Cara untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi globalisasi ini adalah dengan cara meningkatkan kesadaran dan memperluas wawasan kita. Cara untuk meningkatkan dan memperluas wawasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan cara yang paling efektif adalah melalui pendidikan.
Meningkatkan dan memperluas wawasan global merupakan unsur penting untuk memahami masalah global. Menurut Makagiansar (Mimbar Pendidikan, 1989) agar kita dapat meningkatkan wawasan global ini, maka pendidikan memegang peranan penting. Melalui pendidikan maka seseorang harus mampu mengembangkan 4 hal berikut:
1. Kemampuan mengantisipasi (anticipate), artinya pendidikan berusaha menyiapkan anak didik untuk dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK yang begitu cepat.
2. Mengerti dan mengatasi situasi (cope), artinya dapat mengembangkan kemampuan dan sikap peserta didik untuk menangani dan berhadapan dengan situasi baru. Rasa kepedulian terhadap suatu masalah serta keinginan untuk mengatasi masalah merupakan faktor yang harus dikembangkan pada diri anak.
3. Mengakomodasi (acomodate), artinya dapat mengakomodasi perkembanagn IPTEK yang pesat dan segala perubahan yang ditimbulkannya. Dalam mengatasi (cope) dan mengakomodasi (acomodate) perlu dikembangkan sikap bahwa anak didik tidak larut oleh perubahan, tetapi ia harus mampu mengikuti dan mengendalikan perubahan agar tumbuh menjadi suatu yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan.
4. Mereoriantasi (reorient), artinya persepsi dan wawasan kita tentang dunia perlu diorientasikan kembali karena perkembanagn IPTEK dan perubahan sosial yang cepat. Melalui pendidikan kita memperluas persepsi anak. Kita mendidik untuk dapat mengadakan reorientasi sikap dan nilai, sehingga memperoleh wawasan yang semakin luas.

B. Nilai Budaya dalam Arus Globalisasi
Nilai budaya yang merupakan identitas budaya harus kita pertahankan, tetapi ada nilai yang perlu diubah atau disesuaikan dengan perkembangan. Contoh, motto orang Jawa ”mangan ora mangan ngumpul” yang dalam bahasa Indonesianya adalah ”makan atau tidak yang penting berkumpul”, harus diubah karena tidak sesuai lagi dengan kehidupan global yang sudah berkembang sangat jauh. Perlu sikap baru terhadap perkembangan sekitar, bahwa dunia ini adalah tempat tinggal kita, dan tanah air kita yang harus dijaga kelestariannya. Pendidikan harus membuka wawasan anak didik dan mengembangkan nilai-nilai yang perlu dipertahankan.
Sesuai dengan derasnya arus globalisasi ini, maka peran keluarga juga sangat besar. Tanpa kita sadari bahwa arus globalisasi ini telah melanda rumah tangga kita. Keluarga sekarang hidup dalam ”kotak global” elektronik baru (Schultze, 1991). Ini dapat kita lihat dari adanya televisi, radio, dan parabola. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi rumah akan dipenuhi dengan komputer yang dapat digunakan untuk e-mail, internet, dan alat komunikasi jarak jauh lainnya. Selain itu, bagi anak yang tidak memilikinya di rumah, mereka dapat main ”dingdong” di tempat yang disediakan. Ini semua membuktikan bahwa mau tidak mau kita berada dalam arus globalisasi.
Dengan adanya media seperti itu, yang dapat kita kendarai untuk mengarungi arus globalisasi ini, menurut Schultze akan mengantar anak-anak kita keluar dari rumah dan berjalan-jalan ke kebudayaan lain. Kadang-kadang anak kita dibawa ke dunia yang tidak realistis. Suatu ketika anak-anak kita lebih pandai dari orang tua dalam menggunakn alat-alat seperti ini. Orang tua hanya menonton, sebagai pengikut dan tidak lagi membimbing atau mengarahkan anak. Globalisasi dengan melalui berbagai media seperti ini akan berpacu dengan para orang tua dalam membesarkan anak. Hal ini tentu harus kita waspadai.
Untuk mewaspadai hal tersebut perlu dilakukan hal-hal seperti berikut:
1. Kita harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Menguasai informasi dalam berbagai bidang, mengolah dan memahami pesan-pesan yang ada dalam informasi tersebut, kemudian menarik kesimpulan dan menyeleksinya untuk digunakan dalam kehidupan.
3. Memanfaatkan pertemuan ilmiah, seperti seminar, diskusi, dan sebagainya untuk memahami informasi tersebut.
Dewasa ini tidak ada nilai-nilai suatu bangsa yang benar-benar homogen dan statis. Setiap bangsa berkembang berkat interaksi dengan bangsa lain. Tentunya masih ingat dengan sistem politik ”tirai bambu” Cina dan ”tirai besi” Uni Soviet. Kedua negara tersebut tertinggal dalam peraturan dunia, karena politik mereka menutup diri. Kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan yang dicapai oleh negara kita juga merupakan hasil sentuhan atau interaksi dengan negara lain. Kita harus terbuka pada dunia luar, tetapi harus tetap kokoh berakar pada nilai budaya kita.

C. Pentingnya Kesadaran dan Wawasan Global
Kecenderungan bidang lainnya yang ikut dalam arus gelombang globalisasi adalah pendidikan. Masalah pokok yang dihadapi dalam pendidikan adalah ”identitas bangsa”. Bentuk dan struktur pendidikan di negara kita dikhawatirkan kurang mampu menjawab tantangan globalisasi. Sebagaimana dampak radio, televisi, parabola, dan sebagainya masuk ke rumah-rumah. Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah Badan Sensor Film sekarang ini masih efektif? Dan bagaimana kontrol edukatif dilaksanakan?
Walaupun ada globalisasi, kita harus mampu mempertahankan identitas. Hakikat globalisasi tidak melebur identitas yang ada. Seperti sajaknya Mahatma Gandhi, baris terakhir dari sajaknya adalah ”tetapi jangan sampai merobohkan fundamen rumahku”. Dalam hal ini, peran pendidikan sangat besar. Pendidikan harus berorientasi ke depan dan membuka wawasan global. Untuk mempertahankan identitas nasional, kita memiliki Pancasila dan UUD 1945. Menurut UUD 1945, budaya nasional berakar dan berkembang dari budaya daerah. Kebijakan pemerintah juga memberikan peluang bagi perkembangan budaya daerah. Kalau kita ada pada jalur globalisasi, maka kita tidak lantas kehilangan budaya daerah. Sekarang tari Bali ditarikan oleh orang asing, karawitan Mang Koko di Jawa Barat dinyanyikan oleh orang asing.
Dampak globalisasi terhadap pendidikan berkenaan dengan bagaiman peranan pendidikan dalam kerangka globalisasi. Dikaitkan dengan peranan IPTEK yang dampaknya begitu kuat terhadap globalisasi, maka pelajaran matematika memegang peranan yang sangat penting. Melalui matematika, siswa dilatih untuk berpikit kritis dan analitis.
Kita bisa memanfaatkan gelombang globalisasi untuk mendorong proses pembangunan nasional. Ini berarti dibutuhkan kemampuan untuk menjinakkan gelombang globalisasi. Kepandaian untuk menjinakkan itu karena kita memiliki akal atau kemampuan intelektual, sehingga kita tidak akan mengekor, tetapi tumbuh berkembang dengan jati diri yang kuat yang berakar pada nasionalisme yang kokoh. Oleh karena itu, sangat penting menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan pendidikan yang bertugas memberikan landasan yang kuat sejak SD, termasuk mutunya. HAR Tilaar (1988) mengemukakan pendapat tentang kondisi yang menceluskan konsep-konsep inovasi yang dapat meningkatkan wawasan tentang masalah global dan globalisasi, seperti berikut:
1. Di dalam era globalisasi kita berada dalam suatu masyarakat yang kompetitif, artinya pribadi dan masyarakat berada pada kondisi untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik dan berkualitas.
2. Masyarakat di dalam era globalisasi menuntut kualitas yang tinggi baik di dalam jasa, barang, maupun investasi modal (kualitas di atas kuantitas).
3. Era globalisasi merupakan era informasi dengan sarananya yang dikenal sebagai superhighway. Oleh sebab itu, pemanfaatan informasi superhighway merupakan suatu kebutuhan masyarakat modern dan dengan demikian perlu dikuasai anggota masyarakat.
4. Era globalisasi merupakan era komunikasi yang sangat cepat dan canggih. Oleh karena itu, penguasaan terhadap sarana komunikasi seperti bahasa merupakan syarat mutlak.
5. Era globalisasi ditandai oleh maraknya kehidupan bisnis. Oleh karena itu, kemampuan bisnis, manajer, merupakan tuntutan masyarakat masa depan.
6. Era globalisasi merupakan era teknologi. Oleh karena itu, masyarakatnya harus ”melek digital”.
Institusi-institusi pendidikan seperti sekolah baik yang ada di negara nerkembang maupun negara maju berperan penting di dalam membentuk dan mengembangkan individu maupun masyarakat agar mempunyai tingkah laku yang baik dan menjadi warga negara yang tahu akan hak dan kewajibannya. National Council for the Social Studies pada tahun 1982 (Merryfield, 1991) menunjukkan arti pentingnya perspektif global untuk diajarkan di sekolah-sekolah, antara lain:
1. Sekarang ini kita hidup dalam masa terjadinya peningkatan globalisasi yang ditandai dengan fenomena hampir semua orang berinteraksi secara transnasional (tidak hanya terbatas dalam negaranya saja), multikultural (dalam berbagai macam budaya), dan cross-cultural (berinteraksi dengan budaya lain selain yang dimilikinya).
2. Aktor-aktor yang berinteraksi dalam tingkatan dunia tidak hanya terbatas pada negara/bangsa saja namun juga melibatkan perseorangan, kelompok-kelompok lokal, organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang teknologi dan ilmu, kelompok-kelompok perdagangan MNCs (perusahaan-perusahaan multinasional), serta organisasi-organisasi regional. Mereka ini semakin aktif berinteraksi dan mampu mempengaruhi peristiwa-peristiwa lokal maupun global.
3. Kehidupan umat manusia tergantung pada satu lingkungan fisik dunia yang ditandai dengan terbatasnya sumber-sumber alam. Ekosistem dunia ini akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh umat manusia.
4. Ada keterkaitan antara apa yang dilakukan manusia di bidang sosial, politik, ekonomi, teknologi, dan ekologi pada masa kini dengan masa depan umat manusia yang hidup di bumi ini beserta lingkungannya fisiknya di masa yang akan datang.
5. Terjadinya globalisasi yang melibatkan hampir seluruh umat manusia ini menyebabkan masing-masing individu dan seluruh masyarakat berkesempatan dan bertanggung jawab untuk berperan serta dalam meningkatkan lingkungan fisik maupun sosial dunia.






























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut Makagiansar, bahwa peran pendidikan dalam meningkatkan wawasan global warga negara Indonesia adalah harus mampu mengembangkan 4 hal, yaitu kemampuan mengantisipasi, mengenali dan mengatasi masalah, mengakomodasi perkembangan IPTEK, dan mereorientasikan sikap, nilai, dan wawasan. Dalam globalisasi, kita tidak bisa memungkiri bahwa kemajuan yang dicapai oleh negara kita juga merupakan hasil sentuhan atau interaksi dengan negara lain. Kita harus terbuka pada dunia luar, tetapi harus tetap kokoh berakar pada nilai budaya kita.

B. Saran
Sebagai warga negara yang baik, hendaknya kita harus dapat menyeleksi kebudayaan-kebudayaan yang datang dari luar negeri. Kita harus bisa memilah-milah kebudayaan mana yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan adab negeri kita. Demikian pula sebagai seorang calon pendidik, kelak kita harus bisa menanamkan mental yang sesuai dengan kepribadian bangsa kepada peserta didik kita nanti agar dampak negatif dari adanya globalisasi tidak merambah kepada generasi penerus bangsa. Dan hanya dampak positifnya saja yang mereka terima.

















DAFTAR PUSTAKA

Retnaningsih, Umi Oktyari. 1999. Perspektif Global. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wihardit, K. & Sumaatmaja, H. N. 2007. Perspektif Global. Jakarta:Universitas Terbuka.